Aku sudah lebih dari tiga puluh menit berdiri di depan cermin memperhatikan pantulan diriku yang polos. Ya, aku tidak memakai apapun untuk menutupi tubuh indahku ini. Satu hal kenapa aku sampai berdiri telanjang di depan cermin besar kamarku, itu karena aku punya satu permasalahan besar dalam hidupku. Payudaraku besar sebelah!!!
Aku nggak lagi bercanda nih, aku malah takut buat liat dadaku sendiri. Tapi kalau takut terus gimana mau selesai permasalahanku ini? Dengan keberanian yang sudah terkumpul, aku mencoba untuk terus memperhatikan dadaku secara mendetail. Apa benar dadaku tumbuh tiap malam satu Cm? Dan ini sudah hari ke sembilan, berarti pertumbuhannya sudah mencapai sembilan Cm. Tapi kok aku ngerasa sama saja dadaku nggak besar sebelah. Jangan-jangan itu alasan palsunya buat megang lagi dadaku yang kenyal dan montok ini.
"Na?" Panggil dari luar kamar. Aku cepet-cepet memakai jubah mandiku agar terkesan mau mandi bukan mau bikin video porno. Hahaha
"Ya," Jawabku sambil membuka pintu kamar. Ibu berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sudah rapi. Rapi amat ibu-ibu ini.
"Jagain rumah ya ... Ibu mau nemenin ayah ke acara kantornya," Ya elah nggak usah di suruh juga kali. Aku pasti bakal jaga ini rumah, wong rumah ini bakal jadi milik aku juga.
"Bawain aku laki muda aja," Jawabku frontal sambil mengetuk-ngetukkan kakiku ke lantai.
"Yang matang belum cukup gitu?"
Idihhh ....
Apaan bawa-bawa kata matang? Mengingatkanku saja pada pria super gila dan berengsek yang sudah membuat hidupku naik turun kaya BBM. Namun untungnya dia pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. Kok aku bisa tahu ya? Ya tahulah kan dia sendiri yang bilang padaku sebelum berangkat. Kepergian dia yang sudah sembilan hari lebih adalah hari yang terbaik dalam hidupku setelah dia masuk begitu saja dalam kehidupanku merusak semua hal indah dalam hidupku. Dengan kepergiannya sama saja dimana dia mengurangi masa tuaku untuk terus mengumpat. Oh indahnya hidupku ini .... Jauh dari pria tua itu.
"Udah ah ... sana pergi. Aku benci orang itu!" Sungutku melotot.
Ibu tertawa sampai aku masih bisa mendengar suaranya menuruni tangga. Ckckc girang sekali ibu cantik ini.
Masih penasaran dengan dadaku, aku kembali memeriksa mereka dengan meraba keduanya secara bersamaan untuk mencari perbedaan yang mendasar. Memeriksa dengan jurus tenang dan jangan terburu-buru. Aku merasa keduanya masih sama besarnya tapi ada sesuatu yang aneh ... dadaku yang sebelah berasa berisi dan kenyal dan itu d**a yang ...
Tok tok tok
"Non, ada tamu." Suara Mbak Ani yang sudah lama bekerja di rumahku.
"Siapa?" Tanyaku dengan volume keras cukup keras.
"Katanya pacar, Non"
Pacar?
Pacar dari mana coba? Emang aku banyak yang naksir tapi nggak ada yang menarik hatiku sampai berdenyut bertalu-talu. Apa aku nggak normal ya? Aku juga suka aneh sendiri. Btw aku kan masih Sweet Seventeen dan nggak boleh dulu pacaran nanti bisa lupa pelajaran sama tugas aku sebagai pelajar yang teladan. Kalau pacaran sekarang yang ada malah pegang-pegangan bukan belajar terus raba-rabaan lupa deh menghapal pelajaran. Berabe kan?
Pegang-pegangan? Yang ada aku terus di pegangin, di raba dan meraba pula punya nya...
Aku bergidik ngeri mengingatnya.
"Bilang padanya ... aku lagi males punya pacar dan aku nggak punya pacar!"
"Iya, Non"
Aku melepas jubah mandiku lalu memakai kaos oblongku yang sudah penuh dengan bau segala rupa, tak lupa celana pendek sebagai bawahannya. Aku bersiap untuk tidur. Bodo amat ah dengan menjaga rumah, lagi pula disini udah banyak yang jagain.
"Love?"
Aku mendengar suara panggilan mesra itu dari kejauhan, mungkin itu hanya ketakutanku yang terbawa mimpi.
"Say?"
Kata orang: Trauma berat pada sesuatu bisa membuat orang itu selalu merasa ada yang mengikuti kemana pun.
"Darling?"
Aku membuka mata dan tepat di atas wajahku ada senyuman yang kutakuti.
"Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ... " Teriakku.
"Duh, jangan teriak ntar orang rumah nyangka aku masukkin kamu." Ucapnya santai. Dia bergeser ke samping dan dengan seenaknya berbaring di ranjangku. Kotor sudah ranjangku terjamah olehnya.
"Kenapa bisa masuk kamarku?" Tanyaku. Aku beringsut ke tepi ranjang sambil mencoba menenangkan debaran jantungku yang kaget secara spontan.
"Abis cintaku nggak mau turun ke bawah buat nemuin aku. Aku kan kangen mati selama sembilan hari ini, jadi aku punya ide buat langsung kesini. Toh nanti juga aku bakal tidur disini sambil naikki love atau love yang naikki aku ya?" Katanya sambil cengar-cengir gitu. Ihhhhhhhhhhhhh aku geli liatnya ...
Kulirik dia yang masih senyum-senyum nggak jelas gitu, kadang kala aku berpikir kenapa yang ngejar-ngejar aku harus orang dewasa dengan tingkahnya yang gila gini? Apa aku kena hukum karma karna selalu nolak cowok yang seumuran aku buat pacaran. Tapi bisa jadi iya sih, namun ini karma nya terlalu berat buat aku tanggung. Hiks Hiks Hiks.
"Love, sini dekatan aku jangan jauh-jauh dong" Pintanya merayu.
Aku nggak mau dan aku menggeleng.
"Aku janji nggak bakal ngelakuin hal negatif lho ..."
Menggeleng lagi. "Om cepat pergi dari sini ... Kalau sampai ayah sama ibu tahu kalau Om ada disini, aku bisa di kawinin sama Om"
"Ih ... bagus dong. Kalau tau gitu mah aku terus disini ah ... "
"Om ... !!!" Teriakku kaget mendengar jawabannya yang santai begitu. Ini laki dimana letak tua atau dewasa nya.
"Iya sini dulu, aku bakal langsung pulang kok" Pintanya kembali menunjuk tempat sebelahnya yang kosong.
Kesana nggak ya ...? Jangan ah ... Om itu mah banyak modusnya. Lagian aku juga udah sering ketipu sama otaknya yang pi-
"Ah lama ... " Katanya menarik lenganku dengan spontan dan aku terjatuh diatas tubuh gedenya.
Ya ampun keras banget tubuhnya.
"Om lepasin aku!" Pintaku ketakutan
"Nggak papa cuma sebentar aja kok" Kent memelukku dengan erat. Aneh. Aku tidak melihat wajah mesumnya saat ini yang ada hanya wajah kelelahannya.
"Om ... " Rengekku. Aku nggak nyaman banget dengan kedekatan kami saat ini. Panas tubuhnya membuatku merinding.
"Ta, aku tidak peduli dengan umurku yang jauh diatas kamu. Aku beneran suka sama kamu. Aku bahkan sudah menyiapkan mental untuk bisa dekat kamu, menutup telinga untuk tidak mendengar cibiran orang tentangku yang menyukaimu. Tapi jujur aku tidak bisa sedikit pun berpaling dari kamu. Aku nggak bisa bohongi hatiku. Aku suka kamu ... aku bahkan rela mau nunggu kamu sampai kapan pun"
Untuk saat ini ... aku sedikit terpana.
"Aku sudah terpana asmara, Natasha Riff Dimas" Kekehnya
"Black kali bukan Dimas" Protesku. Sedikit aneh mendengar nama belakangku yang melegenda berubah menjadi nama belakang seseorang yang ku benci. Kalau di pikir-pikir aku ini munafik ya? Katanya benci sama Om tua ini tapi mau juga di peluk-peluk kaya gini. Bingung sendiri deh ...
"Iya nanti"
"Idihhhh ... Siapa juga yang mau nikah sama om gila?"
Dia cemberut.
"Tata jangan gitu dong, ntar nggak aku kasih oleh-oleh lho ... " Ujarnya sambil melotot.
"Siapa juga yang mau oleh-oleh dari Om. Aku nggak mau!" Aku merebahkan kepalaku di d**a bidangnya. Merasakan kulit panasnya yang terhalang kemejanya. Astaga ... aku jadi gatel gini ya?
"Yakin? Padahal ini parfum baru dari yang nyanyi, Shake it off"
APAAAAA???????
"Oh ... " Kataku tenang. Bersikaplah dewasa dan jaim biar nggak ketahuan pengen banget tuh parfum. Hihi ...
"Ada di dalam tasku dan tasnya di dalam mobil"
Oke!
"Makasih, Om!" Kataku cepat.
"Ta, aku punya satu pertanyaan penting nih," Kent memeluk tubuhku erat sampe membuatku susah bernapas normal.
"Apa?"
"Lebih suka dibawah atau diatas?"
Bawah atau atas? Pertanyaan macam apa itu?
Dan telatnya lagi aku baru sadar saat dia menggerakkan bagian bawahnya kearah perutku ... OH
Gila!!!
"Om ... " Jeritku
Dia tertawa terbahak-bahak.
*
"Nana yang cantik lagi ngapain?" Tanya suara dari samping. Biasanya aku bakal seneng setiap kali ada yang manggil aku cantik namun kali ini aku tidak merasakan kebahagian, hanya kegundahan dan rasa penasaran yang menggebu.
"Nana, jawab ke pertanyaan aku jangan di anggurin aja" Yelah terserah aku mau jawab atau nggak? Toh situ yang duluan nanya dan juga ini mulut punya aku mau disuruh buka atau nggak!
"Monyet!!! Buruan jawab!" Bentaknya menjewer kupingku dengan keras.
Aww..
Setan ini anak!
Aku kesakitan saat mendorong tangannya untuk berhenti menjewer telingaku. Sakit banget telinga ini. Awas aja kalau sampai lecet telingaku ini. Akan ku tuntut dia sampai ke pengadilan.
"Sakit ... " Rintihku sambil memegang telingaku.
"Ah lebay ... " Dia mendorong bahuku. "Ta, lagi nggak connect ya?" Sambungnya memperhatikan setiap wajahku. Perhatian banget ya ... Aku suka suka suka.
"Heeh" Kepalaku bersandar pada pundak Maura. "Ra, aku punya masalah pribadi nih ... " Aku berbisik padanya mencoba untuk menghindari dari kasus menguping.
"Serius? Kok bisa sih?"
Ini anak. Soplak ya?
"Bisa lah, kan aku manusia cantik, Ra"
"Mulai garing deh ... !" Ujar Maura menjitak kepalaku. Ini anak hobi banget ya bikin sahabat cantiknya memar-memar. Untung aku lagi butuh temen curhat yang dapat di percaya kalau nggak udah aku seret dia ke halaman belakang sekolah buat aku gantung di bawah pohon sarang kuntilanak.
"Serius, Ra. Aku lagi kena masalah yang jalan keluarnya nggak keluar-luar" Maura memperhatikan setiap gerak bibirku yang mengucap kata demi kata. "Eh, Ra, jangan gitu liatnya... kita kaya mau cipokan aja" Bener lho ... temen-temen sekolahku memperhatikan kedekatan kita. Jangan-jangan mereka ngira kita berdua ....
"Biarin aja, jadi masalah apa? Hamil ya ... ?" Tanya nya garing. Ini anak mulutnya parah. "Sama orang tua itu ya?" Sambungnya mengedipkan mata. Ah gila ini anak.
"Bukan soal itu, Ra. Ini jauh lebih serius dari hamil"
"Iya masalahnya apa, Natasha Riff Black?" Maura melotot padaku.
"Tapi jangan ketawa ya? Ra, d**a kamu pada gede nggak?" Aku berbisik padanya. Oke. Meninggalkan urat Maluku di kamar rumah.
Bukan ketawa yang aku dengar dari Maura tapi dia malah bengong setelah mendengar pertanyaanku.
"Ah males ... deh. Biasa aja jangan bengong gitu dong ... kaya pertanyaan aku berat aja" Ucapku kesel.
"Eh bukan berat tapi aneh tau!"
"Ya udah jawab aja, Maura, jangan banyak protes!"
"Yu ... Ke toilet" Maura berdiri lalu menarikku secara paksa untuk mengikutinya.
Dan di sinilah kita berdua di dalam toilet sekolah membuka bagian atas seragam dan tak lupa mengunci pintu. Sumpah deh ... jadi berasa bikin video hot aja di sekolah.
Payudara kita menggantung dengan bebasnya, sama-sama berwarna pink puncuknya dan kenyataannya punya Maura lebih gede, padat dan berisi.
"Na, jadi apa permasalahannya?" Maura berjalan mondar-mandir di depanku dan itu membuat payudaranya memantul kesana-kemari. Lucu ih ... kaya bintang porno aja.
"d**a kamu suka di pegang ya?" Tanyaku. Raut wajah Maura berubah dari penasaran menjadi syok.
"Ih ... Nana udah gede!" Jeritnya
"Ra, aku tanya apa? Jawabnya apa" Decakku kesel
"Ya sudah. Btw, kok tau d**a aku suka di pegang, di emut, di cium sama di jilatin" Cengiran lebar menghiasi wajah Maura yang nggak kalah cantik dari aku.
Ekh ... menjijikan!!!
"Pacar kamu yang lakuin?" Tanyaku lagi.
"Bukan! Tapi tuyul!" Sungutnya kesel
"Mayzura ... serius dong?"
"Yelah ... pacar super gantengku yang lakuin" Katanya bangga.
"Tapi tua" Ledekku.
Maura melotot. "Punya situ lebih tua"
Dasar setan cantik!
Aku jadi inget dia lagi, ini semua karena Maura yang udah ngungkit-ngungkit orang itu lagi.
"Makannya bilang sama ... siapa namanya?" Tanya Maura. Aku males buat nyebutin namanya yang membuatku mengingat kejadian tiga hari lalu di kamarku.
"Om .... Lepasin aku dong? Aku nggak bisa napas nih!" Aku beneran susah bernapas dengan di peluk erat kaya gini.
"Kalau cintaku susah napas, aku siap membantu dengan memberi bantuan oksigen yang nikmat. Btw, aku belum ngerasain bibir Tata yang dari awal kita ketemu manggil-manggil terus buat di rasain. Ciuman yukkk? Asyik ma enak lho ..." Rengeknya semakin erat memeluk tubuhku. Di kira aku guling gitu?
"Ogah! Nggak mau. Jijik gitu" Tolakku mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
"Ini aja ya ... ?" Tiba-tiba kedua telapak tangan besarnya menangkup pantatku dengan erat.
Rasanya antara merinding dan geli. "O-om ... lepasin!"
"Ogah!!" Katanya makin mencengkram pantatku.
Oh. Ya tuhan!
Aku merasa pantatku di remas dengan lembut dari balik celana dan itu tidak berlangsung lama saat kulitku merasa panas secara langsung dari sentuhan tangannya. Dan kenapa juga? Aku merasa kaya gini? Enak!. Kedua tangannya sudah bergerilya di dalam celanaku, mengusap lembut dan sesekali mencubitnya.
Sialan!
Dengan gerakan cepat aku sudah merasa Kent di atas tubuhku. Tubuhnya hampir menutupi seluruh permukaan tubuhku yang kecil.
"Om, mau ngapain?" Tanyaku gugup.
"Mau bikin Tata enak"
Aku pernah berpikir saat melihat adegan ciuman di Tv akan membuatku terbang di angkasa saat melakukannya dengan seseorang yang ku suka. Tapi sekarang bukan hanya terbang tapi ribuan kupu-kupu mengelilingiku saat Kent mencium bibirku sekilas.
"Love, mau aku masukkin sekarang atau nanti?" Bisiknya di telingaku.
Aku kembali tersadar setelah mendengar suaranya yang aneh. Mencoba mendorong tubuhnya di atasku dan itu berhasil. Aku langsung duduk merapikan rambutku yang berantakan.
"Love, punyaku hidup nih ... bantuin ya buat tenangin lagi?" Aku mnegikuti arah matanya yang berhenti di atas celananya.
Wow ... mengembung banget celananya.
"Sini atuh?" Aku tersenyum menunduk ke arah celananya.
Dia bahagia sekali.
Dengan cepat Kent melepas ikat pinggangnya untuk menunjukkan sate bulunya yang udah besar. Hal pertama yang aku rasakan, aku menelan ludah saat melihat tonjolan di balik boxernya. Oke. Teruskan, Nana, ini sudah bagus! Ujarku didalam hati. Aku melepas boxernya perlahan dan ... deng ... deng ... deng ...
Punyanya besar dan panjang sekali. Apa bisa masuk didalamku? Hah.
"Ih ... buruan, aku udah nggak sabar" Rengeknya manja.
"Sabar sayang" Aku tersenyum sambil mengusap punya nya yang terasa lembut tapi keras.
Kent menutup kedua matanya dengan wajahnya yang meringis senang.
"Om, lihat aku dong?" Pintaku memijat satenya yang keras banget.
Kent membuka matanya bertatapan langsung dengan mataku dan ...
"AKH ... " Teriaknya kencang
"Rasakan!" Tawaku tidak bisa berhenti saat melihat dia kesakitan. Jatuh kembali ke ranjang berguling kesana-kemari kayak cacing kepanasan.
"Tata jahat ih!" Teriak Kent masih kesakitan. "Gimana kalo nanti aku nggak bisa bikin buatin anak buat, Tata?"
Pertanyaan macam apa itu? Aku nggak ngerti sama sekali.
"Biarin!" Aku turun dari tempat tidurku dan bergerak menjauh dari pria tua yang masih kesakitan di atas ranjangku. "Gih ... sana pulang" Aku menunjuk pintu kamar.
"Jahat iihhhhh ... aku masih sakit udah disuruh pulang! Dimana rasa kasih sayang Tata buat aku?" Kent mulai berhenti bergerak nggak karuan sambil memegang miliknya.
"Idihhhhh ... " Aku mencibir kearahnya. "Nggak penting banget sih"
"Gitu amat ama aku"
"Emang aku pikirin!" Aku kembali mencibir pada orang tua itu.
Dukkk ... Dukkk ... Dukkkkk ...
"Woy .... Buka pintunya ... Ngapain pake dikunci sih? Emang ini toilet pribadi?" Samar-samar aku mendengar teriakkan dari luar.
"Na, buruan pake seragamnya" Maura mengacingkan kembali seragamnya dengan tergesa-gesa.
"Ra, tenang aja keles. Yang diluar belum tahu aja siapa yang didalam," Seringaiku keluar disaat seperti ini.
"Emang siapa kita?"
"Please deh ... Maura ... Kita ini duo cantik yang paling terkenal satu sekolah ini" Terangku berbunga-bunga. "Aku Natasha Riff Black, setengah bule yang dempol, bahenol, cantik dan pintar. Dan kamu Mayzura Putri Rustandi, pribumi sini yang nggak kalah cantik dari aku, udah sekian."
Maura sampe bengong gitu mendengar deskripsi kita berdua yang begitu real, "Gila ah," Ujarnya
"Awas ya, gue aduin ke guru" Sambung yang lain.
Merasa sudah rapi dan tidak terjadi apa-apa kita berdua membuka pintu. Di depan toilet sudah ada beberapa siswi yang kelihatan kesel tapi setelah tahu kita berdua yang didalam mereka langsung ceria.
"Oh ternyata, Nana sama Maura yang didalam" Ujar Diam tersenyum pada kita. Nggak tahu ikhlas atau nggak, yang penting senyum ajalah. "Kirain siapa?"
Dian Puspita, dia ini temen kita yang nggak akrab banget sih cuma dia baik banget kalau di minta tolong. Maklum anak yang paling pintar di IPA, tapi tetep dia nggak bisa ngalahin aku sebagai juara umum.
"Dian, siapa yang tadi teriak-teriak pas kita didalam?" Maura pasti sengaja lakuin ini, tuh liat Dian jadi gugup. "Aku mau labrak tuh orang udah berani teriak-teriak sama kita" Hadeh Maura.
"N-ngga tahu, Ra, nggak kenal aku orangnya, dia langsung pergi aja setelah teriakkin kalian" Akting yang bagus Dian, good job!
"Kalau ketemu kasih tahu aku cepet ya?" Dian mengangguk lemes.
"Udah, Ra, ke kelas yuk?" Tarikku pada lengan Maura. Maura kasihan tau anak orang di gituin. "Maaf, ya, Dian?" Lanjutku.
Setelah kita menjauh dari sana, keluarlah tawa yang sudah coba kita tahan beberapa saat.
Jahat banget kita berdua ini ya?
-
Sepertinya bangun siang di hari minggu itu sudah jadi adat istiadat bagiku, seperti sekarang, aku baru keluar dari tempat tidur setelah matahari bersinar dengan panasnya di atas langit sana. Berdiam diri dulu di sudut kamar lalu mandi dan selesai melakukan ritual kecantikkan, aku keluar dari kamar tidur lalu turun kebawah.
Tepat jam sebelas siang.
"Lagi pada ngapain?" Aku duduk di tengah-tengah kedua orangtuaku. Sebenarnya mereka lagi pada nonton TV, tapi karena nggak ada pertanyaan penting mending aku nanya nggak penting aja dari pada sunyi senyap diantara keluarga ini.
"Lagi nonton berita sayang, Nana, bisa lihat sendiri kan di TV?" Tunjuk Ibu pada layar Tv yang sedang menyiarkan kasus pemerkosaan pada gadis dibawah umur. Ngeri aku liatnya.
"Iya tahu, aku nanya aja biar asyik" Jawabku kesel.
"Udah ah, Nana, sore nggak ada rencana keluar kan? Temenin ayah pergi ya?" Ayah ini emang paling bisa dan pinter deh buat balikkin mood aku yang cepet berubah. I love you ... Ayah!
"Nggak ada, aku free seharian ini." Kataku berbunga-bunga.
"Ibu, ikut nggak?" Aku memeluk lengannya.
"Kayaknya nggak sayang, Ibu mau ngurusin sesuatu sama tantemu"
Pasti soal, Kak Alana.
"Yah, nggak papa kita berdua aja?" Tanyaku.
"Nggak papa, malah lebih asyik kita berdua yang pergi" Jawab Ayah tersenyum.
Setuju banget. Ayah itu seirama dan sejiwa denganku!.
-
Sore datang dengan cepatnya sampai aku tidak menyadari jika Ayah sudah manggil-manggil dari lantai bawah untuk rencana kita yang mau pergi entah kemana. Aku cepat berganti pakaian dengan yang paling kece biar makin banyak yang naksir, kalau sudah begitu aku punya banyak pilihan cowok biar nggak tergantung sama Om tua itu.
"Nana, bisa nggak lebih cepet dikit kalau mau pergi?" Aku mengikuti Ayah dari belakang. Ayah, aku cuma telat sebentar.
"Yah, aku cuma telat bentar deh," Mobil yang di bawa Ayah sudah keluar dari garasi.
"Huuh, karena bentarnya kita harus keluar jam empat sore bukannya jam tiga sore. Telat sejam ya?" Aku cekikikan mendengar penjelasan Ayah. Hahaha ... Aku emang telat satu jam dari panggilan terakhir Ayah.
Biasa anak gadis perawan banyak ritual cantik dulu.
"Kita mau kemana?" Aku makin penasaran setelah berkendara selama lima belas menit tanpa macet parah.
"Makan," Jawab Ayah.
"Yah, ngapain makan diluar sih? Di rumah juga banyak makanan yang tersisa."
"Pengen aja makan diluar," Jawaban Ayah nggak mendukung banget dengan rasa usilku.
"Bosen sama nggak enak ya masakan, Ibu?" Godaku mencolek bahu lebarnya.
"Rahasia," Bisiknya pelan.
"Oke!"
Ternyata kita mampir ke sebuah Cafe yang penuh banget dengan tamunya, dilihat dari luar Cafe ini bergaya daerah, lebih tepatnya khas sunda. Saat aku masuk kedalam terdengar suara seksi dari bintang kesukaanku sewaktu kecil, Hannah Montana.
I miss you ...
I miss you smile ...
Ini lagu bisa di ganti nggak? Lagu ini kayak sengaja nyindir aku soal seseorang diluar sana. Seseorang yang sudah bikin kalang kabut. Aku benci dia, benci lagu ini dan juga sama penyanyinya. Tapi nggak benci-benci amat sih, cuma sedikit berkurang jadi fansnya setelah ketahuan goyang Twerking bareng Maura. Andai saja ... Maura nggak lupa ngunci pintu kamar pasti Ibu nggak akan marah-marah liat dua anak kecilnya goyang aneh.
Dan di saat itu juga aku dilarang jadi fansya.
Malang banget nasibku.
I miss you ...
Sha la la la la la ...
Apaan yang I MISS YOU ... yang ada hanya I HATE YOU ...
Ini cafe sunda tapi muter lagu barat. Dasar aneh pemiliknya.
"Na, kenapa diam aja?" Ayah buleku bertanya. Masa aku cerita inget seseorang karena dengerin lagu ini. Pasti dia bakal ketawa.
"Nggak papa kok, Ayah, udah pesen makanan?" Aku mengedarkan pandanganku ke area Cafe ini. Kata Ayah, Cafe ini baru di buka dua minggu yang lalu. Kata temen-temennya makanan disini enak, makannya dia pengen coba makanannya.
"Kapan? Kok aku nggak tahu?" Masa iya udah? Kok aku nggak tahu sih, wah parah ini mah.
"Lima belas menit yang lalu, Nana, kenapa sih? Ngelamunin apa coba?"
"Aku nggak ngelamun, Yah, cuma sedikit mikir aja"
"Mikirin pacar ya? Kata Ibu, Nana, udah punya pacar malah Ibu pengennya pacar Nana jadi mantunya" Aku hampir tersedak air ludahku sendiri.
Ibuuuuu ...!!!
"Ngaco, Yah, nggak bener tau!" Belaku serius. Tuh kan bener? Mulut Ibu bocor kaya saringan, mau ditambal pake apapun tetep aja ... Bocor. Idih, kalau sudah gini gimana coba? Aku bakal kena masalah dari keluarga besarku gara-gara Om itu.
"Masa ...?"
Makanan datang.
Apa ini?
Ikan asin peda, jengkol goreng, sambal dadak, sayur asem. Aku nggak suka semua kecuali sayur asem. Apa Ayah nggak salah pesen?
"Yah, aku makan apa nih?" Tanyaku malas. Tau gini mending aku dirumah aja, ngemil sambil nonton sinetron Garang-Garang Serigala.
"Makan nasi," Jawab Ayah yang begitu menikmati makanannya.
"Aku makan ati aja," Ujarku kesal.
"Nitip dong kalau boleh," Bleh. Lucu ni bule.
"Soal pacar, Nana, masa Ibu bohong sama Ayah?. Nana juga tahu kalau Ibu termasuk isteri baik yang takut azad tuhan. Dia nggak mungkin berani bohong"
Dia emang nggak bohong sama Ayah, tapi bohongnya sama aku.
"Tata ... ?"
Jangan sekarang. Please ... Tarik lagi itu suara yang manggil aku.
Aku mohon.