Mas Aryan terdiam kaku menjawab pertanyaanku. "Permainan apa lagi yang kamu rencanakan, Mas?" Kemarahanku terasa naik sampai ke ubun-ubun saat menyadari suamiku tak terlalu menggubris pertanyaanku. "Mas …!" Aku berteriak kesal saat menyadari Mas Aryan justru memilih menghindar dari diriku daripada memberikan penjelasan, agar semuanya jadi gamblang. Kulihat suamiku pergi memacu mobilnya dengan cepat setelah sebelumnya meraih jaket dan ponsel, menyisakan rasa penasaran sekaligus kesal dalam dadaku. Kenapa, Mas? Kenapa kau tak bisa menghargai cintaku barang sedikit saja? Kenapa semua penerimaan dan pengorbananku seakan tak berarti di matamu? Aku meluruh dengan hati bergemuruh dan mata yang terasa berkabut saat menyadari semua yang kulakukan untuk memenangkan cintanya, sia-sia belaka. Aku

