Bagian 4

1109 Kata
Untuk pertama kalinya Karina berkenalan dengan orang asing, tanpa ada pikiran buruk pada Aulia, hanya beberapa menit saja keduanya sudah bisa akrab layaknya sahabat lama baru bertemu. “Sudah, kan, ibadahnya?” tanya Aulia. “Iya udah,” jawab Karina. “Gimana kalau kita makan-makan? Ya, hitung-hitung merayakan hari pertama kita berteman,” ajak Aulia. Awalnya Karina sempat berpikir keras dengan tawaran yang Aulia tawarkan saat ini, karena memang perutnya sudah keroncongan sedari tadi, Karina pun akhirnya setuju ke mana pun Aulia membawanya, daripada harus berurusan dengan Reyhan lagi. “Gimana? Mau, kan? Saya tahu di mana tempat makanan halal di sini, kalau kamu mau ayo, kebetulan saya bawa mobil pribadi,” ucap Aulia. “Wah, kamu punya mobil?” tanya Karina. “Hmm, alhamdulilah. Karena sudah lama juga tinggal di sini, kalau nggak punya mobil pribadi susah kalau mau ke mana-mana,” jawab Aulia tetap rendah hati. Karina pun ikut bahagia mendengarnya, walaupun dia sendiri belum mengenal lebih jauh siapa sosok Aulia itu, yang terpenting untuk sekarang dia baik dan beragama Islam seperti Karina. Tanpa menunggu lama lagi keduanya pun langsung otw ke restoran halal yang ada di Eropa, tempat yang saat ini direkomendasikan oleh Aulia. Setelah sampai pun Karina tak berhenti berdecak kagum menatap ke sekeliling restoran, baru pertama kalinya dia merasakan liburan yang sesungguhnya, walaupun caranya ke Eropa harus jadi madu wanita lain. Penampakan Maximus Steakhouse dari luar. Tempatnya sangat cozy Restoran yang terletak di pusat kota Amsterdam, tepatnya di 27-29 Max Euweplein, menggaransi bahwa makanan (steak Amerika) yang mereka sajikan adalah 100% halal. Restoran ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk makan malam romantis anda bersama pasangan atau sekadar bersantai dengan teman-teman. Restoran ini terbilang cukup besar karena dapat mengakomodasi hingga 100 tamu. Benar sekali sudah banyak tamu yang berdatangan, ada yang mengandeng pasangan masing-masing, dan ada juga yang bersama kawan-kawan bergerombol. Seperti Karina dan Aulia saat ini, menikmati setiap detik suasananya yang indah sekali, Aulia lebih tahu maka dari itu dia sudah memesan makanan serta minuman halal di sini, Karina hanya nurut saja. “Karina, duduk dulu yuk,” ucap Aulia. “Iya,” jawab Karina. “Oh, iya, ngomong-ngomong kamu ke Eropa sama siapa? Sendiri? Atau seperti saya ini lagi studi? Kuliah?” tanya Aulia. Karina terkejut pertanyaan Aulia saat ini benar-benar menyesakkan d**a, apa harus Karina jawab, aku ke sini dinikahi suami orang hanya untuk menghasilkan anak, dan terpaksa menjadi madu wanita lain. Tidak mungkin Karina jujur seperti itu, apalagi Karina belum tahu sebenarnya Aulia itu siapa. “Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Aulia lagi. Sedangkan Karina masih berpikir apa yang harus dia jawab pada teman barunya, kalaupun jujur Karina takut tidak diterima sebagai teman lagi oleh Aulia. “Kalau kamu belum siap untuk cerita ga papa kok, tenang aja,” ucap Aulia kemudian. “Ah, makasih banyak, ya, kamu teman baru tapi udah ngerti keadaan aku sekarang,” sahut Karina. “Santai, ya udah fokus makan dulu nanti kita lanjutkan ngobrolnya,” titah Aulia dan Karina pun tersenyum bahagia. Baru kali ini Karina bertemu dengan orang baik di negara orang walaupun sama-sama dari Indonesia dan beragama Islam, jarang-jarang ada orang yang bisa langsung akrab seperti sekarang ini. Setelah selesai makan, kali ini Aulia yang