Mengetahui rahasia besar

1756 Kata
Beberapa jam sebelum kejadian Jack bertemu dengan sosok pria yang merupakan incaran kliennya. Jack merupakan seorang detektif swasta yang bekerja untuk mencari segala macam informasi untuk klien dan mendapatkan banyak uang saat berhasil menemukan segala rahasia rahasia yang dicari. Pria dengan badan agak sedikit gempal dan berkulit sawo matang baru saja menutup telpon dari wanita yang merupakan cinta pertamanya. Terlihat ia kini tengah mengembuskan napas kasarnya karena selalu lemah di hadapan seorang wanita yang bernama Lani Paramitha, merupakan teman kuliahnya dulu. Ia adalah seorang pria yang telah mempunyai seorang istri dan dikaruniai satu orang putri. Namun, ia sama sekali tidak bisa melupakan seorang wanita yang dari dulu sangat dicintai semasa kuliah. Meskipun sudah berusaha sangat keras untuk melupakan wanita yang diketahuinya lebih menyukai para berondong daripada yang seumuran, tetap saja ia tidak bisa. Ia sadar hanyalah seorang pria bodoh yang terobsesi pada kecantikan dan kemolekan tubuh Lani. Kini, ia bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya untuk menuju ke tempat kos yang baru saja dikirimkan alamatnya oleh sang wanita cinta pertama yang sama sekali tidak meliriknya dengan alasan tidak ingin membuat pertemanan menjadi rusak dan berakhir menjadi permusuhan. Bahkan ia selalu terngiang-ngiang perkataan dari Lani yang benar-benar membuatnya merasa frustasi saat menggantung perasaannya. Aku lebih baik kehilangan para berondongku daripada kehilangan teman sebaik dirimu. Jadi, jangan rusak pertemanan kita yang luar biasa ini. Jack mengacak frustasi rambutnya saat merasa kesal karena tidak bisa melupakan perkataan manis sekaligus menyesakkan d**a. Kalimat itu berhasil menjungkirbalikkan perasaannya dan tidak bisa move on. Bahkan ia melampiaskan semuanya dengan menikahi wanita lain. Berharap Lani akan merasa cemburu saat melihatnya menikah. Namun, yang terjadi benar-benar membuatnya merasa sangat menyesali keputusannya karena Lani sama sekali tidak peduli. Semenjak saat itulah ia merasa yakin bahwa wanita yang merupakan cinta pertamanya itu sama sekali tidak mempunyai perasaan padanya. Pada akhirnya, ia fokus pada keluarganya. Namun, pada suatu malam, ia mabuk dan menghubungi Lani. Kemudian wanita itu membawanya pulang ke apartemen dan saat pengaruh minuman beralkohol menguasainya, hampir memaksa Lani untuk bercinta dengannya. Namun, belum sempat ia melakukannya, pria muda yang merupakan simpanan Lani datang dan menghajarnya habis-habisan. Semenjak saat itulah, ia yang merasa sangat malu bertemu dengan Lani, tidak pernah menghubungi. Sampai tiba hari ini, wanita yang masih sangat dicintainya menghubungi untuk mencari informasi mengenai sosok pria misterius yang dicurigai dan menjadi incaran baru tersebut. Beberapa saat kemudian, Jack kini sudah berada di dalam mobil dan mulai merancang sebuah rencana di kepalanya untuk segera mengetahui siapa sebenarnya sosok pria yang menjadi incaran dari wanita yang menjadi cinta pertamanya. Satu jam kemudian, ia memarkirkan mobil mewahnya di jalan besar sebelum gang masuk yang merupakan pemukiman padat penduduk. Tanpa membuang waktu, ia membuka pintu mobil dan keluar. Ia yang tidak ingin mobil mewah miliknya menjadi pusat perhatian para warga, memilih untuk berjalan kaki saat memasuki gang tersebut. Jack mengamati sekeliling untuk mencari orang yang akan ditanya mengenai alamat tempat kos tersebut. Di saat bersamaan, ia melihat seorang pria muda yang usianya kira-kira di bawahnya baru saja keluar dari warung makan sambil menenteng kantong plastik. "Bro ... Bro, tunggu!" Mengejar sosok pria yang kini terlihat sudah berhenti dan menoleh ke arahnya. "Maaf, aku mengganggu. Aku ingin bertanya tempat kos pria dengan alamat ini." Jack menunjukkan ponselnya dan dilihat dengan serius oleh sosok pria di hadapannya. Pria muda tersebut kini memicingkan mata. "Ini kan tempat kosku. Siapa yang memberikan alamat ini? Di tempat kosku sudah penuh sekarang. Atau kau adalah kawan dari salah satu penghuni kos?" Jack kini