Aku mengerucutkan bibir dengan hati masygul atas fitnah yang suamiku ucapkan. "Rese, pakai bilang main lima ronde!" gerutuku kesal. Tanpa rasa bersalah, Mas Aryan yang duduk di bibir ranjang, tertawa lepas melihatku merajuk. "Ya, emang lima ronde, kan, nangisnya? Ha-ha-ha." Anak sulung Tuan Hilman Wardhana kembali tertawa renyah. Membuatku semakin kesal. Lagi, ponselku berdering. Terlihat, panggilan yang sama dengan sebelumnya terpampang di layar ponsel. Farel. Aku buru-buru menyambar ponsel, takut kakak Dimas dan Denis berbicara melantur lagi pada bocah petakilan yang kerap bersikap nyinyir padaku di kampus. Yang aku khawatirkan, Farel bakal menjadikan main lima ronde yang Mas Aryan ucapkan jadi trending topic di kampus. Bisa berabe. "Kamu seriusan nggak masuk hari ini gara-gara tadi

