Beberapa saat yang lalu, Keenan dan pelayannya baru saja keluar dari toko tanpa bisa membeli apapun. Dengan langkah kaki panjangnya, mereka berjalan menyusuri trotoar menuju ke arah halte bus yang tadi sempat dilihatnya.
Keenan yang merasa sangat kesal pada pelayannya karena tidak membawa uang sama sekali ketika dompet terlupa, membuatnya melirik dan mengarahkan tinjunya pada lengan kekar itu.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan tadi? Sampai-sampai kau lupa membawa dompetmu? Kalau begini, bukankah kau sama sekali tidak ada gunanya untukku? Jika kau bukan anak dari ayahmu, sudah kutendang kau hari ini!"
Sementara itu, Rudi yang dari tadi hanya merasa sangat bersalah, hanya menundukkan kepala dan merutuki kebodohannya. Namun, ia tidak ingin membuat majikannya semakin marah jika tidak berkomentar apapun.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana dengan rencana Anda? Apakah kita kembali saja ke Mansion sekarang karena tidak mempunyai uang sama sekali?"
Merasa apa yang dikatakan oleh Rudi tidak membuatnya setuju, kini Keenan mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan dilihatnya beberapa orang sudah duduk di halte bus dan tidak menyisakan tempat sama sekali untuknya sekedar beristirahat.
"Aku ingin berpikir sebentar. Kita ke sana saja!" Tunjuk Keenan yang mengarahkan jarinya ke arah halte bus di seberang jalan.
Tentu saja karena ia sudah tidak pegang uang, tidak memungkinkan untuknya naik taksi. Ia hanya mengantongi sedikit uang, yaitu lima puluh ribu rupiah. Merupakan kembalian saat tadi membeli sesuatu. Bahkan kini, ia terlihat mengambil uang lembaran berwarna biru tersebut dan memikirkan apa yang bisa dilakukannya dengan uang yang menurutnya receh tersebut.
Keenan kini berjalan menyeberang dan melirik sekilas ke arah pelayannya. "Apakah uang ini cukup untuk naik bus, Rud?"
"Tentu saja cukup, Tuan. Namun, kita mau naik bus ke mana? Maksud saya, tujuan Anda ke mana?" tanya Rudi yang ingin memastikan hal yang kini menari-nari di otaknya. Ia merasa sangat penasaran pada majikannya yang memilih untuk menyamar sebagai orang miskin hanya demi mencari seorang calon istri.
'Orang kaya itu sangat aneh. Di saat orang miskin ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang kaya, ini yang kaya malah kurang kerjaan ingin menyamar menjadi orang miskin. Ada-ada saja, Tuan muda,' lirih Rudi yang saat ini sudah berdiri di sudut karena tidak mendapatkan tempat duduk.
"Aku belum tahu, yang penting naik bus saja dulu," jawab Keenan yang merasa sangat bosan melihat ke sekeliling.
Ia pun berjalan ke arah kanan dan melihat botol plastik air mineral yang tak jauh darinya. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat orang-orang tidak bertanggungjawab yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
'Inilah bedanya kehidupan di negara sendiri dan luar negeri. Orang-orang di negara ini sama sekali tidak bisa hidup disiplin dan selalu berbuat sesukanya. Kapan negara ini bisa seperti negara luar yang maju jika orang-orangnya pemalas seperti ini. Membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan saja seolah berat bagi mereka.' umpat Keenan yang saat ini semakin merasa kesal melihat sampah di bawah kakinya.
Sebenarnya, ia ingin mengambil botol plastik bekas air mineral tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Namun, suasana hatinya yang sedang tidak baik, membuatnya malas melakukannya. Ia merasa butuh pelampiasan dan meluapkannya dengan mengarahkan kakinya untuk menendang botol plastik air mineral tersebut.
Begitu ia menendangnya, kepalanya yang dari tadi menunduk, kini mengikuti arah tendangannya. Namun, ia membulatkan kedua mata saat melihat sosok wanita yang menjadi penyebab kemalangannya sudah berjalan ke arahnya dan terkena botol plastik kosong bekas air mineral yang ditendangnya.
Meskipun ia melihat wanita itu refleks langsung menutup wajahnya dan hanya mengenai dahi. Refleks ia mengumpat untuk menanggapi apa yang dialami oleh wanita itu.
Keenan kini berjalan menghampiri sosok wanita yang sudah membuka telapak tangannya dan mengusap dahi dengan sudut bibir melengkung ke atas karena menahan rasa sakit. Ia tahu bahwa botol plastik itu tidak terlalu menyakiti dahi wanita itu, sehingga hanya bersikap datar dengan memicingkan mata. Merasa heran kenapa bisa bertemu lagi dengan wanita itu.
"Apa kau sengaja membuntutiku? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini? Kau bukan seorang penguntit, kan?" tanya Keenan dengan tatapan tajam penuh selidik. Sekilas ia melirik ke arah kantong plastik yang teronggok di trotoar.
'Itu ... bukankah pakaian yang tadi kupilih? Kenapa dia membelinya? Apa dia membeli untuk saudaranya?' lirih Keenan yang saat ini tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada kantong plastik besar yang berisi pakaian laki-laki dan diketahuinya itu yang tadi dipilihnya.
Sementara itu, Freya yang baru saja mengusap keningnya saat terasa sedikit panas terkena botol plastik, mengangkat pandangannya dan menatap tajam ke arah sosok pria yang menjadi penyebab kemalangannya, tetapi malah menuduh untuk ke sekian kalinya.
"Tolong jaga mulut, Anda! Jika Anda ingin bermain bola, sebaiknya ke lapangan saja. Perbuatan Anda yang menendang sembarangan bisa membahayakan orang lain. Perlu kutekankan di sini, bahwa saya bukanlah komplotan pencopet dan juga penguntit."
Freya kini sedikit membungkukkan badan untuk mengambil kantong plastik berisi pakaian laki-laki yang tadi dibayar olehnya dan langsung menyerahkan ke tangan pria itu. "Anggap ini sebagai permohonan maaf saya karena tidak sengaja menabrak Anda tadi. Permisi!"
Tidak ingin semakin dikuasai oleh amarah, Freya kini berjalan meninggalkan sosok pria yang selalu memantik amarahnya. Ia berharap ini adalah pertemuan pertama dan terakhirnya bertemu dengan pria yang dianggapnya sangat menyebalkan tersebut.
Ia berniat untuk menyeberang karena akan naik angkot untuk kembali ke tempat kos. Kini, pandangannya sesekali melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kendaraan sepi saat menyeberang. Begitu di rasanya sepi, ia berniat untuk menyeberang dengan melangkahkan kaki jenjangnya ke arah jalanan utama.
Namun, baru satu langkah ia berjalan, pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang dan membuatnya refleks langsung menoleh ke belakang dan bisa melihat sosok pria menyebalkan yang membuatnya kesal telah menghentikan langkahnya.
"Kau? Ada apa lagi? Apa masih kurang permohonan maaf dariku?" Freya mengarahkan tatapan tajam penuh kilatan api karena merasa sangat kesal dan marah pada pria yang kini masih menahan tangannya.
Beberapa saat yang lalu, Keenan merasa sangat terkejut dengan pemberian dari sosok wanita yang tadi dihinanya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika wanita yang terlihat sangat kesal padanya itu malah membayar semua pakaian yang ingin dibelinya.
Merasa sangat aneh sekaligus penasaran pada sosok wanita yang dianggapnya bodoh karena terlalu baik hati saat mengeluarkan uang untuk membayar pakaiannya, ia merasa ingin menanyakan sesuatu yang saat ini memenuhi kepalanya. Refleks ia buru-buru mengejar wanita itu dan menghentikannya.
'Wanita ini terlalu bodoh atau terlalu baik? Dia membayar semua pakaian ini hanya demi meminta maaf padaku? Sepertinya dia benar-benar tidak bersalah dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pencopet itu. Jika benar begitu, sepertinya aku bisa mengetes dengan memanfaatkannya,' lirih Keenan yang telah berhasil menghentikan sosok wanita dengan tatapan tajam tengah mengumpatnya.
"Nona, tunggu! Apa benar semua pakaian ini untukku? Maafkan aku jika sikapku tadi keterlaluan padamu. Aku hanya sedang emosi saat kehilangan semua uangku, sehingga menuduhmu tadi. Sekarang aku tahu kalau kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan pencopet itu. Maaf dan terima kasih untuk pakaiannya."
Keenan bisa melihat arah pandangan wanita di depannya yang saat ini mengarah pada tangannya. Refleks ia langsung melepaskan genggamannya. "Aah ... maaf."
Sebenarnya, beberapa saat yang lalu, Freya benar-benar sangat kesal dan marah pada pria yang mempunyai wajah datar dan sikap dingin tersebut. Namun, mendadak kekesalannya berubah menjadi rasa iba saat pria itu mengingatkannya akan kemalangan yang baru saja dialami.
Sikapnya yang tadi tidak bersahabat seketika berubah menjadi lebih baik saat melihat wajah pria di depannya tidak menyebalkan seperti beberapa saat yang lalu.
"Baiklah, sekarang anggap saja masalah hari ini selesai. Jadi, jangan menuduhku lagi seperti yang kau lakukan tadi karena itu adalah sebuah pemfitnahan dan bisa dibilang pencemaran nama baik kalau dikalangan para artis."
"Untung saja aku bukan artis karena mungkin akan menuntutmu jika punya banyak uang. Sayang sekali aku bukan salah satu deretan artis terkenal maupun anak orang kaya. Jadi, kau bebas dan aman. Kau tidak perlu merasa takut akan dipenjara atau kehilangan banyak uang untuk membayar pengacara."
Penjelasan panjang lebar dari bibir sensual yang mengungkapkan kekesalan padanya tersebut malah membuat Keenan ingin tertawa saat mendengar kalimat terakhir wanita itu. Namun, ia sadar tidak bisa melakukannya karena ingin menghargai kebaikan wanita yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut.
Ia kini sedikit membungkukkan badan dan mengungkapkan hal yang dari tadi ingin disampaikan. "Terima kasih atas kebaikan, Anda Nona. Sekali lagi maafkan saya."
Sikap yang menurutnya sangat berlebihan dari pria yang masih membungkukkan badan di hadapannya, membuat Freya merasa sangat tidak nyaman. Apalagi ia hanya orang biasa yang tidak mempunyai sesuatu untuk dibanggakan selain harga dirinya.
"Jangan seperti itu dan satu lagi. Jangan memanggilku nona karena aku bukan seorang nona muda beruntung seperti cerita di novel-novel yang hidup bergelimang harta tanpa harus bekerja keras, tetapi uang tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan. Menurutku, itu hanya omong kosong karena tidak ada orang yang sukses tanpa bekerja keras."
Kini, Keenan sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menertawakan perkataan wanita yang dianggapnya sangat lucu dan menghiburnya tersebut. Selama ini, wanita yang dikenalnya selalu bersikap anggun dan elegan, seolah berlomba-lomba untuk menampilkan sebuah kesempurnaan agar ia jatuh cinta. Berbeda dengan wanita yang dianggapnya lain dari yang lain tersebut.
"Astaga, seumur-umur, baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang terlalu jujur sepertimu. Bukankah biasanya seorang wanita akan bertingkah sedikit jaim di hadapan para pria untuk pertama kalinya? Namun, kau adalah wanita pertama yang kutemui, sama sekali tidak seperti para wanita lain."
Kini, Freya pun ikut terkekeh geli saat mengingat kejadian beberapa saat lalu. "Iya, aku memang lain karena menampar pria yang sama sekali tidak kukenal." Menatap ke arah pipi putih pria dengan rahang tegas tersebut. "Bukankah yang tadi tidak sakit, kan? Aku tadi tidak mengeluarkan seluruh kekuatanku. Jadi, mungkin hanya terasa sedikit saja panasnya."
Refleks Keenan yang mengerti arah pembicaraan dari wanita di hadapannya, langsung mengarahkan tangannya untuk mengusap pipinya yang tadi ditampar. "Oh ... ini. Tidak sakit, sih. Memang hanya sedikit terasa panas. Jadi, seperti ini rasanya ditampar oleh seorang wanita. Ternyata sangat menyedihkan. Bukankah aku seperti seorang pecundang tadi?"
Freya hanya mengendikkan bahu saat menanggapi pertanyaan pria yang seolah ingin menjebaknya. Ia seperti merasa dijebak untuk menjelek-jelekkan pria itu. "Kau sendiri yang bilang, ya! Bukan aku, jadi jangan menyangkut-pautkan aku dengan hal yang hanya kau sendiri bisa menilainya. Maaf untuk tamparannya."
Saat ini, Keenan masih mengusap bekas tamparan di pipinya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa apa-apa. Namun, ia mendadak mempunyai sebuah ide dari hasil perbuatan tidak sengaja wanita di hadapannya.
"Mengenai tamparan ini, seharusnya bukan hanya permohonan maaf yang kudapatkan."
Dengan mengerutkan kening karena tidak mengerti arah pembicaraan dari pria yang baru ditemuinya hari ini, membuat Freya kini langsung mengungkapkan pertanyaan. "Lalu, memangnya kau mengharapkan apa dariku? Uang? Berapa?"
'Baru kali ini aku bertemu dengan seorang pria yang seperti tidak ada harga dirinya karena meminta ganti rugi uang untuk sebuah tamparan. Dia seperti gigolo saja karena memeras seorang wanita,' lirih Freya yang kini tengah menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Iya, aku butuh uang," jawab Keenan yang kini tegah mengamati reaksi dari wanita yang mulai bergerak membuka tas selempang di pundaknya.
"Berapa? Aku akan membayarmu," jawab Freya yang kini sudah mengambil dompet kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahunnya satu bulan lalu dari sang kekasih yang saat ini sedang dinas di luar negeri. Meskipun saat ini ia kembali mengumpat pria yang berdiri menjulang di hadapannya.
'Nah, benar kan dugaanku. Astaga, pria ini sepertinya adalah cowok matre yang suka morotin banyak wanita. Dia mungkin berpikir aku wanita yang banyak uang, padahal tiap bulan gajiku selalu habis karena kukirim ke kampung. Sepertinya bulan ini aku pinjam uang sama teman saja untuk jatah makan. Mimpi apa aku semalam, hingga bisa diporotin seorang pria dan aku tidak bisa menolaknya.'
Keenan yang masih menatap intens wajah penuh percaya diri wanita yang sudah mulai membuka dompet tersebut, merasa sangat aneh. Ia seolah tidak percaya ada wanita yang sama sekali tidak dikenalnya mau memberinya uang tanpa berpikir.
"Sepertinya kau punya banyak uang. Jadi, aku mungkin bisa meminta sedikit lebih sebagai ganti tamparanmu tadi."
"Iya, katakan saja berapa uang yang harus kukeluarkan untuk membayar satu tamparanku tadi," seru Freya dengan penuh kekesalan.
Tanpa membuang waktu, kini Keenan menyebutkan nominal rupiah yang dibutuhkannya untuk hidup selama sebulan saat penyamarannya. Ia butuh waktu sebulan untuk menyamar menjadi orang miskin demi ambisinya untuk menemukan wanita yang tulus mencintainya tanpa memandang harta dan tahta.
"Sepuluh juta. Aku butuh uang sepuluh juta."
"Apa?" teriak Freya yang kini langsung membulatkan kedua matanya saat merasa sangat terkejut dan tidak pernah menyangka jika pria di depannya adalah seorang pria tidak waras. "Apa kau gila!"
To be continued...