tersenyum smirk saat merasa telah mendapatkan sebuah jalan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kini, ia menepuk bahu kokoh pria tersebut. Kemudian mengulurkan tangan. "Sebelumnya, perkenalkan, aku Jack. Begini, Bro. Apakah kau tinggal sendiri atau bersama dengan sahabatmu di tempat kos?" Pria berbadan kurus tersebut kini tengah mengerutkan kening karena mencurigai sosok asing yang menurutnya terlalu sok akrab tersebut. Dengan terpaksa ia mengulurkan tangannya. "Aku Rendi Prayoga, tinggal sendiri di tempat kos itu karena kamarnya saja sempit dan kasurnya juga tidak terlalu besar, mana mungkin tinggal berdua." Jack kini mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Kemudian menyerahkannya ke telapak tangan pria yang terlihat seperti tidak menyukainya. "Ini untukmu dan aku akan memberikan uang tambahan nanti setelah tugasku selesai. Aku ingin tinggal selama beberapa hari di tempatmu. Jadi, izinkan aku pindah malam ini. Bagaimana?" Pria tersebut masih tidak berkedip menatap uang yang baru saja dihitungnya dan seketika membuatnya berbinar karena tiba-tiba mendapatkan uang satu juta dalam satu menit. Ia pun langsung menganggukkan kepala tanpa berniat untuk bertanya apapun karena sudah membayangkan akan mendapat uang lagi setelah pria di hadapannya keluar dari kamar kosnya. "Baiklah, kita bisa tinggal satu kamar nanti. Aku akan bilang pada pemilik tempat kos bahwa kau adalah abangku yang akan tinggal selama beberapa minggu saja karena ada urusan di Jakarta. Memangnya, kapan kau mulai tinggal?" Memasukkan uang sepuluh lembar tersebut ke dalam saku celananya dan masih menatap intens pria yang mempunyai badan lebih besar darinya. Jack yang dari tadi mengamati area sekitar tempat ia berdiri, kini kembali menoleh pada pria di hadapannya tersebut. "Malam ini aku akan tinggal. Aku akan mengambil pakaianku dulu di rumah. Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan." Ia mulai menunjukkan foto pria yang dikirimkan oleh Lani. "Bukankah kau tahu pria ini? Apakah kau melihat ada hal-hal aneh dari pria ini? Dia kan juga tinggal di tempat kosmu." "Oh ... dia yang baru tinggal di tempat kos itu, ya. Aku sama sekali tidak berbicara dengannya. Jadi, aku tidak tahu. Lebih baik kau nanti tanya saja sendiri padanya saat sudah pindah." Rendi mengarahkan jari telunjuknya pada bangunan panjang dengan cat tembok berwarna abu-abu tak jauh dari tempatnya berdiri. "Itu adalah tempat kosnya. Apa kau mau melihat kamarnya?" Saat Jack mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya, refleks langsung menganggukkan kepala. "Baiklah, aku mengerti. Oh ya, Ren. Mengenai semua pembicaraan kita, jangan sampai ada satu orang pun yang mengetahuinya. Termasuk pria yang baru saja pindah ke tempat kos itu, oke! Aku memberimu sebuah pekerjaan dengan imbalan besar nanti." Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang kini menari-nari di otak Rendi mengenai pria yang baru saja dikenalnya. Apalagi mencari tahu tentang penghuni baru yang sempat membuatnya merasa sangat aneh. "Baiklah, kau tenang saja karena aku akan merahasiakannya. Lagipula aku bukan seperti para wanita yang suka ghibah. Jadi, tenang saja. Namun, ada sesuatu yang membuatku merasa sangat aneh." Kalimat terakhir yang membuatnya merasa sangat penasaran, Jack yang tadinya berniat untuk berpamitan, tidak jadi melakukannya. "Maksudmu, aneh yang bagaimana? Apakah dia melakukan sesuatu yang mencurigakan? Cepat katakan padaku! Jika informasimu penting, aku akan menambahkan uangnya." Mendengar uang lagi, tentu saja membuat Rendi merasa bersemangat dan membayangkan pundi-pundi rupiah akan masuk ke dalam kantongnya. Bahkan mesin penghitung di otaknya mulai berjalan. "Semalam, pria itu membeli makanan banyak dan pasti harganya sangat mahal. Awalnya aku tidak peduli dan berpikir mungkin orang baru itu mempunyai uang lebih. Namun, hari ini lagi-lagi semakin mencurigakan karena tadi ada dua pria yang datang membawakan banyak makanan. Bahkan gara-gara aroma makanannya, membuatku seketika lapar dan pergi ke warung untuk membeli makanan ini." Jack yang kini sibuk mencerna semua perkataan dari Rendi, seolah sedang memecahkan banyak persepsi di pikirannya. 'Bagaimana mungkin seorang cleaning service mempunyai banyak uang? Fix, sepertinya pria itu bukanlah orang sembarangan. Pantas saja Lani seperti sangat tergila-gila pada seorang cleaning service. Ternyata dia bisa mencium sesuatu yang sangat besar mengenai hal yang disembunyikan sosok pria tersebut.' "Baiklah, kau terus awasi mereka sampai aku datang nanti malam. Sekarang aku akan mengambil beberapa pakaianku dulu. Kau pun kembalilah ke tempat kos karena nanti makananmu akan dingin. Atau kau pergi makan di tempat saja karena makanan yang dibungkus mengurangi kenikmatan rasanya." Jack pun mulai meninggalkan sosok pria muda yang terlihat baru saja menganggukkan kepala untuk menanggapi perkataannya. Bahkan kini ia sudah asyik bersiul saat makin dekat dengan jawaban dari pertanyaan sahabat baiknya. 'Aku harus bilang pada istriku sedang ada tugas di luar kota, agar ia tidak berpikir macam-macam saat tidak pulang ke rumah. Biarkan istriku yang menyiapkan semua baju yang harus dibawa.' ********* Matahari mulai kembali ke peraduannya dan cahaya yang mulai memudar, membuat suasana makin gelap gulita. Sosok pria yang sedang memakai tas ransel di punggung, tidak lain adalah Jack, bisa langsung mengenali pria yang diincar oleh Lani. Meskipun satu kali melihat foto pria itu. Sementara, itu Keenan yang sama sekali tidak tahu siapa-siapa yang tinggal di tempat kos, tentu saja merasa sangat kebingungan saat ditanya oleh orang asing. "Aku baru tinggal di sini. Jadi, tidak tahu mengenai siapa yang bernama Rendi. Lebih baik kau hubungi saja nomor teleponnya, agar dia segera menemuimu. Atau kau berjalan mengetuk satu persatu kamar kos untuk bertanya." Tidak ingin membuat sebuah kecurigaan, kini Jack mengarang sebuah kebohongan karena tadi ia lupa untuk meminta nomor telepon dari pria yang hanya diketahuinya bernama Rendi tersebut. 'Sial! Gara-gara merasa sangat senang, aku jadi lupa menanyakan nomor telepon Rendi.' "Ponselku mati karena kehabisan daya. Sepertinya aku akan memakai cara kedua darimu. Oh ya, sebelumnya perkenalkan aku Jack, abang Rendi dan akan tinggal di sini selama beberapa hari." Keenan yang kini tengah menunduk menatap ke arah tangan dengan buku-buku kuat itu menggantung di udara, awalnya tidak ingin menanggapi. Namun, ia yang teringat sosok wanita, tak lain adalah Freya saat selalu menasihatinya untuk bisa bersikap lebih ramah pada semua orang, kini bersikap lebih bersahabat. Pada akhirnya, ia mengulurkan tangannya. "Panggil saja aku Keenan. Masuklah dan cari saudaramu. Aku tidak bisa membantu karena saat ini sangat kelaparan dan mau makan dulu. Semoga kau betah tinggal di sini." Mengukir seulas senyuman begitu melangkahkan kaki untuk berjalan masuk ke dalam kamar kos dan melihat pelayannya sedang sibuk dengan ponsel. Sementara itu, Jack yang tadi langsung menganggukkan kepala, kini terlihat masih berdiri di tempatnya dan melihat punggung lebar itu menghilang di balik pintu. 'Pantas saja Lani sangat penasaran pada pria itu karena rupanya dia sangat tampan dan mempunyai sejuta kharisma. Bahkan sekilas aku melihatnya saja sudah bisa menebak bahwa dia bukanlah seorang cleaning service sembarangan. Ada sesuatu yang saat ini dia sembunyikan. Aku sangat yakin itu,' lirih Jack di dalam hati. Baru saja ia selesai bergumam sendiri dan menatap pintu yang sudah ditutup dari dalam, di saat bersamaan, melihat sosok pria yang keluar dari kamar untuk membuang sampah. Refleks ia langsung mengangkat sebelah tangan kanannya ke atas seraya menyunggingkan senyuman. "Akhirnya kau keluar juga, Ren. Baru saja aku ingin mengetuk satu persatu pintu kamar di sini untuk mencarimu." 'Ternyata kamar Rendi bersebelahan dengan pria incaran Lani. Hal ini akan semakin memudahkanku untuk mendengarkan pembicaraan dari Keenan dan segera mengetahui rahasianya,' gumam Jack yang saat ini masih menatap ke arah Rendi yang berpura-pura untuk memeluk dan memanggilnya brother. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN