Keenan sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah penghinaan di hari pertamanya menyamar menjadi orang miskin. Ia benar-benar merasa nasibnya hari ini sangat sial karena bertemu wanita yang baru saja menampar wajahnya dengan cukup keras.
Meskipun itu tidak terasa sakit karena hanya meninggalkan sedikit rasa panas dan mungkin menyisakan cap telapak tangan di pipi putihnya. Semua itu karena ia memiliki kulit bersih mewarisi gen sang papa dan mamanya.
Dengan wajah penuh kemurkaan, Keenan mengarahkan tatapan tajam dengan netra pekatnya mengunci manik kecoklatan wanita itu. "Kau ... berani-beraninya menamparku setelah mencuri dompetku. Kau pasti telah bekerja sama dengan orang lain, bukan? Kau pasti sudah bekerja sama dengan orang itu agar melakukannya saat menabrakku tadi."
Puas mengungkapkan kemurkaan, ia mengamati suasana toko yang ada di sekitarnya, tentu saja untuk mencari cctv yang akan dijadikannya sebuah bukti dan membersihkan namanya. Masih dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah, Keenan beralih menatap ke arah security.
"Bukankah di sini ada cctv? Kenapa tidak memastikan apa yang kukatakan dengan memeriksa kejadian beberapa menit yang lalu? Jika kalian sudah melihatnya dan apa yang kukatakan hanyalah sebuah omong kosong, aku tidak keberatan mendekam di penjara."
Semua orang yang berdiri di hadapan pria dengan rahang tegas tersebut refleks saling ber-sitatap dan membenarkan semuanya. Mereka sampai melupakan hal penting karena dikuasai oleh amarah.
Termasuk sosok wanita yang tidak lain adalah Freya. Ia tadi yang tidak sengaja melihat sosok pria muda tengah ditendang kakinya oleh pria yang tadi ditabraknya, membuatnya merasa sangat iba dan berniat untuk menghentikan sikap arogan tersebut.
Namun, ia yang sama sekali tidak pernah menyangka malah disangkutpautkan dengan kejadian nahas pria itu, langsung murka dan tidak bisa tinggal diam karena telah difitnah.
Dituduh melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan, tentu saja membuat ia harus meluruskan semuanya. Namun, ia tidak bisa menahan kendali dirinya saat pria itu menatapnya dengan penuh kebencian saat menuduhnya. Refleks tangannya terangkat ke atas dan langsung mendarat dengan sempurna di pipi pria tersebut.
Freya refleks langsung menyetujui perkataan dari pria yang baru saja ditamparnya dengan cara menyahut dan menatap pria berseragam tersebut.
"Lebih baik kita lihat saja cctv di toko ini, Pak. Aku pun ingin membersihkan namaku dari tuduhan tidak berdasar yang dilayangkan oleh pria ini." Bahkan tatapan tajam masih diarahkan pria itu yang seolah sangat membencinya.
"Baiklah, kita pergi ke ruang utama untuk mengeceknya. Kalian berdua bisa ikut saya," ucap security yang ingin segera menyelesaikan semua kekacauan hari ini. Ia sadar jika ada masalah di toko, bisa-bisa dialah yang dipecat dan berakhir kehilangan mata pencaharian.
Dengan sangat santai Keenan berjalan mengekor di belakang pria dengan tubuh gempal tersebut. Bahkan saat ini, sudut bibirnya melengkung ke atas, ia merasa sangat percaya diri akan berhasil mengungkap kejahatan wanita yang berjalan di sebelahnya tersebut.
"Bersiaplah untuk berakhir di penjara, Nona. Sayang sekali cantik-cantik pencopet."
'Ternyata di dunia ini ada banyak wanita matreliastis dan sekarang aku menemukan wanita yang menghalalkan segala cara untuk mempunyai uang dengan cara mencuri. Astaga, mungkin ini yang sering dikatakan oleh orang-orang, bahwa dunia semakin tua,' lirih Keenan yang masih mengekor di belakang security.
Kalimat pedas bernada sindiran dari pria yang berjalan di sebelah kirinya, hanya ditanggapi Freya dengan geleng-geleng kepala. Ia yang sudah bisa menahan diri, tidak ingin tersulut emosi karena perkataan pria yang sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai dirinya. Ia memilih diam dan sama sekali tidak berkomentar apapun karena baginya, diam itu emas.
'Tidak perlu adu mulut sebagai pembenaran diri, Freya karena pandangan orang lain tidak penting. Sejatinya, yang tahu bagaimana dirimu hanyalah Tuhan dan dirimu sendiri.'
Kaki jenjang Freya kini melangkah mengikuti security yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan berukuran tiga meter tersebut. Dilihatnya ada monitor besar yang menampilkan video dari seisi toko. Tidak hanya itu saja, di sana bahkan ada satu pria yang berjaga di depan layar.
"Apa kau melihat ada seseorang yang melakukan pencopetan di toko ini beberapa saat yang lalu?" tanya security pada pria yang usianya jauh lebih muda darinya.
"Pencopetan? Saya tidak melihatnya? Memangnya ada?" tanya pria berseragam hitam yang menggaruk tengkuknya. Merasa bingung karena dari tadi ia mengamati layar di depannya. "Apakah itu terjadi saat tadi saya pergi ke toilet sebentar?"
Keenan yang ingin membersihkan namanya, tidak ingin membuang-buang waktu dan langsung berjalan mendekati pria yang masih tidak bergeser dari kursinya. "Tolong tunjukkan rekaman sekitar sepuluh menit yang lalu, saat aku masuk ke toko ini dan memilih baju!" Menepuk pundak pria yang seolah enggan melaksanakan perintahnya.
'Sialan, aku saat ini benar-benar sangat ingin menghancurkan toko ini. Sepertinya aku harus membeli toko ini untuk menampar para pegawai di sini yang sudah menghinaku. Termasuk wanita yang baru saja menamparku,' umpat Keenan yang menunggu hingga pegawai laki-laki itu segera memeriksa cctv.
Security memberikan sebuah kode, agar menuruti perintah dari pria tersebut dengan sebuah anggukan kepala.
Sementara itu, Freya masih tidak membuka mulut dan hanya mengamati layar yang menunjukkan seisi ruangan toko saat dipenuhi para pengunjung.
Akhirnya, pria yang bekerja untuk mengawasi di depan layar tersebut mulai mencari rekaman yang diinginkan pria di sebelahnya dengan memutar kejadian sepuluh menit lalu.
Sementara itu, Keenan langsung mengarahkan jari telunjuknya ke arah layar dan mengeluarkan suara baritonnya. "Benar sekali, aku yakin setelah aku berbicara dengan sepupuku ini kejadiannya. Kalian bisa melihatnya sebentar lagi, saat wanita ini tiba-tiba menabrakku."
Sontak saja semua orang kini tengah fokus mengamati layar di depannya, termasuk Freya yang juga merasa sangat kesal sekaligus penasaran dengan tuduhan yang diterimanya hari ini.
Kini, tampak layar yang menunjukkan kejadian beberapa menit lalu. Terlihat jelas saat sosok wanita yang asyik mengetik pada ponselnya sambil menunduk dan sama sekali tidak melihat kanan kiri ataupun depan, sehingga membuatnya tidak sengaja menabrak pria di depannya.
Di saat ia langsung menundukkan kepala ke bawah dan buru-buru mengambil pakaian, sementara pria yang ditabrak hanya diam sambil menunduk. Di saat bersamaan, ada seorang pria yang memakai kemeja lengan panjang berwarna biru secepat kilat mengarahkan tangan ke arah kantong belakang dan berhasil melakukan aksinya, yaitu mencuri dompet pria yang tadi telah dituduh melakukan sebuah kericuhan di toko.
Refleks senyuman menyeringai tampak jelas di bibir tebal Keenan yang kini langsung melirik sinis wanita dengan wajah terlihat sangat tenang tanpa ada raut kepanikan tersebut.
"Aku benar-benar tidak berbohong, bukan?" Mengarahkan jari telunjuknya pada wanita yang berdiri di sebelah kanannya. "Wanita ini pasti sengaja menabrakku, agar orang suruhannya itu bisa mengalihkan perhatianku saat mencopet dompetku."
Hanya embusan napas kasar yang mewakili perasaan Freya saat ini. Tidak ingin masalah itu bertambah besar dan panjang, ia menatap ke arah security untuk menanyakan pendapat pria itu.
"Bagaimana menurut, Anda? Apakah aku benar-benar dalang dibalik kejadian ini? Mungkin baginya, aku tidak berhak untuk membela diri karena dia sangat yakin aku mengenal pria itu."
Untuk beberapa saat, pria dengan badan gempal tersebut hanya diam. Seolah tengah memikirkan hal yang menurutnya perlu dilakukan penyelidikan.
"Begini, Nona. Kalau menurut pendapatku, yang terlihat di dalam kamera ini tadi adalah Anda terlihat benar-benar tidak sengaja. Namun, tuan ini sangat yakin bahwa Andalah yang melakukannya. Jadi, kalau menurutku, kita serahkan saja semuanya pada polisi. Aku akan memanggil polisi untuk melakukan penyidikan."
Freya yang sama sekali tidak merasa takut akan berhubungan dengan para polisi, langsung mengiyakan perkataan pria itu dengan sebuah anggukan kepala. Ia pun ingin membersihkan namanya yang seolah tercemar karena tuduhan pria itu. Apalagi ia suka berbelanja di toko itu karena harganya sangat bersahabat di kantong.
"Baiklah, lebih baik panggil saja polisi. Aku akan menunggu sampai mereka datang dan tidak akan kabur dari sini." Beralih menatap ke arah sosok pria yang saat ini terlihat aneh. "Bagaimana, Tuan? Apakah Anda puas sekarang? Aku tidak akan kabur dari sini dan akan mengikuti proses penyidikan polisi untuk kasus ini."
Keenan yang sama sekali tidak pernah berpikir bahwa security akan melibatkan para polisi, refleks membuatnya sangat kebingungan. Ditambah lagi dengan sikap percaya diri wanita yang terlihat sama sekali tidak takut jika melibatkan aparat.
'Wanita ini, kenapa dia terlihat sangat tenang? Seperti dia tidak melakukan kesalahan. Apakah dia hanya berakting sok tenang padahal di dalam hati sedang ketakutan? Ataukah dia memang benar-benar merasa tenang karena tidak ada hubungannya dengan pencopet yang mencuri dompetku?' lirih Keenan yang merasa sangat ragu dengan tuduhannya pada wanita di sebelahnya.
Merasa keberatan jika menghubungi para polisi yang banyak mengenalnya dan mungkin akan menggagalkan rencana penyamarannya menjadi orang miskin, membuat Keenan kini mengambil keputusan. Ia lebih baik menganggap kejadian ini selesai dan tetap melanjutkan penyamarannya daripada rencananya gagal karena kejadian hari ini.
Kini, Keenan menatap ke arah security dan wanita yang sama sekali tidak diketahui namanya tersebut. "Tidak perlu memanggil para polisi karena aku sangat malas berhubungan dengan aparat."
"Apalagi harus menghabiskan waktu lama di kantor polisi dan menyia-nyiakan waktu. Aku pun sedang buru-buru karena ada urusan. Biar masalah ini aku anggap selesai karena kalian semua sudah tahu kalau aku tidak bicara omong kosong."
Keenan kini berjalan keluar dari ruang kontrol tanpa menunggu jawaban dari security dan wanita yang dituduhnya tersebut. Selama berjalan, ia mengumpat kebodohannya karena sama sekali tidak menyadari ada pencopet yang mencuri dompetnya.
'Aku masih sangat hafal dengan wajah pria yang telah mencuri dompetku. Jika nanti aku bertemu dia di jalan, aku benar-benar akan menghabisinya. Berengsek!' umpat Keenan yang hanya bisa meluapkan amarahnya di dalam hati.
Ia berjalan menghampiri pelayannya dan mengarahkan dagu ke depan. "Ayo, kita pergi dari sini! Aku benar-benar sudah muak dengan tempat ini!"
Rudi yang merasa sangat bersalah karena menjadi pelayan tidak berguna yang tidak bisa membantu majikannya saat ditimpa kemalangan, hanya menganggukkan kepala karena bingung harus berkata apa.
Mereka berdua pun keluar dari toko pakaian dan tidak jadi membeli apapun. Bahkan tingkah mereka seperti seorang pengemis yang hanya berkeliling di toko tanpa bisa membeli satu pun pakaian.
Sementara itu, sosok wanita yang tidak lain adalah Freya merasa sangat bingung dengan tingkah pria yang dianggapnya sangat konyol dan berubah-ubah seperti bunglon tersebut. Baru beberapa saat yang lalu marah dan menuduhnya ada hubungannya dengan pencopet, tetapi tiba-tiba pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Bahkan permintaan maaf pun tidak didapatkan meskipun ia sama sekali tidak mengharapkannya. Sejujurnya, ia tadi merasa kasihan pada pria itu yang sama sekali tidak mempunyai uang setelah dompet dicuri. Namun, saat mendapatkan sebuah tuduhan tidak berdasar, seolah menghilangkan rasa ibanya.
Akhirnya ia berjalan keluar bersama dengan security dan tentu saja membicarakan pria yang dianggapnya aneh karena seperti ketakutan saat menyebut polisi. Namun, mereka hanya menebak-nebak saja tanpa menemukan jawabannya.
Freya sudah sampai di depan kasir dan membayar belanjaannya. Sekilas melirik ke arah beberapa pakaian yang tadi dijatuhkannya. Tentu saja ia sangat hafal dengan pakaian itu karena yang memungutinya tadi saat menjatuhkannya.
Entah mengapa ia merasa bersalah karena menjadi penyebab pria yang ditabraknya tadi kehilangan dompet. "Mbak, sekalian pakaian itu biar saya saja yang membayarnya."
Pegawai yang saat ini mengerutkan kening karena merasa aneh dengan perbuatan wanita yang tadi sempat dituduh pria itu, hanya menganggukkan kepala dan memasukkan pakaian pria itu ke kantung plastik dan mulai menunjukkan totalnya.
"Semuanya sembilan ratus lima puluh ribu, Mbak."
Freya membulatkan kedua mata begitu mendengar jumlah uang yang harus dikeluarkannya. Meskipun begitu, ia tetap mengambil dompet miliknya di dalam tas dan membayarnya.
'Astaga, banyak sekali dia beli baju. Memangnya mau buat apa baju sebanyak ini? Kenapa juga aku sangat bodoh membayarnya karena merasa bersalah? Padahal aku tadi tidak sengaja menabraknya. Uangku satu juta raib sudah,' lirih Freya yang kini terlihat lemah saat berjalan keluar toko baju tersebut.
'Anggap saja kamu sedang sedekah, Freya. Niat baik akan selalu mendapatkan sebuah balasan baik. Tenang saja, Tuhan bahkan berjanji jika ikhlas bersedekah, akan menggantinya dengan berkali lipat,' lirih Freya yang berusaha untuk membesarkan hatinya.
Merasa sudah jauh lebih tenang, Freya kini mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan pria yang tadi ditabraknya. "Ke mana mereka? Apa mereka sudah pergi? Cepat sekali jika itu terjadi. Lalu, mau kuapakan semua pakaian ini?"
Masih tidak menyerah, Freya kini berjalan menuju ke arah tempat pemberhentian bus. Berharap akan menemukan pria yang dicarinya. Benar saja, senyumannya seketika mengembang saat melihat sosok pria dengan badan tinggi tegap yang terlihat sedang menundukkan kepala dan menendang botol air mineral.
Namun, ia membulatkan kedua mata begitu melihat botol plastik tersebut menuju ke wajahnya dan membuatnya refleks langsung menutup mata dan merasakan nyeri di kening.
Sementara itu, hal yang sama dirasakan oleh Keenan saat melihat perbuatannya berhasil mengenai wajah seorang wanita yang masih sangat dihafalnya dan membuatnya mengumpat.
"Dasar wanita bodoh! Kenapa kau ada di depanku?"
To be continued ....