Bagian 3

1064 Kata
“Bukan maksudnya mau ngusir, Mi tapi ... Mas Reyhan memang tidak ada di rumah,” ucap Adinda masih berusaha untuk tetap tenang. Tidak mempedulikan apa yang menantunya katakan, Mami Deli tetap keukeuh menerobos masuk ke dalam rumah mencari anaknya ke sana dan kemari, berharap segera bertemu dengan anak semata wayangnya itu. “Reyhan! Ke mana kamu! Anak pembangkang! Reyhan ....” teriak Mami Deli. Adinda berusaha untuk mengejar ke mana pun perginya Mami Deli, sampai akhirnya Mami Deli sendiri yang menyerah tepat di kamar Adinda dan Reyhan. “Di mana kamu sembunyikan anak saya! Di mana!” “Ya Allah, Mi. Aku nggak sembunyikan Mas Reyhan di mana pun, dia emang lagi meeting di luar negeri seperti biasanya, dan aku nggak tahu di mana,” ucap Adinda. “Oh, iya? Terus saya harus percaya sama kamu? Jadi istri kok bodoh banget! Bego!” Kata-kata kasar itu berhasil membuat hati Adinda sakit seperti teriris pisau yang tajam. Dari dulu memang tidak pernah akur dengan mertuanya, tapi baru kali ini Adinda merasakan sakit yang begitu mendalam. Tidak tahu harus apa lagi, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis. “Nangis? Hey! Di mana akal dan pikiran kamu sebagai istri! Kamu tahu tidak? Suami kamu bukan hanya meeting di luar negeri, dia berpoligami!” Mami Deli sampai meludahi lantai kamar itu. “Aaa ... apa? Apa yang Mami ucapkan?” tanya Adinda masih tidak percaya. “Makanya jadi istri itu pakai otak! Bukan dengkul! Saya seperti ini bukan berarti berpihak pada kamu, ya, saya seperti ini karena pantang bagi keluarga besar saya berpoligami! Mencoreng nama baik saja.” “Mami ... Mami tahu dari mana dan ....” Adinda masih terisak tanpa berani memandang mertuanya langsung, dia kembali menangis sampai sesegukan sendiri. Tidak lama dari itu ibunya pun masuk ke dalam kamar, melihat langsung anaknya menangis seperti itu, sontak membuat ibunya Adinda mengamuk pada Mami Deli. “Hei? Apa yang kamu lakukan pada anak saya? Apa yang kamu katakan pada putri kesayangan saya!” “Tanya saja sendiri pada anakmu ini, tidak becus menjaga suami! Bego!” Mami Deli pun mendelik tajam sebelum melenggang pergi dari kamar itu. Sedangkan Adinda masih terisak, sebagai ibu yang baik pun langsung merengkuh tubuh anaknya ke dalam pelukan hangatnya. *** “Bosan sekali aku di sini, berapa lama lagi, sih, aku pengen pulang kangen keluarga.” Tanpa Karin sadari, ucapannya barusan membuat Reyhan marah besar. Bukan karena Reyhan tak ingin pisah darinya, melainkan usahanya untuk memiliki seorang anak belum tercapai. “Kenapa kamu ingin pulang hah! Apa di sini tidak membahagiakan bagi kamu, Karin!” Suara bariton khas killer itu membuat Karin menoleh sambil ketakutan, pasalnya bukan posisinya sebagai istri saja yang terancam jika dia sudah marah tapi posisinya sebagai sekertaris juga. “A-aku, anu aku ga papa kok. Siapa yang mau pulang dih, aku, kan, betah banget di sini,” ucap Karin mencari alasan. “Masa? Kalau begitu, ayo, ikut saya!