Jam istirahat pun tiba. selama jam pelajaran, mata Dalton tak lepas dari Ran. Iya menatap Ran dengan kesal. Karena Ran salah mengerjakan tugasnya beberapa soal, Nilai tugas Dalton tidak tuntas. Jadi Dalton harus mengejar nilai kembali dengan kembali mengerjakan tugas. Dalton geram, ia harus memberi pelajaran pada Ran.
Ran keluar dari kelas bersama Tita. Ran membawa bekalnya, karena harga makanan di sekolah berkisar lima puluh ribu keatas. Jadi mungkin ia hanya akan beli es teh saja.
“Ran.. aku dengar katanya kamu tadi di marahin sama Dalton. Kenapa?” tanya Tita.
“Iya. Aku sengaja bikin beberapa soalnya salah. Biarin aja. Harus di kasih pelajaran. Biar dia nggak se enaknya nyuruh orang lain” ujar Ran.
“Aduh Ran.. kamu tau, itu tugas penting buat Dalton. Kalau dia sampai gagal dengan tugas yang di kasih, dia nggak akan tuntas nilai nya, dan akan terus mengulang sampau tuntas. Dalton pasti marah banget sama kamu Ran” ujar Tita.
“Nggak tau deh. Abis aku kesel banget sama dia. Sombong! Tapi nggak bisa apa-apa. Biarin deh dia marah aku nggak peduli”
“Semoga aja kamu nggak di apa-apain sama Dalton Ran”
“Maksud kamu?”
“Dalton bisa aja bully kamu Ran. Dia kalau udah marah bakal parah banget” ujar Tita. Ran hanya mengendikan kedua bahunya. Seakan tak peduli. Yang penting, ia sudah memberi pelajaran pada lelaki sombong itu.
Ran dan Tita duduk di salah satu kursi di kantin setelah mereka membeli minuman dan makanan. Ran sudah sangat lapar. Ia membawa bekal masakan ibunya. Terlihat jika semua yang ada disana tak ada yang membawa bekal. Hanya dirinya saja.
“Ran kamu bawa apa?” tanya Tita.
“Aku bawa bekal. Ini masakan ibu ku”
“Uwaahh enak kayaknya. Tapi kenapa kamu bawa bekal? Nggak beli aja disini”
“Duh Tita. Disini jajanannya mahal-mahal. Aku nggak bisa ngabisin uang sebanyak itu dalam waktu sebentar. Ibu ku susah cari uang. Jadi aku harus hemat-hemat” ujar Ran yang menyeruput es teh nya. Tita mengangguk.
“Hmm.. lagian bagus juga sih… kan itu lebih sehat” jawab Tita. Baru saja satu suapan yang masuk ke dalam mulut Ran. Tiba-tiba kotak bekalnya di ambil darinya.
“Ow… si eneng bawa bekal rupanya. Wah enak nih kayaknya” ujar Digo. Lalu langsung menyendok makanan Ran dan memasukannya ke mulut digo.
“Hmm.. enak juga bro”
“Balikin kotak bekal aku”! ujar Ran sambil berusaha meraih kotak bekalnya. Lalu Digo menyerahkan kembali kotak bekalnya pada Ran. Ran bersiap untuk menerimanya, tapi malah digo memberikannya pada Dalton.
“Balikin bekal aku!” geram Ran. Dalton tersenyum miring mengejek
“Makanan kampungan kayak gini.. nggak pantes masuk ke Mahardika! Bau tau nggak!” lalu Dalton melempar kotak bekal yang masih penuh ke atas lantai.
Ran melihat sedih pada kotak bekalnya. Ia masih lapar, hanya baru sesuap saja yang ia telan. Sedangkan Dalton dan teman-temannya tertawa. Ada beberapa anak-anak juga yang menertawainya.
“Bekal ku…” lirih Ran. “Kenapa kamu buang bekal ku?” Ran sungguh sangat kesal dengan Dalton.
“Kan gua udah bilang… makanan kampungan lo itu nggak pantes masuk sekolah elit kayak gini. Bikin malu, bau. Ndeso!” ujar Dalton dengan sangat mengejek. Ran kembali mendapat tertawaan dari anak-anak yang ada di kantin.
“Halo sayang” ujar seorang perempuan dengan seragam yang ketat dan cukup sexy untuk anak sekolah. apalagi rok nya yang sangat tinggi, hingga menampilkan paha mulusnya.
~CUP~! Tanpa rasa malu perempuan itu mencium leher Dalton di depan semuanya, termasuk Ran yang ada di hadapannya.
“Hai Ven..” ujar Dalton.
“Wes… kira-kira Dong Vena... masa Nyupang di depan orang banyak. Mana gua jomblo” ujar Ricky.
“Berisik!” lalu Vena mengalihkan atensinya pada perempuan yang ada di hadapannya.
“kamu lagi apa sih? Siapa dia?” tanya Vena. Lalu Dalton tersenyum miring.
“Dia Siswa baru di SMA ini yang berani kurang ajar sama gua” ujar Dalton. Kening Vena berkerut.
“Berani kurang ajar sama kamu?”
“Iya. Dia udah bikin beberapa tugas gua salah. Jadi gua harus ulang lagi sampai nilai gua tuntas” jelas Dalton. Ran hanya terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapat balasan seperti ini di depan semua siswa sekolah.
“Jadi kamu mau apain ni anak?” tanya Vena dengan wajah mengejek.
“Apain aja. Bila perlu jadi babu!” lalu Dalton perlahan menghampiri Ran. Dengan jarak yang sangat dekat. Ran menatap Dalton yang juga menatap matanya. Sesaat keduanya sama-sama terdiam. Entah bagaimana Dalton mendapatkan pikiran itu, ia merasa bahwa Ran di lihat sedekat ini langsung, terlihat cantik, cantik alami. Mata indahnya, hidung mungil, wajah yang bersih dan terlihat sedikit kemerahan, lalu.. bibir yang terlihat lembab berwarna pink yang begitu menggiurkan untuk di cecap.
“Atau… Lo biasa puasin gua diatas ranjang? Boleh juga” ujar Dalton. Ran terkejut dengan ucapan Dalton yang sungguh menjijikan. Begitu pun Vena dan teman-temannya Dalton.
~PLAK!!!~ sebuah tamparan mendarat di pipi Dalton.
Seluruh siswa yang ada di kantin tersebut, terkejut dan tercengang, termasuk pacar dan seluruh teman-teman Dalton yang melihat. Tak ada yang menyangka ada yang seberani ini dengan Dalton.
“Wow! Keren banget ni cewek” ujar Kelvin.
“Gila! Parah banget! Berani banget si Ran nampar Dalton. Cari mati emang” ujar Ricky
“Tapi sumpah. Ran keren! Belom ada yang seberani ini sama Dalton. Makin seru nih kayaknya di sekolah” timpal Digo.
Dalton melongo. Dirinya telah di tampar dengan seseorang yang bukan siapa-siapa. terlebih perempuan tersebut miskin dan hanya mengandalkan beasiswa di sekolahnya. Lalu kini perempuan tersebut dengan berani menamparnya? Berani sekali.
“Jaga mulut kamu ya! Kamu memang pemilik sekolahan ini. tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya saja dengan semua siswa disini. Kemana etika kamu sebagai kalang elit, dimana hati kamu saat kamu menindas orang-orang kecil di bawah kamu! kamu adalah orang pertama yang paling jahat yang pernah aku temui.” Ujar Ran dengan tajam pada Dalton. Lalu pergi meninggalkan kantin setelah memungut kotak bekalnya. Vena yang geram ingin mengejar Ran.
“VENA!” suara Dalton menggelegar. “Diam! Ini urusan gua! lo nggak berhak ikut campur!” kecam Dalton. Lalu Dalton pun keluar dari kantin dengan tatapan yang tajam.
“Sial!..” gerutu Vena. Vena terlihat kesal. Ia ingin sekali mencakar-cakar wajah gadis yang sudah kurang ajar pada kekasihnya itu.
Dalton memasuki area rooftop tempat basecamp nya. Ia kesal sekali dengan Ran. Selama ini tak ada yang berani membantahnya apalagi sampai menamparnya di depan banyak orang. Sungguh memalukan, harga dirinya terasa di injak dengan bocah baru tersebut.
“Wah wah wah… seorang Dalton, bukan Cuma adu bacot, tapi di tampar bro! gila banget” ujar Ricky dengan tawanya.
“Iye.. hal langka ini. seorang Dalton di tampol” ujar Digo.
“Kayaknya, si Dalton udah nemuin lawannya sekarang. Cewek lagi! mantap!” tambah Kelvin.
“Bangke lo pada!” ujar Dalton kesal.
“Gua nggak akan biarin dia tenang di sekolah ini. liat aja, gua bakal bikin dia bertekuk lutut sama gua” ujar Dalton penuh tekad.
“Weesss… ada yang semangat nih. Hati-hati jangan terlalu benci. Nanti bisa jadi cinta loh” ujar Digo. Lalu sebelah sepatu melayang kearahnya.
“Aduh! BEGO! Sakit bangke!”
“Mulut lo tuh di jaga! Enak aja gua jatuh cinta sama cewek udik kayak gitu. Masih Bagusan Vena kemana-mana. Dia modis, cantik, dan nggak malu-maluin! Gua nggak akan jatuh hati sama cewek miskin udik dan kurang ajar kayak dia!” ujar Dalton penuh kekesalan.
“Tapi Vena palsu! Menor lagi” ujar Kelvin.
“Eh… si Dalton nggak mikirin begitu. Dia aja jalanin sama Vena nggak pake hati kok. Yah buat icip-icip asoy aja. Cuma untuk keluarin cairan-cairan yang ada didalam badan” ujar Ricky.
“Gua saranin.. jangan main-main sama hati Ton… lo bakal bisa ke makan sama perasaan lo sendiri” nasihat Kelvin. Dalton melirik sahabatnya tersebut.
“Lo ngomong apa sih. Siapa juga yang mau main hati sama cewek udik itu. Gua Cuma mau kasih pelajaran sama dia supaya nggak bertingkah lagi di hadapan gua” ujar Dalton.
“Iya deh. Whatever! Terserah lo Ton..” jawab Kelvin.
Ran terdiam di meja kelasnya. Ia merasa terhina dengan ucapan Dalton. Apa Dalton memandangnya sebagai perempuan tidak benar? Perkataan Dalton sungguh keterlaluan, apalagi di depan banyak orang. Ran malu sekali.
“Ran.. kamu nggak apa-apa?” tanya Tita.
“Aku nggak apa-apa. Cuma, perkataan cowok itu kasar banget. Di depan anak-anak yang ada di kantin lagi. kan malu”
“Haaaaah… aku udah duga, pasti bakal begini. Kamu bakal di jadiin bulanan Dalton Ran”
“Dia parah banget ya?” tanya Ran.
“Iya. Kamu tau nggak, tahun lalu ada cowok yang di depak dari sekolah ini setelah di hajar habis-habisan karena dia coba-coba main sama cewek Dalton dulu” jelas Tita.
“Segitunya? Terus ceweknya?”
“ceweknya juga nggak kalah parahnya. Waktu itu ceweknya dibawa ketengah lapangan, di siram air tanah, di lemparin tanah yang bau, kayak bau kotoran sapi, terus yang paling parah di lemparin telur busuk. Jijik banget pokoknya. Dalton nggak main-main” jelas tita.
Rasa khawatir tiba-tiba saja menghinggapi diri Ran. Bagaimana nasibnya kini. Ia sudah menampar laki-laki tersadis di sekolah ini. kepalanya pusing seketika. Niatnya ia ingin bersekolah disini dengan tenang dan tetap mempertahankan prestasinya, namun kini, bisakah harapan itu tercapai? Ran menghela nafasnya.
“Masa guru-guru nggak ada yang ngelarang atau bertindak gitu”
“Yah Namanya anak yang punya sekolah. guru-guru nggak begitu berani. Mereka takut di pecat”
“Terus gimana sama nasib aku ya?” cicit Ran. Tita hanya bisa mengendikkan kedua bahunya. Ia pun tak tau. Karena Ran orang pertama yang melawan Dalton bahkan sampai menamparnya.
Sehari berlalu namun masih tak ada pergerakan apapun dari Dalton. Ada rasa kelegaan dari Ran. Ia pikir Dalton akan memarahinya habis-habisan atau menghajarnya habis-habisan. Namun tak terjadi apa-apa. Ran memasuki kelasnya. Senyumnya terkembang karena hari ini adalah pelajaran kesenian. Ia sangat suka dengan seni.
~BRUUSHHHH!!!~ se ember tepung berwarna merah mengguyur tubuh Ran.
“Ahahahaha…” tawa menggelegar didalam kelas 11.IPA.2. Ran terkejut, baju seragamnya penuh dengan tepung berwarna merah.
“Ahahaha.. Neng, ayo neng.. ayo main kotor-kotoran” ujar Digo
“Duh… ada yang mau main ondel-ondel nih” timpal Ricky.
“Aduh neng, maafin AA ya nggak kasih tau.. abis AA nggak punya nomer WA eneng Ran” ujar Digo. Riuh tawa kembali terdengar di dalam kelas. Sedangkan sang otak dari kasus tersebut hanya menatap sinis dan tersenyum miring menatap mangsanya telah termakan jebakannya. Ran berusaha mengibas-ngibaskan tepung yang menempel di baju seragamnya, dan rambutnya. Lalu Dalton perlahan berdiri dari sandarannya, dan berjalan menuju Ran yang sedang berusaha membersihkan bajunya.
“This is just to be beginning.. Lo udah membangunkan singa yang tidur. So…. Selamat menikmati hari-hari lo..” lalu Dalton mendekatkan wajahnya pada telinga Ran, namun Ran malah mundur. Dalton yang geram tanpa sadar sedikit menundukan tubuhnya, lalu meraih pinggang Ran hingga tubuh Ran menempel padanya dan posisi wajah Ran tepat di samping wajah Dalton. Kedua mata Ran melotot seketika. Lalu dengan suara dalamnya Dalton berkata..
“Di Neraka!” ujar Dalton. Harum tubuh Dalton tergiring dalam indra penciuman Ran. Harum yang enak untuk di hirup. Lalu Dalton segera melepaskan cengkraman nya dan menatap sinis Ran.
“Dasar udik!” ejek Dalton. Ran terdiam, suara Dalton yang terdengar di telinga nya cukup mengerikan.
‘Ya Allah, apa ini Tuhan.. apa yang akan di lakukan laki-laki itu’ Ran membatin.
“Selamat ya Ran” ujar Ricky melewati Ran.“Cup..cup..cup.. jangan nangis ya” ejeknya.
“Sabar ya neng. Aa Digo selalu ada buat eneng” ujar Digo dengan mengedipkan sebelah matanya. Lalu ketiganya tertawa dan meninggalkan kelas. Terdengar bisik-bisik di dalam kelas. Ran mendengar samar-samar. Ada yang merasa kasihan, ada yang malah mengejek Ran. Ran berjalan menuju mejanya dengan baju yang masih ada noda tepung.
“Makanya, jangan kurang ajar sama Dalton!”
“Murid baru aja, udah belagu! Modal beasiswa doang!”
“Udah miskin, Kurang ajar lagi!” cemo’oh para siswa di sana.
“Ran.. kamu nggak apa-apa kan?” tanya Tita khawatir. Tita sebenarnya ingin menolong Ran. Namun ia terlalu takut dengan Dalton dan kawan-kawannya. Ia ingat tadi saat dia masuk kelas, ia langsung di sandra oleh teman-temannya Dalton dan ponselnya di sita oleh mereka. Saat Tita sedang bingung, lalu ia melihat kearah pintu. Disana ada Ricky, digo, dan Kelvin yang memasang jebakan ember berisi tepung merah.
“Lo liat apa akibatnya kalo ada yang berani ngelawan gua.. apalagi sampai berani nampar gua” ujar Dalton dengan mimic wajah yang garang.
”Jadi itu jebakan buat Ran. Ya tuhan Ran.. maafin aku. aku nggak bisa kasih tau kamu’ batin Tita. Dan terjadilah kejadian Ran tersiram Tepung merah.
“Aku Nggak apa-apa Ta.. Cuma… baju ku.. ini bisa ilang nggak ya Ta?” ujar Ran dengan wajah khawatirnya.
“Aduh… aku nggak tau. Mudah-mudahan bisa hilang. Tapi… untung hari ini pelajaran kedua nanti Olahraga terus selanjutnya bebas. Soalnya guru kimia lagi workshop keluar daerah” ujar Tita.
Jam pelajaran berganti, walaupun guru kesenian bertanya kenapa baju Ran terlihat Kotor, namun guru seni memakluminya karena Ran bilang ia terjatuh. Lalu kini Ran bergegas mengganti seragamnya dengan kaos olahraga. Seragam olahraga sekolah ini berwarna abu-abu dengan hoodie. Bedanya celana training perempuan celana Panjang, dan cowok celana pendek. Ran sudah membersihkan dan merapihkan rambutnya. Ia menguncir rambutnya dengan asal menyisakan sedikit anak rambut di sisi-sisi lehernya. Dan Tita juga sudah mengganti bajunya dan menguncir satu rambutnya. Ran yang melihat Tita mengubah kunciran nya tersenyum.
“Kamu cantik rambutnya di kuncir satu gitu.”
“Makasih Ran. Kamu juga keren pakai baju olahraga.” Lalu keduanya keluar ruang ganti. Saat keluar ruang ganti perempuan Ran tak memperhatikan jalan.
~BRUGH!!~ Ran terjatuh.
“Akh…” lututnya menghantam lantai sekolah.
“Ahahaha… Uhhh sakit ya…” ejek Ricky.
“Ahahahaha…” tertawaan ke empat laki-laki tersebut membuat Ran geram. Namun ran tetap berusaha menahan nya. Ia tak ingin menambah masalah.
“Udik!” ejek Dalton dan ke empatnya pergi meninggalkan Ran dan Tita.
“Ran.. kamu nggak apa-apa? Ck! Dalton jahat banget sih” ujar Tita.
“Aku nggak apa-apa. Cuma lutut ku sakit” ujar Ran.
“kamu bisa bediri?”
“Bisa” lalu mereka menuju lapangan. Untung saja rasa sakit di lututnya tidak terlalu parah dan sebentar. Jadi ia bisa mengikuti pelajaran olahraga.