"Jadi siapa tamu nya?" Pertanyaan langsung ibu tanpa memberiku kesempatan unruk sekedar duduk di sofa. Aku menggeleng tidak ingin memberitahu, hanya saja firasatku jelek jika sampai ibu tahu lebih banyak. Bisa-bisanya nanti ada gossip di grup WA keluarga besar, dimana para sepupuku akan menggodaku. Dengan timeline 'NANA PACARAN DENGAN PRIA TUA'.
"Na, serius nggak kasih tahu ibu?" Rengeknya dengan nada memelas. Astaga kenapa ibuku tersayang begitu penasaran dengan pria tua itu. Apa karena pertama kalinya pria dewasa bertamu padaku di rumah. Selama ini kebanyakan teman-teman sekelasku yang datang kerumah untuk keja kelompok.
"Nggak, Bu." Jawabku tegas. Aku bersandar pada sofa di seberang tempat Ibu duduk, lalu merenung kembali pada kejadian setengah jam lalu. Bisa-bisanya aku diam di perlakukan seperti itu, di unyel-unyel sama pria berumur.
"NANA!" Rasa frustasi terdengar dari ibuku.
"Iya, Bu. Apa?" Tanyaku lembut. "Ibu mau tahu? Apa mau tahu?" Godaku sambil berjalan kearah ibuku duduk. Tanpa terasa aku sudah duduk di sebelah ibu sambil menyenderkan badanku pada tubuh wangi ibu. "Bu, bulan depan ada konser." Aku menutup mata untuk menikmati aroma wangi Ibu yang membuatku tenang.
"Terus?" Tanya ibuku mendelik. Rasanya hangat saat ibu merangkul tubuhku untuk lebih dekat dengannya. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa pelukan ibu. "Ada info ada harga." Kekehku.
"Nggak gitu juga atuh, jahat kamu perhitungan sama ibu sendiri." Kalau sudah keluar kalimat pendoman seperti ini aku suka nggak tega. Tapi aku juga mau liat idolaku bulan depan. Ya, tuhan dilema sekali.
"Bukan perhitungan juga, Bu. Ini hanya transaksi biasa yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Tapi itu juga tergantung sih, aku nggak maksa sama sekali." Aku tidak akan kalah kali ini pada ibuku. Ayo berjuang sampai uang masuk rekening.
Ibu diam sambil kedua matanya menatap lurus pada televisi namun cengkraman di pundakku semakin kuat.
"Gimana bu? Kalau nggak mau nggak papa kok. Aku mau ke atas tidur." Aku duduk tegak dan merentangkan kedua lenganku yang pegal. "Selamat mal-," Sebelum aku bediri lenganku sudah di tarik untuk kembali duduk di sebelahnya.
"Oke-oke, ibu transfer ke rekening kamu." Rasa penasarannya kuat sekali. "Jadi, dia siapa?" Sekarang fokus ibu sudah padaku. Dia melipat kedua lengannya di d**a dan dengan tajam memperhatikanku.
"Sabar bu, aku juga ada permintaan lain." Cengirku yang dibalas tepukan di jidat.
"Sakit, Bu." Rintihku sambil mengusap-ngusap jidatku.
"Salah siapa banyak mau nya." Bela nya.
''Padahal aku cuma minta buat rahasiain ini, main naplok aja." Aku masih merasakan sakit di jidatku. Jangan sampai meninggalkan bekas merah di jidat putih mulusku.
"Iya-iya, ini rahasia. Ayoo cepat cerita keburu ada drama lagi." Lah, dari tadi siapa yang sudah berdrama. Susah nih kalau lawannya ibu-ibu.
"Aku ketemu dia di pernikahan, Kak Alana, itu juga di kenalin sama Om Permadi." Jelasku santai. Aku tidak menyangka dia bisa datang kerumah.
"Jadi dia datang kesini buat?" Pertanyaan Ibu yang merupakan jebakan. Aku sudah tahu jika ibu juga tahu maksud kedatangannya. Mana ada kesini cuma buat ketemu doang.
"Menurut ibu?" Tanyaku balik.
"Dia suka sama kamu." Jlebb. Aku tidak ingin mengakui atau mendengar ini. Sungguh aku masih suka cowok seumuran bukan yang tua begini. Tiga enam, Brooo..
"Ih, Nana, disukain om-om." Ledeknya senang banget. Apa ibu nggak khawatir putrinya di kejar om-om?
"Aku nggak suka, Bu. Kita terlalu jauh." Aku menghempaskan tubuhku kebelakang untuk bersandar. "Dunia ini sudah gila." Aku menghirup napas pelan berusaha menenangkan pikiranku. ''Bu, kita beda delapan belas tahun lho. Ibu nggak takut putrinya di Grooming?"
"Ibu percaya sama putri ibu yang cantik ini. Toh, kamu masih muda belum ada kepikiran serius kan?"
Aku mengangguk.
"Na, Ibu tidak melarang kamu untuk senang-senang. Ayo nikmati masa mudamu asal masih dibatas wajar." Lihat, ibuku sudah ketularan otak bule, Ayahku.
"Tiga puluh enam tahun, Bu. Sadar, Bu." Kataku kesal. ''Tua banget, Bu." Jujur, walau ibu merestui juga. Aku nggak terlalu bersemangat saat mengingat kembali umurnya yang sudah tiga perempat abad.
''Nggak ah, matang malah. Tapi emang kematangan buat kamu. Hihihi." Aku menyipitkan mataku mendengar cekikikan ibu.
''Bu, aku nggak mau sama dia. Nanti tanggapan orang gimana kalau kita jalan berdua? Aku pasti di kira peliharaan om-om." Aku sudah membayangkan sejauh ini.
''Yakin? Nanti malah demen yang tua-tua." Goda ibuku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Anjay!! Apaan dah ibuku ini punya pikiran begini.
Aku sudah terlalu kesal dengan pertemuan kedua ini dan sekarang aku malah di goda seperti ini. Jijay banget.
Apa ibu nggak tahu kalau putrinya ini banyak yang ngantri di sekolah buat jadi pacarnya, jelas ini masih muda dan bugar jauh dari kulit keriput. Dan sekarang datang om-om yang pede nya tingkat tinggi datang mendekatiku.
"Ibu kok malah doa nya begitu, aku nggak mau dapat doa ini. Ini doa terjelek dari ibu." Sungutku kesal.
"Doa ibu mah bagus-bagus buat, Nana. Tergantung kamu aja nanti ikut yang mana jalan takdirnya." Lah, benar juga.
"Ya, ibu cantik, terima kasih doanya." Aku mencium telapak tangan ibuku. "Tapi kan, Bu. Aku masih mau pacar yang seumuran dan jangan yang badannya gede gitu. Jadi takut dan geli sendiri." Aku masih terngiang-ngiang bagaimana rasanya pelukannya yang membuat tubuhku remuk.
"Kamu tahu nggak? Orang yang seumuran kamu tuh masih sedikit pengalamannya beda yang udah berumur. Pasti dia lebih sabar hadapin sikap kamu yang baik tapi banyak nyebelinnya sih." Lagi-lagi Ibu menggoda. "Enak tahu kalau kamu punya pacar yang badannya besar, nanti kalau di peluk bakal hangat-hangat gimana gitu.. Contoh tuh ayahmu." Ya ampun ibu cekikikan begini, aku jadi malu sendiri.
"Iya terserah ibu deh." Ucapku sambil berdiri dari sofa untuk segera pergi dari pembicaraan tidak jelas ini. Jika aku terus berada disini dan membahas pria tua itu terus, aku bisa gila.
Namun aku masih penasaran dengan jawaban Ibu, "Ibu?" Tanyaku berhenti di anak tangga. "Ibu suka sama dia? Rela aku pacaran sama dia?" Rasa penasaranku semakin tinggi setelah mendengar semua pendapat Ibu tentangnya.
Bukan menjawab pertanyaanku malah tesenyum cantik.
Aku menggeleng dan membalas senyumannya yang sungguh cantik. "Malam, Bu." Aku berbalik dan menaikki anak tangga menuju kamarku untuk istirahat.
"Na?" Panggil Ibu menghentikan langkahku. "Boleh juga kalau mantu ibu pria yang tadi." Aku terkejut lalu menggeleng tidak percaya.
***
Di siang yang panas dan aku sedikit haus harus berjalan cukup jauh ke gerbang sekolah, sungguh menyiksa sekali hari ini. Oke, Stop mengeluh. Ini demi masa depannmu. Tapi jujur, perutku bergetar terus dari jam terakhir minta makan. Aku harus segera sampai rumah dengan cepat, dengan langkah kaki yang bergerak cepat. Aku sudah sampai gerbang sekolah tapi ada pemandangan yang semakin merusak siangku.
Kentara Dimas bersandar di samping mobil mewahnya, menyita perhatian semua orang disekitar apalagi ini jam bubaran kelas. Otomatis semua mata tertuju padanya dan mobil mahalnya. Idihhh.. Bisa saja pria tua ini mencari perhatian gadis muda. Tapi jujur, aku nggak mau punya pasangan yang bisa di nikmati semua orang dengan gratis. Toilet aja bayar masa cowok ganteng juga di gratisin. Aku mau punya pasangan yang hanya aku yang bisa nikmati. Egois? Terserah, aku nggak peduli yang penting aku senang dan nggak mudah cemburuan.
Aku berjalan perlahan kearahnya. Dari jarak lima meter aku bisa mencium wangi parfum mahalnya.
"Tata." Senyum sumringah terdapat di muka nya.
"Ngapain di sini?" Tanyaku kentus. Berdiri langsung di depannya dan di siang hari begini, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya, Dia habis mencukur jenggutnya dengan bersih, hanya saja ada yang aneh. Aku nggak suka penampilan dia begini..
''Kenapa di cukur?" Tanpa sadar aku mengucapkannya. Bisa gawat kalau dia berpikiran aneh.
"Aku mau tampil lebih rapi dan muda buat, Tata." Jawabnya tersenyum bangga.
''Lain kali nggak usah di cukur sampai bersih gitu. Aneh kelihatannya.. Rapihin aja kaya terakhir ketemu." Aku menutup mulutku tanpa sadar. Kenapa aku jadi perhatiaan begini? Wajar nggak sih.
"Kok, kamu perhatian sih sama aku? Jadi seneng deh." Badannya tidak bisa diam, bergoyang seperti mainan boneka kaktus yang lagi sempat viral.
''Jadi nyesel aku kasih tahu." Kataku lemes.
''Jangan gitu sayang, aku seneng banget dapat perhatian dari kamu."
"Terserah." Aku melihat kanan kiri untuk memperhatikan keadaan sekitar, takutnya banyak yang melihat. Tapi syukurlah, hanya ada beberapa murid yang melihat diam-diam pada kita berdua.
"Sayang, jalan yuk? Mau ya? Kan udah janji mau pergi." Tanya Kent berbinar-binar.
Terima nggak ya. Kebetulan aku lapar juga, tapi nanti kegeeran juga kalau sampai aku terima ajakannya. "Om, aku lagi banyak tugas sekolah."
Emang aku lagi banyak tugas, tugas bagaimana supaya dia menjauh dari hidupku yang normal ini. Semenjak kedatangannya di rumahku seminggu yang lalu, masa tenangku berubah dengan cepat. Tiap waktu sms dan telepon berdatangan di ponsel pintarku, ini orang tahu dari mana nomor coba? Perasaan aku nggak suka ngasih nomor sembarangan. Apa aku harus ganti nomor aja?
"Ayo sayang, cuma sebentar aja. Aku tahu kamu lapar kan?" Tebakan pria tua ini benar sekali. "Aku sengaja nggak makan siang di kantor supaya bisa makan sama kamu."
"Sebentar kan?" Tanyaku memastikan.
"Iya sayang, sebentar makan nya tapi mainnya banyak." Jawabnya senyum malu-malu. Kata-kata ambigu.
"Oke, Om, ayo pergi." Aku mendekat lebih dekat padanya. Tapi tangannku tiba-tiba dipegang dan aku berhenti bergerak. Mau apa lagi ini pria tua?
"Ih.. Tata, kok manggil aku Om sih? Coba panggilan sayang biar makin romantis." Ucapnya sambil tersenyum bangga.
Oh Ibu. Ini mantu yang ibu pengen?
Coba ibu review bagaimana tingkah dan sikapnya. Apa nggak geli? Aku aja malu bu. Jujur aku mau banget benturin kepalanya diatas bemper mobilnya supaya dia sadar jika tingkahnya bikin malu.
''Abis gimana, Om. Aku menghormati yang lebih tua." Ungkapan polos dan jujurku. Betulkan kita harus menghormati yang lebih tua, itu sudah harga mati.
Dia merengut nggak suka kaya anak kecil.
Oh.. Om Permadi. Om ketemu orang seperti ini dimana? Jujur orang yang dibawa Om ini kaya batita, aku nggak bisa bayangin harus menyusui dia dengan mulut besarnya, mengemut putingku.. Auw. Kenapa aku jadi ngeres gini? Sepertinya otakku sudah bercampur kadar kedewasaan yang dibawa pria tua ini.
"Tapi khusus buat aku nggak usah terlalu hormat juga nggak papa kok." Kent tersenyum, membuat kerutan-kerutan disudut matanya kelihatan.
"Aku anak baik jadi harus hormat dengan orang dewasa. TITIK!" Aku tidak mau kalah.
"Please, Ta, aku nggak mau di panggil Om, itu terlalu tua untuk di dengar. Aku udah jauh-jauh dari bandung kesini cuma buat ketemu kamu. Tapi kamu nya malah manggil, Om." Mulai lagi gombalannya.
"Tapi kan aku nggak minta, Om, kesini." Benar kan aku nggak minta dia datang apalagi ini dari bandung, kaya nggak ada cewek di bandung. Bukannya cewek-cewek dari bandung terkenal cantik. Lihat aja Kak Alana dan Kak Gea.
''Aku kangen makannya kesini."
"Nana, ngapain loe disini?" Tanya suara cempreng dari belakang. Satu lagi gangguan dari mahluk hidup bernama, Maura, penyuka pria tua.
Mayzura Putri Rustandi, simpanan Om-om tajir yang sudah menahun.
Bercanda.
Tapi ada benarnya soal dia pacaran sama Om-om, malah bentar lagi mau tunangan. Gila tuh anak? Mau aja sama Om-om.
"Om loe? Nggak bilang loe punya om ganteng gini?" Tanpa permisi mulut Maura berbunyi. Kent yang berdiri di depan kita hanya tersenyum ramah.
"Diem." Aku menyikut perut Maura.
"Temennya?" Tanya Kent sambil tersenyum, memamerkan deretan gigi putih nan rapinya. Aku nggak suka dia tebar pesona.
"Suka?'' Aku balik bertanya memasang wajah masam.
Menggeleng "Aku sukanya sama, Tata!" Jawabnya. "Tata itu seperti matahariku. Tau nggak? Sebelum aku liat, Tata, hidupku suram berantakan. Nggak punya tujuan hidup gitu.. " Gombalnya sok serius.
Maura melongo mendengar gombalannya.
Anjir bener ini, Om-om, pengalamannya. Mengumbar kata-kata manis yang bikin orang yang dengarnya klepek-klepek. Tapi sayang buat aku mah nggak mempan sama sekali.
"Om ini?" Tanya Maura bingung. Dia melirik bolak-balik antara aku dan Kent.
Jawab atau nggak ya? Aku malu sama bingungnya dengan situasi sekarang.
"Kentara Dimas, pacarnya, Tata!" Potong Kent secepat kilat tanpa memberiku kesempatan membantah.
"Oh No! Nana punya pacar." Maura menutup mulutnya dengan tangannya seakan tidak percaya dengan kenyataan yang ada. "Gila, Loe nggak bilang-bilang punya cowok." Maura balik menyikut. Lengannya cepat merangkul pundakku dan mendekatkan wajahnya ke telingaku untuk membisikkan sesuatu. "Udah cipokan?"
Aku mendorong tubuh Maura dan memelototinya. "Jangan aneh-aneh, Ra."
''Jagain pacar saya ya.. Kalau ada yang berani menggodanya cepat laporin saya." Pinta Kent serius.
"Tunggu sebentar.. Kita pernah ketemu? Saya rasa pernah lihat kamu. Tapi di mana ya.." Kent memperhatikan Maura dengan seksama, tatapannya tajam dan sebelah tangannya memegang dagu sambil mengerutkan dahi nya.
Aku diam memperhatikan interaksi mereka berdua.
"Kamu yang di hotel Purple kan? Bareng Nara?" Tebakan Kent membuat Maura salah tingkah.
Ya ampun Maura kenapa harus ke gap di hotel pula, bikin malu aja. Apa nggak ada tempat lain selain hotel. Kalian kan ada rumah sama apartemen.
"Maura, bikin malu aja loe." Desisku di dekat telinganya.
''Ya mana gue tahu itu gebetan loe." Balas Maura.
*
"Na, bisa ikut ibu?" Ajakan Ibu di hari libur ini sedikit membuatku melupakan kekesalanku pada Maura yang tiba-tiba batalin janji. Dia seenaknya buat janji dan semudahnya batalin. Aku tahu ini pasti gara-gara pacarnya yang tua. Dan beginilah nasibku di hari libur, rebahan di sofa sambil menonton gossip tidak jelas.
"Ayo, Bu, aku juga bosen libur begini di rumah terus." Keluhku sambil mencomot keripik singkong di toples. Rasanya hambar seperti hariku sekarang.
"Bu, aku pengen beli baju di butik yang kemarin kita kesana." Mungkin dengan belanja aku bisa sedikit mengobati stressku belakangan ini.
"Ayo aja, Na, kalau di toko bangunan ada baju yang kamu pengen. Mau ibu beliin satu lusin juga nggak papa." Ms. Black senior ini tertawa terbahak-bahak.
Toko bangunan? Sebentar buat apa kesana sih? Lagian kita nggak ada rencana mau bangun rumah baru.
"Ngapain, Bu, kesana?" Tanyaku kembali layu.
"Mau cek salah satu cabang toko bangunan yang di utara." Jelas ibu.
Aduh males kalau tujuannya ke toko bangunan. Panas dan nggak ada yang bisa di lihat untuk mencuci mata. "Bu, aku nggak jadi ikut ya.. Ada janji." Alasanku yang tiba-tiba, mungkin ibu nggak bakalan percaya tapi setidaknya aku usaha untuk menolak pergi. Jujur aku nggak mau pergi kalau harus ke toko bangunan.
"Janji? Sama siapa? Sama calon menantu ibu?" Tanya Ibu melirikku dengan senyumannya yang menggoda.
Calon mantu?
Aku belum mengerti sama kata 'Calon Menantu'. Bentar, emang siapa yang udah bawa calonnya? Perasaan aku belum bahas atau bawa sekalipun calon mantu. Duniaku masih berkutat antara belajar dan bermain belum sempat sama sekali untuk mikirin hal lain.
Aku merengut tidak suka.
"Lalu yang kemarin sore anterin kamu siapa coba? Itu calon mantu ibu kan?'' Senyum menggoda muncul lagi di wajah ibu yang cantik. Jelaslah cantik, putrinya juga cantik begini.
Sore?
Kemarin sore?
Ya ampun.
"Nana ih.. Suka pura-pura gitu? Katanya nggak suka Om-om tapi kemarin sore di anterin malah di cium pipinya." Ibu menjewel sebelah pipiku.
Aku ingat sekarang! Kemana arah percakapan ini. Jadi yang di maksud ibu tentang calon mantu tuh, Kentara Dimas, kemarin sore aku diantar pulang setelah banyak drama selama perjalanan. Aku yang nggak mau diantar dan Kent yang terus memaksa. Tapi akhirnya aku mengalah juga.
Oh!
Duh gusti!
Kentara Dimas dan ibu sudah nganggap calon mantunya. Ini ibu serius nggak main-main soal Kent.
Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja!
"Bu, bener deh, aku nggak suka sama ibu kalau gini!" Kataku sambil menyilangkan kedua lengan di d**a. Sumpah rese banget.
"Kenapa?'' Tanyanya polos. "Durhaka lho.. sama ibu sendiri gitu? Ntar ibu sumpahin kamu berjodoh sama Kent," Tawa ala Syahrini menggema di sekitar kita. Nggak banget ini mah. Semakin kesini semakin terbuka lebar restu ibu untuk, Kent.
"Ah, ibu, emang mau punya mantu tua gitu?" Tanyaku kesal. "Nanti dia nggak bisa ngimbangin aku di ranjang lho?''
Syukurin. Sekarang ibu cantikku diam.
Tapi barusan aku ngomong apa ya?
Ranjang?
Kulihat wajah ibuku. Dan..
Kedua pasang bola matanya seperti mau balapan untuk copot dari sarangnya, mulut ibuku terbuka lebar. Aku belum pernah melihatnya terkejut seperti ini apa kosakataku terlalu vulgar sampai kaget seperti itu.
"Ibu, nggak apa-apa?" Tanyaku pelan sambil menepuk pundak Ibu.
Astaga banget. Maafkan putrimu ini, ibu. Aku nggak ada maksud buat ngomong kearah sana, itu hanya keceplosan anak abege yang takut di kejar Om-om saja.
"Nana, barusan kamu bilang apa?"
"Yang mana, bu? Dari tadi aku banyak ngomong. Jadi lupa.. " Semoga aja dia nggak dengar kata ranjang. Kalau sampai denger, aku bisa di sidang semalaman di ruang tamu dengan hadiah potongan uang jajan, menderita sudah seminggu ini kalau sampai aku kena hukum.
"Apa perlu ibu lagi?"
Silakan saja.
Aku nggak bakalan larang kok, itu juga kalau ibu berani bilangnya.
Aku mengangguk.
"Enggak deh, bibir ibu terlalu suci untuk mengucap kata itu." Katanya sambil menjulurkan lidah.
"Lama-lama ibu jari mirip, Kent, alay gitu." Kataku refleks.
Ups.. aku kelepasan lagi.
"Dih, Nana inget Kent ?" Tanyanya menggoda. "Gimana kalau nikah aja pas udah lulus sekolah. Biar nyusul Alana, yang nikah muda. Ibu udah nggak tahan ngurus, Nana, yang cerewet dan banyak mau nya."
Huwaaaa.. Aku di usir secara tidak langsung, apa ibu nggak sayang lagi sama aku? Aku tuh mahluk paling langka di bumi ini, maka dari itu harus bener-bener di jaga dengan kasih sayang sebelum di lepasin keluar kandang.
"Aku nggak mau nikah sama Om itu, Bu, dia super genit tau." Aku menyodorkan tanganku ke dalam toples yang sekarang duduk di pangkuanku. Tapi kok kosong ya?
Yaelah.. Abis keripiknya.
"Bu, kemarin juga dia nyium aku. Aku udah ternoda di pipi lembutku ini, ibu tahu? Aku ini belum tersentuh sama sekali oleh laki-laki dan kemarin orang tua itu.. Oh.. aku nggak sanggup buat ngelanjutin ceritanya.." Jelasku panjang lebar dengan suasana berapi-api. Semoga ibu paham dengan apa yang kurasakan.
Tunggu, kenapa aku merasa sekarang jadi lebay? Apa Ini mungkin terlalu banyak di gauli oleh, Kent.
Gauli?
Error sudah otak dalam kepalaku ini selalu mikir aneh.
"Tapi kan enak?" Goda ibu. "Bibir merah menantu ibu sudah menempel di pipimu?"
Olalala..
Aku kembali mengingat kejadian kemarin dari di paksa naik mobil mewahnya sampe nemenin jalan sampe sore, aku kaya abege bayaran aja buat nemenin Om-om jalan sampai puas. Dan lebih hebohnya banyak pasang mata yang melirikku dengan lirikkan berbeda. Tapi rata-rata banyak juga yang ngedipin mata kearahku. Tuh kan? Jalan sama Om-om mah banyak ngasih efek jeleknya.. Di kira aku gadis bokingan dengan harga gope sekali jalan? Hush.. amit-amit.
"Tata, jangan cemberut atuh? Nanti cantiknya bertambah lho.. Kalau udah gitu aku makin sayang sama, Tata. Tau nggak? Aku selalu pengen berada di dekat kamu. Harusnya aku tempel lem di tubuh kamu biar kita makin menyatu." Sepanjang perjalanan bacotnya tidak pernah berhenti.
"Aku ada kerjaan tapi nggak kuat ninggalin kamu disini. Ta, gimana dong?" Aku tahu dia meminta pendapatku. Tapi aku tidak peduli.
"Itu urusan, Om. Toh aku nggak nyuruh om buat sayang apalagi sampai ganggu kerjaan." Kataku ketus menatap lurus ke depan pada jalanan yang macet.
"Aku tiga bulan lebih mikirin perasaan aku ini lho.. Banyak pertanyaan yang selama ini ku coba cari jawabannya sendiri. Bagaimana aku bisa suka sama kamu yang masih bocah? Aku juga nggak tahu bisa begini." Perkataannya sedikit membuatku melirik padanya yang masih fokus menyetir. Apa orang ini tersiksa dengan perasaannya.
"Kenapa aku tidak jatuh cinta saja pada wanita yang sudah dewasa, mungkin tidak akan rumit seperti ini." Aku berpaling dan langsung menatap kembali pada jalanan yang di terangi lampu jalan.
"Aku nggak tahu." Jawabku tidak tahu harus apa. Setelah mendengar pengakuannya yang sedikit membuatku tersentuh. Namun tetap saja aku bingung dengan apa yang kudengar.
"Tapi, Ta, please jangan panggil aku, Om. Aku nggak suka tahu." Kembali ke setelan awal seorang, Kentara Dimas.
"Dan please ya.. Om. Jangan berlebihan gitu. Aku jadi tambah geli kalau lihat om yang tubuhnya berotot tapi ngomong lebay gitu." Sindirku sinis.
"Nggak papa ah, demi kamu ini."
Aku nggak pernah minta !
Aku sudah terlalu lelah untuk melayaninya yang terlalu extrovert. Tenagaku habis untuk segala urusan bersamanya. Aku lebih baik diam dan memperhatikan jalan yang macet, sebentar lagi sampai di komplek perumahannya.
"Ta, tau nggak?" Kent memulai pembicaraan lagi.
"Hmm.." Aku yang sudah mengantuk hanya menjawab seadanya.
"Aku suka banget sama kamu. Mau aku cium deh nanti."
"SREGGH" Aku menjambak rambut Kent dengan cukup keras. Peduli amat kalau dia lagi nyetir. Kurang ajar sekali ini lelaki tua. Emang aku cewek apaan?
"Aww, Tata, aku merinding. Duh.. Itu tangan kamu jambak rambut aku makin b*******h. Nanti kalau kita ciuman, aku minta kamu jambak rambut biar aku makin panas. Itu titik sensitifku." Aku melotot dan semakin bergeser ke ujung kursi mobil untuk menjauh darinya.
"Om, aku takut lho." Sebagian tubuhku bersandar pada pintu mobil.
"Nggak usah takut, Sayang. Kamu malah bakal enak."
Ibu!!!
Ayah!!!
"Om, sadar umur!" Teriakku keras.
Dia malah nyengir gila. "Aku nggak sadar umur jika udah bareng kamu, Tata. Tata.." Tatapan matanya berubah dari yang kurang ajar menjadi lembut dan "Please.. Jangan lumpuhkan ingatanmu tentang aku, ya?"
Tarik napas
Hembuskan
Tarik napas
*
Lembut dan hangat.
Itulah yang kurasakan dalam tidurku, sesuatu yang lembut bergerak dari sudut bibirku ke arah rahangku. Membuka mata saat rahangku terasa di jilat.
Remang-remang
"Tidur lagi ya?" Pinta seseorang dengan begitu lembut di atas pipiku.
Huwaaaa.. Teriakku!!!
Aku langsung mendorong wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku, bisa kurasakan hembusan napasnya yang hangat di pipiku. Apa mungkin aku sudah di perkosa? Tapi kenapa nggak merasa sakit sama sekali, ini patut di pertanyakan!. Menunduk ke bawah untuk memeriksa bajuku dan masih utuh seperti semula, syukurlah. Aku belum di apa-apain.
Tapi terasa lengket rahangku.
Aku mengusap rahangku dan.. Ih jijik banget.
Basah dan bau.
"Om, ngapain aku?" Tanyaku marah.
"Cuma cium aja, abis.. Tata itu ngegemesin banget pengen aku sembunyiin aja di kamar. Mau ya?" Pintanya dengan mesra
"Om, sudah gila! Aku mau pulang sekarang juga!" Kataku cukup keras.
"Rumah, Tata, udah di depan lho.."
Rumahku ada di depan? Benar saja apa kata orang tua ini, apa aku udah dari tadi di depan rumah? Mending cepetan keluar dari mobil ini dan terbebas dari genderewo bule yang lebay ini.
"Om, jangan ganggu hidup aku ya?" Cari aja cewek lain.
Membuka pintu mobil, aku segera turun tapi terhalang oleh Kent yang sudah menghalangi jalanku buat masuk rumah.
"Tata!!!" Suaranya cukup tinggi sampe membuatku terdiam untuk memperhatikan kata-kata apalagi yang akan di ucapkannya. "Tata sendiri yang sudah ganggu hidup aku, aku mau ngapa-ngapain pasti selalu ada kamu yang muncul di pandanganku. Sekarang kamu harus tanggung jawab sepenuhnya!" Sorot matanya begitu tajam menatap mataku.
"Itu masal-"
Sebelum aku bisa melanjutkan omonganku, bibir hangat dan lembut milik Kent sudah menempel lagi di pipiku, mengecup lembut dan cukup lama.
"Na.. Na.. Na..?" Pundakku terasa bergetar. Lah, ibuku sedang mengguncang-guncang pundakku.
"Yap?" Aku kembali lagi kedalam realita yang ada.
"Ayo temenin ibu?" Aku jadi nggak tega melihat ibu kalau sudah memelas begini.
"Ayo, Bu."
"Sekalian ada kejutan" Ucap ibu sambil mengambil kunci mobil dengan aku mengekor dari belakangnya.