Enam bulan kemudian, sungguh tidak teras waktu bergulir begitu cepat. Semua yang sudah terjadi, bahkan dilalui berasa seperti sebuah mimpi bagi Karina. “Hei? Kamu kenapa? Keram lagi perutnya Sayang?” “Nggak, Yang. Aku cuma kepikiran apa kata-kata kamu waktu itu,” sahut Karina. “Mengenai hal apa?” “Emangnya kita harus banget, ya? Setelah aku melahirkan langsung pindah ke Turki lagi? Setidaknya tunggu anak kita sampai agak besar dulu.” Reyhan mendekat, kemudian menangkup wajah Karina dengan kedua telapak tangannya. Mencium bahkan melumat sedikit bibir bawah Karina dengan penuh kasih sayang. “Dengarkan saya, siapa yang bilang seperti itu hmm? Saya hanya bilang, setelah anak kita lahir nanti, saya ... kamu, dan anak kita pindah ke Turki, tidak sampai mengatakan harus loh, kalau kamu tida

