BAB-6. BAYI TIDAK BERDOSA.
Fyuh.
Kali ini Merkurius yang mengeluh dalam hati. Tidak. Dia sama sekali tidak peduli dengan anak yang dikandung oleh Vallerie. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah Vallerie. Bagaimana kondisi gadis itu? Dia masih sakit dan membutuhkan perawatan. Vallerie belum cukup sehat untuk mengandung apalagi melahirkan seorang anak.
“Vall, pikirkan baik-baik. Kumohon.”
“Aku sudah memikirkannya, Mer. Aku serius saat mengatakan aku akan mempertahankannya. Dia tidak bersalah.”
“Bagaimana denganmu? Kamu sakit. Sembuhkan lukamu dulu baru pikirkan tentang anak itu!”
“Aku…”
“Aku sama sekali tidak peduli dengan anak itu. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah kamu.”
“Aku?” Vallerie mengulangi kata-kata lawan bicaranya.
“Ya.” Merkurius akhirnya bangkit dari duduknya. “Kamu. Setelah semua ini. Setelah apa yang kamu lewati dan apa yang terjadi padamu, bagaimana mungkin aku membiarkanmu merawat seorang anak. Kamu sakit, Vall! Selesaikan dulu semuanya. Selesaikan masalahmu dengan dirimu sendiri sebelum kamu memutuskan untuk memiliki anak! Tidak. Aku tidak setuju dengan ide itu. Kamu bertanya padaku, bagaimana pendapatku tentang anak itu. Itu jawabanku.”
“Jadi? Haruskah kubunuh anak ini?”
“Ayah anak itu yang ingin membunuhnya, bukan?”
“Ibu dari anak ini ingin dia tetap hidup.”
“Aku ingin kita berdua focus pada dirimu. Bagiku itulah yang terpenting.”
“Tapi aku baik-baik saja, Mer.”
“Itulah yang selalu dikatakan oleh orang-orang yang sedang mengalami masa sulit. Tidak. Aku sama sekali tidak setuju. Kamu tidak baik-baik saja. Kamu sedang sakit.”
“Begitukah?”
“Ya.”
Pembicaraan selesai. Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi. Merkurius tetap pada pendiriannya. Begitu juga Vallerie. Keduanya tidak lagi berdebat karena tahu mereka tidak akan mencapai kata sepakat.
Setelah berdebat, Merkurius meminta ijin untuk keluar dari ruang perawatan Vallerie. Dia meminta salah satu perawat untuk menemani Vallerie dan berjaga-jaga jika gadis itu butuh sesuatu. Merkurius berjalan keluar dari rumah sakit. Ia membawa kedua kakinya menuju taman belakang rumah sakit tersebut. Langkahnya pelan. Kepalanya mendadak penuh. Ini bukan hanya tentang Sky Si Dajjal. Bukan hanya tentang Vallerie. Ini tentang anak itu juga. Mudah baginya mengatakan untuk menggugurkan anak itu. Tapi bagaimana pun juga, dia darah daging Vallerie. Merkurius tidak tega jika harus membunuh anak itu.
“Sial!” Kakinya menendang rumput yang yang tidak berdosa di tanah. “Sial!” katanya lagi.
Ini situasi yang tidak mudah dihadapi. Terlebih bagi Vallerie. Gadis itu pasti jauh lebih kebingungan lagi. Sejujurnya Merkurius juga tidak tahu harus bagaimana. Dia masih bingung dengan perasaanya sendiri. Selama ini dia sudah menganggap Vallerie sahabatnya. Atau adik kecil yang ingin selalu ia jaga. Tapi di sisi lain…
Dengan perasaan yang masih tak menentu, Merkurius memutuskan untuk duduk. Ia membuka layar di ponselnya yang terkunci. Beberapa pesan masuk dan tumpukan panggilan tak terjawab dari keluarganya. Pesan pertama yang dia baca berasal dari sang asisten yang menanyakan tentang beberapa pekerjaan. Merkurius langsung menghubunginya. Telepon tersambung selama beberapa menit lalu terputus setelah sang asisten mengerti tugas yang dia berikan. Merkurius juga meminta asistennya untuk menjadwal ulang semua meeting dengan para koleganya. Untuk saat ini dia hanya ingin focus pada kesehatan Vallerie.
