Kelana 96

1010 Kata

“Apa yang dikatakan Ummi dan Abah?” tanya Iza pada sahabatnya yang saat ini duduk diam didepannya. “Mereka hendak melamarku,” jawab Kelana. “Melamar? Untuk siapa?” “Untuk Bang Fuad.” “Pria yang bekerja di rumah sakit itu? Adiknya Bang Adnan?” tanya Iza memperjelasnya. “Iya. Adiknya Bang Adnan.” “Kok bisa ya? Kenapa mereka beranggapan kamu mau menerima perasaan Bang Fuad? Kan udah cukup kamu nikah sama anak mereka yang pertama, bahkan hanya sebentar, jadi kan seharusnya mereka mengambil pengalaman dari situ aja. Kenapa mau melamarmu lagi? Gak bisa apa memberikan hak penuh sama kamu untuk memilih apa yang kamu inginkan?” “Mereka hanya bertanya, Iz, bukan memaksaku,” jawab Kelana menggelengkan kepala. “Mereka malah mendoakan kebahagiaanku.” “Ohh begitu? Ya sudah.” Iza menganggukl. “Ja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN