BAB-2. SI GAGAP BODOH.

965 Kata
BAB-2. SI GAGAP BODOH. Tiga jam sebelumnya. Vallerie mengambil ponselnya yang tertelak di atas meja. Ia telah selesai memindah semua rekaman video yang berhasil diambilnya selama menjalin hubungan dengan Sky. Di antara semua rekaman itu, sebagian besar Vallerie ambil secara diam-diam. Valleri juga memasang cctv di apartemen, kamera tersembunyi di mobil, dan rumah Sky. Ia melakukan semua itu demi keselamatan dirinya. Bagaimana pun, sejak menjalin hubungan dengan pria itu, Vallerie selalu merasa ada yang salah dengan mereka. Meski begitu dia tidak pernah bisa lari dari Sky karena pria itu berhasil mengancamnya. Termasuk video percintaan mereka. Vallerie bahkan tidak tahu kapan tepatnya Sky merekam momen itu. Tangan Valleri gemetar hebat kala melihat kembali potongan-potongan video di galeri ponselnya. Semua file ini telah dia simpan di banyak tempat. Vallerie berharap jika sesuatu terjadi padanya kelak, seseorang akan menemukan potongan video itu dan melakukan hal yang perlu mereka lakukan. Ia mengambil napas panjang lalu mencari nomor Merkurius, satu-satunya sahabat yang dia percaya. Dengan satu gerakan, Vallerie menekan ikon telepon pada ponselnya. Di dering kedua, Merkurius menjawab teleponnya. “Hai…” Vallerie bicara dengan nada gemetar. “Kamu di mana?” “Di rumah.” “Aku akan ke sana.” “Tidak! Jangan!” Vallerie segera mencegah pria itu datang ke rumahnya. “Aku butuh kamu. Tolong dengarkan aku!” “Val!” Bentak Merkurius keras. “Apa yang sebernarnya terjadi padamu! Kenapa kamu melakukan ini! Jangan jadi bodoh dan-“ “Merkurius… dengarkan aku.” Vallerie memohon dengan suaranya yang semakin lemah. “Saat ini aku di rumah dan aku baik-baik saja. Aku akan menemui Sky. Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya dan meminta pertanggung jawabannya. Aku akan pergi sendiri tapi kurasa aku butuh bantuanmu.” “Jangan temui dia! Kumohon!” Kali ini giliran Merkurius yang memohon pada Vallerie. “Aku-“ “Aku tidak yakin aku bisa menjaga dirimu. Jadi kurasa aku butub bantuanmu untuk menjagaku dari tempatmu.” “Bagaimana aku bisa menjagamu jika aku tidak berada di sisimu?” Vallerie mengusap air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya. “Kupercayakan semuanya padamu. Tolong aku.” Hening cukup lama. Vallerie meremas jari-jarinya yang mulai dingin. Dia tahu konsekwensi pertemuannya dengan Sky. Namun dia tidak akan membiarakn Sky menang begitu saja. Vallerie akan membuat Sky membalas semua perbuatannya. “Aku tahu aku bisa memercayaimu.” “Lingdungi aku, Merkurius!” Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Vallerie pada sahabatnya. Di antara milyaran manusia di bumi, Merkurius adalah satu-satunya yang paling peduli padanya. ** Merkurius mendengar semuanya. Semua yang dikatakan Sky pada gadis yang selama ini dijaganya dengan baik. Jantungnya berdegup kencang kala menyaksikan semua video yang telah dikirim Vallerie sebelumnya. Ia tidak menyangka Vallerie bisa bertahan sejauh ini dengan sikap arogan Sky. Vallerie bahkan tidak pernah sekali pun menceritakan apa yang dia alami padanya. Gadis itu sendirian. Benar-benar sendiri menghadapi siksaan Sky yang sangat tidak manusiawi. Sambil menghela napas panjang Merkurius mencoba menguatkan diri. Ini bukan saatnya untuk bersedih. Bukan saatnya untuk berduka. Dia harus melakukan tugasnya. Setelah memutus sambungan telepon beberapa jam yang lalu, Vallerie mengirimkan lokasinya. Gadis itu berharap Merkurius mengikutinya dan menyelamatkan dirinya saat dia sudah tidak berdaya. Benar saja. Nalurinya seorang perempuan tidak pernah salah. Di saat terakhir, Vallerie mendapatkan keberanian dan akal sehatnya kembali. Dia berhasil menghubungi Merkurius di tengah ancaman Sky. Vallerie tahu konsekwesi dari tindakannya tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja pada Sky. Maka kini Merkurius menjadi harapan terakhir bagi Vallerie. Diam-diam Merkurius mengikuti Vallerie dan Sky. Dia menggunakan ojek online dan berganti driver beberapa kali agar tidak menimbulkan kecurigaan Sky. Sampailah saat ini dia berhenti di jalan yang cukup gelap. Merkurius menyuruh driver ojek untuk segera meninggalkan lokasi tersebut saat Sky menghentikan mobilnya. Malam semakin larut, itu adalah tempat yang nyaris tidak pernah dilewati bahkan saat siang hari. Namun sepertinya Sky telah merencanakan semuanya dengan baik. Dia membawa Vallerie ke tempat ini dengan perhitungan yang cukup matang. Merkurius geram membayangkan apa yang akan terjadi pada Vallerie jika dia tidak mengikuti gadis itu kemari. Setelah menunggu lama di tempat persembunyiannya, Merkurius akhirnya menghubungi dua orang rekannya. Dia mengirim lokasinya saat ini pada mereka dan menyuruh mereka untuk menjemputnya dan Vallerie. Tak lupa ia juga meminta mereka untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang melihat kedatangan mereka. Dengan hati yang tegar, Merkurius terus memegangi ponselnya, merekam semua hal yang dilakukan oleh Sky pada Vallerie. Akhirnya kesabarannya habis saat melihat Sky menuang cairan bahan bakar ke tubuh Vallerie. Pria b******k itu mengambil korek api, hendak membakar Vallerie yang masih bernapas. Merkurius memasukkan ponsel ke saku celana. Ia berjalan cepat menghampiri Vallerie sembari memakai kacamata yang memiliki fitur kamera sehingga dia bisa terus merekam apa saja yang akan dilakukan oleh Sky. Begitu tiba di belakang punggung Sky, Merkurius dengan cepat menendang punggung pria itu. Ia lalu mengambil korek yang tejatuh ke tanah. “Apa yang kamu lakukan, b******k!” Sky segera bangkit. Ia memandang Merkurius yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Perbedaan tinggi badan mereka seharusnya membuat Sky menciut. Namun sepertinya pria itu sama sekali tidak punya rasa malu. “Siapa kamu?” Merkurius terdiam. Dia sedang merekam. Dia tidak akan membuat dirinya terjebak dalam masalah dengan melawan Sky. “Jangan ikut campur urusanku!” “A… Aku…” “Sialan! Pergi dari sini, Bodoh!” “Aku kebetulan lewat. Kukira kamu… kukira kalian butuh bantuan. Apa kamu baik-baik saja?” Merkurius tampak memandangi Vallerie dengan ekspresi ketakutan. “Ka… kamu begal?” tanyanya dengan nada polos. Ia mendengar suara deru motor dari kejauhan. Merkurius berjongkok dan menghampiri Vallerie yang kini masih terbaring di jalanan. “Di… dia? Apa yang terjadi padanya?” ia bersiap menggendong Vallerie. “Lepaskan dia, Dasar Si Gagap Bodoh!” Tepat saat itu, sebuah motor lewat dan dengan sengaja menabrak Sky. Kini giliran Merkurius yang tersenyum manis. Senyuman Sky yang dibalas dengan senyuman Merkurius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN