Diusir secara kasar dan dipaksa, membuat nurani Karina berkata kasihan kepada Adinda, tanpa mereka ketahui sebenarnya sedari tadi Karina mendengarkan semuanya di balik pintu, bahkan melihat langsung melalui celah jendela.
“Mbak ....” Karina berlirih, untung saja Adinda tidak mendengarnya, langsung pergi begitu saja.
Karina pun dengan kesal masuk ke dalam ruangan Presdir itu, tanpa mengetuk pintu ataupun sopan santun lainnya.
“Hei, kamu sedang apa? Masuk kok tidak ketuk pintu dulu!” Belum apa-apa Reyhan sudah marah.
“Kamu nggak punya hati banget, sih, Pak! Mana hati nurani kamu? Mana rasa kemanusiaan kamu? Mbak Adinda itu istri sah kamu juga, bahkan coba lihat ke meja ... dia sampai rajin membawakan rantang makanan untuk suaminya, yaitu kamu!”
Reyhan tersenyum sinis mendengar semua ocehan Karina, dia bangkit dari posisi duduknya dan mengelus perlahan pipi serta bibir Karina.
“Lepas! Jangan harap aku mau, ya, dipegang-pegang sama kamu, Pak. Nggak punya hati!” cetus Karina.
“Sudah berani berkata kasar pada saya? Meninggikan suara? Melototi saya? Kamu siapa? Punya apa sampai berani dengan saya, hah?!”
“Bapak tanya saya siapa? Punya apa? Saya Karina! Saya punya Allah yang maha adil, mengerti?” tanya Karina tanpa rasa takut.
“Oh, baby. Kamu ini sungguh manis seperti ini, padahal saya tahu kamu sedang marah. Tetap saja manis,” ucap Reyhan.
“Gila! Udah nggak waras kamu, Pak. Satu lagi, kalau aku sekali lagi lihat Bapak nggak adil pada Mbak Adinda, aku nggak akan segan-segan guggat Bapak!” teriak Karina sebelum melenggang menuju ke luar ruangan.
“Karina ... tunggu ....”
Reyhan pun mendesah pasrah, baru kali ini ada seorang wanita yang berani kepadanya, Mami Deli dan Karina lah yang berani padanya di dunia ini, sebagai seorang wanita.
“Mami? Karina? s**t! Sama saja, sama-sama berhasil membuat saya kalah dalam bicara!”
Tak ingin kehilangan mesin pencetak anak, Reyhan pun sampai tidak bisa membiarkan Karina pergi dengan keadaan marah padanya, Reyhan menghampiri Karina yang saat ini berada di dapur kantor.
“Siang, Pak Reyhan.”
“Permisi duluan, Pak.”
“Loh, Pak? Kenapa bisa ke dapur kantor, biar saya yang buatkan minum.”
Beberapa karyawan dan OB/OG terus saja bertanya kenapa Reyhan ke dapur kantor, dan memberondong pertanyaan yang masih banyak lagi, Reyhan hanya tersenyum penuh makna, membuat mereka semua langsung bungkam dan pergi.
Menyisakan mereka berdua, Reyhan dan Karina masih saling diam, pada akhirnya Karina pun berniat untuk pergi juga seperti karyawan yang lain, hanya saja langkahnya tidak lebih cepat dengan cengkraman tangan yang dilakukan oleh Reyhan saat ini.
Sedikit memaksa Karina untuk ikut lagi ke dalam ruangannya, sampai berhasil karena Karina sudah tak kuat lagi dengan perlakuan Reyhan yang begitu kasar.
Menutup pintu dan menutup semua tirai jendela dengan otomatis ruangan tertutup rapat, tentu saja berhasil membuat Karina ketakutan.
“Pak ....”
“Kamu sudah berani pada saya, Karina. Kamu? Sudah menerima uang dari saya saat akad nikah itu, lalu apa salahnya saya menginginkan anak dari rahim kamu?” tanya Reyhan napasnya terasa dan terdengar berat.