memperhatikan gerak-gerik Karina yang dirasa tidak wajar sedari tadi, selama berkenalan tadi belum ada satu pun informasi yang Aulia dapat dari teman barunya itu. “Rumah kamu di Jakarta daerah mana?” tanya Aulia setelah membayar makanan ke kasir. “Aku asli orang kampung, di Jakarta pun karena bekerja,” jawab Karina. “Kalau boleh tahu kerja apa, ya? Siapa tahu jadi lebih akrab lagi kita,” tanya Aulia lagi. “Jadi sekretaris di perusahaan, mengenai aku tinggal di mana, ya, sewa rumah kecil-kecilan gitu,” jawab Karina lagi jujur. “Salut deh sama kamu, Karin. Masih muda tapi udah kerja keras banget, kita temenan oke? Aku—kamu aja panggilannya, biar lebih akrab,” kata Aulia tersenyum mengandeng tangan Karina. “Oke siap kawan baru,” ucap Karina tersenyum lega. *** Sepanjang perjalanan, Aulia pun bingung harus antar Karina ke mana, mau tanya lebih dalam pun ada rasa tidak enak dalam hatinya karena baru kenal. Namun, jika diam saja akan lebih susah untuk mengantarnya pulang, karena waktu di Eropa pun sudah larut malam, Aulia sendiri masih banyak urusan yang harus diselesaikan. “Karin, aku ....” “Kamu pasti bingung, ya, mau antar aku ke mana? Salah aku juga, sih, nggak kasih tahu dari tadi,” potong Karina. “He he, syukur alhamdulilah deh kalau kamu mengerti maksudku,” ucap Aulia. “Diantar ke mana, ya? Apartemen atau hotel mana gitu tempat kamu tinggal di Eropa?” tanya Aulia. “Aku kasih tahu alamat hotelnya, ya, jalan terus aja Aulia, maaf sudah banyak merepotkan padahal kita, kan, baru aja kenal,” jawab Karina. “Ga papa kok, aku senang membantu kamu,” tutur Aulia tersenyum melanjutkan kemudinya. Pada saat sampai ke tempat tujuan, Aulia pamit terlebih dahulu dan Karina pun masuk ke area hotel itu dengan perasaan dag-dig-dug tak jelas, bagaimana pun dia sudah membuat Reyhan menjadi celaka dan langsung kabur. “Aku masuk jangan, ya? Kalau nggak masuk mau tidur di mana aku,” ucap Karina lirih. “Masuk saja, toh masih sah menjadi istri saya!” Suara bariton itu mengagetkan Karina. “Hah? Reyhan? Eh Pak Reyhan,” ucap Karina terbata. “Masuk!” titah Reyhan, akhirnya Karina pun menurut. Daripada urusannya dengan Reyhan semakin panjang, lebih baik menurut saja dan berpasrah apapun yang akan terjadi pada hidupnya. *** “Tega, ya, kamu! Berani-beraninya mencelakai saya dengan sengaja lalu meninggalkan saya begitu saja! Kalau tidak ada pelayan hotel yang akan membersihkan kamar gimana keadaan saya! Kamu tidak berpikir ke situ, Karina!” “Ampun, Pak ... aku ....” “Simpan kata maafmu itu, layani saya!” “Maksudnya Pak?” tanya Karina polos. “Astaga! Layani bosmu ini, badan saya jadi sakit-sakit seperti ini karena kamu! Layani sebagai bos!” bentak Reyhan. “Ah, iya Pak baik,” ucap Karina patuh. “Saya bisa memaafkan kamu kali ini, tapi tidak untuk kedua kalinya nanti, bisa-bisanya tidak bersyukur kamu! Saya hanya anggap kamu b***k! Tidak lagi menganggap istri seperti ratu!” “Iya, Pak,” ucap Karina hanya itu. Bersyukur masih dimaafkan dan diterima tidur saja sudah sangat membahagiakan bagi Karina, karena di Eropa dia bingung harus pergi ke mana nantinya. Tidak mengapa walaupun hanya dianggap b***k, setidaknya nanti dia tidak harus menjual dirinya lagi, meskipun berstatus suami istri. “Kamu ngapain bengong? Buruan, pijitin semua badan saya!” teriak Reyhan. Kali ini, Reyhan lebih tegas dan arogan pada Karina, bagaimana pun Reyhan sudah kecewa pada Karina yang sudah tega mencelakai dirinya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN