BAB-4. AKU HAUS.

1013 Kata
BAB-4. AKU HAUS. Rumah sakit. Vallerie berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus di pergelangan tangannya. Merkurius, Lucas, dan Junior berdiri di sana. Memandangi gadis bertubuh mungil itu dengan tatapan iba. Gadis itu telah mendapatkan perawatan dan kini tengah beristirahat. Salah satu di antara mereka mengambuskan napas berat. Sementara Merkurius, ia kembali merutuki dirinya sendiri. “Bukan salahmu, Mer.” Junior membuka pembicaraan. “Tidak ada yang tahu kalau ternyata dia pingsan. Kita bertiga telah melakukan yang terbaik untuknya.” “Junior benar.” Lucas memeriksa pergelangan tangannya. “Aku sudah memesan sarapan untuk kita bertiga. Mungkin sebaiknya kita makan sebelum aku dan Junior pulang.” “Kalian makanlah lebih-“ “Aku tahu kamu akan berkata demikian. Jadi, aku sengaja memesan makanan untuk kita. Kami akan pulang setelah kamu selesai sarapan.” Terdengar suara ketukan pintu dari luar. “Itu mungkin makanan yang aku pesan.” Lucas berjalan menghampiri pintu. Benar saja, makanan itu diantar oleh salah satu staff rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih ia kembali menghampiri kedua rekannya. “Ayo!” Dengan berat hati Merkurius meninggalkan sisi ranjang Vallerie. Setidaknya kini gadis itu baik-baik saja. “Aku dan Lucas akan pulang setelah sarapan. Kamu harus istirahat! Vallerie mungkin masih akan tidur beberapa jam lagi.” “Ya.” “Aku akan mengirim camilan dan baju ganti untukmu. Jadi kamu tidak perlu keluar dari sini. Apa lagi yang kamu butuhkan?” “Laptopku. Ada beberapa hal yang harus kuperiksa.” “Baiklah.” Junior membuka botol minum lalu menyerahkan pada Merkurius. “Supirku akan mengurus semuanya. Jangan khawatir.” “Terima kasih.” Ia mulai menyendok makanan. “Kalian sudah menyimpan semua video itu kan?” “Tentu.” Keduanya menjawab serentak. “Pastikan tidak ada yang mengetahui tentang ini selain kita bertiga.” “Ya.” “Mungkin sementara ini Vallerie bisa tinggal denganmu.” Lucas memberi ide. “Atau aku bisa membawanya ke apartemenku.” “Aku juga mau.” Junior menimpali tak kalah semangat. “Dia bisa-“ “Dia akan tinggal denganku.” Junior dan Lucas saling melempar tatapan. Umpan yang mereka lempar diambil oleh ikan yang cukup tangkas. “Hmbb…” Junior meregangkan punggung. “Jangan biarkan Sky menemuinya!” “Kami memanggilnya Dajjal,” Lucas menyela. “Ah... baiklah. Jangan biarkan Si Dajjal menemuinya. Mungkin saja dia akan mencoba membunuh Vallerie lagi.” “Ya.” Merkurius menjawab singkat. Lima belas menit kemudian sarapan mereka telah habis. Junior dan Lucas berpamitan. Kedunya memberi semangat pada Merkurius yang kini masih tampak sedih. “Aku akan sering berkunjung setelah menyelesaikan pekerjaanku.” “Aku juga.” Kalimat perpisahan itu sedikit membuat hati Merkurius lega. Bagaimana pun, tanpa mereka berdua mungkin saat ini ia masih kewalahan menghadapi Sky. Bukannya Merkurius takut pada pemuda itu, ia hanya tidak punya kekuatan sebesar Sky. Sky bukanlah lawan yang mudah untuk ditangani. Fyuh! ** Waktu menunjukkan pukul dua siang saat Vallerie pertama kali membuka mata. Seluruh tubuhnya terasa sakit, remuk redam, dan bahkan hatinya. Ini kali pertama dia mendapatkan perlakuan seperti ini. Meski Sky berkali-kali memukulinya, pria itu tidak pernah menghajarnya sampai seperti ini. Untungnya jauh-jauh hari Vallerie sudah merasakan firasat buruk itu sehingga dia bisa memberitahu Merkirius di detik terakhirnya. Bagi