“Mau apa kalian?” tanya Ran yang merasa ketiganya berniat tak baik.
“Gua mau kasih pelajaran sama cewek miskin, kampungan, dan sok cantik kayak elo” ujar Vena. Tanpa babibu kedua teman Vena tiba-tiba datang dan langsung menyiram Ran dengan air tanah dalam ember besar yang mereka bawa.
~BYURR!!~ Ran tersiram dan basah kuyup seketika.
Ran yang belum sempat menghindar pun terkejut karena siraman dari Siska dan Tara. Bajunya basah sampai kedalam dengan air Tanah yang cukup bau seperti air pembuangan.
“AHAHAHAHAHAHAAAAA…” Tawa ketiga terdengar. Mereka puas dengan Ran yang kini sungguh menjijikan setelah di siram dengan Air selokan.
“Iyyyuuuhhh…. Soo smell… like s**t!” ujar Tara.
“Cocok banget sama image nya yang kampungan dan deso. BAU!” tambah Siska. Vena tersenyum miring melihat Ran.
“Heh anak kampung.. gua peringatkan sekali lagi sama lo. Jangan macam-macam dan berani sama gua, kalau lo nggak mau menderita di sekolah ini. turutin semua perintah gua, bila perlu jadi kacung gua, kan lumayan masuk geng gua walaupun Cuma sebagai BA-BU!”
“AHAHAHAHA….” Tawa ketiga. Ran hanya terdiam. Dia mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi. Ia tak boleh cari masalah apalagi memperpanjang masalah dengan para anak orang kaya disini. Ia hanya harus lulus dari sekolah ini dengan baik.
‘Ya Allah.. kuatkan aku… mengapa menimba ilmu rasanya sesulit ini? aku hanya ingin bersekolah dan lulus dengan baik dari sini. Hanya itu….’ Ratap Ran dalam benaknya.
“Inget jangan macam-macam! Dan.. Jangan. Kegenitan. Sama. Cowok. Gua! Dalton Aji Maheswara” tekan Vena pada Ran dengan tatapan tajamnya. Lalu Vena berlalu dikuti Siska dan Tara.
“Inget tu Njing!” ujar Siska
“Dasar gembel!” tambah Tara.
Tita bingung sudah lima belas menit ia menunggu Ran di gerbang namun Ran belum juga muncul. Saat akan kembali untuk melihat Ran di toilet, ternyata jemputannya datang. Tita mencoba menghubungi Ran, namun ponsel Ran tak aktif, jadilah Tita pulang duluan.
Sudah hampir satu jam Ran mencoba membersihkan diri dalam toilet. Tubuhnya kini bau sekali, ia bingung bagaimana harus pulang. Ingin naik angkutan umum seperti biasa, tapi ia malu karena badannya yang bau. Ingin meminta jemput dengan tante Ratih, namun sialnya ponsel Ran mati. Jadilah Ran perlahan keluar dari toilet. Ia harap sekolah sudah sepi jadi ia tak malu. Ran berjalan sampai ke depan gerbang. Ia masih memikirkan bagaimana ia pulang. Ia takut jika tak ada mobil angkutan umum yang akan mau mengangkutnya. Ran berjalan pelan menuju persimpangan jalan besar.
“Ran.. Ranai?” panggil seseorang. Ran menoleh dan melihat seseorang laki-laki dengan motor besar empat takk berwarna merah dengan nama Ninja berhenti di samping Ran. Ran tak mengenali siapa karena laki-laki tersebut memakai helm full face. Melihat kerutan di kening Ran pertanda Ran bingung membuat laki-laki tersebut melepas helmnya.
“Baim?” Ran mengenali wajah rupawan nan lembut yang kini tersenyum padanya.
“Hei.. kok baru pulang?” lalu baim mendenguskan hidungnya. “Ehhm! Kamu kok bau begini?” tanya Baim heran. Ran sedikit menjauh dari Baim. Ia malu.
