BAB 2: HARGA SEBUAH KESUCIAN

1653 Kata
"Ayo Vena, katakan saja sejujurnya. Tuan Nathan dan kawan-kawannya ini tamu yang paling baik hati di klub ini. Jangan menangis kalau kamu memang belum siap. Pergilah dari sini, aku tidak akan memaksamu," ucap Mbak Rosa sambil menatap Vena tulus. Vena menyeka air matanya yang mulai merembes, merusak sedikit riasan yang dipasangkan Mbak Rosa tadi sore. "E-enggak Mbak, aku siap." "Kalau begitu, jawab pertanyaan Tuan Nathan," pinta Mbak Rosa lembut, sambil memberi dorongan kecil di bahu Vena. Vena memberanikan diri menatap pria yang duduk paling dominan di depannya. Nathan duduk dengan kaki menyilang, kemeja hitamnya dibuka dua kancing teratas, menampilkan kesan liar yang sangat berkelas. "Sa-saya butuh uang buat biaya operasi Ayah saya, Tuan. Ayah saya menderita gagal ginjal dan saya cuma punya waktu satu minggu, kalau tidak... donor itu bakal dikasih ke orang lain," ucap Vena dengan suara bergetar hebat. "Waw, sudah cantik, anak berbakti lagi. Langka nih yang begini," oceh Billy yang kelihatan terkesima lihat kejujuran di mata Vena. Tiba-tiba Mario berdiri. Tanpa diduga, dia melangkah mendekat dan menghampiri Vena. Dengan gerakan lembut yang bikin Vena kaget, jemarinya yang hangat mengusap sisa air mata di pipi Vena. Vena tertegun, jantungnya berpacu liar saat menatap mata Mario yang terasa teduh, beda banget sama tatapan Nathan yang seolah mau menguliti setiap jengkal tubuhnya. Nathan yang melihat pemandangan itu langsung menggeram rendah. Dia paling tidak suka miliknya disentuh pria lain, meski itu sahabatnya sendiri. Nathan langsung memberi kode tajam pada Mbak Rosa. "Aduh Bang Mario, sabar dulu dong. Diskusi harga dulu ini, jangan main sosor saja," ucap Mbak Rosa sambil tersenyum canggung, berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Gue bakal kasih berapa pun yang dia minta, Ros. Tapi gue mau malam ini dia gue bawa ke apartemen gue," ucap Mario mantap, menantang Nathan lewat tatapan mata. Sebagai pengusaha muda yang sukses, uang ratusan juta bukan masalah buat dia asalkan rasa penasarannya pada gadis polos ini terpenuhi. "Ya sudah, Tuan Nathan bagaimana? Mau dilelang biar adil atau—" Belum selesai Mbak Rosa bicara, Nathan sudah memotong dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Enggak ada lelang. Gue yang pesan dia sama Rosa, jadi malam ini dia punya gue. Kalau lo mau sama dia, lo bisa besok malam. Itu pun kalau lo mau pakai bekas gue," ucap Nathan sarkas, bikin suasana ruangan itu seketika membeku. Nathan adalah CEO dari Wijaya Group, pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia mau. Mario cuma bisa mendengus kesal. Dia tahu kalau Nathan sudah bicara begitu, tidak ada yang bisa membantah. Dia kembali duduk ke tempatnya dengan perasaan dongkol. "Sial! Lo selalu dapet yang terbaik, Nath," gerutu Mario pelan. "Ros, kalau ada barang bagus kayak dia lagi, jangan lupa hubungi gue juga ya," sahut Billy tidak mau kalah. "Siap Bang Billy ganteng," timpal Mbak Rosa sopan. "Tapi saya cuma info, Vena berada di sini cuma malam ini saja. Vena ini wanita baik-baik, jadi ini pertama dan terakhir buat dia di tempat begini." "Vena sayang, kalau kamu butuh uang lagi atau butuh sandaran, langsung hubungi aku saja ya. Ini kartu namaku," ucap Billy sambil mengedipkan mata dan menyerahkan selembar kartu mewah. Vena menerimanya dengan tangan yang masih gemetar. Nathan langsung berdiri. Tanpa basa-basi, dia mencengkeram pergelangan tangan Vena, menariknya paksa buat segera keluar dari ruangan VIP itu. Vena merasa kakinya lemas, tapi rangkulan posesif Nathan di bahunya menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Vena bisa merasakan tatapan lapar dari pria-pria di ruangan itu sampai pintu tertutup rapat. Nathan menuntun Vena menuju sedan mewah berwarna hitam yang sudah menunggu di lobi khusus. Di dalam mobil yang dinginnya minta ampun, Vena terus menggigil. Gaun tipisnya tidak mampu menahan hembusan AC yang menusuk kulit. Nathan memperhatikannya dalam diam, lalu tanpa kata dia melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya ke bahu Vena. "Pakai ini. Jangan sampai kamu sakit sebelum aku nikmatin malam ini." "Te-terima kasih, Tuan." Vena merapatkan jaket itu. Aroma parfum mahal yang maskulin langsung menyeruak, campuran aroma kayu cendana dan tembakau mahal. Anehnya, aroma itu memberi sedikit rasa aman di tengah badai kecemasan di hatinya. "Aku bakal lunasi semua biaya rumah sakit ayah kamu sampai dia benar-benar sehat besok pagi. Kamu nggak perlu pusing mikirin uang lagi mulai detik ini," ucap Nathan sambil menginjak pedal gas, membelah jalanan kota yang masih ramai. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah yang sangat besar, lebih mirip istana modern. Begitu Nathan membukakan pintu buatnya, Vena merasa dunianya seolah berputar. "Keluarlah." Nathan menarik tangan Vena masuk ke rumah. Langkah Vena terhenti sejenak di ruang tamu yang plafonnya sangat tinggi dengan lampu kristal yang menyilaukan. Kemegahan ini bikin Vena merasa semakin kecil dan rendah. Kakinya tiba-tiba lemas, bikin dia hampir tersungkur di lantai marmer. "Ck, buat jalan saja kamu nggak becus. Aku ragu kamu bisa kasih kepuasan buat aku di atas ranjang nanti," ucap Nathan dingin. Tapi tindakannya kontras dengan ucapannya. Dia langsung menyambar tubuh Vena, menggendongnya dengan gaya bridal style menuju lantai atas. Vena terperangah, kedua tangannya secara spontan mengalung di leher kokoh Nathan. Dalam jarak sedekat ini, dia bisa lihat pahatan wajah Nathan yang sempurna. Hidung mancung, rahang tegas, dan bibir tebal yang kelihatan sangat menggoda tapi mematikan. "Kenapa ngelihatin aku terus? Kamu sudah nggak sabar, ya?" tanya Nathan dengan seringai tipis, bikin Vena langsung membuang muka dengan pipi merona hebat. Nathan menendang pintu kamar di ujung lorong dan membawanya masuk ke ruangan bernuansa maskulin. Aroma ruangan itu persis seperti aroma tubuh Nathan. Dia menurunkan Vena di atas ranjang king size yang sangat empuk, lalu berjalan ke kamar mandi tanpa bicara satu patah kata pun. Tak lama, Nathan keluar. Pria itu kini cuma memakai kimono handuk gelap yang diikat longgar, memperlihatkan sebagian dadanya yang bidang. Dia melangkah perlahan ke ranjang, setiap langkahnya terasa seperti ancaman sekaligus janji buat Vena. Tanpa banyak bicara, Nathan merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Vena di bawah dominasinya. Jantung Vena berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar saat merasakan bobot tubuh Nathan yang menindihnya. Tangannya yang besar mulai membelai pipi Vena, lalu turun ke leher dan berhenti di ritsleting gaun tipis gadis itu. "Tuan... tolong pelan-pelan," bisik Vena dengan suara yang nyaris hilang. Nathan tidak menjawab. Dia menarik ritsleting itu sampai terbuka sempurna, menanggalkan gaun Vena dan membuangnya ke lantai. Kini Vena cuma memakai pakaian dalam tipis di hadapan pria asing itu. Nathan menatap tubuh Vena dengan lapar, matanya menyisir setiap lekuk yang masih kencang dan halus. "Kenapa harus malu sama tubuh indah kamu ini? Ingat Vena, malam ini tubuh kamu itu milik aku," ucap Nathan dengan suara rendah yang serak. Vena memejamkan mata saat tangan Nathan mulai menjelajahi kulitnya. Sentuhan Nathan terasa menuntut, membakar kulit Vena di setiap titik yang dia sentuh. Nathan menunduk, melumat bibir Vena secara paksa. Ini ciuman pertama Vena. Rasanya sangat asing, penuh aroma alkohol dan d******i yang menyesakkan napas. Vena mencoba membalas meski kaku, tangannya meremas seprai kuat-kuat saat lidah Nathan mulai bermain di dalam mulutnya. Nathan melepaskan pagutannya sejenak, menatap Vena yang terengah-engah dengan wajah memelas. Dia lalu menanggalkan pakaian dalam Vena satu per satu sampai gadis itu benar-benar polos di bawahnya. Vena mencoba menutupi dadanya dengan tangan yang menyilang, tapi Nathan menarik tangan itu dan menahannya di atas kepala Vena. "Jangan tutupi apa yang sudah aku beli mahal, Vena." Nathan mulai menciumi leher Vena, memberi tanda merah di sana sebagai bukti kepemilikannya. Tangannya bergerak turun, membuka pertahanan terakhir Vena. Gadis itu tersentak, sebuah erangan tertahan keluar dari bibirnya saat Nathan mulai bermain lebih dalam. Sensasi asing yang panas dan menuntut mulai menjalar ke seluruh tubuh Vena, membuatnya merinding ketakutan sekaligus terbuai. Nathan melepaskan kimono handuknya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang sempurna. Otot-ototnya yang keras bergesekan dengan kulit Vena yang lembut, menciptakan kontras yang membakar gairah. Dia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Vena yang sudah terbuka, menatap mata Vena yang ketakutan dengan tatapan penuh kepemilikan. "Ini bakal sakit, tapi aku jamin kamu bakal menikmatinya," bisik Nathan tepat di telinga Vena. Nathan memajukan tubuhnya perlahan, membiarkan pertahanan Vena perlahan runtuh. Vena memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan tekanan luar biasa di bagian bawahnya. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah buat menahan rasa sakit yang tajam, seolah tubuhnya sedang dibelah, saat Nathan merenggut kesuciannya secara paksa. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal mewah itu. Di saat yang sama, dia teringat wajah ayahnya yang pucat di rumah sakit. Maafkan Vena, Pak. Ini demi Bapak. Nathan berhenti sejenak saat merasakan Vena gemetar hebat di bawahnya. Dia mencium kening gadis itu lembut, mencoba menenangkannya. Namun, rasa lapar yang besar bikin dia tidak bisa menunggu lama. Dia mulai bergerak kembali, perlahan tapi pasti, membawa Vena ke dalam pusaran gairah yang menyakitkan sekaligus memabukkan. Setiap gerakannya terasa menuntut, menegaskan kalau Vena sekarang adalah miliknya sepenuhnya. "Sial, kamu sempit banget, Vena... Kamu benar-benar bikin aku gila," geram Nathan di sela napasnya yang memburu. Pergulatan panas itu berlanjut di bawah cahaya temaram lampu tidur. Nathan tidak memberikan kesempatan bagi Vena untuk bernapas. Dia terus memacu gairahnya, membawa Vena ke puncak kenikmatan yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang awalnya dominan perlahan memudar, digantikan oleh sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Vena tanpa sadar mulai membalas sentuhan Nathan, erangan-erangan kecil mulai keluar dari bibirnya, sinkron dengan gerakan Nathan yang semakin intens. Nathan terus mengeksplorasi tubuh Vena, seolah ingin menghafal setiap jengkalnya. Dia menciumi bahu, d**a, dan perut Vena, meninggalkan jejak-jejak merah di mana-mana. Vena merasa seperti sedang tenggelam dalam lautan gairah yang tidak ada ujungnya. Setelah mencapai puncaknya dengan erangan kepuasan yang keras, Nathan tidak langsung melepaskan Vena. Tubuhnya ambruk di atas Vena, napasnya memburu di leher gadis itu. Dia memeluk tubuh polos Vena erat-erat, menghirup aroma rambutnya yang harum. "Kamu membuatku candu, Vena. Aku mau lebih dari satu permainan buat malam ini," bisik Nathan dengan suara parau sebelum kembali memulai serangan keduanya. Vena cuma bisa pasrah, membiarkan pria itu melakukan apa pun pada tubuhnya. Malam itu, bukan cuma kesuciannya yang hilang, tapi Vena baru saja menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan pria bernama Nathan Wijaya. Mereka terus bergulat dalam gairah sampai fajar hampir menyingsing dan keduanya jatuh tertidur karena kelelahan luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN