BAB-7. LUPA DIRI.
Tidak. Tidak terjadi apa-apa pada Merkurius. Tangannya baik-baik saja. Hanya saja…
“Anda boleh keluar dari sini,” ujarnya pada suster yang selama ini menemani Vallerie.
“Apa ini?” Vallerie menerima buket bunga dari tangan Merkurius. Rupanya pria itu kepayahan membawa bunga dan berbagai macam makanan manis kesukaan Vallerie. “Terima kasih.”
Merkurius mengagguk. “Makanlah! Semoga ini bisa membuat suasana hatimu membaik.”
“Hmbbb…” Vallerie mencium bunga warna-warni yang dibawa oleh teman lelakinya. “Kukira kamu marah padaku.”
“Tidak.”
“Aku masih pada pendirianku. Meski seribu kali kita berdebat, aku akan mempertahankan anak ini. Anak yang tidak kamu inginkan.”
“Bisakah kita tidak membahasnya sekarang? Aku sedang tidak ingin mengingat hal apa pun yang menyangkut Si Dajjal sialan itu. Aku-“
“Jangan!” Vallerie memotong cepat.
“Jangan?” kening Merkurius mengerut mendengar satu kata itu terucap dari bibir Vallerie. Gadis itu nampak jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Merkurius menatap Vallerie sekilas, sebelum akhirnya menyadari betapa cantiknya makhluk Tuhan yang satu ini.
“Jangan menghabiskan energimu untuk membencinya.”
Hening sepuluh detik.
“Jangan habiskan energimu untuk memikirkan dia. Jangan habiskan waktumu untuk orang yang bahkan tidak berhak mendapat perhatian darimu. Abaikan saja. Anggap dia tidak pernah ada dalam hidupmu.”
“Tapi ini bukan tentang dia. Ini tentang…”
“Hey,” kembali Vallerie menyela ucapan Merkurius. “Aku bahkan tidak peduli dengannya. Mari kita focus pada diri kita sendiri. Kamu, aku, dan hidup kita.”
Yang bisa dilakukan oleh Merkurius hanya mematung di sana. Ia mencoba mencerna kata-kata Vallerie. Kita? Apa maksudnya ini?
baca selengkapnya di
K
A
R
Y
A
K
A
R
S
A