Cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah ventilasi jendela kamar yang luas itu. Vena perlahan membuka matanya, dan kesadaran langsung menghantamnya; dia tidak sedang berada di kamarnya yang sempit. Tubuhnya terasa remuk, dan ada beban berat yang melingkar di perutnya.
Vena menoleh sedikit dan mendapati lengan kekar Nathan melingkar posesif di sana. Dengan napas tertahan, Vena mencoba memindahkan tangan besar itu pelan-pelan, berharap sang pemilik tidak terbangun. Namun, dugaannya salah. Nathan justru mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepala Vena dengan lembut.
"Mau ke mana?" suara bariton Nathan terdengar serak khas orang bangun tidur.
Jantung Vena berdegup kencang. Perlakuan Nathan yang manis ini terasa sangat kontras dengan keagresifannya semalam. "A-aku mau ke kamar mandi, Tuan."
Nathan sedikit berdecak, ia memutar tubuh Vena agar mereka saling berhadapan. "Mulai hari ini, panggil aku Bang Nathan. Jangan Tuan lagi. Dan ingat satu hal, mulai detik ini kamu adalah wanitaku."
Vena terperangah. Rasa takut kembali merayap. "Apa! Maaf Tuan... maksud saya Bang Nathan, saya tidak bisa melanjutkan ini. Seperti yang saya bilang semalam, saya melakukan ini karena terpaksa."
Nathan menyeringai tipis, tatapannya mengunci manik mata Vena. "Dan seperti yang aku bilang, panggil aku Bang Nathan. Kamu nggak perlu kerja di tempat lain lagi. Kamu cuma perlu kerja sama aku, melayani aku, dan aku bakal kasih semua yang kamu mau."
Vena terdiam. Pikirannya berkecamuk. Jika dia menolak sekarang, bagaimana kalau Nathan berubah pikiran dan tidak membayar biaya operasi ayahnya? Ia memutuskan untuk bermain aman. Ia akan berpura-pura patuh sampai urusan rumah sakit selesai, lalu perlahan menghilang dari hidup pria ini.
"Baik, Tuan," jawab Vena pelan.
"Kamu nggak dengar apa yang aku bilang tadi?" tanya Nathan dengan nada kesal yang kentara.
"Yang mana?" Vena bingung.
"Vena, panggil aku Bang Nathan. Mengerti?"
"I-iya, Bang Nathan."
"Kamu mau ke kamar mandi? Sini, biar aku bantu," ucap Nathan tanpa menunggu jawaban. Dia langsung menggendong tubuh Vena menuju kamar mandi.
Di dalam sana, meskipun badan Vena terasa pegal luar biasa, Nathan kembali meminta "permainan" tambahan. Vena hanya bisa memejamkan mata dan menahan segalanya. Demi ayahnya, dia harus bertahan.
"Sial! Kenapa gue masih mikirin Vena sih?" Mario menggerutu di dalam kamar apartemen mewahnya.
Tatapan mata gadis itu benar-benar mengganggu pikirannya. Degup jantungnya terasa tidak beraturan setiap kali bayangan wajah polos Vena muncul. "Apa ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, sial! Kenapa harus Nathan yang dapetin dia duluan?"
Mario sangat mengenal Nathan. Jika sahabatnya itu sudah mendapatkan wanita model seperti Vena, Nathan tidak akan pernah melepaskannya dengan mudah. Semalam, Mario diam-diam mengikuti mobil Nathan. Benar saja, Nathan membawa Vena ke rumah pribadinya, bukan ke hotel. Itu adalah sinyal kuat bahwa Vena dianggap spesial, karena Nathan jarang membawa wanita ke rumahnya.
"Sepertinya buat dapetin Vena bakal susah banget, apalagi saingannya Nathan," gumam Mario sambil menatap langit-langit kamar dengan perasaan gusar.
Beberapa jam kemudian, Vena sudah berada di dalam mobil sedan mewah milik Nathan. Suasana terasa canggung.
"Bang Nathan beneran mau nemenin Vena ke rumah sakit?" tanya Vena ragu.
"Kalau aku bohong, aku nggak akan ada di balik kemudi ini sekarang," jawab Nathan ringan sambil melirik Vena sekilas. Tiba-tiba, ia meraih tangan Vena dan menggenggamnya erat.
Vena terkejut. "Bang?"
"Vena, seperti yang aku bilang, kamu itu wanitaku sekarang. Kamu cuma boleh melayani aku, dan tubuh kamu itu milik aku," ucap Nathan dengan penekanan di setiap katanya.
Vena hanya bisa mengangguk takut, meski dalam hati dia mengumpat kesal. Dasar laki-laki m***m, seenaknya saja mengklaim tubuh orang lain! batinnya geram.
Sesampainya di rumah sakit, Vena segera menuju bagian administrasi dengan Nathan yang mengekor di belakang.
"Pagi Sus, saya ingin membayar biaya operasi transplantasi ginjal dan biaya perawatan atas nama Bapak Anton Pambudi," ucap Vena pada suster jaga.
Saat menunggu pengecekan total biaya, Vena melirik Nathan. Sialnya, pria itu juga sedang menatapnya intens. Vena segera membuang muka kembali ke meja administrasi.
"Mbak, total biaya operasinya Rp92.000.000 dan biaya perawatan selama ini Rp38.000.000. Jadi totalnya Rp130.000.000," jelas suster tersebut.
Vena mendadak lemas mendengar nominal itu. Namun, sebelum ia sempat bicara, Nathan sudah melangkah maju.
"Ini Sus, tolong didebit Rp150.000.000 saja. Sisa 20 jutanya buat deposit selama pemulihan pasca operasi calon mertua saya," ucap Nathan sambil menyerahkan kartu kredit hitamnya.
Vena membelalak. "Tu-tunggu dulu, calon mertua? Maksud Bang Nathan apa?"
Nathan tidak menjawab, ia justru memberikan kedipan mata nakal yang membuat Vena semakin bingung. Setelah urusan administrasi selesai, mereka masuk ke ruang rawat Anton.
"Ayah, gimana keadaan Ayah sekarang?" tanya Vena sambil mencium tangan ayahnya.
"Ayah agak enakan, Vena. Kamu semalam kok nggak ke sini? Suster nanyain biaya operasi terus. Biar Ayah berobat jalan aja, nggak usah operasi," ucap Anton lemas.
"Maaf Yah, semalam Vena lembur jadi ketiduran. Untuk operasi sudah lunas semua kok, Yah. Ayah bisa segera sembuh," jawab Vena dengan mata berkaca-kaca karena harus berbohong.
"Lunas? Kamu dapat uang dari mana, Nak?" tanya Anton curiga.
Nathan melangkah maju dengan sikap yang sangat sopan. "Saya yang melunasinya, Pak. Perkenalkan, saya Nathan, atasan Vena di kantor. Vena menceritakan masalah Bapak pada saya, jadi saya meminjamkan uang dan akan memotongnya dari gajinya nanti."
Vena tertegun. Nathan bisa berbohong dengan sangat lancar.
"Alhamdulillah... terima kasih banyak Nak Nathan atas pertolongannya," ucap Anton lega.
"Sama-sama, Pak. Oh ya, sekalian saya mau minta izin, malam ini Vena harus lembur lagi karena ada pekerjaan mendesak yang cuma bisa dia yang tangani," tambah Nathan yang langsung membuat Vena melotot.
Apa-apaan laki-laki m***m ini! Tubuhku saja masih remuk, bagian bawahku masih sakit, dan dia mau lagi? umpat Vena dalam hati.
"Oh, silakan Nak Nathan. Itu memang sudah tugas Vena," jawab Anton tanpa curiga.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Vena, antar aku ke depan," perintah Nathan.
Vena mengantar Nathan sampai ke lobi rumah sakit. Begitu sampai di tempat yang agak sepi, Vena langsung berbalik dan menatap Nathan tajam.
"Bang, maaf kayaknya Vena nggak bisa datang ke rumah Abang lagi nanti malam. Vena harus masuk kerja siang di minimarket dan pulang jam 10 malam. Lagipula tugas Vena sudah selesai, kan? Abang beli Vena cuma buat semalam, dan Vena nggak mau ngelakuin hal itu lagi. Ini yang pertama dan terakhir!" tegas Vena.