Karina mendekat semakin penasaran dengan kebenaran yang sudah ada di depan mata, tidak percaya bahkan tidak menyangka seorang Reyhan bisa melakukan itu.
“Pak?”
Karina menggeleng, bisa-bisanya dia nekat ke area salat untuk laki-laki. Kalau ada karyawan laki-laki yang lihat bagaimana? Karina pasti akan malu tertangkap basah seperti ini.
Tetap tenang, diam dan mendengarkan saja sampai Reyhan sendiri menyelesaikan membaca Alquran. Hati dan pikiran Karina menjadi lebih tenang setelah mendengar lantunan ayat suci Alquran, apalagi orangnya adalah Reyhan.
Laki-laki yang awalnya Karina pikir b***t dan tak punya hati, saat Reyhan sudah selesai dan menyimpan kembali Alquran yang berukuran kecil ke dalam tas nya, baru menyadari kehadiran Karina di dekatnya.
“Karina?”
Orang yang dipanggil hanya cengengesan merasa malu karena pada akhirnya ketahuan juga, menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Ngapain kamu di sini? Wanita ada loh tempatnya untuk beribadah, ngapain?”
“Eh, itu Pak nggak ... ada itu ....”
“Ada apa? Ya saya tahu, walaupun kita sudah menikah tetap saja ini tempat ibadah, ayo, ke luar dulu. Lanjutkan di ruangan saya.”
Reyhan melenggang lebih dulu, sedangkan Karina ketakutan sendiri, khawatir sendiri, bahkan sampai salah tingkah. Entah apa yang akan Reyhan lakukan di dalam ruangannya nanti, ini semua tetap kesalahan Karina.
Mengikuti Reyhan ke ruangannya, dan tetap memasang wajah tanpa ekspresi, agar Reyhan tak curiga. Diam-diam Karina takut pada suaminya sendiri, menyeramkan tetapi membuat nyaman.
“Katakan, apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Reyhan.
“Kalau ada yang lihat, kan, bisa gawat. Kamu sudah siap memangnya? Siap untuk semua orang tahu kita sudah menikah, gitu?” Reyhan mendekat.
“Pak, aku nggak ada maksud apa-apa kok tadi, soalnya ....”
“Jujur saja, ngapain coba? Kalau kangen bilang, jangan ngintip.”
“Idih, siapa juga yang kangen sama Bapak. Tiap hari juga ketemu, ngapain harus kangen,” cetus Karina yang memang tidak merasa.
Justru sikap dan ucapan Karina saat ini sukses membuat Reyhan tertawa, entah dia menertawakan apa, yang jelas Reyhan terkekeh sendiri.
Karina meringis karena tangannya mulai gemetar, kalau lihat senyuman dan tawa Reyhan bisa membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya, Karina mulai rasakan semenjak mereka malam pertama dulu.
“Kenapa ketawa terus, sih, emang lucu? Udah, aku mau kembali bekerja, boleh, kan? Kerjaan numpuk,” ucap Karina.
“Ha ha, silakan. Ketahuan kangen kok sampai salah tingkah ha ha, kerja yang benar, karena nanti malam saya ke rumah kamu, untuk bersenang-senang.”
“Hei! Ngapain Bapak ke rumah lagi? Belum puas? Puas untuk mempermalukan aku di depan tetangga? Apa kata orang nanti,” cetus Karina.
“Tidak takut, karena sudah sah menikah bahkan ada buku nikah,” kata Reyhan bangga.
“Rese! Tetap aja nggak sah, tanpa wali! Udahlah aku kerja aja.” Karina melenggang lebih memilih jauh-jauh dulu dari laki-laki itu.
Reyhan sendiri tetap terkekeh, lucu dan menggemaskan Karina itu, bagi Reyhan belum pernah dia bertemu dengan wanita cantik, sexy, sekaligus perfect tetapi dungu, hanya Karina yang seperti itu.
“Dungu kok dipiara ha ha, beda banget dengan Adinda, hmm sudahlah.”
Pusing, dan kesal jika mengingat Adinda seperti apa, tidak ada asyik-asyiknya sama sekali, monoton lurus tanpa ada belokan sama sekali, beda jauh dengan Karina.
