Elia sebenar nya sudah terbangun saat Arga membuka pintu ini, ia hanya berpura pura tidur agar tidak menatap wajah Arga, entahlah ia masih merasa kesal dengan apa yang ia dengar tadi. Elia memang ramah dan murah senyum, tapi jika ia sedang merasa kesal atau marah Elia lebih memilih untuk diam, karena jika tidak ia bisa kehilangan kontrol, omongan Elia bisa sangat pedas dan menyakiti jika sedang marah atau pun dalam keadaan kesal. “Pergi lah Arga, aku sedang tidak ingin berbicara pada mu.” Ucap Elia ketus dengan membalikan badan, memunggungi Arga. “Apa maksudmu El, aku sudah khawatir mencari mu lalu tiba tiba kau menyuruh ku untuk pergi.” balas Arga tidak terima dengan perkataan Elia. Tetapi Elia hanya diam saja, ia menahan diri nya agar tidak membalas ucapan Arga. “El, apa kau sengaja