“Kamu tahu? Saya sudah dua tahun menunggu momen ada tangisan suara bayi di rumah, gelak tawa dan mainan yang berserakan di rumah, anak dari kamu yang saat ini menjadi harapan saya,” ucap Reyhan.
“Pak ....”
“Oke, mungkin bagi kamu sejumlah uang itu terkesan membeli rahim dari diri kamu, tetapi kamu tahu? Saya lebih baik kehilangan semua harta yang dimiliki daripada harus hidup sampai tua tanpa seorang anak! Camkan itu! Uang milyaran, sekalipun dolar, tidak ada artinya, saya bicara selembut ini sama kamu, tidak dengan wanita lain, tolong ... pikirkan lagi, saya tidak minta apapun selain anak,” tambah Reyhan lebih halus tanpa terlalu formal.
Tangan Karina mencekram sofa yang saat ini menjadi tempat mereka duduk, entah sejak kapan sudah duduk berhadapan seperti sekarang, mendengar semua ucapan Reyhan, membuat Karina berpikir keras lagi.
“Baik, kalau kamu tidak bisa memutuskan suatu keputusan saat ini, tak apa. Silakan ke luar dan kembali bekerja, saya tunggu jawaban serta keputusan kamu sampai besok, satu lagi Karina ... kamu? Tidak datang bulan saat ini, kenapa saya tahu? Bodoh sekali, kamu salat subuh sebelum saya pergi dari rumah itu,” cecar Reyhan merasa puas.
Deg. Betapa dungu diri Karina ini, bisa-bisanya dia lupa mengunci pintu kamar saat dia salat subuh, kacau dan rasanya malu sudah tertangkap basah.
“Saya tidak akan marah, silakan kembali bekerja, urusan Adinda biar jadi urusan saya,” titah Reyhan kemudian dia kembali fokus pada laptop.
***
Bolak-balik ke kamar mandi kantor, bahkan saat ini melanjutkan pekerjaan pun tidak bisa fokus, mempertimbangkan ucapan Reyhan tetapi memikirkan perasaan wanita lain, Adinda.
“Aku ... harus hamil? Tapi apa tega aku berikan anakku begitu saja pada orang, mana setelah aku melahirkan akan ditalak, gimana dong? Di satu sisi kasihan pada Mbak Adinda, dan disisi lain Reyhan itu tetap suamiku, gimana ini!”
Air di wastafel pun sampai lupa dia matikan, sampai ada orang lain yang mematikannya karena air sudah meleber ke mana-mana.
“Jangan melamun di kamar mandi, kesampet tahu rasa.”
Suara itu membuat Karina tersadar kembali, dia malu sampai tertangkap basah oleh karyawan lain sedang melamun.
“Eh, maaf.” Hanya itu yang Karina ucapkan.
“It's okay, memangnya kamu kenapa? Aku perhatikan kok bolak-balik kamar mandi tetapi kenyataannya hanya berdiri di sini memenuhi air sampai meleber, kalau sampai banjir di sini kamu dipecat loh,” celetuk seorang wanita, masih karyawan.
“Kamu nggak sakit, kan?” tanyanya lagi.
“Aku sehat dan baik-baik aja kok, hanya sedikit lelah saja,” sahut Karina.
“Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan, ingat bahwa salat jauh lebih baik untuk menenangkan pikiran dibandingkan melamun sendirian di kamar mandi, aku duluan, ya, mau lanjut kerja,” pamit wanita itu yang tak lain adalah Leti.
Karina hanya tersenyum mengangguk kecil, apa yang Leti katakan barusan memang benar, hanya dengan beribadah bisa lebih baik dibandingkan seperti ini.
Melangkah menuju ke Musala kecil di kantor, untuk salat duha, tak apa salat duha yang terpenting salat, karena waktu zuhur masih lama.
Setelah selesai, Karina mendengarkan lantunan ayat suci Alquran begitu merdu, siapa yang mengaji siang-siang seperti ini? Dia ingin tahu, sedikit mengintip di balik tirai pembatas shaf laki-laki dengan perempuan.
“Hah? Pak Reyhan? Itu benar dia? Kok bisa?”