Itu yang berhasil membuat seorang Reyhan yang dulu terkenal saleh dan setia sampai berpaling dari istri lama ke istri baru, berubah drastis hanya karena terobsesi ingin memiliki seorang anak.
***
Jangan kamu berikan hatimu untuk wanita lain, hanya aku yang seharusnya kamu cintai dan sayangi, tetapi jika boleh egois, aku akan membunuh siapapun itu yang berhasil membuatmu berpaling.
“Hidih ngeri banget tulisan nya, siapa yang tega coba saling membunuh hanya karena cinta dan laki-laki? Belum tentu juga, kan, laki-laki yang diperebutkan tahu diri, nggak banget, sih, ini cerita.”
Karina berhenti membaca novel romance yang baginya terlalu lebay, dan sangat berlebihan pada cinta. Dia sendiri sampai membayangkan, bagaimana jika dirinya sampai dibunuh oleh Adinda? Menyeramkan.
“Aku nggak boleh berpikiran buruk seperti itu, Mbak Adinda itu orang baik, nggak mungkin berbuat kriminal hanya karena cinta, ya ampun Karina! Sampai kapan kamu melamun! Kerjaan numpuk begini.”
Tetap berusaha berpikir yang positif saja walaupun masih ada rasa penasaran sekaligus kekhawatiran, Karina tetap tenang dan kembali bersemangat untuk bekerja.
Sedangkan Adinda, sudah sampai ke rumah mertuanya, rumah yang sedari kecil sudah menjadi tempat favorit Reyhan, Adinda datang untuk meminta pembelaan.
Mengetuk pintu lalu seorang pembantu lah yang membuka pintu nya, Adinda dipersilakan untuk masuk dan menunggu di ruang keluarga.
“Ngapain kamu datang ke sini? Masih punya muka?”
Datang-datang sudah disambut dengan mulut pedas seorang mertua, orang tuanya Reyhan yang masih ada di dunia ini tinggal maminya, karena sudah lama sekali papinya Reyhan meninggal dunia.
“Mami, assalamualaikum ....”
Adinda tetap sopan mencium punggung tangan Mami Deli, tetap tidak diterima dan ditepis dengan kasar.
“Nggak usah so sopan, mau apa kamu datang ke sini? Ada urusan apa?” tanya Mami Deli.
“Mi ... Mas Reyhan ternyata benar sudah mengkhianati aku, tetapi apa benar wanita itu Karina? Sekretaris Mas Reyhan?” Adinda gemetaran.
Mami Deli terkekeh, memasang wajah sinis dan tidak suka dengan sosok Adinda yang saat ini ada di hadapannya. Muak dan sangat benci, dari awal tidak setuju Reyhan menikah dengan Adinda si gadis miskin.
“Kamu? Tanya itu semua pada saya? Ha ha, wanita lemah! Tanya langsung pada suamimu! Itu rumah tangga kalian! Lebih baik ... pergi sana!” bentak Mami Deli.
Adinda tertegun melihat perlakuan mertuanya, dia sendiri belum sepenuhnya yakin apa benar Reyhan sudah menikah lagi? Bersama Karina kah? Adinda masih butuh bukti.
“Pergi! Tunggu apa lagi?”
“Maaf, Mi. Kalau benar kedatangan aku ke sini sudah membuat Mami terganggu, tetapi aku mohon ... aku butuh bukti dan kebenarannya, apa benar Mi?”
“Benar apanya? Cari tahu sendiri lah, kamu istrinya kenapa jadi saya yang dibawa-bawa, tidak becus jadi istri!”
Adinda menghela napas berat, melanjutkan ucapannya yang walaupun terasa menyakitkan setiap jawaban dari mertuanya itu.
“Mi ... aku datang baik-baik ke sini, tetapi kenapa Mami selalu memperlakukan aku tidak baik, kenapa Mi? Sebenarnya apa salah aku,” tanya Adinda.
“Kesalahan terbesar kamu adalah menikah dengan anak saya! Puas? Pergi kamu!”
“Mami, aku mohon sama Mami, jangan usir aku dulu, aku butuh sekali bukti dan kebenarannya,” ucap Adinda memohon.
“Tidak akan! Pergi!” bentak Mami Deli, bahkan sampai menyeret Adinda sampai ke luar rumah.