Mencari jawaban

2049 Kata
Teriakan memekakkan telinga wanita dengan mata membulat sempurna tersebut refleks membuat Keenan menutup daun telinganya. Bahkan ia melirik ke sekitarnya untuk melihat respon dari orang-orang yang ada di halte bus. Tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang kini menatap ke arahnya, ia menarik pergelangan tangan kiri wanita yang terlihat sangat terkejut tersebut untuk berjalan menjauh dari orang-orang. Ia memilih tempat yang ada di bawah pohon dan berniat untuk menjelaskan rencananya. Hingga suara dari wanita yang berjalan di sebelahnya sambil mengibaskan tangan, seketika membuatnya menoleh. "Lepaskan tanganku!" teriak Freya yang saat ini menatap tajam sosok pria tersebut. Ia benar-benar merasa kesal karena merasa seolah dimanfaatkan setelah berniat baik. Sementara itu, Keenan yang tidak ingin kesalahpahaman makin melebar, buru-buru menjelaskan apa yang saat ini ada di pikirannya. "Tolong jangan salah paham dulu, Nona. Aku akan menjelaskan semuanya. Dengarkan aku dulu, baru kau berkomentar." Sama sekali tidak ingin berurusan makin jauh dengan pria yang tidak dikenalnya dan malah terlihat sedang memerasnya, membuat Freya kini mengambil uang dua ratus ribu rupiah dari dalam dompetnya. Kemudian langsung menyerahkan ke telapak tangan pria tersebut. "Maafkan aku karena hanya memiliki uang segini. Jika kau tidak menerima permohonan maafku, buang saja atau kasih pada orang yang lebih membutuhkan." Berjalan meninggalkan sosok pria yang saat ini hanya diam saja dengan menunduk ke arah telapak tangan. Sementara itu, Keenan yang saat ini mengangkat uang dua lembar tersebut hanya bisa terbahak saat memikirkan ia malah terlihat seperti orang yang tidak punya harga diri. "Astaga, jadi harga diriku hanya senilai uang dua ratus ribu? Sialan! Aku tidak terima penghinaan ini!" Tidak ingin membuang waktu karena merasa telah dihina harga dirinya oleh wanita yang baru ditemuinya, Keenan berlari mengejar sosok wanita dengan memakai celana panjang berwarna biru dan atasan lengan panjang berwarna peach yang saat ini tengah berjalan menyusuri trotoar. Kali ini, ia tidak menahan pergelangan tangan karena sudah mendaratkan tangannya pada pundak wanita itu. "Tunggu! Aku belum selesai denganmu. Jadi jangan pergi!" Keenan masih menatap intens sosok wanita yang belum berniat untuk menoleh ke belakang. Seolah tidak ingin melihatnya, sehingga ia memilih berjalan ke depan dan kini berdiri di hadapan wanita yang sama sekali tidak diketahui namanya tersebut. "Dengarkan aku dulu dan jangan menyela pembicaraan orang lain sebelum selesai. Bukankah di sekolah diajarkan tidak boleh menyela pembicaraan orang? Kau pernah sekolah, kan? Atau kau langsung besar dan tidak pernah makan bangku sekolah?" Hanya embusan napas kasar yang menjadi saksi bahwa saat ini Freya benar-benar merasa sangat kesal. Namun, ia tidak ingin urusan semakin panjang dengan pria yang mengunci tatapannya. Pada akhirnya ia memilih untuk memberikan kode pada pria yang berdiri menjulang di hadapan dengan mengibaskan tangan. 'Makan bangku sekolah? Memangnya aku sedang debus?' umpat Freya untuk mengungkapkan kekesalannya. Merasa mendapatkan sebuah peluang untuk menjelaskan, akhirnya Keenan kini mulai menjelaskan semuanya. "Jadi, aku sebenarnya ingin meminjam uang sepuluh juta padamu untuk biaya hidup aku selama tinggal di Jakarta. Sebenarnya di dalam dompetku tadi ada uang segitu. Uang itu akan kugunakan selama aku mencari pekerjaan di sini. Namun, saat ini aku tidak mempunyai uang sepeser pun." Untuk membuat aktingnya semakin terlihat meyakinkan, Keenan meraih uang yang ada di saku celananya. Kemudian menunjukkan ke arah wanita yang kini sedang menatapnya. "Uangku tinggal segini. Bagaimana mungkin aku bisa hidup di Jakarta dengan uang lima puluh ribu? Mungkin aku akan berakhir menjadi seorang pengemis. Padahal aku berpamitan pada keluargaku untuk bekerja di perusahaan yang ada di Jakarta. Bahkan mereka sampai rela meminjam uang untuk biaya hidup aku di Jakarta. Mereka berpikir aku akan bisa membayar utang setelah mendapatkan gaji nanti." Respon Freya saat ini hanya bisa memijat pelipisnya setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari sosok pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut. Antara iba karena kasihan dan juga menganggap pria itu bodoh, tidak bisa mewakili perasaannya saat ini. Sebenarnya, ingin sekali ia mengeluarkan umpatan untuk membuat pria itu sadar dengan kebodohannya. Namun, ia merasa tidak tega karena kasihan pada pria yang baru saja mendapatkan sebuah kemalangan tersebut. "Aku turut berdukacita pada nasib burukmu. Namun, bukan berarti aku akan menolongmu dengan meminjamkan uang sepuluh juta padamu." Kali ini, Keenan merasa kesal karena wanita yang menyebabkan kemalangannya tidak mau bertanggungjawab dengan meminjamkan uang padanya. "Jadi kau tetap tidak mau membantuku setelah aku menjelaskan semuanya padamu? Astaga, di mana hati nuranimu sebagai sesama manusia? Atau kau adalah seorang wanita yang pelit karena takut aku tidak akan mengembalikan uangmu?" Belum selesai Freya menjelaskan, tetapi sudah dipotong oleh sosok pria tersebut, sehingga membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Refleks ia langsung mengarahkan pukulan pada lengan kekar di hadapannya untuk mengungkapkan kekesalannya. "Iish ... bukan seperti itu! Astaga, baru kali ini ada orang pinjam uang seperti seorang rentenir yang menagih utang. Bukankah kau tadi bilang jangan menyela pembicaraan? Jadi, sekarang diam dan dengarkan aku berbicara!" Meskipun pukulan dari sosok wanita dengan tatapan tajam itu pada lengannya tidak terasa sakit sama sekali, tetapi Keenan lagi-lagi dibuat shock karena seumur hidupnya, baru kali ini ada wanita yang berani memukulnya. Selama ini, para wanita selalu berlomba-lomba untuk bersikap lembut, elegan dan anggun di hadapannya. Seolah ingin menunjukkan kesempurnaan di hadapannya. Tentu saja agar ia terpesona dan memilih salah satu di antara para wanita yang menurutnya sangat munafik, yaitu hanya mengincar hartanya saja. Apalagi di zaman sekarang, banyak wanita yang berkoar-koar di sosial media bahwa di dunia ini tidak ada satu pun wanita yang tidak matreliastis karena itu adalah realistis. Prinsip hidup seorang wanita yang dianggap malah membuatnya semakin ilfil dan muak pada tipe-tipe yang seperti itu, sehingga ia ingin berpetualang dengan memiliki sebuah keyakinan bahwa suatu saat nanti akan menemukan sosok impiannya saat menyamar. 'Wanita ini sangat unik sekali karena dia bersikap apa adanya di hadapanku. Bahkan baru beberapa saat yang lalu bertemu, dia bisa bersikap layaknya dengan seseorang yang sudah kenal lama saja. Tanpa bersikap jaga image agar orang lain menganggapnya wanita sempurna,' lirih Keenan yang saat ini mengangkat tangannya ke atas seperti seseorang yang ingin menyerah. "Maaf ... maaf. Jangan memukuliku lagi, sakit ini! Kau seperti tukang pukul saja." Keenan berakting mengusap tangannya yang tadi dipukul oleh sosok wanita dengan wajah masam tersebut. "Tadi pipi, sekarang tanganku pun jadi korbannya." "Habisnya kau membuatku kesal dari tadi. Aku pun baru kali ini bertemu dengan seorang pria menyebalkan sepertimu. Tiba-tiba menuduh dan sekarang malah mau memeras. Bukankah itu sangat konyol? Jika orang lain, kau mungkin sudah dilaporkan ke polisi karena memeras," sarkas Freya dengan geleng-geleng kepala saat tidak habis pikir dengan cara berpikir pria di hadapannya. "Bukankah sudah kubilang tadi, pinjam? Aku sama sekali tidak pernah ada pikiran memeras orang. Aku adalah orang baik-baik, Nona. Jangan asal menuduh!" rengut Keenan yang ingin menjernihkan pikiran wanita dengan tuduhan tidak berdasar tersebut. Bahkan ia kini terlihat berkacak pinggang karena merasa sangat kesal. Dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk meluapkan amarahnya karena tidak mungkin ia memukul seorang wanita yang memantik emosinya. "Sabar ... sabar, orang sabar disayang Tuhan." Keenan beralih mengusap dadanya yang bidang. Berharap perbuatannya itu bisa meredakan emosi yang memuncak dalam jiwanya. Hal yang berbeda kini dirasakan oleh Freya. Entah mengapa melihat sikap sosok pria di hadapannya tersebut malah membuatnya ingin tertawa, sehingga saat ini ia sudah terkekeh geli sambil memegangi perutnya yang rata. "Astaga, lucu sekali kau ini. Memang benar sih, orang sabar disayang Tuhan. Mungkin yang terjadi padamu hari ini termasuk cobaan untuk menguji seberapa besar kesabaranmu. Mengenai masalahmu yang kehilangan dompet dan uang sepuluh juta, aku benar-benar turut berdukacita. Aku pun tidak bisa mengganti uangmu yang hilang dan juga tidak bisa meminjamkan uang sepuluh juta." "Seperti yang tadi kubilang, aku bukan seorang nona muda dengan kekayaan tujuh turunan karena hanya berasal dari keluarga miskin yang punya banyak utang. Aku hanya bekerja di salah satu perusahaan yang ada di sini dengan gaji yang selalu aku kirimkan pada orang tuaku. Jadi, aku hanya menyimpan uang untuk hidup selama satu bulan." Keenan yang saat ini hanya bisa membuka mulut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, merasa terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya tersebut. Untuk kesekian kalinya ia lagi-lagi mendapatkan sebuah kejutan dari wanita yang ada di hadapannya. 'Di saat para wanita yang kukenal asyik menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang branded, dia malah sibuk bekerja dan setelah mendapatkan gaji, langsung dikirimkan kepada orang tuanya. Jadi, seperti ini kehidupan orang-orang kelas bawah?' 'Selalu sibuk bekerja dari pagi sampai sore dan menunggu sampai gajian. Namun, setelah gajian tidak bisa menikmati karena memikirkan nasib keluarga di kampung. Apakah semua wanita yang berasal dari keluarga kurang beruntung selalu seperti wanita ini?' lirih Keenan yang lamunannya buyar seketika begitu mendengar suara wanita yang masih belum beranjak dari posisinya. "Aku memang tidak bisa memberikanmu uang, tetapi akan membantumu untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal sementara. Bagaimana?" tanya Freya yang mencoba untuk mencari jalan tengah dari kemalangan yang dialami pria yang seperti menimbang-nimbang tawarannya. "Lalu, bagaimana dengan makanku setiap hari? Aku bisa mati kelaparan nanti karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Oh ya, bukankah aku harus membayar tempat tinggal juga nanti?" Keenan kini masih tidak mengalihkan pandangannya karena semakin merasa tertarik dengan sosok wanita yang seolah menjadi dewi penolong untuknya. Di sisi lain, Freya lagi-lagi harus bersabar dengan sikap pria yang seperti tidak tahu diri tersebut. "Untuk masalah kos nanti, aku akan membayarnya, tetapi kuanggap ini adalah utang dan saat nanti mendapatkan gaji, harus kau kembalikan. Sedangkan untuk urusan makan, nanti aku akan cari pinjaman dulu. Uangku hanya tersisa untuk makan selama dua minggu sebelum gajian." 'Baru kali ini aku pinjam uang, padahal dari dulu sama sekali tidak menyukai soal utang piutang. Tujuanku datang ke Jakarta karena ingin menyelesaikan masalah utang, tetapi sekarang aku malah berniat untuk menambah utang. Semoga nanti dia mengembalikan uangku karena jika tidak, aku benar-benar stres nanti,' lirih Freya yang saat ini ingin mengumpat, tetapi tidak bisa. Keputusan berani yang menunjukkan kebaikan hati, membuat sudut bibir Keenan terangkat ke atas. Menandakan ia merasa senang sekaligus lega karena satu masalahnya telah selesai, sehingga ia tidak perlu untuk kembali ke Mansion dan penyamarannya akan tetap berlanjut. Kini, ia mengulurkan tangannya ke arah sosok wanita yang ingin diketahui namanya. "Oke, aku menerimanya. Namun, sebelum itu, sepertinya kita perlu berkenalan dulu. Aku Keenan dan kau?" Freya hanya menatap ke arah tangan yang menggantung di udara tersebut, ia sama sekali tidak berniat untuk membalas uluran tangan pria yang menurutnya tidak tahu berterima kasih. "Panggil saja aku Freya." Merasa tidak mendapatkan sambutan, Keenan kini menurunkan tangan dengan sesekali mengibas-ngibaskannya. Seolah sedang mengurangi rasa malu saat uluran tangannya dicueki oleh wanita yang kini telah diketahui namanya tersebut. 'Jadi, nama wanita ini Freya? Sepertinya dia masih marah padaku soal yang tadi, sehingga tidak membalas uluran tanganku. Sialan, baru kali ini aku mengulurkan tangan pada seorang wanita dan hasilnya ditolak seperti ini. Dia tidak mungkin melakukan ini padaku jika mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Mungkin kau malah akan bersikap seperti para wanita munafik itu yang seolah ingin menyembah kakiku agar mau menerima kalian,' umpat Keenan yang kini beralih menatap ke arah sosok pria, tak lain adalah pelayannya. Ia kini melambaikan tangan agar pelayannya yang dari tadi melihat interaksi bersama wanita itu agar datang mendekat dan seperti perintahnya, pria yang lebih muda darinya tersebut sudah berjalan ke arahnya. Rudi yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya pada majikannya, kini buru-buru berjalan menghampiri pria yang sangat dihormati tersebut. Tentu saja dengan beragam pertanyaan yang kini menari-nari di kepalanya atas apa yang dibahas oleh majikan dan wanita itu. 'Sebenarnya apa yang dibicarakan oleh tuan muda dengan wanita itu. Sepertinya tuan muda telah memaafkan wanita yang sudah berani menamparnya tadi? Sebenarnya siapa wanita itu? Bagaimana bisa ada wanita sekeren dia? Wajahnya pun sangat cantik dan keibuan,' lirih Rudi yang langsung membungkukkan badannya di depan majikannya. "Iya, Tuan muda. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Rudi yang langsung membekap mulutnya karena tersadar dari kebodohannya saat mendapatkan tatapan tajam penuh kilatan api dari majikannya. 'Astaga, aku keceplosan. Aku benar-benar lupa kalau tuan muda sedang menyamar menjadi orang miskin. Dasar bodoh kau Rudi!' umpat Rudi yang merutuki kebodohannya. Freya memicingkan mata dengan kerutan kening terlihat jelas di wajahnya. "Tuan muda? Kau memanggilnya tuan muda? Memangnya dia tuan muda? Siapa kalian sebenarnya?" Keenan yang merasa sangat marah pada pelayannya, tadinya ingin mengarahkan tendangan pada kaki pria di depannya. Namun, ia tidak bisa melakukannya saat mendengar pertanyaan dari wanita dengan tatapan menyelidik ke arahnya. "Dasar pelayan tidak berguna! Astaga, rasanya aku benar-benar ingin memukul kepalanya agar bisa sedikit lebih pintar,' gumam Keenan yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari jawaban atas pertanyaan wanita di depannya. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN