5. Menangis

2856 Kata
Vena menoleh pada Dalton yang berada tak jauh darinya bersama teman-temannya. Vena tersenyum senang melihat Dalton yang datang namun tidak dengan Dalton yang berwajah datar menatap Vena dan Ran. “Sayang…” ujar Vena dengan riang lalu menghampiri Dalton dan merangkul lengannya. Tatapan Dalton yang datar tetap menatap Ran yang terlihat menunduk dan memegangi pipinya. Ada rasa sedikit tak suka saat Dalton melihat Ran di ganggu yang lain. Hanya ia yang boleh bermain dengan Ran, hanya ia yang boleh mengganggu Ran. Dalton tak menghiraukan Vena dan berjalan menuju Ran hingga rangkulan Vena terlepas. “Heh..! udik! Ngapain lo masih disini? Balik sono lo! Mood makan gua bisa hilang gara-gara liat muka lo” ujar Dalton dengan nada memerintah. Ran mengangkat pandangannya pada Dalton. Ia menatap Dalton dengan tajam, ada kemarahan yang Ran tahan dalam tatapannya, Dalton tau itu. Ran pun lalu mengangkat kaki nya dari kantin sekolah serta membawa kotak bekalnya. “Ran.. tunggu!” Tita berlari mengejar Ran. Dan Ran berjalan menuju toilet wanita. Air matanya sudah terjatuh saat ia keluar dari kantin. Betapa malu dan menyedihkan dirinya. Ran merasa bahwa dirinya tak berguna. Ia tak bisa melakukan apa-apa, apalagi membalas perbuatan anak-anak orang kaya yang se enaknya saja menindas nya. “Emang salah aku apa sih? Kenapa aku di tindas? Kenapa mereka jahat banget sama aku?” Ran terisak. Tita merangkul pundak Ran. Ia merasa bersalah karena awal mula Ran begini adalah karena membela nya saat di bully dengan Dalton. “Sabar ya Ran. Aku minta maaf, karena semua berawal dari aku. Kalau aja kamu waktu itu nggak nolongin aku” ujar Tita. “Jangan ungkit itu lagi Ta. Mungkin ini udah takdir aku. aku Cuma berharap, aku bisa lewatin ini semua sampai aku lulus dari sini” ujar Ran. “Aamiin. Kamu pasti kuat. Aku akan selalu berusaha ada di samping kamu saat kamu butuh. Maaf aku nggak bisa jadi teman yang melindungi kamu Ran. Aku terlalu takut sama mereka” ujat Tita. “Makasih ya Ta, udah mau jadi teman aku” Ran dan Tita berpelukan. Ran berjalan menuju halte bus untuk menunggu angkutan umum. Tita sebenarnya sudah menawarkan tumpangan padanya agar diantar sampai rumah. namun Ran menolak. ~TIINN.. TIIINN~ suara klakson mobil terdengar dari belakang Ran. Ran menoleh. “Masuk!” ujar laki-laki yang selama ini selalu membuatnya susah dan kesal. Ran menatap acuh Dalton. Ia tak menghiraukan ucapan Dalton dan tetap berjalan hingga sampai jalan besar. ~TIINN..TINNN..TIINNNN~ Dalton kembali membunyikan klaksonnya. Namun Ran seakan tidak peduli dan naik kedalam angkutan umum. Ada rasa heran di hati Dalton. Baru kali ini ia ditolak mentah-mentah tanpa suara. Biasanya, perempuan mana yang tidak akan senang gembira diajak pulang oleh Dalton. Bahkan Vena yang notaben nya pacarnya sendiri aja sangat jarang diantar pulang. Bisa di hitung jari. Ran mengerutkan keningnya dalam angkot. Aneh sekali laki-laki yang dapat di bilang musuhnya tersebut menawarkan masuk ke dalam mobil mewahnya. “Aneh banget bocah gemblung itu. Apa jangan-jangan, dia mau berbuat macam-macam sama aku? atau mau jahatin aku? ihhh ya Allah, lindungi aku dari cowok gila itu” gerutu Ran. “Menteng.. menteng.. menteng..” teriak sang kenek. “Bang stop” Ran turun dan berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari jalan besar. Sedangkan Dalton kini sedang berada di rumahnya bersama kawan-kawannya. Karena rumahnya sedang sepi, kedua orang tuanya sedang keluar negeri dan kakaknya sedang berada di luar kota, jadi ia mengajak teman-temannya berkumpul dirumahnya. Dalton terlihat sedang berpikir sendiri ketika teman-teman yang lainnya sedang asik beradu PS. “Ton… kenapa lu?” tanya Kelvin yang melihat Dalton sedang termenung. Dalton melirik Kelvin. Lalu ia langsung berpindah duduk dekat dengan Kelvin. “Vin… Gua tanya ya sama lo. Mungkin nggak ada cewek yang nolak gua? atau nggak naksir sama gua?” tanya Dalton pada Kelvin. Kelvin terheran dengan pertanyaan Dalton. “Maksud lo? Emang pernah ada yang nolak elo?” “Nah!! Bener kan selama ini nggak pernah ada yang bisa nolak gua?” ujar Dalton. “Ya terus, kenapa lo tanya kayak gitu?” “Gua mau tau aja. Apa ada cewek yang nolak gua?” “Ada.” Ujar Digo yang menyambar pembicaraan Dalton dan Kelvin. “Siapa?” tanya Dalton tak terima. “Cewek Buta. Ahahaha” Ujar Ricky “Ahh.. kampret!” “Ada lagi ton” Ujar Digo. “Apaan?” “Cewek belok alias Lesbian!” ujar Digo di barengi dengan tawa. Dalton menggeleng mendengar ucapan Digo, namun sesaat ia kembali berfikir. ‘Apa jangan-jangan?... masa iya?...’ Dalton membeo dalam hati nya. Ran berjalan memasuki sekolah ia menaiki tangga menuju kelasnya. Namun saat Ran akan berbelok menuju kelas, ia tiba-tiba dihadang dengan tiga perempuan dengan tampilan yang modis. Ran mengerutkan keningnya, ia tahu bahwa salah satu perempuan yang ada di depannya adalah pacar dari laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. “Heh cewek kampungan. Urusan kita belom selesai ya” ujar Vena. Ran heran, memangnya ia mempunyai urusan dengan perempuan songong di depannya ini? “Urusan apa? Kita nggak punya urusan apapun” ujar Ran dengan acuh lalu berlalu ingin meninggalkan Vena dan kawan-kawannya. Namun di tarik oleh Vena. “Heh! Lo masih berani sama gua?!” kesal Vena. “Lo udah berani permaluin gua di depan orang-orang pas di kantin kemaren, lo juga udah berani ngelawan gua. minta maaf lo! Lo butuh pengampunan gua untuk sekolah disini” ujar Vena dengan angkuh. “Aku nggak punya salah apapun! aku juga nggak ngerasa punya urusan apapun sama kamu! jadi buat apa aku minta maaf” ujar Ran lalu mencoba pergi lagi. Vena semakin kesal dengan sikap Ran yang seakan acuh dan tak takut padanya padahal Ran tau kalau ia adalah pacar Dalton, cowok nomor satu di sekolah ini. “Anjing lo!” Vena menarik baju Ran dengan sangat kencang hingga Ran terhuyung ke belakang. Hampir saja Ran jatuh dari tangga jika seseorang tak muncul dan menyanggah tubuh Ran. ~HAP!~ tubuh Ran masuk kedalam dekapan seseorang yang memiliki wangi yang maskulin dan fresh. Ran yang sudah menutup matanya rapat-rapat karena merasa akan terjatuh saat kakinya terpeleset di ujung tangga. Namun perlahan ia merasa jika tubuhnya sedang di dekap seseorang, karena sepasang tangan melingkar di pinggangnya dan tubuhnya terasa tersandar oleh suatu objek. Ran membuka kedua matanya perlahan dan melihat sepasang tangan kekar yang menandakan bahwa ia adalah laki-laki yang melingkar di pinggangnya. Lalu Ran memiringkan sedikit dan mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang telah menolongnya. DEG! Kedua mata Ran membola, Wajah seorang Dalton terpampang jelas di hadapannya. Dan juga jaraknya terlalu dekat hingga Ran bisa melihat detail betapa tampannya seorang Dalton dengan mata tajamnya yang kini sedang memandangnya begitu lekat. Keduanya saling berpandangan tanpa suara. Ran merasa tubuhnya kaku, dan Dalton merasa jika ia masih ingin belama-lama menatap lekat kedua bola mata gadis udik ini. namun sesaat ia tersadar. Ran melihat senyuman miring di wajah Dalton. “Lo pasti udah Jatuh hati kan sama gua” celetuk Dalton yang seketika membuat Ran berkedip-kedip lucu dan membuat Dalton sedikit gemas sendiri. Ran tersadar dan langsung menjauhkan diri dari Dalton. “Dasar Gila!” Gumam Ran dan langsung pergi dari hadapan Dalton dan melewati Vena dan teman-temannya begitu saja. Vena yang merasa kesal, menatap Ran penuh kebencian. Sedangkan Dalton hanya tersenyum miring. Entah apa yang ia rasa, namun ada sedikit rasa berbeda. “WEss… Ton.. Ton.. senyum-senyum lo! Cewek lo tuh cemburu buta” ujar Digo berkata pelan pada Dalton. Dalton pun melirik Vena yang bermuram durja. Lalu mendekatinya. “Ada urusan apa lo sama dia?” tanya Dalton. Vena melirik Dalton dengan cemberut manja pada Dalton. “Dia kemaren itu udah bikin aku malu di depan anak-anak di kantin. Aku mau kasih pelajaran ke dia” jawab Vena sambil menggelayuti lengan Dalton. “Vena..! mending lo jaga sikap lo dan nggak usah berbuat macam-macam” ujar Dalton yang membuat Vena terheran. “Maksud kamu?” “Lo inget kan, gua nggak mau punya cewek bermasalah apalagi sampai masuk BK. Bikin malu!” ujar Dalton dan melepaskan tangannya dari dekapan Vena lalu meninggalkan Vena yang merasa semakin kesal. Vena menghentakan kakinya dan mengepalkan tangannya. Ia kesal pada Dalton yang tak mendukungnya. “Kok Dalton kayaknya nggak pro sama lo Ven” ujar Siska. “Iya bener. Dalton masih pacar lo kan?” tanya Tara. Vena langsung mendelik pada tara. “Ya masih lah!” kesal Vena. “Pokoknya gua harus kasih pelajaran sama tu cewek! Berani-beraninya dia bikin gua malu. Dan secara nggak langsung ngatain gua bodoh. Awas lo cewek kampung!” dendam Vena. Ran duduk di mejanya sambil memasang headset di telinganya dan membaca buku pelajaran hari ini. ia menunggu Tita datang. Tak lama Geng Dalton pun memasuki kelas. Ran tak menggubris saat mereka lewat di sampingnya. Sedangkan Dalton diam-diam melirik Ran. Dalton merasa, ia mulai penasaran dengan gadis udik yang ada di hadapannya. Ingin rasanya Dalton mengetahui seluk-beluk Ran. Sampai saat ini, Ran adalah perempuan yang paling cuek padanya. Tak pernah sekali pun ran menatapnya dengan tatapan terpana atau terpesona pada ketampanannya. Kecuali saat tadi ia mendekap Ran, namun tatapan itu tidak terlihat seperti mengagumi, melainkan seperti menelisik. “Ton.. Gua rasa ada yang beda sama lo” ujar Kelvin. “Apa yang beda?” tanya Ricky “Pasti Rambutnya! Kayaknya rambut lo udah cukup panjang ton” ujar Digo. “Bukan bego!” jawab Kelvin sambil menggeplak kepala Digo. “Sakit anjing!” “Emang apaan yang berubah dari Dalton?” tanya Ricky. “Gua ngerasa lo kayaknya mau ngelindungin si Ran dari Vena. Ya nggak?” tanya Kelvin. Kening Dalton mengerut. “Maksud lo?” tanya Dalton. “Yaaa.. maksud gua, lo kayak nggak mau Vena ganggu si Ran, makanya tadi lo ngelarang Vena buat ngelakuin sesuatu sama Ran “Oh.. iya, iya, lo tadi kan bilang sama Vena jangan melakukan hal macam-macam sama si Vena” tambah Ricky. “Wah jangan-jangan lo naksir ya sama Ran…” Tunjuk Digo. “Apaan sih lo pada! Dari kemarin bacotan kalian.. naksir! Naksir! Gila lo semua! Ngaco! Nggak usah kebanyakan nonton sinetron Indosimar makanya! Bego kan otak lo pada!” ketus Dalton. “Naksir juga nggak apa-apa kali Ton… yang gua liat si Ran manis kok, udah gitu pintar binti cerdas lagi. yah walaupun body nya nggak se yahut dan se hot Vena” ujar Ricky. “Gua yakin… nanti lo bakalan Jatuh hati sama Ran! Pasti!” ujar Kelvin dengan menaikan kedua alisnya. “Maksud lo? Gua naksir sama si udik itu? Nggak!” elak Dalton. “Eh bro.. lo nggak inget, kenapa lo bisa tertarik sama Vena waktu dulu??” tanya Ricky. Saat sebelum Vena menjadi ke kasih Dalton, vena adalah sosok perempuan yang cantik, modis dan popular. Vena bisa di bilang most wanted di sekolah, di tambah dia adalah ketua anggota team cheerleaders. Vena gayanya memang sedikit angkuh dan jual mahal. Bahkan saat Dalton mencoba mendekatinya, Vena berlagak jual mahal dan tarik ulur membuat Dalton penasaran. Namun tak membutuhkan waktu lama, hanya dalam sebulan pendekatan, merayu, memuji, dan memberi kesan sedikit romantis, Vena langsung jatuh kedalam pelukan Dalton bahkan tak bisa lepas. Dan Dalton baru sadar, jika Vena adalah tipe perempuan yang manja, cemburuan dan cukup liar. Sangat berbeda dengan image yang ia buat di sekolah. bahkan, Vena yang berinisiatif untuk memberikan kenikmatan dunia pada Dalton. Jika mantan-mantannya yang lain, Dalton lah yang akan mengajarkannya. Vena sangat posesif dan cukup cerewet. Semakin lama semakin membuat Dalton jengah, namun ia belum menemukan pengganti Vena, jadi ia harus menahan untuk membuang Vena sebelum ada yang baru. Dalton memang sangat b******k, namun itu tak membuat ia di benci oleh para gadis, justru gadis ingin sekali dekat dengan Dalton si lelaki popular, kaya nan tampan. “Eh Vin.. Vena beda. Lo liat body sama casingnya, bedalah sama cewek udik itu. Nggak bikin gua tegang!” jawab Dalton dengan pede. “Eh hati-hati lo bro.. mungkin yang nggak bisa bikin lo tegang sekarang, nanti bisa bikin lo bertekuk lutut di depan dia” ujar Kelvin. “MIMPI LO..!” kesal Dalton. “Ran..” Panggil Tita dan menepuk pundak Ran. Ran menoleh dan membuka headset nya. “Eh Ta… tumben kamu baru dateng?” “Iya.. aku tadi siapin ini buat kita berdua” ujar Tita sambil menunjukan kotak bekal yang ia bawa. “Eeh.. apa ini?” “Aku buat bolu gulung rasa moccacino..” “Waaahh… keren! Kamu bisa buat kue secantik ini” ujar Ran kagum. “Bisa aja kamu. itu aku di ajarin sama mama cara buat kue. Terus aku kepengen kamu cobain kue buatan aku. jadi aku bikin deh” “Wah makasih ya. Ya udah nanti istirahat aja kita makan, bentar lagi masuk soalnya” Disisi lain seorang wanita cantik nan anggun sedang berkecimpung dengan beberapa design bangunan yang harus ia diskusikan dengan kontraktor karena ada sedikit perubahan dari pihak desain. “Ck! Mana nih si Ardan jam segini belum dateng” Ujar Delana. “Del..!” panggil sesosok pria tampan bertubuh kekar dan berkulit coklat sawo matang. Delana menoleh dan melihat Ardan bergegas menujunya. “Sorry ya telat” ujar Ardan. “Ck! Lo kemana aja sih? Paling lo abis ngedugem tadi malam” “Nggak lah, gua lembur buat ni proyek” “Alah so sibuk, padahal galau mulu gegara mantan nggak jelas lo itu. Dan, ini udah dua tahun dia ngilang ninggalin elo gitu aja. Udahlah move on masih banyak gadis, wanita dan janda-janda yang nunggu elo” ujar Delana. “Enak aja lo.. janda di kasih ke gua!” “Dari pada gua kasih banci, mau lo?” “Sialan lo” lalu keduanya sama-sama tertawa. Ran dan Tita berjalan menuju taman belakang sekolah. Ran yang mengajak Tita ke sana, Ran merasa malas pergi ke kantin, ia malas ketemu dengan hantu-hantu pengganggu yang akan menganggu waktu makannya. “Nah kita makan disini aja. Nggak apa-apa kan?” tanya Ran. “Aku nggak masalah. Ya udah, cicipin dulu bolu gulung nya” Tita menyodorkan Bolu gulung nya pada Ran. Ran menerima kotak bolu tersebut. Baru saja Ran menggenggam kotak tersebut namun seseorang tiba-tiba saja merebutnya dari genggaman tangan Ran. “Eiittss.. enak nih, kok Neng ran nggak bagi aa sih” ujar digo yang telah merebut bolu tersebut. Ran menghela nafas dan memutar malam bola matanya malas. “Guys cobain nih enak loh” ujar Digo sambil mengunyah bolu gulung buatan Tita. Kelvin dan Ricky dengan senang hati memakan Bolu gulung tersebut. Namun Ran langsung merebut kotak bolu tersebut saat keduanya sudah mengambil potongan bolu tersebut. “Kalian itu kenapa sih gangguin kita terus? Apa sih salah aku sama kalian? Kalian nggak bosen apa terus-terusan ngejahatin kita kayak gini?” kesal Ran. Dalton yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung tersenyum miring. Perlahan langkahnya terus mendekati Ran. Ran yang awalnya terlihat berani dan tak mau kalah pun akhirnya goyah saat Dalton tak berhenti melangkah dan semakin mendekat padanya. Ran berjalan mundur dan Dalton terus maju. Tita yang melihatnya pun takut jika Dalton melakukan hal yang jahat pada Ran apalagi taman belakang cukup sepi. ~BUP!~ b****g Ran telah mendarat tiba-tiba di atas beton yang melingkar di desain untuk tempat duduk di taman tersebut. Ran sudah tak bisa kemana-mana lagi, Dalton bukannya berhenti malah semakin menundukan tubuhnya, ran berusaha menjauhkan tubuhnya dengan mendorong tubuhnya kebelakang, namun ia hampir saja terjatuh jika Dalton tak segera meraih pinggang Ran dan menariknya hingga jarak wajah Ran dan Dalton sangat dekat. Mata Ran melotot akibat terkejut, kedua tangannya makin gua menggenggam Kotak bolu tersebut. Sedangkan Dalton menatapnya dengan intens seakan serakah menatap Ran. “Gua, nggak akan bosen untuk ganggu elo tiap hari, bahkan tiap jam, menit, detik. Ini akibatnya elo berurusan dengan gua. jangan harap lo tenang disini” ujar Dalton dengan suara dalam yang rendah, yang terdengar seksi dan membuat Ran terpaku. Bulu tubuhnya berdiri seketika saat Dalton tersenyum miring mengangkat sebelah sudut bibirnya. Lalu ia melepaskan tangannya dari pinggang Ran dan pergi meninggalkan Ran di ikuti dengan teman-temannya, yang menatap cukup heran pada Dalton. “Eh, lo pada ngerasa aneh nggak sama Dalton?” tanya Ricky. “Aneh kenapa?” tanya Digo. “Gua nggak tau juga sih. Cuma gua rasa kali ini Dalton beda. Dia bukan bully anak-anak kayak biasanya” ujar Ricky. Kelvin yang mendengarnya hanya tersenyum. “Udah lo berdua jangan pada bingung. Mungkin ini saat nya dia berubah, dan mulai memakai hatinya” ujar Kelvin. Ricky dan Digo saling berpandangan, sedangkan Kelvin hanya tersenyum penuh arti. Ran dan Tita berjalan menuju gerbang sekolah, namun tiba-tiba saja Ran menerima panggilan alam nya. “Ta.. aku ke toilet dulu ya. Kebelet nih” ujar Ran. “Iya deh, aku ke depan duluan ya” Ran langsung berlari menuju toilet yang ada di ujung lorong kelas. Bergegas untuk membuang air kecil. Ran sedikit kesal toilet yang di miliki sekolah ini adalah toilet duduk dan menggunakan shower closet. Ia yang biasa menggunakan toilet jongkok bak dan gayung untuk membersihkan daerah pribadinya, harus terbiasa menggunakan shower kloset yang di rasa tak bersih. “Aduh.. kena celana lagi. basah deh” ujar Ran. Ran membenahi dirinya dan bersiap keluar toilet. Namun saat membuka pintu closet nya, ia sudah di hadang dengan Vena. Ran cukup terkejut. “Mau apa kalian?” tanya Ran yang merasa ketiganya berniat tak baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN