Merasa terkejut akan kehadiran Reyhan secara tiba-tiba, Adinda maupun Karina tetap diam hanya menangis yang mereka lakukan. Menangis tanpa suara, membuat Reyhan semakin mengeratkan tangannya pada bucket bunga itu. “Kenapa kamu bisa di sini? Kenapa kamu juga ke luar kamar, kenapa kalian berdua hmm?” tanya Reyhan. “Karina ... kenapa menangis Sayang?” Kata sayang, yang dulu hanya terucap untuk Adinda kini telah berubah, Karina lah yang menjadi penggantinya. “Mas, coba jelaskan! Kenapa kalian berdua bisa ada di mansion ayahanda? Hmm? Bisa-bisanya kamu bawa wanita lain ke sini, Mas. Mana janji kamu dulu,” ucap Adinda. “Kamu tidak ada hak untuk melarang saya! Lagi pula mansion ini atas nama saya, bukan atas nama kamu, jadi untuk apa marah-marah, Adinda? Sudah kamu hasut apa, hah? Kamu hasut

