Sebelumnya .... Wanita itu melangkah mendekat dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya, sementara Chandra masih terpaku di tempat duduknya, takjub oleh kemunculannya yang tiba-tiba bagai mimpi di siang bolong. "Wajahmu seperti melihat penampakan, Chan," goda Livia, matanya berbinar menangkap ekspresi terkejut Chandra. "Liv, sejak kapan kamu kembali ke Indonesia?" tanya Chandra sambil berdiri, suaranya masih mengandung rasa tak percaya. Di benaknya, dia mengingat jelas bahwa Livia seharusnya masih berada di Belanda, membangun kehidupan dengan suami dan anaknya. Mereka pun duduk kembali, mengisi jarak yang telah terentang selama bertahun-tahun. "Aku tiba seminggu yang lalu," jelas Livia, wajahnya sedikit muram. "Papa sakit, tidak ada yang merawatnya." Chandra tersenyum, namun

