"Rel … kamu sama Desti—?" Aku menggantung ucapan karena tak enak hati jika ingin bertanya langsung kalau mereka benar ada hubungan spesial atau tidak. Farel mengulas senyum tipis, tapi kulihat tangannya tak berhenti menggenggam tangan Desti. Gadis berkaca mata minus yang sempat dua tahun menjadi sahabatku. Dan sempat juga berseteru denganku karena aku menikah dengan kekasih Mela. Ah, apakah aku sangat bersalah karena menghancurkan persahabatan kami gara-gara lelaki? "Eh, iya, silakan duduk." Mas Aryan memecah keheningan dengan mempersilakan kedua tamunya untuk duduk. Farel dan Desti tampak canggung saat mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu ini. Seperti orang yang tengah kasmaran, mereka tampak enggan duduk berjauhan. Yang jadi pertanyaan, sejak kapan mereka sedekat ini? "Perasaan

