9. Di paksa jujur

2118 Kata
Hari ini adalah hari sabtu, dan sekolah hanya sampai jam 11 siang. Ran dan Tita bersiap pulang. Mereka mengemaskan peralatan belajar mereka lalu keluar dari kelas. “Ran..untuk tugas praktek mapel kesenian gimana? Kita di kasih pilihan Puisi, Drama, atau Nyanyi…” “Iya..kira-kira kamu pilih mana? Kan ini tugas kelompok minimal dua orang” “Iya..kalau kelompok kita aku sama kamu aja… enaknya kita buat apa?” tanya Tita. “Hmmm..apa ya? Aku sih bisa bikin puisi, tapi kamu yang bacaya? Soalnya aku kurang pandai dalam ekspresi” ujar Ran. “Eh..jangan..apalagi aku. jangan..jangan..” “Terus apa? Drama? Kita berdua? Kayaknya nggak asik” sanggah Ran. Lalu keduanya terdiam dan berpikir masing-masing, “Kalo Nyanyi?” celetukTita. “Nyanyi?” “Iya. Nyanyi, aku bisa main Gitar… jadi kamu yang nyanyinya” ujar Tita. “Hah?! Nggaklah. Suara ku jelek” “Ah belom juga di coba. Abis mau apa? Drama nggak bisa, puisi juga nggak mau..gimana kalau kita Nyanyi aja. Aku main Gitar, kamu nyanyi” saran Tita. Ran berpikir sejenak. “Hmm… gini deh, gimana kalau besok kita tesnya. Suara aku atau suara kamu yang bagus. Kalau nggak ada yang bagus, ya apa boleh buat, kita ambil puisi” saran Ran. “Oke..besok dimana kita kumpul?” tanyaTita. “Hmm..dirumah aku aja kayaknya. Soalnya dirumah nggak ada siapa-siapa. Om dimas keluar kota, Tante sama Ibu ku ke toko kue, Cuma ada aku sama Gia Sepupu kecilku” ujar Ran. “Hm… terus, sepupu kamu yang kemaren?” “Siapa? Mas Ardan?” “Iya… “Oh..dia ada di apartemennya sendiri. Nggak dirumah” uJar Ran. Tita mengangguk. “Oke deh, besok aku kerumah kamu” “Oke. Aku tunggu ya” lalu keduanya terpisah. ~TRIINGGG~ Damar is Calling. Senyum Ran melebar. “Halo Assalamualaikum…” “Walaikumsalam… apa kabar kamu sayang?” tanya Damar. “Aku baik. Kamu apa kabar?” “Nggak baik” “Loh.,..kenapa?”Tanya Ran khawatir. “Iya. Aku meriang karena merindukan pacar cantik ku ini tooo” ujarDamar yang membuat Ran merona seketika. “Apaan sih kamu” “Loh kamu memangnya nggak kangen sama aku?” “Kangen lah.. masa nggak kangen sama lelaki kesayangan aku” ujar Ran. “Kapan kamu berkunjung ke jogja? Aku pengen ketemu kamu toooo” “Sabar yo..Insha Allah setelah kenaikan kelas, aku kesana yoo..sambil kasih raport aku sama eyang” “Benar yo sayang ku..” “Iya… “Yaudah, kalau gitu. Udah dulu yoo..Aku sayang sama kamu sayang” Ujar Damar “Aku juga sayang” Jawab Ran. Damar adalah lelaki pertama yang dapat merebut hati Ran. Damar adalah ketua kelas dan ketua osis di sekolahnya dulu. Sikap damar yang ramah dan baik adalah pemicu rasa suka pada diri Ran. Damar selalu bersikap manis padanya, tidak pernah macam-macam dan neko-neko. Perawakan yang tinggi dan wajah yang rupawan pun menjadikan damar ketua osis yang di gandrungi anak-anak sekolah. sudah hampir enam bulan Damar dan Ran berpacaran. Walau pun jarak kini memisahkan, namun perasaan Ran tetap mencintai Damar. Dalton dan kawan-kawan nya kini berkumpul di rumah Kelvin. Mereka pun sedang mengurus tugas kesenian mereka. Ricky dan Kelvin menyarankan agar mereka menyanyi saja. Kelvin memegang Drum, Ricky Gitar, Digo Bass, dan Dalton Vokalis. Namun pemeran utama dari kelompok mereka malah terdiam dan sedang melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Vin..si Dalton kenapa noh? Kok kayaknya dia ngeblank” tanya Ricky. “Iya..dari tadi di sekolah dia diam mulu. Terus kadang-kadang suka senyum sambil geleng-geleng gitu” ujar Digo. “Gua juga nggak tau. Cuma… emang aneh sih” jawab Kelvin. Lalu tak berapa lama Ricky memperhatikan sesuatu.. “Tuh anak dari tadi gosok-gosok bibir nya mulu..kenapa ya? “Sariawan kali yak” “atau gatel kali pengen di cium!” ujar Digo. ~TING!~seketika pikiran Digo dan Ricky mendapat pencerahan. “Jangan..jangan…” Digo dan Ricky menyipitkan matanya menatap Dalton. lalu keduanya menghampiri Dalton dan duduk di kanan kiri Dalton membuat Dalton terkejut. “Apaan sih lo berdua!” kesal Dalton.. “Ton.. lo jujur dah sama kita-kita.. Lo…. Abis ciumanya?” tembak Ricky. Deg! Seketika jantung Dalton berdegup kencang, tubuhnya kaku. Dalton heran bagaimana teman-temannya bisa peka. Lalu apa yang harus ia jawab? Tidak mungkin ia mengaku habis berciuman dengan Ran, gadis yang selama ini ia bully. Bisa habis ia terkena ledekan dari teman-temannya. Apalagi ini ciuman pertamanya. “Ap..apaan sih lo! Ngaco! Kalian tau kan gua jijik sama yang namanya ciuman!” Dalton lalu bangkit dari himpitan kedua temannya. “Udah jangan pada ngaco! Ayo kita latihan. Pilih lagunya” ujar Dalton berusaha mengalihkan pembicara. Dan berhasil, kini mereka memilih beberapa lagu untuk penampilan di praktek kesenian. Dalton memilih lagu lama dari band ternama. Ku coba tuk pahami..cinta apa di hati.. Agar ku mencintaimu..untuk selamanyaa..hoo..untuk selamanya… Berikan aku,..ciuman pertamamu..agar kuyakin.. kau memamanglah miliku.. Kau mungkin bukanlah cinta pertamaku..namun kau pasti.. Namun kau pasti cinta terakhirku…. Delana berada di sebuah food counter. Outfitnya kini sangat sederhana, ia hanya memakai jeans hitam dan kaos hitam, di balut dengan jaket levis dan sepatu cats. Ia memesan kentang goreng dan Burger. “Lana..!” Ardan baru saja tiba. Delana lalu tersenyum saat melihat teman sekaligus cinta dalam hatinya itu. Penampilan Ardan tidak pernah nyentrik atau berlebihan. Namun walaupun begitu, Ardan tetap terlihat keren dengan celana blue levis dan kaos putihnya. Lalu Ardan hanya memakai sandal gunung. “Hei Dan..keren banget lo hari ini” “Weits jelas..dari lahir kali gua udah keren!” “Pedebanget lo! Lo mau pesen apa?” tanya Delana. “Hmm..gua Moccacino aja deh” jawab Ardan. “Makan? Burger? Atau kebab? Atau anything else?” “Nggak deh. Gua kenyang” tolak Ardan. Lalu keduanya berbincang-bincang mengenai proyek mereka, lalu merambat dengan topik yang lainnya. Delana selalu menjadi pendengar yang baik bagi Ardan. Ia selalu memberi saran dan tanggapan, begitu pun Ardan. Oleh karena itu sampai saat ini mereka selalu berteman baik, walaupun ada terkadang ada percekcokan namun itu tak akan lama. Dan Delana selalu berharap suatu hari ia akan menjadi lebih dari sekedar teman untuk Ardan. Malam tiba. Ran dan yang lain berkumpul di ruang makan. Hari Ran memasak Rawon, dan juga peyek ikan teri. Ran cukup pandai memasak karena saat tinggal dengan eyangnya, Ran lah yang banyak memasak dibantu dengan pembantu dirumah eyangnya. “Waahh..Masakan Ai enakya…” ujar Ardan. “Iya dong..kan Ai masakin Eyang waktu di jogja. Eyang suka banget sama Rawon buatan Aku” Ran bangga sekali. “Hmm..mbak Ai tiap hali aja masaknya… dagingnya enyaaakk” Ujar Gia. “Iya nanti kapan-kapan mbak bikinin Gia cemilanya..piscok” “Yey!” “Oya..Tante, Ibu, Mas… Ai izinya besok mau ajak Tita kesini. Boleh nggak?” “Tita? Siapa Ndok?” tanya Ratna. “Tita temen aku bu..” “Memang ada apa besok? Kamu mau jalan-jalan keluar sama Tita?” tanya Ratih. “Bukan Tan..besok aku sama Tita mau diskusiin tugas kesenian disini” “Boleh sayang..tapi memangnya Cuma satu aja temen kamu?” tanya Ratih. “Iya tan. Temen baik aku Cuma Tita aja. Kalo yang lain..mereka terlalu mewah untuk berteman sama aku. dan kayaknya mereka juga nggak mau deket sama aku” “Loh emangnya cari temen itu harus ngeliat kayak gituya?” Kini Ardan yang bertanya. “Nggak sih mas. Tapi yang tulus temenan sama aku Cuma Tita, dia baik, sederhana dan ramah dari awal sama aku. “Ya sudah. Berarti besok kamu disini samaTita ya..tolong jaga Gia juga ya” “IyaTante pasti” Dalton berbaring di ranjangnya. Ia berbaring dengan gelisah. Saat latihan tadi pun dia tidak begitu konsentrasi. Bayangan bibir manis milik Ran selalu saja berputar-putar di kepalanya. Teringat bagaimana ia mencium Ran dengan begitu intens, membuat dirinya merindukan Bibir Ran. Ia ingin merasakannya lagi dan lagi. merasakan lebih lama sampai puas. Ia merasa kini ia haus akan rasa bibir manis milik Ran. “Sial! Lama-lama bisa gila gua! bisa-bisanya gua kebayang terusciuman waktu itu! Bego..tolol… g****k lu Ton! Kenapa bisa sampe kehilangan kendali terus nyosor begitu! AKKHHH!!” “Nyosor siapa kamu?” tiba-tiba suara Delana terdengar di sampingnya. Dalton menoleh dan terkejut. Bagaimana sang kakak sudah ada di dalam kamarnya. “Kakak kok disini? Kapan masuk?” tanya Dalton. “Dari tadi kakak ketuk pintu kamar kamu tapi kamu nggak jawab. Yaudah kakak masuk. Eh malah denger kamu marah-marah sendiri gara-gara nyosor orang duluan. Siapa yang kamu sosor?” tanya Delana semakin curiga. “Maksud kakak? nyosor apaan? Nggak ada kok” Dalton terlihat kikuk. Tak sadar ia langsung menggaruk keningnya hal yang biasa ia lakukan jika sedang gugup. Delana tersenyum melihat tingkah sang adik. “I know you lie” lalu Delana duduk di atas ranjang sang adik dan berhadapan dengan Dalton sambil melipat keduatangannya di depan d**a. “Cerita sama kakak. kamu abis ciuman sama siapa? kakak rasa, perempuan ini bukan perempuan sembarangan. Daann…kayaknya dia lebih mempesona di banding Vena” “Maksud kakak?” Dalton masih tak mau mengakui pada Delana. “Ton… kakak tau kamu. kamu bukan orang yang suka ngomongng gak jelas. Dari kemaren kakak perhatiin kamu itu aneh. Kamu juga suka tiba-tiba senyum sendiri terus usap-usap bibir kamu. kakak udah mulai curiga sama kamu” ujar Delana. Dalton terdiam, apakah ia seperti itu? Tapi ia memang merasa bahwa akhir-akhir ini ia seperti bukan dirinya. Ia seperti laki-laki gila yang merindukan ciuman dengan Ran. Dan tiba-tiba Dalton menggelengkan kepalanya. “Tuhkan! Kamu aneh!” ujar Delana. Dalton hanya tersenyum tipis. Apakah ia harus jujur dengan sang kakak? “Ton..ayoceritasamakakak. Kaka kyakin, kamu bukan cowok yang seenaknya aja nyosor sana sini sama cewek. Bahkan pacar-pacar kamu yang dulu aja kakak yakin kamu nggak pernah ciuman sama mereka. Bahkan sama Vena yang cantik dan seksi begitu aja, kakak yakin kamu nggak pernah kan ciuman sama Vena selama ini” tutur Delana. Dalton terdiam. “So… who that girl? Who’s your first kiss?” tanya Delana sambil tersenyum menggoda pada sang adik.. Dalton menghembuskan nafasnya. “Dia… cewek yang kakak tarik dari genggamanku waktu itu”ujar Dalton. seketika Delana langsung menganga lebar dengan kedua tangannya yang menutup mulutnya. “HAH?! Maksud kamu Ran? Ranai? Cewek yang kamu buat nangis itu?” “Iya..” “Kok bisa? Gimana caranya? Kapan? Apa jangan-jangan…. “Waktu itu..aku abis cium dia. Dan dia, tampar aku” jawab Dalton sambil memijat keningnya. Delana menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya jika adiknya memang benar-benar telah berciuman. Dan tak disangka, ia mencium gadis yang ia buat nangis. “Jangan bilang kamu paksa dia” “Aku… aku nggak maksa” “Terus?” “Aku juga nggak tau, waktu itu aku lagi kesel dan akhirnya cekcok sama dia. Terus, aku juga nggak tau dorongan darimana, rasanya aku bener-bener lost control waktu itu apalagi pas dia bilang belum pernah sekali pun dia berciuman, aku benar-benar hilang kendali kak!” tutur Dalton dengan wajah yang bingung namun terlihat antusias. Ya, ia sendiri bingung bagaimana ia bisa langsung mencium Ran begitu saja. Delana memandang sang adik dengan lekat. “Kamu suka sama dia?” tanya Delana. Dalton langsung mengerutkan keningnya. “Dih. Nggaklah. Cewek udik kayak gitu, bukan tipe aku!” ~PLAKK!~sebuah pukulan keras mendarat di bahu Dalton. “Jangan jadi laki-laki b******k ya kamu Dek..inget..kamu masih punya aku, kakak kamu yang berjenis kelamin PEREMPUAN! Jangan macam-macam!” “Sshhh… akhh..sakit tau kak!” Dalton meringis. “Ya abis lagian kakak sembarangan banget ngomongnya” “Loh..kakak nggak sembarangan. Apa coba alasannya tiba-tiba kamu main nyosor si Ran kalau bukannya kamu suka sama dia” “Ya mana aku tau. Lagi kesurupan kali aku sama hantu belakang kelas” “NGOMONG SAMA EMBER!” kesal Delana lalu ia beranjak turun dari ranjang Dalton. “Jawaban Sinting! Dalton..kakak harap kamu nggak akan jadi laki-laki b******k yang tidak bertanggung jawab atas kelakuan kamu. kakak peringatkan dari sekarang, kalau kalau kamu memang nggak ada perasaan sama dia, besok… temui Ran, minta maaf sebesar-besarnya, dan jauhi dia. Jangan pernah kamu ganggu hidupnya lagi… tapi kalau kamu memang suka dan jatuh cinta sama dia..kejar! pepet dia sampai dapet, buat dia mempercayakan perasaannya sama kamu. miliki dia, jangan di lepas. Atau kamu akan menyesal melepas gadis permata seperti Ran” tutur Delana panjangl ebar. “Gadis permata? Maksud kakak?” tanya Dalton tak mengerti. “Dia gadis baik-baik Dalton. berbeda dengan gadis-gadis yang ada di kota ini. Ran masih tulus, dan apa adanya. Jadi tolong, walaupun kamu adik kakak… kakak nggak akan maafin kamu kalau kamu sampai melukai perasaan gadis sebaik Ran” ujar Delana dan langsung pergi meninggalkan Dalton yang tertegun. Ia tau tatapan mata Delana tidaklah bohong.Lalus ebuah pertanyaan muncul dibenaknya. “Apa ia gua suka sama si udik?” Ayoo Ton.. udah mulai ketar ketir kan hatinya? Cewek udik bisa bikin hati lo w*****k Ton..! :P
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN