“Oke anak-anak sebelum memulai permainan. Kita pemanasan dulu dengan melakukan lari, dan putaran di lapangan sebanyak lima putaran” ujar Pak Andra guru olahraga.
“Baik pak”
“Oke rapihkan barisan..” lalu anak 11.IPA.2 berbaris dengan rapih. Mereka bersiap untuk berlari mengelilingi lapangan Voli.
“Siap? Mulai!” ujar Pak Andra.
Seluruhnya berlari mengelilingi lapangan Voli. Ran berusaha berlari sebisa mungkin. Ia berlari dengan kecepatan sedang agar eneginya tidak habis
~DUGH~!
“Akh!” Ran mendesis saat bahunya di tabrak cukup kuat dengan Dalton sampai sedikit terhuyung. Namun Dalton tak peduli dan meneruskan larinya. Lalu kini Dalton mendorongnya kesamping.
“Awas! Lama banget lo!” ujar Dalton sambil membentak dan terus berlari. Ran yang terkejut sambil terhuyung kembali mulai merasa kesal dengan Dalton.
“Ishh!! Nyebelin banget sih!” gerutu Ran. Dan ia melanjutkan larinya.
“Sabar ya Ran.. Dalton emang gitu. Dia bakal terus gangguin kamu dari hal sekecil apapun sampai kamu merasa kesal dan tidak betah di sekolah” ujar Tita. Ran hanya tersenyum. Saat ini nafas Ran mulai tersengal-sengal. Satu putaran lagi ran selesai berlari
~BRUGH!!!~. Terasa ada yang membegal kakinya. Ran jatuh tersungkur.
“Akhh..!! aww..” rintih Ran. Tangan tergores oleh tekstur kasar lapangan dan terluka.
“Makanya mata tuh di pake. Jangan merem pas lari… Udik!!” ujar Dalton dengan senyum mengejek. Ran sudah tak tahan. Ia marah dan kesal pada Dalton.
“E…-“ saat akan menjawab perkataan Dalton, namun ia sudah di tinggal lari.
“Iiiihhhhh…” ran menggeram kesal. “Dasar wing edan!”
“Ran.. kamu nggak apa-apa?” TIta menghampiri Ran dan membantu Ran bangun.
“Nggak sih, Cuma tangan ku aja ke gores” jawab Ran memperlihatkan goresan di tangan dan siku nya.
“Ya ampun. Parah bener sih Dalton” cicit Tita. “Kita obatin dulu ke UKS ya ran” tawar Tita.
“Iya deh” lalu keduanya berjalan menuju Uks setelah meminta izin dengan Guru olahraga.
Sepulangnya dari sekolah ia langsung mencuci bajunya yang ada bercak-bercak merah. Untung saja Dalton dan teman-temannya tak menjahilinya lagi setelah Dalton membegal kakinya. Ran harus memperbanyak stok kesabaran untuk menghadapai anak orang kaya yang arogan. Karena ia ingin lulus dari sekolah ini dengan baik, lancar tanpa ada hambatan. Semoga saja ia kuat.
Sedangkan Dalton dan teman-temannya berkumpul di rumah Kelvin. Rumah Kelvin sering di jadikan tempat berkumpul para lelaki tersebut, entah hanya sekedar bersantai, bermain PS, game online, atau pun bermain alat musik. Mereka memiliki Band. CAPTAIN adalah nama band mereka. Kini rencana mereka adalah bermain Band. Kelvin menyediakan berbagai alat musik. Drum, Gitar akustik, gitar elektrik, Bass, Keyboard, bahkan ada alat musik Angkling modern, piano, Harpa, Biola dan terompet. Keluarga Kelvin memiliki Bisnis pada Alat musik, dan pemilik perusahan musik terbesar bernama MUSE.
“Eh.. kenapa tu anak dari tadi senyum-senyum nggak jelas gitu” Tanya Ricky pada Digo.
“Gua nggak tau.. kesurupan kali” jawab asal Digo.
“Ah elu.. bego!” ujar Ricky dengan kesal.
“Ton… lo kenapa sih senyum-senyum nggak jelas. Lo sakit? Kesambet? Atau kesurupan kayak yang di bilang Digo?” tanya Ricky yang penasaran. Lalu semuanya menatap Dalton menunggu jawaban. Dalton melirik melirik sambil tersenyum.
“Gua lagi ngebayangin tu anak baru aja. Kira-kira apa lagi yang harus gua lakuin sama dia ya. Ternyata asik juga punya mainan baru yang sedikit menggigit” ujar Dalton.
“Hah?! Jadi dari tadi lo senyam senyum Cuma gara-gara mikirin si Ran? Anak baru itu?” tanya Ricky yang tak habis pikir.
“Wah jangan-jangan lo naksir sama Neng Ran” ujar Digo.
“Iya.. Gua curiga lo naksir sama Ran” tambah Kelvin sambil memetik Bass nya. Dalton mendelik pada kedua sahabatnya.
“Lo berdua ngomong apaan sih. Naksir..naksir… naksir darimana nya? Cewek Ndeso gitu, udah gitu dia dengan beraninya tampol gua di depan banyak orang. Lo mikir gua bakalan naksir sama cewek udik gitu? Gila lo pada” kesal Dalton.
“Eh Ton… cinta itu datang tanpa disadari. Cinta datang dari mana aja, cinta datang juga tanpa di duga-duga. Dan satu lagi… cinta itu buta bro. cinta nggak akan memandang fisik, materi, kekurangan atau kelebihan orang. Asalkan orang yang lo cintai ada di deket lo, semua yang menjadi penghalang nggak akan ngaruh” ujar Digo panjang lebar.
“Alaaah bacot lo ketinggian. So tau soal cinta. emang lo pernah ngerasain jatuh cinta?” tanya Dalton.
“Ya pernah lah.. emangnya elo. Napsu doang di gedein.. tapi hati lo nggak kebuka sama sekali dengan begitu banyak cewek yang nempel ke elo” ketus Digo.
“Tai lo”
Dalton memang tak pernah mengerti apa itu yang namanya jatuh cinta. ia hanya tau nikmatnya ketika di jamah dengan gadis-gadis yang begitu bernafsu padanya. Setelah ia mendapat kepuasan, ia tak merasakan apapun. bahkan Dalton tak mengizinkan gadis-gadis yang memberinya kepuasan untuk dapat mencium dan menikmati bibirnya. Ia jijik jika melihat orang-orang berciuman sampai bertukar saliva. Ia hanya akan membiarkan gadis-gadis itu menjamah tubuhnya, memujanya tidak lebih.
Ran sedang belajar dikamarnya, tiba-tiba Gia menghampirinya. Dengan wajah yang memiliki Pipi gempil dan mata yang sangat lucu, Gia memegang bukunya.
“Mbak Aiii…” panggil gia.
“Iya sayang.. kenapa?”
“Gia ada Pe eL.. tapi.. tapi Gia ndak bisa” ujar Gia sambil memberikan buku tugasnya. Ran menerima dan melihat PR gia.
“Hm… ini tambah-tambahan sayang. Kamu punya sempoa kan?” tanya Ran lalu gia mengangguk dan mengambil sempoa di tasnya.
“Ini.. punya ku gambar Minni Mouse”
“Iya. Lucu ya.. sini Mbak ajarin” ujar Ran lalu mengajari Gia. Untungnya Gia anak yang mudah Mengerti. Jadi ia cepat menangkap apa yang di ajarkan Ran.
“Mbaakk.. gia mau bobo sama Mbak Ai”
“Lhoo kan Mbak emang tidur di kamar Gia” ujar Ran. Lalu gia menggeleng.
“Bobo baleng di kasur Gia” ujar Gia. Ran tersenyum dan menuruti ke inginan Gia. Ia menutup buku-bukunya dan beranjak ke atas ranjang Gia. Memeluk Gia dan menciumi puncak kepala sepupu kecilnya tersebut.
Pagi tiba, Gia dan Ran sudah bersiap untuk sekolah. hari ini Ran memasak nasi liwet untuk sarapan dan untuk bekalnya. Ran juga membuat Potato baked. Tak lupa ia membawakan juga untuk teman satu-satunya di sekolah itu, Tita Adisty
“Kamu bawa bekal sampe dua kotak gitu. Untuk siapa?” tanya Ratna.
“Untuk Tita bu. Biar dia cobain masakan Ai” ujar Ran.
“Ayo Ai, Gia.. kita berangkat” ujar Dimas. Lalu keduanya memasuki Dimas.
Sesampainya di sekolah, Ran terlihat ragu memasuki Kelas. Ia takut ada jebakan Lagi. namun saat orang lalu-lalang masuk sepertinya aman. Ia memberanikan diri untuk masuk dan ternyata tak ada jebakan. Ran berjalan menuju mejanya. Ia duduk di kursinya. Namun ran merasa aneh. Roknya terasa basah. Ran bangun dan melihat ada bercak kemerahan seperti darah di kursinya.
“Ya ampun Ran.. lo lagi dapet? Sampe tembus banyak gitu.” Ujar seorang cewek padanya. Lalu Ran melihat pada roknya. Ternyata benar, di roknya ada noda seperti darah tepat di pantatnya.
“Ihh…. Ran, lo jorok banget sih. Nggak pake pembalut lo?”
“Eh.. nggak kok, aku lagi nggak datang bulan. Aku nggak tau kenapa bisa kayak gini” sanggah Ran yang memang lagi tak datang Bulan.
“Parah! Udah Udik, kampungan, Jorok lagi. kok bisa ya, Sekolah ini terima siswa nggak bermutu kaya gini?” Ujar Dalton yang baru datang dari luar kelas.
“Hei! Enak aja kalo ngomong! Aku nggak jorok! Ini bukan darah aku! kamu pasti ngerjain aku lagi kan?” kesal Ran pada Dalton. Lalu Dalton menanggapinya dengan tertawa dan berjalan menuju Ran.
“Heh Udik! Kalo Pede nggak usah ketinggian. Lo pikir gua punya waktu untuk ngurusin cewek udik, jelek kayak elo?” ketus Dalton. Ran menatap tajam pada Dalton. Ia marah dan kesal juga malu. Namun ran tidak ingin memperpanjang masalah. Pecuma melawan sia anak sultan yang arogan, buang-buang waktu. Ran lalu mendorong tubuh Dalton agar minggir dari jalannya. Ia berjalan menuju Toilet untuk mebersihkan roknya.
“Pasti orang gila itu yang kerjain aku. dasar gila! Nggak waras! Wong edan!”
Ran mencuci roknya sebisa mungkin sampai roknya basah sebagian. Ran bingung bagaimana caranya ia memakai rok yang basah, pasti akan tembus sampai dalamannya. Ran memutuskan menelpon Tita.
“Halo Tita.. aku boleh minta tolong nggak? Kamu punya rok ganti nggak di loker? Rok aku basah banget bagian belakangnya” ujar Ran.
“Aduh rok aku lagi pada di cuci semua ke rumah. Hmm… gimana kalau kamu coba keruang Osis, disana biasanya ada baju-baju seragam yang udah nggak kepake yang di kumpulin di lemari ruangan Osis” Ujar Tita.
“Hmm.. ya udah deh. Tapi dimana ruangan Osis nya?”
“Kamu dimana sekarang?”
“Di toilet deket kelas”
“Kalo gitu kamu turun kebawah, belok kanan ruang osis paling ujung. Ada plank namanya kok, Osis Management team”
“Oke makasih ya Ta”
Lalu Ran pun pergi keruang osis. Ia berusaha berjalan cepat karena roknya yang basah, jangan sampai jam pelajaran ia belum selesai. Ran sedikit berlari dan mencapai ruangan osis. Ran lalu mengetuk pintu ruang osis yang sedikit terbuka.
~Tok..tok..tok…~
“Masuk” sebuah suara baritone yang terdengar maskulin menjawab ketukannya. Ran membuka pintu ruangan dan disana terlihat seorang laki-laki yang sedang membuka map di atas meja dengan tampilan yang rapih namun tidak culun. Laki-laki itu menoleh kearah Ran.
“Ada apa? Kamu siapa?” tanya nya.
“Maaf kak. Sa..saya mau tanya, apa disini ada Rok seragam yang bisa saya pinjam?” tanya Ran. Pemuda tersebut mengerutkan keningnya.
“Untuk apa? Siapa yang mau pinjam?”
“Saya kak. Saya mau pinjam rok seragam Mahardika kak. Rok saya basah” jelas Ran. Pemuda tersebut sedikit memperhatikan rok Ran, dan terlihat jika di bagian belakang ada tetesan air.
“Boleh. Kamu tunggu disitu biar saya yang ambil” ujarnya. Ran lalu menunggu di depan pintu sedangkan lelaki tersebut mengambilkan rok untuknya. Tak berapa lama lelaki itu datang dengan rok di tangannya.
“Ini… semoga cocok dengan ukuran kamu, karena ini yang cukup bagus untuk di pakai” ujar lelaki tersebut.
“Terima kasih kak”
“Kamu bisa ganti di toilet ruang osis, saya akan tunggu di luar” ujar Lelaki tersebut dan keluar dari ruang Osis. Ran segera bergegas ganti rok di ruang Osis. Setelah beberapa menit berlalu, Ran keluar dari ruang osis.
“Gimana? Roknya muat?” tanya lelaki berwajah tampan dan ramah tersebut.
“Iya kak. Agak pendek sedikiiit. Tapi nggak apa-apa. Bisa aku pakai kok. Sekali lagi makasih ya kaa??” Ran belum tau nama pemuda tersebut.
“Oh.. Ibrahim” ujarnya sambil menjulurkan tangan kearah Ran. “Panggil aja BAIM” Ran menyambut lembut uluran tangan lelaki dihadapannya.
“Ranai.. Panggil aja Ran kak” ujar ran sambil menjabat tangan Baim.
“Kamu kelas berapa?” tanya Baim.
“Aku kelas 11.IPA.2 kak”
“Loh kamu kelas dua? Aku pikir kamu kelas satu. Aku juga kelas dua. Aku kelas 11.IPA.4” Ujar Baim.
“Kita satu angkatan dong” Ran tersenyum manis pada Baim. Baim membalas senyumnya Ran.
“Iya. Kamu nggak usah panggil kakak. panggil Baim aja” ujar Baim
~TRIIINGGG!!!~ bel bunyi masuk pun terdengar
“Yaudah aku ke kelas duluan ya. Baim!” ujar Ran. Lalu keduanya berpisah. Lalu Ran bergegas kembali ke kelasnya.
Ran duduk kembali ke tempatnya dengan rok sekolah memang sedikit lebih pendek. Terlihat kakinya terekspos lebih banyak sedikit namun masih terasa nyaman. Dalton memperhatikan Ran yang kembali kekelas dengan rok yang lebih pendek. Terlihat kaki jenjangnya yang sungguh indah. Walaupun Ran tidak semolek Vena, namun Ran tetap terlihat cantik.
“Cwiw wit.. wuih.. Mulus juga ternyata anak deso” Ujar Ricky. Ran tak menghiraukannya, ia lalu membuka Blazernya dan menutupi pahanya yang terekspose lebih tinggi.
“Ran.. itu dapet dari ruang Osis?” tanya Tita.
“Iya.. Cuma ini doang yang layak pakai kata Baim” jawab Ran.
“Baim?”
“Iya.. ada anak laki-laki yang duduk di ruangan itu. Namanya Baim, terus dia bantuin aku nyari rok yang bisa aku pakai” jelas Ran
“Oh.. itu Baim ketua Osis kita. Baim yang ganteng, Ramah dan keren juga pinter lagi” ujar Tita.
“Dia ketua osis?”
“Iya. Dia ketua Osis super duper keren!”
“Tita.. Ranai.. apa yang kalian bicara kan, bisakah kalian Fokus dalam pelajaran saya?” tegur guru di depan. Tita dan Ran langsung berhenti bicara.
“Bisa buk”
“Maaf buk”
Tita dan Ran berjalan ke kantin untuk makan saat jam istirahat. Tita dan Ran baru saja meletakan pantatnya di kursi kantin. Langsung di hadapkan Vena dan kawan-kawannya yang duduk di meja mereka.
“Heh anak baru, lo jangan macem-macem ya disini. Gua denger lo kesini Cuma karena Beasiswa Full” ujar Vena lalu ia mencengkram rahang Ran menariknya untuk menatap Vena.
“Inget ya. Gua bisa aja cabut beasiswa lo dan depak lo keluar dari sekolah ini kalo sampe lo kurang ajar lagi sama cowok gua.” ujar Vena lalu menghempaskan wajah Ran. “Dasar Miskin.. nggak punya sopan santun.. orang tua lo nggak guna banget sampe nggak bisa ajarin anaknya” ketus Vena.
“Orang tuanya juga nggak punya sopan santun kali” celetuk siska teman Vena.
“Orang-orang kampung biasanya g****k-g****k Ven.. jangan heran” tambah Tara.
~BRAAKK!!~ Ran bangun dari duduknya dan menatap Vena yang masih duduk diatas mejanya.
“Kamu boleh hina aku semau kamu. tapi jangan pernah bawa-bawa orang tua ku!” ujar Ran dengan tatapan tajam pada Vena. Vena yang di tegur menjadi emosi.
“Lo berani sama gua?” Vena pun berdiri berhadapan dengan Ran. “Orang miskin aja sombong! Jangan ngerasa hebat karena lo dapet beasiswa sepenuhnya disini. Itung-itung pihak sekolah bantu elo karena keluarga lo miskin dan orang tua lo g****k nggak bisa nyari duit!!” ujar Vena. Ran benar-benar mengepalkan tangannya dan menatap tajam seraya menahan air matanya di mata yang sudah mulai memerah.
“Iya. Aku memang miskin dan mengandalkan beasiswa untuk sekolah disini. Aku bangga, karena aku memiliki otak yang pintar dan bisa mendapat beasiswa untuk sekolah. bukan seperti kamu yang hanya mengandalkan uang orang tua kamu yang kaya, dan akhirnya karena uang itu kamu jadi nggak pintar dan nggak punya otak” ujar Ran yang sudah tak peduli lagi dengan keadaan setelah ini. ia hanya tak terima jika orang tuanya di hina.
“Lo.. Bacot lo kurang ajar!”
~PLAAAK!!~ Sebuah tamparan mendarat di wajah Ran.
Seluruh siswa yang ada kantin terkejut terutama Tita. Ia tak menyangka Ran akan mendapat tamparan begitu keras dari Vena. Wajah Ran terhempas kesamping akibat tamparan Vena. Panas dan perih menjalar di wajahnya. Ran mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Ia tak boleh membalas perlakuan Vena. Ia tak ingin memperpanjang masalah dan berakhir beasiswanya di cabut, apalagi berurusan dengan keluarga Vena yang pasti kaya. Ia tak punya kemampuan menghadapi orang kaya yang memiliki segalanya.
“b******k lo ya. Bangke! Dasar cewek miskin! g****k! Cewek kalangan rendah! Lo berani kurang ajar sama gua? lo tau apa yang bisa gua lakuin sama lo dan keluarga sampah lo itu?” ujar Vena penuh dengan amarah.
“Gua bisa bikin keluarga lo jauh lebih miskin dan susah seumur hidup” Ujar Vena. Kini tangan Vena kembali terangkat hendak melayangkan tamparannya kembali.
“STOP!!!”