Aruna datang lebih awal. Ia duduk di bangku kayu di depan galeri, tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan napas. Tidak ada rencana kata-kata indah. Tidak ada skenario, ia hanya membawa satu niat yaitu jujur, tanpa melindungi diri dengan sebuah alasan. Pintu galeri masih tertutup rapat. Jalanan pun belum terlalu ramai. Udara pagi masih terasa dingin dan jujur seperti hari yang tidak menjanjikan apa-apa. Ketika Rama datang, langkah kakinya terdengar dengan pelan. Ia melihat Aruna dari kejauhan, duduk sendiri, tidak memainkan ponsel, dan tidak sibuk berpura-pura tenang. “Hai,” katanya saat sudah dekat. “Hai,” balas Aruna. Tidak ada pelukan yang hangat dan tidak ada senyum yang berlebihan. Hanya ada dua orang yang sadar bahwa percakapan hari ini bisa mengubah segalanya. Mereka