Lalu pesan-pesan selanjutnya dari keluarganya. Mereka tampak khawatir karena Lucas memberitahu mereka saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Merkurius lalu membuat pengumuman di grup chat keluarga dan bilang kalau dia hanya menemani temannya. Salah satu saudaranya menyeletuk tentang ‘gadis Merkurius’. Lalu grup itu seketika ramai. Enggan mengomentari tingkah mereka, ia memilih bungkam dan menutup ponselnya. Dia tidak perlu berbasa-basi dalam situasi seperti ini.
Setelah kepalanya cukup dingin, Merkurius memutuskan untuk kembali melangkah. Kali ini dia tidak langsung pergi ke ruang perawatan Vallerie. Ia berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan kaki cukup untuk meredakan sakit kepala. Kira-kira begitulah kata orang-orang. Sesekali ia melihat sekeliling. Merkurius berhenti saat melihat took bunga. Ia membeli sebuket bunga mawar putih. Itu bunga kesukaan Vallerie.
Kedua kakinya terus melangkah maju. Lalu berhenti di salah satu took roti. Dia membelinya. Merkurius kembali berjalan lalu kembali berhenti. Begitu seterusnya. Setelah lelah, ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Ia tidak bisa meninggalkan Vallerie terlalu lama sendirian di sana.
**
Di ruang perawatan, Vallerie memandangi interior kamar rawat inapnya. Sudah bisa dipastikan saat ini dia berada di President Suit Room. Ruangan terbaik di rumah sakit itu. Vallerie melihat beberapa benda di sana dengan nama rumah sakit. Ia memang belum pernah sekali pun menginap di rumah sakit semewah ini. Tapi bisa dipastikan ia berada di ruangan terbaik di rumah sakit itu.
Selama berbulan-bulan terakhir, sebelum Vallerie bertemu Sky, ia nyaris menghabiskan sepanjang waktunya di rumah sakit. Menemani ibunya yang sedang berjuang melawan kanker otak stadium akhir. Vallerie membujuk ibunya untuk kemotherapi. Sang ibu menyetujuinya dengan harapan dia bisa kembali pulih dan hidup dengan putrinya lebih lama. Bagi Vallerie dan ibunya, rumah sakit adalah rumah kedua mereka. Mereka sama-sama berjuang melawan penyakit mengerikan itu sebelum akhirnya takdir memutuskan hubungan duniawi antara anak dan ibu berakhir di sana.
Dulu sang ibu dirawat di sebuah rumah sakit umum milik pemerintah. Mereka menggunakan kartu kesehatan dari pemerintah yang bisa dibayar tiap bulannya. Vallerie yang hidup berdua dengan ibunya sejak kecil tidak menggunakan asuransi kesehatan karena berpikir itu mungkin akan memakan banyak biaya. Dia cukup bersyukur karena pemerintah memfasilitasi kartu kesehatan dengan iuran bulanan yang cukup terjangkau. Dengan begitu Vallerie dan ibunya bisa menikmati fasilitas kesehatan umum. Kini, dia justru berada di ruang perawatan dengan fasilitas nomor satu. Vallerie bingung, apakah dia harus menguras seluruh hartanya untuk ruangan semewah ini?
Lupakan tentang biaya perawatan rumah sakit. Vallerie tidak keberatan jika harus membayarnya. Toh, dia bekerja keras untuk ini. Sesekali dia boleh menikmati fasilitas seperti ini jika memang diperlukan. Vallerie mengusap perutnya yang rata. Dokter telah menjelaskan bahwa dia baik-baik saja. Dia memang mengalami cidera di beberapa anggota tubuh, tapi itu akan segera membaik. Butuh waktu berapa minggu, tapo Vallerie yakin dia akan segera pulih. Dia tidak akan membiarkan dirinya terus terpuruk. Vallerie harus menghadapi semua ini, apa pun resikonya.
Dan tentang anak itu, Vallerie serius akan mempertahankannya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkannya dengan sang anak. Vallerie tidak membutuhkan persetujuan dari siapa pun. Termasuk Merkurius.
Saat benaknya memikirkan pria itu, wajah Merkurius muncul di depan pintu. Ia mengetuk jendela kaca kecil di pintu dengan dahinya. Lalu perawat yang sejak tadi menemaninya berdiri untuk membukakan pintu. Kening Vallerie mengerut dalam. Penasaran, kenapa Merkurius tidak bisa membuka pintu dengan tangannya sendiri? Apa terjadi sesuatu dengannya?