BAB-1.MATILAH, VALLERIE JASMINE!
BAB-1.MATILAH, VALLERIE JASMINE!
“Aku tidak akan menikahimu.” Sky meraih pergelangan tangan Vallerie dan meremasnya kuat-kuat. “Berapa kali harus kubilang padamu, aborsi anak itu! Aku akan menganggap tidak terjadi apa-apa selama kita bersama. Hubungan kita akan berjalan seperti sebelumnya.”
“Sky…” Tangis Vallerie hampir pecah. Dia tidak tahan lagi dengan semua hal yang berhubungan dengan Sky. “Sakit.”
“Kakatan kamu akan mengaborsinya! Lalu aku akan melepaskanmu.” Sky benar-benar melepas cengkraman tangannya pada Vallerie. Namun sebelum Vallerie berhasil menjauh dari pria itu, Sky lebih dulu mencekiknya. Hanya dengan satu tangannya yang besar, Sky mampu membuat Vallerie kehabisan napas. “Ingat, jika kamu berniat kabur dariku, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”
“Sa…kit! S.. Sky… Tolong.”
“Aborsi!” Teriak Sky keras. Suaranya cukup untuk memekakkan telinga Vallerie.
Satu tangan Sky berusaha meraih perut Vallerie tapi dengan cepat gadis itu menepisnya. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Vallerie. Dengan wajahnya yang mulai pucat, Vallerie menggeleng keras seolah berkata, Tolong jangan bunuh anakku.
Vallerie hanya tidak ingin menjadi pembunuh.
“Kamu tidak harus membunuhnya, Sayang. Biarkan orang lain yang melakukannya untuk kita.” Masih dengan tangan yang berada di leher Vallerie, Sky mencium bibir Vallerie dengan keras. Ia memagutnya dengan cukup intens hingga mengeluarkan suara yang terdengar menjijikkan di telinga Vallerie. “Bukankah kamu menikmatinya?” Sky tersenyum manis.
Itu adalah senyum yang dulu membuat Vallerie jatuh hati padanya.
“Kita bisa melakukan banyak hal tanpa anak itu. Bercinta, berpetualang, mengejar karir dan bahkan melanjutkan pendidikan kita. Bagaimana menurutmu? Tidak seharusnya kita dibebani dengan anak sialan ini, Val. Kita bisa bersenang-senang tanpanya.” Sky menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap rambut Vallerie. Pria itu tampak penuh kasih sayang.
Sementara Vallerie, tidak banyak darah yang bisa mengalir ke otaknya. Wajahnya pucat pasi dan hanya butuh sekian detik hingga dia bisa berjalan menuju akhirat.
Sky melepaskan leher Vallerie. “Jangan hancurkan masa depanmu, masa mudamu, dan aku dengan hadirnya anak ini. Aku tidak akan pernah bisa menjadi ayah untuk anakmu.”
Vallerie memegangi dadanya sambil terbatuk. Seandainya Sky terus mencekiknya, mungkin dia benar-benar tidak bisa melihat wajah mengerikan pria itu lagi.
“Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Besok aku akan menjemputmu pukul 10.00. Pastikan kamu sudah siap.”
“Aku tidak akan menggugurkan anak ini!” Vallerie berteriak kencang. Dia tidak tahan lagi dengan sikap Sky. “Apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankannya.”
Sky tampak murka. Dia turun dari mobil dan memutari setengah mobilnya. “Turun!” Sky berteriak sembari membuka pintu.
“Harus berapa kali kukatakan padamu! Jalang sepertimu tidak seharusnya mengandung anakku! Jalang sepertimu tidak seharusnya menjadi ibu dari anakku! Jalang sepertimu memang sudah seharusnya mati!”
Sky menarik paksa Vallerie dari mobil lalu mendorongnya hingga gadis itu jatuh ke tanah. Tidak ada yang bisa mendengar perdebatan mereka. Saat ini mereka tengah berada di tengah hutan yang mustahil dilewati orang. Sky sengaja membawa Vallerie ke tempat itu agar dia bisa memberi pelajaran pada gadis itu.
“Mungkin kamu memang sebaiknya mati.” Sky menendang kaki, tangan, dan punggung Vallerie berkali-kali. Dia tidak bisa mengarahklan kakinya pada perut Vallerie karena gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk menutup perut. “Jika kamu mati, bukankah anak itu juga akan mati?” Ia lalu tertawa keras. “Tunggu di sini, aku punya kejutan untukmu.”
Tak lama kemudian Sky kembali ke hadapan Vallerie dengan membawa jerigen berisi bensin di kedua tangannya. “Aku sengaja membawa dua. Satu untukmu dan satu untuk anakmu. Bukankah aku baik?” Ia lalu mencoba menyiram cairan itu ke tubuh Vallerie tetapi dengan cepat Vallerie mendorong jerigen tersebut. Cairan itu akhirnya tumpah ke tanah. “Sialan!” Teriak Sky marah.
Dengan emosi yang meluap-luap, Sky kembali menendang tangan Vallerie. “Bodoh! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos!”
Sky mengambil jerigen yang lain dan membuka tutupnya. Dia dengan cepat menyiram tubuh Vallerie dengan cairan yang mudah terbakar itu.
“Matilah, Vallerie Jasmine!” Saat mengucapkannya, Sky tersenyum hangat. Seolah melepas Vallerie ke syurga tanpa penyesalan.”
**
Beberapa jam sebelumnya.
Vallerie mengamati pantulan dirinya di depan cermin. Ia sesekali mengembuskan napas panjang. Hidupnya telah berubah drastis sejak tiga bulan yang lalu. Ya, hanya dalam tiga bulan semuanya hancur lebur. Pendidikan, karir, kehidupan social, romansa, dan entah berapa banyak kehancuran yang telah menggerogoti hidupnya. Semua itu terjadi cukup cepat. Rasanya seperti dia telah berjalan dengan baik selama puluhan tahun ini lalu tiba-tiba terperosok dan jatuh ke dalam jurang. Hingga dia tidak lagi bisa naik ke atas dan menyelamatkan dirinya.
Vallerie yang malang.
Tiga kata itulah yang diam-diam selalu terucap dari lubuk hati terdalamnya. Vallerie tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia lagi-lagi mengutuk dirinya dan mengatakan kalau dia adalah gadis terbodoh di alam semesta. Di antara milyaran pria di dunia ini, kenapa dia harus jatuh cinta pada pria seperti Sky? Di antara semua cinta yang datang padanya, kenapa harus Sky yang berhasil mencuri hatinya?
Sky. Vallerie menghapus air matanya. Kini ia melihat ke arah perutnya yang masih rata. Usia kandungannya sekitar enam minggu. Janin itu mungkin baru berbentuk gumpalan darah. Tidak ada salahnya jika dia melenyapkan janin yang tak diinginkannya itu.
Pembunuh. Lagi. Satu kata itu kembali muncul di benaknya saat Vallerie berniat melenyapkan anak yang tidak diinginkannya itu. Vallerie tidak mungkin bisa menanggung malu sendirian. Dia juga tidak akan sanggup menjadi ibu tunggal bagi bayinya. Sementara Sky. Pria itu telah menyuruh Vallerie untuk melakukan aborsi. Vallerie harus memilih antara berpisah dengan Sky atau mempertahankan anak mereka.
Dia tidak bisa memilih.
Dia tidak menginginkan bayi itu.
Dia juga tidak bisa berpisah dengan Sky.
Dia tidak ingin bersama Sky apa pun yang tejadi.
Vallerie hanya ingin sendiri.
Tanpa Sky.
Tanpa anak itu.
Andai waktu bisa diulang kembali, Vallerie hanya ingin Tuhan tidak mempertemukannya dengan Sky.