Kelana membulatkan mata ketika sebuah tangan menariknya menuju taman belakang kantor, Kelana menoleh dan melihat ternyata orang itu adalah Panji, pria yang begitu ambisius mengejar cintanya dulu. Tiba di taman belakang, Kelana melepas secara paksa genggaman tangan Panji dan menatap kesal ke arah Panji. “Astagfirullah. Bang Panji kenapa?” geleng Kelana menyentuh lengannya, tempat Panji menggenggam dan menariknya. “Istigfar, Bang.” “Aku gak tahan lagi, Kelana.” Panji menunduk dan menatap wajah Kelana. “Gak tahan kenapa?” tanya Kelana menautkan alis. “Aku gak tahan lihat kamu selama kita berakhir, kamu baik-baik aja. Apa hanya aku di sini yang terluka?” tanya Panji seolah meminta penjelasan Kelana yang tidak seharusnya ia minta, Panji harus mengetahui satu hal, bahwa kelana sudah menikah