Vallerie tidak masalah jika nanti dia mati di tangan Sky. Yang terpenting baginya adalah Sky bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Namun kini ia selamat. Vallerie menganggap ini adalah bahwa ini adalah kesempatan kedua untuknya. Kesempatan untuk kembali hidup dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Selama dua puluh tiga tahun hidup di dunia, Vallerie selalu merasa ia telah melakukan yang terbaik. Jika kemarin adalah hari terakhirnya di dunia, ia sama sekali tidak masalah. Tidak ada yang perlu disesali. Vallerie sudah cukup puas dengan segalanya. Justru, kematian mungkin adalah akhir dari penderitaan yang diberikan Sky padanya. Ia akan sangat bersyukur jika terbebas dari belenggu pria seperti Sky. Dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Vallerie mencoba menggerakkan badan. Ia menoleh, mencari keberadaan Merkurius. Pria itu berbaring di atas tempat tidur, tampak nyaman dan manis. Seperti biasanya. Hati Vallerie menghangat melihat betapa tenangnya tidur Merkuius. Mereka telah melewati malam yang cukup panjang, wajar saja jika pria itu tidur pulas. Sembari menunggu Merkurius bangun, Vallerie bertanya-tanya dalam hati. Apakah bayinya baik-baik saja? Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Bisakah dia menghadapi Sky suatu saat nanti? Kini kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan dia sendiri tidak tahu jawabannya. Vallerie hanya ingin beristirhat dengan. Ia tidak mau memikirkan hal-hal menyakitkan itu. Tubuhnya sudah cukup sakit. Hatinya terluka dalam. Vallerie berharap kepalanya tidak ikut andil dalam menyakitinya. Terdengar suara gerakan halus dari ranjang di seberang. Vallerie kembali menutup mata. Dia tidak mau melihat Merkurius repot-repot menghampirinya. Pria itu sebaiknya beristirahat hingga sore menjelang. Harapan Vallerie sia-sia. Vallerie mendengar gerakan-gerakan yang jauh lebih kasar sekarang. Lalu suara derap kaki yang semakin jelas. Ia membua mata perlahan. Merkurius telah berdiri di sisi ranjangnya. “Kamu sudah bangun?” pria itu bertanya dengan suara serak khas bangun tidur. “Ya.” Vallerie menjawab jujur. Tidak ada gunanya berbohong dalam situasi seperti ini. Dia telah tertangkap basah. “Maaf membangunkanmu.” Merkurius menggeleng. “Aku sudah tidur cukup lama. Tidak masalah.” “Ya.” “Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Merkurius masih dengan kantuk di wajahnya. “Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Sebentar.” Merkurius menarik pelan microphone yang terletak tak jauh dari kepala Vallerie. Setelah terhubung ke Nurse station ia segera mengatakan kalau Vallerie sudah sadar dan meminta dokter datang untuk memeriksanya. “Apa kamu haus?” “Ya.” Suasana mendadak canggung. Merkurius bahkan tidak bertanya bagaimana kondisi Vallerie dan apa saja yang dia rasakan. Hal itu membuat Vallerie tidak nyaman. Apakah terjadi sesuatu yang membuat Merkurius menjaga jarak darinya? Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Vallerie memberanikan diri menyentuh tangan Merkurius. Ia ingin bertanya apa yang terjadi sehingga membuat pria itu tampak berbeda dari biasanya. Namun kata-kata itu tertahan di bibirnya. Keberaniannya menguap saat mata mereka beradu. Merkurius jelas melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Tapi Vallerie tidak bisa mengartikan apa itu. “Ada apa?” “Aku haus.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN