Pov Galang
"Halo Assalamuallaikum Na."
"Waalaikumsalam Gal, daritadi gue telpon Sandra kok engga bisa ya, Sandra di rumah Gal?"
"Ahhh iya Sandra di rumah Na, tapi dia lagi ada masalah."
"Ha masalah sama siapa, kak Gilang?"
"Bukan Na tapi sama keluarga kak Selvi."
"Gimana sih ceritanya kok bisa?"
Nana yang penasaran terus mendesak agar Galang bercerita, akhirnya Galang menceritakan kejadian yang dialami Sandra.
"Gila ya keluarganya kak Selvi, bisa - bisanya. Ck ck."
"Terus Gimana sekarang Sandranya?"
"Kak Sandra sekarang lagi tidur belum tahu gimana keadaannya."
"Cielah lo sekarang manggil Sandra pakai kak Sandra."
"Kenapa lo mau, bentar lagi juga lo manggil dia kakak."
"Maksud lo?"
"Kan lo nanti jadi adik iparnya kak Sandra."
"Galangggggggg."
"Apa sayangg?"
"Dihhhh ngaco ya kamu."
"Aamiini dong Na."
"Kesenengan lo nanti gue aamiini."
"Aamiin"
"Nanti kabari lagi ya kondisi Sandra kalau engga nanti gue kesitu."
"Mau ketemu gue ya, bilang aja lo kangen."
"Ihhh Galanggg nyebelin."
"Iya sayang nanti aku beri kabar ya."
Nana yang capek mendengar gombalan Galang kemudian mematikan sambungan telepone. Galang yang mendengar nada kesal dari Nana hanya tertawa senang dia gemas sendiri.
****
Pov Selvi
Selvi sedih melihat Gilang dan Sandra pergi begitu saja tanpa mengajaknya. Selvi merasa bersalah karena tadi dia tidak membela Sandra. Setelah melihat kepergian mereka Selvi masuk ke dalam rumah dan memeluk sang papa, papa Selvi hanya memberikan pelukan dan kata semangat.
"Semua gara - gara tante dan Beta, kenapa kalian merendahkan Sandra?" Tanya Selvi dengan nada marah.
"Sel kita begini karena kita sayang elo." Bela Beta.
"Lo bilang lo sayang gue, seharusnya elo dukung apapun keputusan gue Bet. Elo tahu siapa yang elo rendahkan bersama ibu lo yaitu Isteri muda Gilang Putera Wijaya Bet kalo lo lupa." Selvi mulai berteriak.
Beta dan tante Muri yang mendengar itu hanya diam, mereka tidak sadar bahwa Sandra kini menjadi bagian keluarga Wijaya yang bisa melakukan apa saja ke keluarga mereka.
"Dan mama, aku kecewa sama mama kenapa mama melakukan hak itu ma. Mama juga punya anak perempuan harusnya mama lebih bisa menjaga sikap." Ucap Selvi kemudian meninggalkan keluarganya menuju kamar.
Sampai kamar Selvi mencoba menghubungi Gilang maupun Sandra tetapi semua tidak aktif. Selvi kelimpungan sendiri di kamar, ingin pergi menyusul mereka pun pasti mereka menolak bertemu Selvi saat ini. Selvi kemudian mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.
****
*Pov Gilang dan Sandra.
Setelah mandi Gilang bergabung dengan Sandra di kasur. Gilang membawa Sandra ke dalam pelukannya, Gilang mengecup kening Sandra secara berulang. Gilang melihat wajah damai Sandra saat tidur, melihat wajah Sandra yang menurut Gilang sangat cantik dengan make up tipis andalan Sandra. Sang mama tadi sudah mengompres pipi Sandra agar tidak membiru.
Sandra merasa terusik dalam tidurnya saat Gilang menciumi keningnya dan mengelus pipi Sandra.
"Eungghhhh.. " Sandra mulai membuka mata.
"Hay sayang, sudah jauh merasa lebih baik?" Tanya Gilang.
Sandra yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya mengangguk kemudian menangis kembali. Gilang memaklumi hal itu, mungkin Sandra masih merasa sakit hati.
"Heiii udah dong yang, ada aku yang selalu sama kamu dan akan membela kamu. Ada mama, nenek, papa dan Galang juga yang." Ucap Gilang menenangkan Sandra.
"Apa mereka tahu?" Tanya Sandra.
"Ya mereka tahu dan mereka terkejut dengan hal itu."
"Mas maaf ya membuat hubunganmu dan keluarga kak Selvi renggang." Ucap Sandra di sela - sela tangisannya.
"Heyyyy engga papa, mas udah menahan agar tidak lepas kendali ke mama Selvi tapi kali ini mas engga bisa diem karena isteri mas di caci maki." Gilang mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih mas. Aku merasa menyesal menerima semua ini tetapi sekarang ada mas dan keluarga mas yang menyayangiku seperti anak sendiri. Makasih mas." Ucap Sandra yang kini memeluk Gilang.
"Heyyy kamu sudah tanggung jawab mas, dan mas merasa kamu harus dilindungi. Mama dan nenek dan semuanya sayang sama kamu." Ucap Gilang.
"Apa mas merasa aku perusak hubungan mas dna kak Selvi?" Sandra menatap Gilang.
"Mas merasa kamu anugerah dari sang pencipta untuk memenuhi hatiku yang mulai kosong." Ucap Gilang yang menatap dalam ke amta Sandra.
Sandra yang mendengar itu tentu saja bahagia. Sandra mendekatkan wajahnya dan Gilang kemudian mengecup bibir Gilang. Gilang yang mendapat momen tersebut langsung memeluk Sandra agar ciuman mereka tidak lepas.
****
Keesokan harinya Selvi datang ke rumah mertuanya dan Gilang sama Selvi belum turun ke bawah. Selvi masuk ke ruang baca sang mertua.
"Selvi jujur mama kecewa sama kamu, mama sudah mewanti kamu tapi apa boleh buat omongan orang tidak bisa kita cegah ketika orang tersebut tidak suka." Ucap sang mama Jessica.
"Ma maaf karena aku tidak membela Sandra, aku sudah memperingatkan tante dan sepupuku tetapi mereka tetap mencecar Sandra maaf ma." Ucap Selvi merasa bersalah.
"Sel kami maafkan tetapi untuk kamu membawa Sandra ke acara keluarga kamu kami tidak memperbolehkan lagi." Ucap papa mertua Selvi.
Kini Selvi dan Sandra duduk bersama di teras belakang rumah sambil melihat taman. Mereka berdua masih sama - sama terdiam. Selvi mencoba merangkai kata - kata untuk meminta maaf ke Sandra.
"Sandra kakak mau minta maaf atas mama, tante, dan Beta San." Ucap Selvi kepada Sandra yang masih diam saja.
"Kak bagi aku dihina seperti itu sudah biasa, tetapi kemarin benar - benar membuat aku takut dan terluka. Aku sampai di titik ini kakak yang meminta dan aku menjalankan dengan setulus hatiku, jadi aku mohon untuk kakak tong beri pengertian kepada keluarga kakak." Ucap Sandra tanpa melihat ke arah Selvi.
"Maaf kan kakak juga yang tidak langsung membela kamu karena kakak sudah muak dan capek dengan tante dan Beta." Adu Selvi kepada Sandra.
"Aku memahami kakak, tetapi aku tidak akan mentolerir kejadian seperti ini lagi kak." Ucap Sandra dan disetujui Gilang.
"Iya kakak juga sudah berbicara ke tante dan Beta serta mama." Ucap Selvi.
"Aku juga mau minta maaf ya kak bila menyinggung perasaan kakak." Ucap Sandra kepada Selvi karena dia merasa bersalah juga.
Setelah berbincang dengan Selvi kini Sandra sedang meminum teh dengan mama Andini.
"Gimana sayang kamu udah oke?" Tanya mama Andini mengenai suasana hati Sandra.
"Alhamdulillah sudah lebih baik ma." Ucap Sandra kepada mama Andini.
"Mama harap kamu tidak mendengarkan dan memasukkan omongan - omongan yang jelek tentang kamu. Kamu kini menjadi bagian dari keluarga Wijaya dan kamu punya kita yang siap membela kamu dan menyayangimu. Mama sangat menyayangimu seperti putri mama sendiri sayang." Ucap mama Andini yang kemudian memeluk Sandra.
"Makasih ya ma sudah menerima Sandra, Sandra jadi merasakan kasih sayang mama kembali. Sandra juga sayang kalian." Kini Sandra dapat menangis dipelukan mamanya.
****
Seminggu setelah kejadian itu kini Sandra dan Nana akan bertemu. Tadi Sandra sudah berpamitan ke Gilang bila ingin keluar bersama Nana. Sandra sedang memilih pakaian, mulai saat ini Sandra akan memakai baju dari brand terkenal dunia agar statusnya tidak dijadikan bahan hinaan orang seperti kejadian minggu lalu.
Sandra ingin mengendarai mobil sendiri tetapi Gilang melarang itu, sedangkan sopir di rumah sedang tidak ada semua. Alhasil Gilang menyuruh Galang untuk mengantar Sandra.
"Hay sorry ya Na, soalnya tadi aku ada debat dikit dengan mas Gilang." Sandra menghampiri Nana dan memeluknya.
"Aduhh tenang aja kali San, aku juga baru datang kok. Kok ada Lo sih." Ucap Nana ketika melihat Galang.
"Gue lagi jagain kakak ipar sama calon istri gue." Ucap Galang yang kini duduk di samping Nana.
Nana tidak mengucapkan apa - apa lagi karena ia lelah apabila nanti berdebat lagi dengan Galang. Nana kini beralih kepada Sandra.
"Gimana keadaan kamu, kamu baik kan San?" Tanya Nana khawatir kepada Sandra.
"Alhamdulillah sekarang baik Na, awalnya aku merasa bersalah kepada keluarga kak Selvi tetapi ketika mengingat mereka menghina aku begitu aku jadi kecewa, terapi alhamdulillah ada keliarga mas Gilang yang sayang aku." Ucap Sandra kepada Nana sahabatnya.
"Apa kak Selvi engga membela kamu?" Nana bertanya kembali.
"Kak Selvi hanya menegur Tantenya dan Beta selebihnya ia diam. Itulah yang membuat aku merasa kecewa juga Na. Kak Selvi yang menyeret aku masuk dalam rumah tangganya tetapi dia diam saja." Ucap Sandra kepada Nana.
Di sini Galang hanya memainkan ponsel berpura - pura saja, tetapi sebenarnya dia merekam percakapan kedua sahabat tersebut agar nanti dapat dikirim ke Gilang.
"Yaampun kasihan kamu San, kalau aku jadi kamu akan aku habisin itu orang yang hina diri kita." Ucap Nana marah.
"Udahlah Na itu kan udah masalah kemarin biarin jadi masa lalu dan pembelajaran kita juga." Ucap Sandra menenangkan Nana.
Galsng kemudian bilang ingin ke kamar mandi sebentar, Gilang juga meninggalkan ponselnya yang merekam percakapan antara kedua sahabat tersebut. Setelah Galang pergi Nana kemudian berbicara pelan terhadap Sandra.
"San aku mau kasih tahu sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan terkejut ya. Beberapa hari lalu aku lihat kak Selvi dan seorang cowok berada di hotel kak Andre." Cerita Nana ke Sandra.
"Kak Selvi dengan siapa Na? Ah kamu pasti salah lihat Na." Sandra mencoba menyangkal cerita Nana.
"Aku udah cek data pemesan dan kak Selvi memesan itu San. Aku juga engga tahu dia sama siapa, cowoknya kaya sih kayanya San." Ucap Nana.
"Terus Gimana kamu sama kak Gilang?" Tanya Nana.
****
Gilang kini tengah pusing - pusingnya membaca dokumen kerjasama antar beberapa perusahaan. Gilang mendengar ponselnya berbunyi dan terlihat 2 pesan dari Galang yang mengirimkan rekaman pembicaraan Sandra dan Nana.
Gilang yang membaca pesan bahwa ini merupakan percakapan Sandra dan Nana lalu mencoba mendengarkannya. Sampai dimana Nana menjelaskan tentang Selvi, Gilang merasa terkejut dan marah. Ternyata Selvi sudah berani melangkah terlalu jauh. Ketika lagi marah Gilang mendengar penuturan Sandra yang membuat hatinya merasa lega dan berbunga.
"Terus Gimana kamu sama kak Gilang?"
"Maksud kamu gimana? Aku sama mas Gilang baik kok."
"Ck maksudku kamu udah buat debay?"
"Nana pertanyaannya. Ya sudah waktu bulan madu dan kemarin."
"Awwww yaampun semoga cepat isi ya biar aku punya ponakan yang cakep."
"Ckkk buat sendiri sama Galang."
"Mulutnya kalau berbicara."
"Tapi gimana kamu suka sama kak Gilang?"
"Kamu tahu Na, aku suka sama mas Gilang sudah lama tetapi hanya bisa menyukainya dalam diam dan sekarang aku sudah jatuh cinta dengan dia dan keluarga, hanya satu yang aku takutkan Na, bahwa mas Gilang akan mengusir aku setelah aku memberinya anak."
"Kamu harus yakin sama kak Gilang dan bila kamu nanti diusir sama kak Gilang kamu bisa datang ke aku kita rebut kembali anak kamu. "
"Makasih ya Na."
Gilang mendengarkan percakapan keduanya sampai selesai. Gilang juga merasa sedih ketika Sandra masih berpikir ia hanya dijadikan alat untuk mendapatkan anak. Ternyata omongan sang mama Selvi masih terngiang di Sandra, Gilang akan membuat perhitungan dengan mama Selvi dan membuat ia meminta maaf ke Sandra.