“Ran.. kamu ngelamun?” Tita melambaikan tangannya di depan wajah Ran. Ran mengerjap.
“Eh.. nggak, aku Cuma mikir aja. Pantes dia sombong dan aroga, ternyata dia anak pemilik sekolah”
“Iya. Makanya kamu hati-hati”
Ran dan Tita berpisah. Tita melanjutkan langkah ke kelas, Ran ke ruangan guru untuk mengurus beberapa administrasi. Setelah itu, ia berbelok ke toilet untuk menuntaskan panggilan alamnya. Tak lama ia kembali berjalan menuju kelasnya.
“Waaaa.. kacamatanya bagus ya” ujar seorang laki-laki yang bernama Ricky melepas kacamata Tita.
“Ja..jangan. tolong kem..kembalikan kacamata ku” ujar Tita.
“Kenapa lo belom ngerjain PR gua? Lo tau kan gua mau serahin siang ini. lo sengaja?” ujar Dalton yang duduk diatas meja tita.
“Ma..maaf Dalton. A..aku.. lupa. Tadi malam. A..aku ada acara ke..keluarga” ujar Tita yang terlihat takut.
“Makanya kalau punya otak IQ nya tinggi dong. Biar nggak lupa! Pokoknya lo kerjain sekarang! Atau lo tau akibatnya” ujar Dalton sambil menoyor kepala Tita.
“Ciak! Ciak! Wooo jangan sampai lupa kuda Tita. Wooo” ujar lelaki yang bernama Digo sambil menggibas-gibaskan kedua kepangan rambut Tita seperti menunggang kuda.
“Se..sekarang? a.. aku nggak yakin selesai. It..itu banyak banget Dalton”
“Heh! Lo berani bantah gua?” tanya Dalton sambil mencengkram rahang Tita. Ran yang melihat Dalton semakin ngelunjak, ia tak tahan dan merasa kasihan pada Tita yang terlihat takut. Ran menghampiri Dalton yang sedang mencengkram rahang Tita.
“Bisa Nggak usah kasar sama perempuan?” ujar Ran sambil melepaskan cengkraman Dalton. Dalton menoleh pada Ran dengan tatapan dinginnya. Dalton berdiri dihadapan Ran yang hanya setinggi dadanya saja.
“Lo siapa ngatur-ngatur gua” Dalton menatap Ran dengan lekat.
“Aku nggak ngatur kamu. Aku Cuma minta kamu jangan kasar sama perempuan.”
“Apa hak lo nyuruh-nyuruh gua? lo bukan siapa-siapa, apalagi nyuruh-nyuruh gua.”
“Aneh ya kamu. kamu itu udah kasar sama Tita, bukan minta maaf malah marah-marah! Kalau mau minta tolong, ngomong baik-baik. Jangan pake cara kasar. Kasian dia!” kesal Ran.
“UUUUuuu.. baru kali ini bro ada yang berani jawab kalimat lo!” ujar Ricky.
“Mantab juga ni cewek Ndeso” ujar Kelvin
“Neng.. mending jangan berani-berani deh sama bos Mafia sekolah ini.. nanti eneng bisa atit. Terus AA Digo sedih deh” ujar Digo dengan nada mengejek. Ran hanya diam tak menggubris perkataan teman-teman Dalton.
“Ohhh… lo kasian sama si cupu jelek satu ini. oke, kalo gitu gua nggak akan minta bantuan si Tita lagi” ujar Dalton. Lalu ia merebut buku yang di pegang Tita. Tita terkejut, benarkah ia semudah ini lepas dari Dalton. Lalu Dalton menatap tajam kearah Ran. Lalu menempelkan buku tugasnya ke d**a Ran.
“Dan lo yang harus kerjain ini sekarang juga! Sebagai pengganti Tita” ujar Dalton dengan tajam. Ada rasa gentar di hati Ran melihat tatapan tajam yang cukup mengerikan dari Dalton.
“Oopss! Kena deh” ujar Ricky. Tita menatap Ran. Lalu ia berdiri.
“Nggak.. usah Dalton. Biar aku aja” ujar Tita. Lalu mencoba meraih buku dari Ran. “Jangan Ran.. biar aku aja.”
“Siapa yang bilang kalo lo boleh intrupsi?” tanya Dalton pada Tita. Tita menghentikan tangannya. Dalton kembali merampas bukunya dari tangan Tita.
“Gua bilang Ini bocah yang kerjain, ya berarti harus dia. Lo! Minggir!” Dalton mendorong Tita hingga terjatuh duduk di kursinya.
“Akh!” pekik Tita.
“Hei… jangan kasar kamu sama perempuan” Bentak Ran yang sangat kesal melihat tingkah Dalton. Dalton tersulut emosinya. Ia mencengkram rahang Ran dan mendorong tubuh Ran hingga membentur dinding kelas.
“Akh!”
“Jangan pernah berani-beraninya elo bentak-bentak gua! gua bisa sekarang juga keluarin, ngedepak elo dari sekolah ini sekarang juga asal lo tau!” ujar Dalton dengan tatapan tajam menusuk kedua bola mata Ran.
“Denger ya anak baru. Mulai sekarang, lo turutin semua perintah gua. tanpa ada bantahan. Lo miskin! Lo jangan belagu! Lo babu gua! kalau lo berani macam-macam, gua bakal minta pihak sekolah cabut beasiswa lo dan depak lo dari sini secara tidak hormat. Inget itu baik-baik!” ujar Dalton dengan tegas dan melemparkan buku tugasnya ke hadapan Ran. Tajamnya tatapan mata Dalton membuat Ran terkejut dan sedikit merasa takut. Dalton kemudian meninggalkan kelasnya.
“Tuh di kerjain ya anak baru. Awas kalau lo lupa” ujar Ricky.
“Jangan Lupa ya. Soalnya Aa Digo nggak bisa nolongin kalau si singa udah ngamuk” tambah Digo. Sedangkan Kelvin hanya mengendikan kedua bahunya.
Ranhi terdiam masih dalam keadaan berdiri di dinding belakang kelas. Ia tak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya pada siapapun. Apalagi sampai mencengkram dan mendorong dirinya. Rasanya ingin menangis, namun ia malu. Ia menahan tangisnya sekuat tenaga.
“Ran kamu nggak apa-apa?” tanya Tita dengan khawatir. Ran tersenyum kecil.
“Aku nggak apa-apa”
“Seharusnya kamu jangan belain aku. aku nggak apa-apa. Sekarang malah kamu yang kena sama Dalton” ujar Tita. Ia jadi tak enak pada Ran. Berniat ingin membantu, malah Ran yang ketiban sial. Belum lagi kalau Ran mengerjakan soalnya ada yang salah, ia pasti akan menjadi bulan-bulanan Dalton.
“Aku nggak apa-apa. Ya udah, aku mau kerjain soalnya dulu. Nanti takutnya nggak kelar” ujar Ran memberikan senyum manisnya.
“Perlu aku bantu?”
“Nggak usah. Nggak apa-apa. Biar aku aja”
Lalu Ran berjalan menuju mejanya. Ia mulai mengerjakan tugas Dalton. Ada lima puluh lima tugas Fisika yang harus Ran kerjakan. Ran perlahan mengerjakan tugas-tugas tersebut dan berhenti ketika pelajaran sekolah di mulai. Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Masih ada tiga soal lagi yang harus di kerjakan.
“Mana tugas gua?” tanya Dalton yang menghampiri meja Ran.
“Masih ada tiga lagi yang masih aku kerjain. Sabar dulu” ujar Ran.
“Ck! Katanya anak pintar, cerdas, tapi ngerjain gitu aja lama!” komentar Dalton. Ran tak menghiraukan ucapan Dalton.
“Weh Dal.. ayo kita ke café” ujar Ricky.
“Kalian duluan. Gua mau kasih tugas yang di kasih Guru BK dulu. Ni anak baru belom selesai ngerjainnya”
“Alaaaahhh… mau kasih tugas ke Bu Kenny atau mau berduaan sama Ran?” goda Digo.
“Bangke lo! Nggak nafsu gua sama bocah ndeso gini! Bukan selera gua!” ujar Dalton. Ran yang mendengarnya cukup kesal. Memang sejelek itu kah dirinya? Jika memang iya, apa tak bisa Dalton tidak menghinanya.
“Weitss.. Ran kalau gua liat…” tiba-tiba Kelvin mendekati wajah Ran dengan jarak sangat dekat dan itu membuat Ran terkejut bukan main. Dengan senyum tengilnya Kelvin menatap Ran.
“Bocah ndeso ini manis juga. Lumayan lah buat icip-icip” ujar Kelvin. Ran menatap Kelvin dengan geram.
‘Kurang ajar banget mulut laki-laki ini. minta di jejelin sambel terasi kayaknya’ gerutu Ran dalam hati.
“Widih… boleh kali kapan-kapan di icip” ujar Ricky. Ran yang Kesal dengan celotehan mereka pun akhirnya menggebrak mejanya.
~BRAAKK~
“Nggak sopan banget sih mulut kalian!” ujar Ran dengan geram. Dalton memperhatikan raut wajah Ran yang emosi
“Kalian nggak mau ngomong kayak gitu didepan perempuan?” kesal Ran. Ricky akan menjawab namun di sela oleh Dalton.
“Udah.. mending kalian ke Basecamp duluan. Biar dia gua yang urus” ujar Dalton.
“Oke.. Kita cabut duluan” ujar Kelvin dan menyeret Ricky keluar.
“Bae-baek ya lu neng. Dalton suka mainnya lebih dari tiga ronde” ujar Digo. Lalu ketiga teman Dalton pergi. Kini tinggal Dalton dan Ran yang ada di kelas mereka. Ran kembali mengerjakan soal yang sedikit lagi selesai.
“Cepet lo kerjain soal itu. Gua tungguin tiga puluh menit” ujar Dalton. Ran tidak menanggapi Dalton, Ia hanya kembali fokus pada tulisannya.
Tanpa sadar, Dalton kini tengah memperhatikan Ran. Dalton duduk di kursi yang berada dihadapan Ran. Ia menelisik wajah rana yang sedikit tertunduk karena sedang menulis. Wajahnya terlihat natural untuk Dalton. Bulu mata yang lentik alami, hidung mancung tidak besar tidak kecil, pas! Bahkan bibir Ran terlihat sedikit pucat, namun masih terlihat pink, dan juga wajahnya yang putih bening.
‘Cantik juga ni bocahí’ beo Dalton dalam benak nya. Lalu tiba-tiba Dalton menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring. Konyol sekali ia pikir dirinya.
“Kapan selesainya lama banget sih! Sampe guru BK balik sebelum ini tugas sampe.. gua abisin lo!” ujar Dalton. Ran Hanya melirik Dalton sekilas dan kembali mengerjakan soalnya. Sebenarnya Ran sebal sekali dengan Dalton, tapi ia tak ingin meladeni Dalton karena saat ini di kelas hanya ada mereka berdua. Ran takut Dalton berbuat hal mengerikan padanya.
~TRIING~ ponsel Ran berbunyi. Tertera disana Damar yang memanggilnya. Seketika senyum Ran terpancar.
“Halo.. Assalamualaikum..”
“Walaikumsalam Sayang ku. Apa kabar? Aku kangen sama kamu” ujar Damar. Senyum Ran semakin mengembang dan kini terlihat rona merah di wajahnya. Dan Dalton memperhatikan semuanya dengan wajah merengut.
“Aku baik. Kamu apa kabar?”
“Hmmm.. kurang baik nih”
“Loh kenapa? Kamu sakit?”
“Iya.. aku meriang Ran”
“Loh kok bisa? Udah minun obat belom?”
“Obatnya jauh” ujar Damar. Kening Ran berkerut.
“Maksudnya? Kan banyak obat meriang disana”
“Ini meriangnya beda sayang” ujar Damar.
“Beda nya?”
“Ini meriang special. MERIANG.. Merindukan Kasih Sayang.. kasih sayang dari kamu” ujar damar. Wajah Ran kembali merona. Ran tersenyum lebar mendengarnya. Ia lupa kini ada seseorang di hadapannya yang tengah menatapnya sebal karena menunggu tugasnya. Belum pernah ada yang mengacuhkan Dalton selama ini kecuali kedua orang tuanya.
“EHEMM!” Dalton berdeham sangat keras. Ran melirik pada Dalton.
“Sayang… itu siapa? kamu sama siapa sekarang?”
“Oh.. Aku sama temen sekelas ku. Aku lagi bantuin dia bikin tugas. Hmmm… yaudah ya aku matiin dulu nanti kamu telpon lagi” ujar Ran.
“Hmm.. iya deh kalo gitu. I love you sayang.. aku cinta kamu Ran ku” ujar Damar”
“I love you too sayang Assalamualaikum” ujar Ran dengan cicit yang kecil. Ia malu karena ada Dalton di dekatnya. Walaupun nada kecil, tapi Dalton masih dapat mendengarnya.
‘Punya pacar rupanya ni bocah.’
“Lo bisa cepet nggak sih!” Bentak Dalton.
“Iya.. satu soal lagi”
Ran berjalan untuk menunggu angkutan umum di halte bus depan gang sekolah. karena dari gerbang sekolah ada sekitar tiga ratus meter untuk sampai ke jalan besar. Melewati jalan panjang yang di kelilingi pohon pinus dan palem yang menjulang tinggi.
“Ahh.. baru hari pertama sekolah udah pulang setelat ini. mana belom makan, laper banget” ujar Ran berjalan lemas menuju halte bus.
“Jauh banget lagi tempat nunggu bus nya”
`BBRRRRRRMMMM~ sebuah mobil Sport melintas dan berhenti di depannya. Lalu Dalton keluar dari Mobil tersebut.
“Lo jalan? Nggak di jemput?” tanya Dalton.
“Nggak” jawab Ran dengan cuek. Ia benar-benar capek dan ingin segera sampai rumah.
“Oh yaudah” dan Dalton segera masuk ke mobil. Tapi sebelum jalan, Dalton kembali nongol dari jendela mobil.
“Oh ya gua Cuma bilang, hati-hati disini banyak anjing liar yang suka gigit. Apalagi gigit cewek jelek kayak lo” ujarnya sambil tersenyum miring. Dan kemudian meninggalkan Ran yang kesal.
“Ih… dasar kutu loncat! Wong gemblung! Lanang edan!” gerutu Ran sambil meninju-ninju udara. Sedangkan yang jadi bahan gerutuan nya melihat dari kaca spion dan tersenyum senang. Ada sedikit kebahagian yang Dalton rasa saat melihat wajah kesal anak baru di kelasnya.
Malam tiba, kini Ratna dan Ratih sedang menyiapkan makan malam. Dan tak lama Dimas datang ke ruang makan bersama Gia di gendongannya. Terlihat beberapa macam lauk pauk dan sayur mayor terhidang diatas meja. Semuanya telah siap.
“Mbak.. Ai mana? Kok belum keluar?” tanya Ratih.
“Iya ya.. apa tidur? Mbak panggil Ran dulu ya” ujar Ratna lalu berjalan menuju kamar Ran dan Gia.
~Tok..tok..tok..~
“Ai... nak.. kita makan malam dulu yuk” ujar Ratna.
“Iya buk. Ai.. nyusul bentar lagi” jawab Ran dari Dalam kamar. Ratna pun kembali ke meja makan. Tak berselang lama Ran datang ke meja makan. Gia yang sedang duduk di pangkuan Dimas bergegas turun dan pindah duduk pangkuan Ran.
“Gia.. Mbak Ai mau makan. Duduk di kursi sendiri ya” tegur Dimas.
“Tapi Ia mau duduk sama mbak Ai..” ujar Gia.
“Kamu duduk di samping Mbak Ai dong sayang” ujar Ratih Gia menurut dan duduk di samping Ran.
“Gimana sekolah kamu hari ini Ai..?” tanya Dimas. Ran tersenyum tipis.
“Baik om. Alhamdulillah Lancar” ujar Ran.
“Kamu sudah punya temen?” tanya Ratna.
“Hmm… Udah Bu. Namanya Tita Adisty, dia baik banget. Dia temen pertama aku” ujar ran dengan ceria.
“Terus-terus. Kalau laki-laki.. ada yang kamu suka nggak? Atau laki-laki yang ganteng di kelas kamu?” tanya ratih dengan sumringah.
“Heh! Ratih! Wong ponakan mu baru aja masuk sekolah.. wes di tanyai lanang” ujar Ratna pada ratih.
“Yo mbaakk.. nggak apa to. Kan biar jadi semangat sekolah nya. Ya kan Ai?” tanya Ratih. Ran hanya nyengir mendengar ucapan ratih.
Ran berbaring di atas ranjangnya. Sedangkan Gia sudah tertidur. Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh. Setelah ran belajar, ia berbaring. Matanya mulai mengantuk tapi tak mau terpejam. Ran kembali memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Namun parahnya, ia malah teringat Dalton.
Dalton yang menatapnya tajam saat memojokannya kedinding. Ran merasa tatapannya sungguh menyeramkan. Ia tak bisa membayangkan jika Dalton marah besar suatu saat nanti pada orang lain atau pun pada dirinya. Mungkin akan sangat menyeramkan.
“Ish! Ngapain mikirin cah gemblung itu! Mending aku tidur!” ujar Ran dan menenggelamkan dirinya dalam selimut.
Pagi tiba. kini ran sudah mendapatkan seragam sekolahnya. Dengan rok rempel warna Abu tua diatas lutut sedikit, Crop top blazer warna abu-abu, dan juga seragam dalam berwarna putih dengan dasi senada dengan rok. Ran menguncir kuda rambutnya. Lalu memoleskan pelembab dan sedikit bedak lalu lip tint. Tak lupa ia memakai parfum pemberian Damar kekasihnya di Jogja. Ran melihat tampilannya sudah rapih dan langsung turun menuju Meja makan.
“Mbak Ai....” Gia langsung merentahkan tangan meminta di gendong dengan Ran.
“Dee… jangan minta gendong sama Mbak Ai.. sayang. Mbak Ran nya udah rapih” ujar Ratih langsung menggendong Gia yang membuat gadis kecil itu cemberut. Lalu semuanya makan bersama.
Ran kini diantar dengan ratih menggunakan motor matic nya. Karena Dimas ada rapat pagi yang penting jadi tidak bisa mengantar Ran. Ratih langsung sigap ingin mengantar Ran, padahal Ran sudah akan menaiki angkutan umum saja. Namun ratih tetap ingin mengantarnya.
“Ai… masuk dulu ya tante. Assalamualaikum” Ran lalu menyalami tangan Ratih
“Iya sayang Walaikumsalam” jawab Ratih.
Hanya Ran yang diantar dengan motor matic. Semua yang bersekolah disana memakai mobil. Adapun laki-laki yang memakai motor namun dengan harga selangit. Dari jauh, Dalton memperhatikan Ran yang baru saja memasuki Gerbang. Raut wajah kesal terpancar dari Dalton. Dalton segera memasuki area sekolah. ia memarkirkan motornya. Lalu segera berjalan menghampiri Ran.
Ran memasuki kelas. Hari ini sungguh terasa menyenangkan baginya. Mood nya sangat bagus karena memakai seragam barunya. Ia siap memulai harinya di sekolah ini.
“EH ANAK BARU!” kesal Dalton pada Ran. Ia langsung menghampiri meja. Ran melihatnya sungguh terkejut. Apa Dalton akan menghajarnya? Tatapan Dalton sungguh tajam.
“Apa?” Ran berusaha tenang.
~BRAK!!~
“Maksud lo apa salah sebanyak ini? katanya lo pinter. Masuk sini pake beasiswa full. Mana buktinya?” geram Dalton. Lalu ran melihat hasilnya. Sebenarnya ia memang sengaja menyalahkan beberapa soal. Ran kesal dan ingin memberi Dalton pelajaran.
“Aku nggak tau. Aku udah berusaha sebaik mungkin. Tapi kalau salah ya maaf” ujar Ran.
“Apa lo sengaja?”
“Nggak!” Ran mencoba bersikap acuh. Ia tak ingin kalah dari laki-laki yang otoriter seperti ini. Dalton menatap tajam Ran.
“Lo bakal dapat balasannya karena udah berani macam-macam sama gua!” ujar Dalton lalu berlalu dari hadapan Ran. Sedangkan Ran hanya terdiam. Entah apa yang akan di lakukan Dalton. Semoga saja ia bisa menghadapi