“Ee… iya…” Ran malu sekali dengan penampilannya kini.
“Kamu kenapa kayak gini? Kamu.. baju kamu.. kayaknya habis basah kuyup. Kamu kenapa?” tanya Baim. Ran berpikir, apa yang harus ia jawab. Rasanya tak mungkin jika ia bilang ini ulah Vena. Apalagi dengan ketua anggota Osis.
“Hmm.. aku Tadi abis jatuh di selokan” Jawab Ran. Baim mengerutkan keningnya. Jatuh sampai basah kuyup bahkan sampai ujung kepala? Bagaimana bisa.
“Jatuh? Jatuh dimana bisa basah kuyup sampai ujung kepala gitu Ran?” tanya Baim. Ran sediri bingung, ia harus bilang jatuh dimana.
“Hmm.. Baim.. aku harus cepet pulang. Udah lengket banget bau lagi. aku duluan ya” ujar Ran lalu ia berbalik dan bergegas meninggalkan Baim.
“Ran!” Baim segera mengejar Ran.
“Ran.. aku anterin kamu aja ya” tawar Baim.
“Nggak usah. Aku bisa naik angkot kok” tolak Ran.
“Ran.. kamu yakin mau naik angkutan umum dengan kondisi kamu kayak tikus kecebur got gitu?”. Ran menelisik penampilannya yang cukup berantakan dan juga bau tak sedapnya. Lalu ia menoleh pada Baim dengan tatapan bingung yang menurut baim sangat lucu.
“Ahahaha… udah ayoo.. aku antar pulang aja. Dari pada kamu malu sepanjang jalan” ujar Baim.
“Tapi nanti motor kamu bau”
“Ya tinggal kamu cuci aja. Ayo naik, jangan kebanyakan mikir” Baim membukakan sandaran telapak kaki. Ran dengan ragu naik kemotor Baim.
“Siap?”
“Iya”
“Pegangan..!”
“Eh? Jangan, nanti baju kamu kotor” Tolak Ran.
“Pilih selamat atau jatuh?” tanya Baim sambil memakai helmnya.
“Selamat lah”
“Yaudah pegangan” lalu Ran berpegangan bahu Baim. Baim mengerutkan keningnya namun ia tak mengambil pusing.
Dalton sedang memainkan ponselnya sambil berbaring diatas ranjang. Namun tiba-tiba sekilas kejadian saat ia mendekap Ran muncul dalam benaknya. Ia dapat melihat jelas Ran memiliki wajah yang putih bersih dan terlihat halus tanpa make up tebal. Bahkan tak terlihat menggunakan make up. Dalton juga mengingat hidung Ran yang mungil dan sedikit mancung, lalu alis matanya yang terlihat cukup rapih namun buka di ukir, lalu sepasang mata yang selalu menatapnya acuh, ternyata memiliki bola mata yang indah berwarna coklat pekat. Dan bagian yang paling menarik, adalah benda yang terlihat kenyal berwarna pink dan terlihat lembut tersebut, ingin sekali ia menjamahnya.
“Apa ya rasanya nya?” cicit Dalton. Namun seketika ia kembali tersadar.
“Eh.. apaan sih gua. kok jadi penasaran gini”gerutunya. Dalton selalu mengingat pesan kakaknya Delana untuk jangan mencium atau berciuman dengan sembarang orang. Apalagi orang yang tidak kita cintai sepenuh hati, karena itu akan terasa menjijikan. Berbeda hal nya jika berciuman dengan orang yang kita cintai. ’Coba kamu bayangin bibir kamu di cium sama perempuan yang nggak kamu cintai.. itu akan terasa berciuman sama monyet. Dan, kamu jangan asal ciuman sama sembarangan perempuan.. apalagi mereka yang udah sering ciuman sama laki-laki lain. Bibirnya udah bekas yang lain. Kamu mau nyicipin yang bekas?’ ujar delana saat Dalton ketahuan pertama kali berpacaran dan hampir saja berciuman dengan pacarnya di dekat gudang sekolah saat kelas dua SMP.
Delana tak ingin Dalton berubah menjadi laki-laki yang kurang ajar bahkan b******k jika sudah mengetahui bagaimana rasanya b******u. Dan karena perkataan kakaknya tersebut, Dalton tak pernah ingin berciuman dengan pacar-pacarnya. Disamping itu juga entah Dalton benar-benar suka atau hanya sekedar iseng, namun ia tak memiliki hasrat untuk mencium pacar-pacarnya dulu. Namun semenjak menginjak kelas satu SMA, pergaulan yang cukup bebas yang membuatnya merasakan apa itu kenikmatan dunia.
Pacarnya saat SMA yang pertama kali memberikan Servis pada senjata juniornya. Dalton sebenarnya tak menyangka bahwa pacarnya yang terkesan baik dan bukan seperti gadis yang suka berpenampilan seksi tersebut mampu melakukan Blow job hingga membuat Dalton merasakan bagaimana kenikmatan puncak pelepasan. Mereka melakukannya tanpa berciuman, dan juga tanpa penyatuan. Sang kekasihnya dulu menggunakan tangan dan mulutnya, namun Dalton hanya menggunakan Jarinya saja untuk memberi kenikmatan pada pacar-pacarnya.
~Tok..tok..tok..~ Ketukan pintu kamar terdengar.
“Masuk!”
~Tok..tok..tok…
“Masuk!”
~Tok..tok..tok..
“Ck! MASUK!” Dalton mulai kesal.
~Tok..tok..tok… ketukan pintu masih terdengar. Dalton akhirnya menghampiri pintu dengan langkah kesal dan membuka pintunya.
“Di bila….- KAKAK?!!” mata Dalton melotot melihat sang kakak datang di hadapannya.
“Ayo mau marah sama kakak?” ujar Delana dengan senyum manisnya.
“Ya abis disuruh masuk tapi tetep aja ketok-ketok”
“Duh.. kapan sih juteknya berkurang. Sini peluk kakak dong” ujar Delana sambil merentangkan tangannya. Dalton yang juga merindukan Delana pun memeluk sang kakak. tinggi delana sebatas dagu Dalton dan tubuhnya ramping dengan rambut panjang yang lurus.
“Kakak kapan sampai? Aku kira kakak masih di Singapore” tanya Dalton yang kini duduk bersama kakaknya di halaman belakang.
“Hmm… udah beberapa hari yang lalu, Cuma kakak mampir dulu ke tempat lain untuk ngeliat proyek” jawab Delana.
“Kakak masih jomblo?” dengan seenaknya Dalton bertanya hal yang paling Delana malas untuk menjawab.
“Ck! Nggak ada pertanyaan lain apa? Kayak Kakak udah goal berapa Tender? Atau kakak bawa oleh-oleh apa aja? Gitu!” kesal delana.
“Ahahahaha ketahuan deh masih cinta sebelah hati sama Bang Ardan” ujar Dalton. Ya, Dalton tau bahwa kakaknya Delana sudah tiga tahun ini menyukai teman kerjanya yang bernama Ardan seorang laki-laki yang sederhana dan baik di mata Dalton. Namun sepertinya laki-laki tersebut tak tau jika kakaknya menyukai dia. Atau, memang Ardan yang tak memiliki perasaan dengan kakaknya.
“Ish! Apaan sih, doain kek malah di ledekin mulu!”
“Ya ungkapin lah! Mungkin Bang Ardan nggak tau kalo kakak suka sama dia”
“Masa cewek yang ungkapin?!”
“Ya emang kenapa?”
“Nggak ah! Tengsin! Apalagi kalo di tolak. Mau taruh dimana muka kakak?”
“Kakak udah pesimis duluan! Belom juga di coba”
“Ton,, Kakak ini perempuan ya! Kamu sih enak ngomong laki-laki”
“Apa aku aja yang bilang ke Bang Ardan kalo kakak suka?” ujar Dalton sambil menggoyang-goyangkan ponselnya dan tertera Nama Bang Ardan disana.
“Eh! Jangan!” Delana ingin merebut ponsel Dalton.
“Iya.. iya.. aku niat bantuin kok”
“Kamu tau Ton ini bukan Cuma masalah bilang dan Nggak bilang. Kamu tau pasti respon Mama dan Papa gimana” ujar Delana. Dalton pun terdiam. Ia masih ingat dulu saat kakaknya ketahuan berpacaran dengan laki-laki yang bukan dari golongan keluarga kaya dan elit, Mama dan Papanya begitu menentang hingga membuat pacar sang kakak pergi meninggalkan kakaknya dan tak pernah kembali.
“Kakak nggak mau Mama sama Papa lakuin hal yang nggak-nggak sama Ardan. Dia baik, dia sopan, dan Ramah. Kerjanya sangat bagus dan professional. Kakak enggak mau kehilangan dia sebagai teman, partner kerja, ataupun seorang laki-laki yang kakak cintai” tutur Delana. Dalton tak bisa berkata apa-apa. Ia tahu bagaimana jika kedua orang tuanya sudah menentang, maka apapun akan dilakukan untuk menghilang kan sesuatu yang tidak mereka sukai.
“Assalamualaikum…”
Ran dan Gia sedang bermain di kamar mereka. Lalu mendengar seseorang yang mengetuk pintu.
“Gia, mbak Ai buka pintu dulu ya. Ada yang dateng kayaknya” ujar Ran lalu Gia mengangguk. Ran berjalan menuju pintu utama dan membuka pintu.
“Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam, MAS ARDAN!!”
“Hei Ai…” Ardan langsung memeluk Ran. “Kamu disini?”
“Iya mas. Ayo masuk”
“Ini kok sepi banget.. Ayah ibu kemana?”
“Om kan kerja, kalo tante lagi di toko kue”
“Mamaaassss..” Gia berlari menuju Ardan. Ardan dengan sigap menggendong Gia.
“Dede udah makan belom?”
“Udah.. tapi dede mau eskim...”
“Yaudah.. nanti malam kita cari es krim ya.. sekarang Mamas mau istirahat dulu. Mau bobo.. capek” ujar Ardan.
“Yeeyy kita jalan-jalan ke mall beli eskim koln… sama Mbak Ai juga ya Mas”
“Iya sama mbak Ai juga”
“Yaudah sekarang Gia turun dari Mamas nya, teruus kita lanjut main lagi di kamar ya” ujar Ran.
“Iya mbak..” lalu Gia turun dari gendongan Ardan dan berlari menuju Kamarnya.
“Yaudah ya Ai.. Mas mau istirahat dulu capek banget”
“Loh Nggak mau makan dulu atau mau Ai bikinin minum?”
“Nggak usah… Mas mau tidur aja”
“Oke.”
Disebuah bandara sepasang lelaki dewasa dan juga wanita dewasa baru saja turun dari pesawat. Penampilan keduanya sangat elegan dan mewah. Aura keduanya cukup dingin. Tak ada cengkrama satu sama lain. Sang pria berjalan lurus dengan wajah tegasnya, sedangkan sang wanita berjalan di belakang pria dengan anggun dan tanpa ekspresi. Keduanya memasuki mobil yang menjemput mereka.
“Kamu sudah telpon Dalton kalau kita pulang?” tanya Derry.
“Sudah, tapi dia nggak angkat telponnya” jawab Wilona
“Delana? Katanya dia sudah pulang kerumah”
“Ponsel Delana nggak aktif”
Lalu tak ada obrolan lagi diantara keduanya. Diam-diam Wilona melirik sendu pada sang suami yang selama ini selalu bersikap dingin. Padahal dirinya telah berusaha untuk selalu menjadi istri yang baik untuk Derry namun sepertinya setelah dua puluh empat tahun menikah, Derry belum juga membuka hati sepenuhnya untuknya.