“ Reyhan menyeret Karin secara kasar karena kali ini Karin menolak untuk melakukan hubungan suami istri dengannya. Walaupun Karin tahu ini halal tapi tetap saja baginya pernikahan tanpa wali itu tidak sepenuhnya sah, Karin tak ingin menikah seperti ini tanpa ayah kandungnya yang menjadi wali nikah. Tetap diseret sampai tubuhnya terhempas ke atas ranjang berukuran besar nan mewah itu, Karin mencoba untuk melarikan diri tapi dirinya tidak lebih kuat dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, Reyhan. “Lepas! Lepasin!” Pekik Karin berontak. “Diam Karin! Apa salahnya kita melakukan ini? Kita sudah sah menjadi suami istri, nggak ada salahnya melakukan ini dan ....” Plak. Entah dorongan dari mana Karin meraih vas bunga yang ada di atas nakas kemudian dengan emosi yang berkabut dia lempar ke arah kepala Reyhan, sampai bercucuran darah. Masih dengan kondisi sadar Reyhan menarik kaki Karin berusaha untuk meruntuhkan kaki itu, tapi sayangnya Reyhan tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ada di kepalanya saat ini, dia pun langsung tak sadarkan diri. Melihat langsung Reyhan menutup kedua matanya, Karin panik dan membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. “Apa yang sudah aku lakukan? Ini bukan niatku, harusnya bukan seperti ini dan ... aku lebih baik kabur.” Karin pun langsung kabur dari sana, entah mau ke mana dia sekarang. Uang pun tak punya untuk balik ke Indonesia, dia menangis sepanjang perjalanan, jalan kaki sendirian. “Harus ke mana aku? Balik lagi dan tolong dia? Gimana kalau dia mati, bisa membusuk aku di penjara!” Sedangkan Reyhan berhasil ditolong pelayan hotel dan dibawa ke rumah sakit terdekat, untung saja pelayan itu cepat menolongnya jadi Reyhan masih bisa terselamatkan. “Awshh, sakit sekali! Dasar wanita jalang! Bisa-bisanya dia berencana membunuh saya, apa dia berpikir saya tidak bisa mendapatkan wanita bayaran lainnya? Bisa saja saya cari yang baru tapi apa masih ada yang sepolos dia? Virgin seperti dia? Ah sialan, Karin!” Reyhan pun kembali diperiksa oleh dokter, tidak diperbolehkan untuk langsung pulang dan harus menginap di rumah sakit satu malam saja. Dering ponsel Karin terus menganggu, sampai dia sendiri bingung harus menjawab atau menolak telepon itu, nomor yang dia namai bos killer terus saja menelpon dirinya. “Masa, sih, dia sekuat itu sampai kepalanya berdarah saja masih bisa telepon aku? Ah, abaikan saja deh.” Masih bingung harus pergi ke mana sampai akhirnya Karin pun menemukan tempat yang baginya itu Musala, walaupun sepi tapi Karin tetap masuk ke dalam untuk mengambil wudu. “Sepi sekali di sini, tapi ga papa lebih baik di sini daripada aku harus luntang-lantung nggak jelas di negara orang,” ucap Karin kemudian bersiap untuk salat isya. Dia sendiri awalnya bingung karena tidak membawa mukena, tapi setelah mencari akhirnya menemukan mukena khusus di Musala itu. Menjalankan ibadah dengan khusyuk berdoa kepada sang pencipta untuk nasibnya ini. Setelah selesai, Karin pun tetap diam di Musala sampai datanglah seseorang menyapanya. “Permisi, assalamualaikum apa anda seorang muslim?” Karin pun terkesiap mendengar itu dan langsung menjawab, “Iya waalaikumussalam, saya muslim, anda siapa, ya?” tanya Karin. “Oh, alhamdulilah. Ternyata bukan hanya saya muslim di sini yang masih berkunjung ke rumah Allah, perkenalkan nama saya Aulia, kamu?” Wanita berjilbab pasmina berwarna hitam itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Karin dengan senang hati menjabat tangan itu, “Aku Karina, panggil Karin aja.” “Baik, Karin. Kamu sendiri saja ke sini?” tanya Aulia. Bersambung. Next? Akan on going up setiap hari ya. Jangan lupa tap love, komentar, dan follow author ya semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN