~Tok..tok..tok..~
Ketukan terdengar dari pintu utama rumah Ratih. Ran yang sedang menguncir rambut Gia langsung bergegas untuk membukakan pintu.
“Assalamualaikum Ran”
“Walaikumsalam Ta..ayo masuk” Tita masuk, ini adalah pertama kali ia berkunjung kerumah teman saat di bangku SMA, karena Ran adalah teman pertamanya. Sejak ia masuk ke SMA Mahardika, ia tak pernah memiliki teman. Tak ada yang mau berteman dengan gadis yang telihat cupu dan tak bergaya sepertinya. Walau pun ia golongan anak orang kaya, namun gayaTita yang terkesan cupu dan tidak modis membuat tidak ada yang berminat berteman dengannya.
“Maaf ya rumahnya mungkin nggak sebesar rumah kamu” ujar Ran.
“Apaan sih kamu..nggaklah, ini nyaman kok”
“Terima kasih. Tapi kamu hari ini cantik banget loh. Aku nggak nyangka kamu secantik ini tanpa seragam” ujar Ran yang melihat Tita memakai celana pendek berwarna coklat selutut dengan sweater berwarna putih yang ukuran oversize. Sedangkan rambut Tita di kuncir satu dan tetap memakai kacamata bulatnya.
“Kamu bisa aja..berarti biasanya aku jelek dong ya” goda Tita.
“Hmm..sedikit” jawab Ran. Lalu keduanya tertawa. “Itu gitar kamu?” tanya Ran melihat Tita menggendong sebuah tas gitar.
“Iya. Ini gitar kesayangan aku..”
“Hmm… kalo gitu kamu langsung aja kehalaman belakang, aku beresin dandanan Gia dulu”
“Oke.”
Tita berjalan menuju halaman belakang, disana ada Gazebo kecil. Tita duduk disana dan mengeluarkan gitarnya. Ia mensetting suara gitar dan menjajalnya. Tita memainkan akustik Love your self milik justin bieber. Dengan jari kecilnya Tita lincah dan mahir memainkan tone lagu milik justin bieber.
Seseorang datang dari dapur sambil menggenggam botol air minum. Telinga terpaku mendengar suara petikan gitar dalam rumahnya. Kening Ardan berkerut, dalam hatinya bertanya siapa yang memainkan gitar di rumahnya. Penasaran, Ardan pun mencari asal suara gitar tersebut, saat ia menemukan suara tersebut ada du gazebo rumahnya, Ardan mengintip siapa yang memainkan gitar tersebut.
“Itu bukannya… temennya si Ai?” ujar Ardan. Ia tak menyangka anak yang terlihat cupu tersebut mahir memainkan alat musik.Tita menghentikan permainannya, namun tiba-tiba ikat rambutnya putus dan membuat rambutnya terurai. Tita mencari-cari sesuatu yang dapat menginkat rambutnya, namun ia tak menemukan di dalam tasnya. Lalu ia turun dan berniat meminta karet atau meminjam ikat rambut pada Ran. Namun saat Tita berjalan, ia melihat ada kodok besar yang melompat di dekat kakinya.
“AAAAA..!!!” Tita menjerit sekuat tenaga dan berlari tunggang langgang memasuki rumah. Ardan yang mendengar jeritan Tita pun berniat menghampirinya, namun hampir saja mereka bertabrakan, tapi Tita yang ketakutan reflek melompat pada Ardan kedalam gendongannya. Ia memeluk Ardan sekuat tenaga dan mengepak-ngepakan kakinya. Tita takut kodok itu ada di kakinya.
“AAa..tolong! Di kaki,, di kaki aku ada kodok” ujarTita sambil mengeratkan pelukannya di leherArdan. Ardan yang terkejut hanya diam mematung dan reflek menerima tubuh Tita yang melompat padanya.Lalu sesaat kemudian Ardan tersadar.
“Ka..kamu kenapa?”
“Itu..itu..ada kodok di kaki aku” Tita sambil mengepak-ngepakan kakinya. Ardan kemudian melihat kedua kaki Tita.
“Nggak ada kodok di kaki kamu” jawab Ardan.
“Tapi tadi ada kodok yang lompat ke kaki aku!” Tita tetap yakin ada kodok di kakinya.
“Iya, tapi kodoknya sekarang udah nggak ada. Kaki kamu nggak ada apa-apanya kok”
“Hah?” Tita kini menenangkan dirinya, dan melonggarkan dekapannya. Ardan yang masih memegangi tubuh Tita yang membentang di gendongannya pun terdiam. Tita perlahan melepaskan pelukannya, dan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Ardan yang memiliki wangi yang menenangkannya. Keduanya kini berpandangan satu sama lain. Ardan kini melihat betapa manisnya teman sepupunya tersebut. Ditambah lagi rambutnya yang terurai, wajahnya bersih dan ada rona kemerahan di pipinya, bibir mungil yang berwarna pink yang terlihat lembab, sungguh pemandangan yang Ardan suka. Tita yang gugup di lihat intens oleh Ardan, dengan segera memutuskan kontak mata mereka.
“Ma… maaf Pak, maafin saya nggak sangaja” cicit Tita yang tentu saja masih dalam gendongan Ardan.
“Nggak apa. Lain kali hati-hati” ujarArdan yang suaranya terdengar memberat.Tak ada pembicaraan beberapa saat oleh keduanya. Tita sebenarnya bingung kenapa Ardan tak menurunkannya dari gendongan Ardan.
“Mas Ardan? Tita? Kalian ngaapain?” tanya Ran yang akan menuju Gazebo. Ran terheran melihat posisi sepupu dan temannya sepertiitu, untung saja Gia masih di kamar. Reflek Ardan segera menurunkan Tita. Tapi rasanya ia masih ingin berdekatan denganTita.
“Eh..ta..tadi ada kodok di halaman belakang Ran, terus kodok nyalompatke kaki aku, aku lari terus reflek lompat ke Pak Ardangara-garaaku ketakutan” ujarTita.
“Oh yaampun..kamungga kapa-apakan?” tanya Ran.
“Nggakkok. Tapi..” Tita mengalihkan pandangannya pada Ardan. “Saya sekali lagi minta maafya Pak. Saya nggaksengaja”
“Iya nggak apa-apa” jawab Ardan. “Dan tolong jangan panggil saya Pak. Saya belum menikah dan belum punya anak. Panggil saja Mas seperti Ai” ujarArdan.
“I..Iya Mas” jawab Tita. Lalu Ardan berlalu meninggalkan keduanya.
“Ran.. Ai itu siapa?”
“Ai itu aku..”
“Hah?”
“Iya..kalau di keluarga aku di panggil Ai..namakukan Ranai. Kalau di sekolah semua panggil aku Ran, tapi kalau di rumah aku di panggil Ai” ujar Ran.
“Lucu banget sih Ai..” godaTita.
Lalu keduanya kini berada di gazebo belakang. Mereka masih memilih-milih lagu mana yang akan mereka bawakan. Dan ternyata Ran juga bisa bermain gitar. Ja disekarang merekamen coba berbagai lagu yang akan mereka pilih.
“Gimana kalo lagu Risalah hati punya tata mahadewi?” ujarTita
“hmm..itu lagu lama ya kalo nggak salah?”
“Iya..itu enak banget”
“Coba deh” ujar Ran laluTita mulai memetik senar gitarnya. Ran mulai menyesuaikan suaranya dengan petikan senar Tita. Tak menyangka jika pilihannya adalah tepat, ternyata Ran mempunyai suara yang bagus. Tita semakin bersemangat memainkan gitarnya.
Setelah puas latihan, Ran dan Tita kedapur untuk membuat makan siang. Tita berniat ingin membantu Ran di dapur. Ran membuat bumbu masakansedangkanTita mencoba memotong-motong Sayuran. Gia yang anteng bermain masak-masakan juga dengan alat masak mainannya di lantai dapur.
“Awwss..!” jari Tita terkena irisan pisau dan terluka. Entah sejak kapan Ardan ada di dapur, ia langsung bergegas mendekati Tita dan meraih jari tengah Tita yang terluka lalu memasukannya kedalam mulut dan menghisapnya.
Tita yang terkejut dengan kehadiran Ardan, tubuhnya seketika aku. Ia menegang saat jarinya di hisap Ardan, ia merasakan hangatnya jari didalam mulut Ardan. Ardan perlahan mengeluarkan jari Tita dan membuang darah dalam mulutnya ke wastafel..
“Ya ampun ta..kamu kenapa?” tanya Ran. Tita masih gugup karena tangannya masih di genggam dengan Ardan.
“A..aku… keiris pisau pas motong wortel” ujarnya.
“Lain kali Hati-hati..kalau kamu mau motong sayur, minta ajarin Tita dulu. Kan jadi luka begini” tiba-tiba Ardan mengeluarkan suaranya.
“Mass..jangan di marahin Titanya” Ran merasa tak enak pada Tita.
“Mas bukan marahin, Mas kan khawatir. Ini masih untung Cuma ke iris dikit aja. Coba kalau lebih parah” gerutu Ardan. “Sini obatin dulu tangan kamu” Ardan akan membawa Tita keluar dapur.
“Tap..tapi.. Ran nggak ada yang bantu” cicitTita.
“Aku bisa sendiri kok. Kamuo batin duluan ajal kakak mu” ujar Ran. Lalu Ardan membawa Tita keruang tengah.
Tita duduk di sofa dan Ardan mencarikan kotak obat. Ardan membuka obat merah lalu di oleskan pada luka jari Tita. Dengan pelah dan lembut, Ardan mengobati Tita. Tanpa sadar, Tita memperhatikan Ardan. Ia menelisik wajah Ardan yang ternyata jika di amati dari dekat terlihat sangat menawan. Rahang tegas, hidung mancung, alis hitam yang rapih alami dan cukup tebal, bibirnya terlihat merah alami, dengan kumis tipis di ujung-ujungnya menambah kesan maskulin. Ardan tampan dengan Aura pria dewasa.
“Jangan liatin saya terus, nanti bisa jatuh hati” ujarArdan lalu menatap Tita setelah selesai mengobati. Tita yang terkejut dengan teguran Ardan pun langsung mengalihkan pandangannya. Ia malu, dan terlihatlah rona merah di wajahnya yang membuat Ardan ter senyum. Ia gemas sekali dengan makhluk yang ada di hadapannya ini.
“Sudah selesai. Lain kali hati-hatiya” Kini Ardan yang menggoda Tita dengan cara menatap Tita dan mendekatkan wajahnya kehadapan Tita. Tita terkejut karena ulah Ardan pun langsung bangkit dan hendak kembali ke dapur, namun sialnya. Kakinya menabrak meja yang ada didekat sofa. Rasanya amat sakit karena mengenai tulang kering Tita.
“AAkkhh!!” Aw! Aw!” Tita meringis sambil mengangkat kakinya yang terbentur. Keseimbangannya pun goyah dengan satu kaki dan akhirnya ia terjatuh tepat di atas pangkuan Ardan..
~PLUPH~! Ardan meraih tubuh Tita agar tidak jatuh. Kini kedua tangan Ardan melingkar di pinggang Tita.
‘Aduuhh..mampus! Ceroboh banget sih Titaaaa!’gerutu Tita dalam hatinya.
“Kamu nggak apa-apa? Kaki kamu ke bentur meja” ujar Ardan. Tita lalu meringis saat kembali merasakan linu di tulangkeringnya.
“Awws,,Sakit”
“baru aja tadi di bilang hati-hati eh malah sekarang kaki kamu yang jadi sasaran” Ardan lalu mengangkat tubuhTita dan menggesernya kepojok Sofa, lalu meletakan Kedua kaki Tita di atas pangkuannya.
“ini yang kebentur?” ujar Ardan sambil mengusap kaki Tita.
“Aahh..Iya..sakit Mas” ujarTita. Ardan mengambil alat Kompres dan di isi air hangat. Lalu ia kembali duduk di sofa dan meletakan kaki Tita di atas pangkuannya. Ia mengompres kaki Tita dan menip-niup kaki yang terbentur. Ardan begitu lembut selayaknya memperlakukanTita seperti benda yang rapuh. Tiupan udara dari mulut Ardan membuat Tita merinding, di tambah dengan usapan lembut dari jari-jari Ardan.
‘Aduh..kok aku jadi gerogi gini. Mas Ardan ternyata lembut banget. Aduh..Aduh..pake di tiup tiupkan jadi merinding’Tita resah dalam hatinya. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat ini.
“Mas, Tita…. Loh itu kenapa lagi?” Tanya Ran melihat kini kaki Tita di kompres dengan Ardan.
“Tadi kaki Tita kepentok Meja, pas tulang keringnya. Jadi Mas kompres biar sakitnya reda” tutur Ardan.
“Owa laahh..ya ampun Ta..kamu hati-hati loh. Aduh, aku nanti bisa di marahin keluarga kamu kalo kamu pulang-pulang babak belur gini”
“Ahahhaa..enggaklah, Mama sama Papa nggak kayak gitu. Kamu ini ada-ada aja” Tita tertawa dengan manisnya. Dan itu berhasil membuat Ardan terfokus pada wajah riang Tita. Tita menoleh pada Ardan yang sedang memandangnya. Ia langsung mengecilkan tawanya.
“Ma..maaf Mas, saya jadi ngerepotin” cicit Tita. Ardan tersenyum, lalu menepuk kepala Tita.
“Nggak apa, lain kali kamu harus hati-hati.. Hm?” ujar Ardan sambil menepuk kepala Tita. Se akan udara menyempit di sekitar saat Ardan menepuk kepalanya dan tersenyum lembut.
‘Waduh..gawat ini, sesak rasanya di dekat Mas Ardan. Bisa-bisa aku ke kurangan oksigen kalau aku terus dekat-dekat sama dia’
Ran memandang dengan mata menyipit pada keduanya. Ada yang aneh dari sepupunya itu, dia sangat lembut sekali pada Tita melebihi lembut padanya.
“Ehem! Kalian bahasanya kok kaku banget pakai saya saya segala. Pake Aku kamu aja biar sama kayak aku. kan kamu sahabataku, udah jadi kayak keluargaku sendiri” Ujar Ran.
“Iya..ya, kita berdua kaku banget. Yaudah kamu pake bahasa kayak Ai aja. Santai aja sama Aku” ujar Ardan.
“I..Iya mas. Makasih”
Dalton kini sedang latihan bersama temannya. Entah mengapa, ia merasa lega setelah bercerita dengan kakaknya. Tepatnya ia senang karena sang kakak tidak memarahinya atau melarangnya untuk dekat dengan Ran. Eh? Dekat dengan Ran? Dalton menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“Gila..udah gila gua” cicitnya.
“Ton..Ton.. Gua bener-bener heran sama lo akhir-akhir ini, lo kayak orang gila tau nggak. Tiba-tiba senyum sendiri, ketawa sendiri, ngelamun, geleng-geleng. Lo nggak kena gangguan jiwakan?” tanya Ricky.
“Sialan lo, nggaklah! Gua masih Waras! Kalo gua gila, lo semua lebih gila dari gua” ujar Dalton.
“Loh kenapa?”
“Iyalah.. mana ada yang mau temenan, ngobrol, dan duduk sama orang gila kecuali yang orang yang lebih gila” ujar Dalton dengan enteng.
“Kampret lo”
“Eh tapi, gua perhatiin akhir-akhir ini kayaknya lo jarang ketemu sama Vena. Lo masihkan sama Vena?” tanya Kelvin. Dalton menghela nafasnya.
“Masih, tapi gua udah bosen sama dia. Gua bakalan putusin dia kayaknya”
“Weitsss… cewek se popular, secantik, dan seseksi Vena lo mau putusin Ton? Lo gila?” tanya Ricky.
“Iya, lo mau cari yang gimana lagi Ton? Cewek kayak Vena tuh udah top markotop!” tambah Digo.
“Ck! Lo berdua kalo mau ambil aja” ujar Dalton enteng.
“Wah parah bener lo… se bosen itu kah elo sama Vena?” tanya Kelvin.
“Hmm… ya! Lo tau kan, gua dulu tertarik sama dia, gua pikir dia beda karena dari awal dia jual mahal sama gua. tapi eh ternyata, sama aja cewek-cewek yang lain yang gua kenal. Freaky, Bossy, and Easy!” jelasnya. Ketiga sahabatnya mengangguk setuju.
“Jadi… apa lo ada target baru sekarang sampai lo mau putusin Vena?” tanya Kelvin. Senyum di bibir Dalton tiba-tiba terbit.
“Target ya… hmm… Maybe yes, Maybe No” ujar Dalton dengan mimic wajah yang membingungkan.
“Bro..gua saranin, kali ini jangan coba-coba untuk main-main” Ujar Kelvin. Dalton mengerutkan keningnya.
“Maksud lo? Kenapa?”
“Ya… menurut gua, kali ini lo bakalan berhadapan dengan cewek yang berbeda dari semua yang pernah lo kenal” ujar Kevin. Dalton semakin bingung, apa maksud omongan Kelvin. Tidak mungkinkan Kelvin tau apa yang sedang ia pikirkan.
“Gua nggak ngerti maksud lo”
“Pokoknya, gua saranin lo jangan macam-macam deh, atau lo bakal kena batunya sendiri”
Hmm... duh.. abang Kelvin kayaknya peka banget ya jadi sahabat. kira-kira enaknya siapa ya yang jadi visual Kelvin?