Sesampainya di kediaman Maheswara Derry langsung masuk kedalam rumah dam melihat anak perempuannya Delana sedang menonton televisi.
“Delana..” panggil Derry. Delana menoleh dan melihat sang Papa sudah tersenyum padanya.
“Papa!” Delana memeluk papanya yang dibalas dengan pelukan sayang sang Papa.
“Halo sayang..” Derry Memeluk erat anaknya. Wilona yang melihat kehangatan Derry dengan anaknya merasa bahagia. Walaupun Derry bersikap dingin padanya, namun setidaknya tidak dengan anak-anak yang ia lahirkan.
“Dalton Mana?” tanya Derry.
“Dia ada dikamar lagi siap-siap” jawab Delana dan lalu beralih memeluk Wilona.
“Memang dia mau kemana?”
“Aku mau ajak dia cari cemilan Mah”
“Pah… Mah…” Suara baritone yang terdengar belum matang itu memanggil Wilona dan Derry. Dalton menghampiri kedua orang tuanya. Walaupun Derry dan Wilona jarang menghabiskan waktu bersama, namun mereka sangat menyayangi anak-anaknya.
“Hei jagoan Mama” Wilona langsung memeluk putra kesayangannya yang dib alas pelukan singkat oleh Dalton.
“Hai Mah..” lalu Dalton beralih menyalami Papa nya.
“Gimana sekolah kamu?” tanya Derry.
“Baik”
“Kamu buat kekacauan lagi?”
“Nggak pah”
“Kamu adalah penerus Papa Ton. Tolong jangan bikin kekacauan atau ulah yang tidak berguna lagi. tingkatkan prestasi kamu. Papa tau nilai akademis kamu masih belum mencapai nilai yang baik apalagi bagus. Perbaiki itu Dalton!” ujar Derry sambil menepuk pundak Dalton lalu berlalu meninggalkan semuanya.
“Sayang.. Kamu jangan terlalu ambil hati ucapan Papa kamu. tapi kamu tetap harus berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Oke?” ujar Wilona.
“Iya Mah”
“Yaudah kalian mau pergikan? Hati-hati dijalan. Jangan pulang terlalu malam. Mama mau ke kamar dulu”
“Have a nice dream Ma” ujar Delana lalu keduanya pergi.
Gia sangat senang dan berlari kesana kemari saat sampai Mall. Gia berpenampilan amat lucu dan imut. Dengan rambut kuncir kuda yang membal kesana kemari berhiaskan kunciran Bintang yang imut. Memakai dress Putih dengan sepatu slop putih. Begitu pun Ran dan Ardan yang juga memakai Baju putih dengan bawahan milik Ran senada dengan baju dan Bawahan Ardan adalah celana panjang hitam dan topi hitam. Orang yang tak mengenal mereka, akan melihat Ketiganya seperti keluarga muda yang harmonis.
“Mbak.. Mas.. Mau Kyepes” ujar Gia sambil menunjuk-nunjuk stand Crepes.
“Loh katanya dede mau beli es krim Unicorn? Nanti nggak abis gimana?” tanya Ardan. Gia terdiam dengan wajah yang manyun.
“Tapi dede mau itu..” cicit nya.
“Yaudah mas, crepesnya biar Ai bantu Gia makannya” tawar Ran.
“yaudah kalo gitu” lalu ketiga nya menunggu di stand crepes.
Setelah selesai bermain, berbelanja, dan membeli es krim yang di inginkan Gia, ketiganya berjalan menuju lantai baseman
“Mas.. Dedek mau bobo di belakang ya. Ngantuk!”
“Iya. Oake sabuk pengamannya. Nanti Mamas rendahin sandarannya” ujar Ardan lalu Gia masuk kedalam mobil. Sedangkan Ardan memasukan belanjaan ke dalam bagasi di bantu dengan Ran.
“Ai.. tolong cemilannya taro di belakang sini, biar nanti roti Baguette nya di taro di tengah aja”
“Iya mas. Sama buahnya juga ya di belakang?”
“Iya boleh”
Ran meletakan cemilan dan buah di bagasi. Lalu Ardan menutup pintu bagasi mobil. Angin malam cukup kencang hingga daun-daun bertebaran dan juga debu-debu tanah yang terbang kesana kemari.
“Aduh..”
“Kenapa kamu?”
“Ini Mas, aku kayaknya kelilipan. Anginnya kenceng banget” ujar Ran sambil mengucek-ucek matanya
“Eh jangan di kucek. Takutnya ada batu kecil dalam mata kamu, nanti ke gores. Mana sih coba mas tiup” ujar Ardan. Ran mendekati Ardan dan menengadahkan kepalanya. Ardan sedikit menunduk dan membuka mata Ran, menelisik lalu meniup pelan bola mata Ran.
“Aduh mas perih”
“Sebentar…”
Dalton dan delana berjalan menuju mobil mereka. Setelah berbelanja delana langsung mengajaknya makan di warung siomay kesukaan mereka di dekat komplek rumah. jadilah kini mereka akan menuju arah pulang.
“Dek… bentar ya.. kakak lupa beli pembalut”
“Yaudah si, beli di minimarket deket rumah aja kak”
“Aduh nggak bisa. Disana nggak ada, merk nya nggak pasaran. Udah kamu tunggu di mobil aja duluan. Kakak bentar kok” lalu Delana berbalik kembali menuju pusat perbelanjaan. Dalton melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobilnya. Namun netra matanya tak sengaja menangkap dua sejoli yang sepertinya sedang b******u. Dalton tak menghiraukan urusan orang lain dan berjalan menuju mobilnya.
“Aduh mas perih”
“Sebentar…”
“Pelan-pelan..”
Dalton terdiam sejenak mendengar suara sepasang sejoli tersebut. Ia terheran, apa yang sedang di lakukan keduanya, apa mereka berbuat m***m dan melakukan makeout di tempat seperti ini.
‘Mereka makeout? Di tempat beginian? Gila! Nggak modal banget. Bego banget ceweknya! Murah!’ gerutu Hati Dalton.
“Mas Udah belom? Capek nih, makin lama makin perih” Ujar sang perempuan.
“Bentar.. sedikit lagi, mas keluarin dulu. Tahan ya” jawab sang laki-laki.
Dalton yang mendengar sangat geram. Ingin sekali dia melabrak dan mencaci maki pasangan tersebut karena berbuat gila di tempat umum.
“Ah! Udah!”
“Shhh,,, perih tau”
Dalton yang penasaran dengan pasangan tersebut pun menoleh untuk melihat siapa mereka, benar-benar tidak tau malu gerutunya. Namun Dalton sungguh terkejut dengan apa yang di tangkap bola matanya.
“Ran?” cicitnya.
“Makasih ya mas” ujar Ran.
“Udah enakan?” tanya Ardan. Lalu Ran mengangguk sembari tersenyum. Dalton tercengang melihatnya, benarkan itu Ran yang berada satu kelas dengannya? Ran Yang selalu jutek saat menatapnya, Ran dengan aura kalem dan sederhananya, benarkan itu Ran yang ia kenal? Lalu siapa lekaki itu? Dalton tak bisa melihat lelaki tersebut karena pencahayaan yang minim dan Ardan pun posisinya memunggungi.
“Apa itu pacarnya si udik?” beo Dalton.
“Dek!” Delana datang mengagetkan Dalton.
“Kakak!” kesal Dalton.
“Ahahaha… kamu lagi ngapain sih di luar? Nungguin kakak? so sweet banget” ujar Delana.
“Dih.. pede! Udah ah kita pulang!” Dalton berjalan dengan langkah kesalnya. Delana mengerutkan
keningnya, apa adiknya itu ngambek dengannya?.
`Hayooo dalton berpikir apa yaaa??"