BAB 1: LELANG HARGA DIRI
Suara dentuman musik house terdengar sangat keras, seolah menghantam d**a Vena hingga sesak. Aroma alkohol yang menyengat bercampur dengan asap rokok yang tebal memenuhi setiap sudut ruangan klub malam ini. Lampu laser warna-warni berkelebat liar, menyinari tubuh-tubuh yang bergoyang mengikuti irama tanpa peduli dunia luar. Bagi mereka, ini adalah surga. Namun bagi Vena, ini adalah pintu menuju neraka yang ia masuki dengan sukarela.
"Vena, ayo jangan diam saja di situ. Masuk!" ucap Mbak Rosa setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh musik.
"A-aku takut, Mbak," jawab Vena pelan, suaranya bergetar hebat.
Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Pakaian yang ia kenakan, sebuah dress hitam pendek yang sangat ketat dan mengekspos bahu serta paha atasnya, terasa sangat asing. Vena merasa telanjang. Ia terus mencoba menarik ujung gaunnya ke bawah, meski ia tahu itu sia-sia. Riasan wajah yang tebal dan aroma parfum yang kuat pemberian Rosa malah membuatnya merasa kotor bahkan sebelum disentuh oleh siapa pun.
Vena merasa jijik dengan penampilannya sendiri di pantulan kaca lobi. Namun, setiap kali rasa ingin lari itu muncul, bayangan wajah ayahnya yang pucat dengan selang-selang rumah sakit kembali menghantamnya. Anton, ayahnya, didiagnosis gagal ginjal stadium akhir. Harapan satu-satunya hanyalah transplantasi ginjal segera. Meskipun memiliki kartu asuransi kesehatan pemerintah, nyatanya BPJS tidak bisa mengcover semua biaya operasional, obat-obatan khusus, dan prosedur cepat yang dibutuhkan.
Sebagai gadis berusia 22 tahun yang hanya bekerja sebagai kasir minimarket, Vena berada di ujung tanduk. Gaji bulanannya yang tidak seberapa hanya cukup untuk makan sederhana dan membayar sewa kontrakan kecil mereka. Sejak usia enam tahun, Vena hanya dibesarkan oleh ayahnya. Ibunya pergi entah ke mana, menghilang seperti ditelan bumi tanpa pernah meninggalkan kabar apalagi kiriman uang sepeser pun. Hanya ayahnya yang ia punya di dunia ini.
"Ingat Vena, Ayahmu cuma punya waktu satu minggu. Kalau biaya operasi sembilan puluh juta itu tidak lunas, donor ginjal yang sudah siap itu akan diberikan kepada pasien antrean lainnya. Kamu mau Ayahmu pergi?" suara Rosa memecah lamunan pahit Vena.
Vena menggeleng cepat. Air matanya hampir jatuh, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak merusak riasan matanya. "Enggak, Mbak. Aku nggak mau kehilangan Ayah."
"Sudah, percaya sama aku. Enggak perlu takut. Di dalam sana sudah ada bos-bos yang mau nawar keperawananmu. Aku yakin dengan wajah cantik dan bodi kamu yang masih alami begini, malam ini kamu bisa bawa uang di atas seratus juta," ucap Rosa menenangkan sembari membelai rambut Vena.
"Apa! Seratus juta, Mbak?" Vena kaget bukan main. Angka itu terasa seperti mimpi di siang bolong bagi gadis yang biasanya harus menghemat setiap perak dari gajinya.
"Iya, kenapa? Kurang?"
"E-enggak Mbak, malah lebih dari cukup. Biaya operasi Ayah cuma sembilan puluh juta," ucap Vena menunduk, meremas jemarinya yang dingin. Sisa sepuluh jutanya bisa ia gunakan untuk biaya pemulihan pasca operasi.
"Ya ampun Vena, kamu itu polos banget sih. Tipe kayak kamu gini nih yang harganya paling mahal. Pria-pria di dalam itu sudah bosan dengan wanita yang 'terbuka'. Mereka butuh yang suci seperti kamu. Ayo, ikuti aku!"
Langkah kaki Vena terasa sangat berat saat mengikuti Rosa menyusuri lorong remang-remang menuju area VIP. Setiap langkah terasa seperti ia sedang menuju tiang gantungan. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan tempo musik yang semakin memekakkan telinga. Ia terus menunduk, tidak berani menatap kerumunan orang yang sedang berpesta. Di benaknya, ia hanya membayangkan sosok p****************g yang akan menikmati tubuhnya malam ini.
Rosa berhenti di depan sebuah pintu jati besar bertuliskan 'VVIP 01'. Ia menarik napas dalam, lalu membukanya. Seketika, kebisingan di luar meredup, digantikan oleh musik jazz pelan yang elegan. Aroma cerutu mahal yang maskulin langsung menyeruak, menusuk indra penciuman Vena.
"Halo Tuan Nathan, maaf menunggu lama. Ini aku bawakan yang Tuan minta. Masih virgin dan sangat polos," ucap Rosa dengan suara yang dibuat semanis mungkin, menghampiri sekumpulan pria yang duduk di sofa beludru mewah.
Vena bisa merasakan ada beberapa pria di ruangan itu. Ia menghitung dalam hati, setidaknya ada empat orang. Namun, kepalanya tetap menunduk dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Atmosfer di ruangan ini sangat menekan, penuh dengan aura kekuasaan dan kemewahan yang mengintimidasi.
"Ck-ck, ini sih bibit unggul nih, Ros. Lo yakin dia masih virgin?" tanya sebuah suara bariton milik Mario. Vena bisa mendengar suara gelas berdenting di sana.
"Yakinlah, Bang Mario. Dia pacaran saja belum pernah. Masih benar-benar alami, belum tersentuh," jawab Rosa sopan.
"Gila! Kalau lo nggak mau, biar buat gue aja deh, Nath," celetuk Mario pada Nathan.
"Wess, enak aja! Gue juga mau lah. Nath, bagi-bagi dong kalau barangnya seger begini," sahut Billy tidak mau kalah, tawanya terdengar nakal di telinga Vena yang gemetar.
Rosa tersenyum tipis melihat reaksi para pria tersebut. "Haduh, kok ya jadi rebutan begini. Aku jujur ya Tuan Nathan, Bang Mario, Bang Billy, Jordi. Vena ini adik kelasku, dia gadis baik-baik. Aku membawanya ke sini karena dia memang sedang butuh uang mendesak."
"Sudah masuk ke sini sih bukan wanita baik-baik namanya, Ros," celetuk salah satu wanita simpanan yang sedang bersandar di pelukan Jordi. Suaranya penuh nada merendahkan.
"Jaga mulutmu, dia jauh lebih baik dari kita semua di sini," bela Rosa tajam, membuat wanita itu bungkam seketika.
"Gue mau lihat wajahnya," ucap sebuah suara yang berbeda. Dingin, datar, namun sangat berwibawa. Itu suara Nathan.
Jantung Vena rasanya ingin keluar dari rongga dadanya. Ia takut setengah mati. Ia takut Nathan akan melihat sisa air mata di sudut matanya.
"Vena, ayo angkat kepalamu. Tuan Nathan ingin melihatmu," pinta Rosa lembut namun tegas.
Vena perlahan mengangkat kepalanya. Gerakannya sangat lambat, seolah setiap senti kenaikan dagunya adalah beban berat. Begitu wajahnya terlihat sepenuhnya, ruangan itu mendadak hening. Vena memberanikan diri menatap pria-pria di sana. Mereka semua sangat tampan, mengenakan pakaian bermerek yang harganya mungkin bisa membiayai hidup Vena selama setahun.
Namun, tatapannya langsung terkunci pada Nathan. Pria itu duduk paling tengah, memegang gelas kristal berisi cairan amber. Wajahnya seperti pahatan dewa Yunani, namun sorot matanya sangat tajam, seolah sedang membedah jiwa Vena hingga ke dasar terdalam.
"s**t! Ini sih bidadari turun dari surga. Alena sama Wina sih kalah jauh!" ucap Billy semangat, matanya melotot tidak percaya melihat kecantikan Vena yang polos tanpa operasi plastik.
"Kalau begini lo nggak adil, Ros. Kalau dia cuma lo kasih buat Nathan, gue mau dia dilelang aja. Berapa pun yang dia butuhin bakal gue kasih. Dan kalau sudah di tangan gue, dia bakal jadi sugar baby gue selamanya," sahut Jordi dengan nada menantang, ia sudah merogoh dompetnya seolah siap mengeluarkan uang berapa pun.
Mendengar kata 'dilelang' dan 'sugar baby', batin Vena menjerit ketakutan. Ia tidak mau digilir. Ia hanya ingin uang itu, lalu lari sejauh mungkin dari tempat ini.
Nathan tidak mempedulikan ocehan sahabat-sahabatnya. Ia tetap diam, matanya terus fokus menatap Vena, memperhatikan setiap inci kecantikan alami di depannya, mulai dari bibir merah muda yang gemetar, hingga mata bulat yang berkaca-kaca.
Nathan kemudian memajukan tubuhnya, meletakkan gelasnya ke meja, dan menumpu sikutnya di lutut. Ia menatap Vena lebih intens, seolah ingin memastikan keberanian gadis itu.
"Apa alasannya kamu sampai mau menjual keperawananmu?" tanya Nathan, suaranya kini terdengar lebih rendah namun sangat menuntut jawaban.