Serba salah

1633 Kata
Jack yang berpura-pura sangat merindukan Rendi, kini tidak berhenti menepuk bahu pria yang telah berhasil disuapnya dengan banyak uang tersebut. "Sudah berapa lama tidak melihatmu, Rendi." "Iya, Bang. Sudah beberapa bulan kita tidak bertemu. Untung Abang datang, jadi aku sekarang ada teman. Ayo, masuk ke dalam, Bang." Rendi yang dari tadi langsung berakting penuh totalitas, melepaskan tangannya yang memeluk tubuh kekar berotot tersebut. 'Aku sudah seperti seorang pemain film saja,' gumam Rendi saat menyadari bakat terpendamnya. Jack yang tersenyum menyeringai, kini melirik ke arah pintu kamar kos yang tertutup di sebelah kanannya, tak lain adalah tempat pria yang sebentar lagi akan diketahui rahasianya. "Iya, untung ada pekerjaan di daerah sini selama beberapa minggu. Jadi, sekalian saja aku akan menemanimu selama beberapa minggu." Ia sengaja mengeraskan nada suaranya, berharap pria incarannya yang menjadi target utama, bisa mendengar pembicaraan antara dirinya dan sang adik palsu. Kemudian berjalan mengekor pria kurus yang sudah membuka pintu. Tanpa membuang waktu, ia yang sudah masuk ke dalam, kini menaruh tas punggungnya ke lantai dan duduk di dekat dinding. Jack merasa sangat yakin bisa mendengar semua pembicaraan di kamar sebelah karena tempat kos tersebut hanya memiliki satu tembok yang sama. Di sisi lain, Rendi hanya diam mengamati semua yang dilakukan oleh pria tersebut. Ia yang sudah mendaratkan tubuhnya di atas kasur tipis, kini memiliki berbagai macam pertanyaan yang menghiasi otaknya. Namun, tidak berani untuk bertanya. 'Sebenarnya siapa pria ini? Apa yang dicari pria ini? Jangan-jangan dia adalah seorang intel. Apakah pria yang tinggal di sebelah adalah penjahat? Atau narapidana yang menyamar dan kabur dari penjara?' gumam Rendi yang sibuk dengan berbagai macam pertanyaan di kepalanya. Sementara itu, di kamar sebelah, Keenan yang baru saja menutup pintu, menyadari bahwa saat ini ia benar-benar merasa sangat kelaparan. Begitu mencium aroma khas makanan yang menguar memenuhi ruangan kamar berukuran sangat sempit menurutnya, membuatnya langsung mendaratkan tubuhnya di atas lantai dingin tanpa alas. Jika biasanya ia tidak pernah sekali pun duduk di atas lantai tanpa alas, kini kesehariannya berubah total karena sadar bahwa ruangan sempit tersebut tidak mungkin dihiasi kursi maupun furniture lain. Sementara itu, Rudi yang saat ini langsung berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuk majikannya, membuka suara. "Apakah nasinya segini cukup, Tuan muda?" Menunjukkan piring berisi nasi yang baru saja diambilkannya. "Lagi," seru Keenan yang merasa nafsu makannya hari ini berubah total. Bahkan tadi saat di kantin, saat Freya yang mengambil makanan untuknya, sebenarnya ia ingin protes karena menganggap nasinya terlalu banyak. Namun, tanpa sadar, ia menghabiskannya karena belum merasa kenyang. Tidak seperti porsi makannya yang biasanya tidak sebanyak itu. "Sekarang makanku banyak karena seharian membanting tulang di kantor. Ternyata bekerja mengandalkan otot sangat menyiksa dan memforsir tenaga sampai habis. Besok, kau yang harus melakukan semuanya. Aku lebih suka memeras otak seharian daripada memeras tenaga dengan bekerja menggunakan otot." Rudi yang baru saja memberikan piring berisi nasi ke hadapan tuannya, kini menganggukkan kepala tanda setuju dan sama sekali tidak keberatan. Apalagi itu sudah menjadi pekerjaannya. "Baik, Tuan muda. Anda tahu beres saja besok karena saya yang akan mengerjakan semuanya. Anda hanya perlu berpura-pura menggerakkan sapu dan alat pel saja, agar tidak ada yang curiga. Selamat makan, Tuan." Sementara Keenan sudah sibuk mengambil udang asam manis kesukaannya, ia pun memulai ritual makannya sambil memikirkan sesuatu mengenai perkataan dari Freya yang menyuruhnya untuk mengganti nomor. "Apakah di dekat sini ada yang menjual SIM card? Aku membutuhkan nomor baru untuk sementara. Freya berpikir aku menyalahgunakan nomor palsu luar negeri karena ingin menipu para wanita. Bahkan sepertinya dia sudah menganggapku adalah seorang playboy, sedangkan sebenarnya selama bertahun-tahun aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun." Rudi yang masih belum beranjak dari posisinya, ingin menanggapi kalimat terakhir bernada menyesakkan tersebut. Ia mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh majikannya karena sang ayah pernah menceritakan pengkhianatan dari kekasih dan sahabat baik yang menjadi penyebab kehancuran tuan mudanya tersebut. "Suatu saat nanti, pasti nona Freya akan melihat ketulusan hati Anda, Tuan muda. Anda tidak perlu khawatir karena kebaikan akan selalu menang. Sekarang untuk sementara menutupi kebaikan Anda demi kebaikan dan suatu saat nanti, semua itu akan terungkap setelah nona Freya mengetahui jati diri Anda. Kalau begitu, saya keluar dulu untuk membelikan nomor baru untuk Anda. Apakah ada request mengenai nomornya, Tuan muda?" Sudut bibir Keenan yang melengkung ke atas, menandakan bahwa pelayan yang ada di hadapannya tersebut sangat menghibur perasaannya yang sedang kacau. Ia yang masih mengunyah makanan di mulutnya, hanya menggelengkan kepala. Tentu saja karena ia berpikir hanya akan memakai nomor itu sementara saja. Bahkan ia hanya menanggapi dengan mengibaskan tangan, tanda menyuruh pelayannya agar segera pergi membeli nomor baru untuknya dengan harapan wanita incarannya tidak lagi mencurigainya lagi. 'Ini semua demi kamu, Freya. Selama ini, aku belum pernah menuruti perintah dari orang lain, apalagi wanita,' lirih Keenan yang melanjutkan makannya. Kini, hanya keheningan yang mewarnai suasana di ruangan seluas tiga meter tersebut. Beberapa saat kemudian, Keenan telah menyelesaikan ritual makannya dan melihat sisa makanan yang masih banyak. "Sepertinya aku harus memberitahu mama, agar tidak mengirimkan makanan sebanyak ini besok. Tidak mungkin setiap hari harus membuang makanan saat sisa." Tiba-tiba Keenan mengingat sosok pria yang tadi baru saja tiba. "Sepertinya sayang sekali jika makanan ini dibuang. Pria yang tadi, aku lupa namanya karena tidak begitu memperhatikannya. Mungkin nanti aku akan menyuruh Rudi untuk memberikan pada mereka karena kalau untuk seluruh penghuni kos, tidak akan cukup." "Aku pun tidak mungkin setiap hari akan memberikan sisa makanan pada mereka karena bisa-bisa nanti malah menimbulkan kecurigaan. Sepertinya aku harus berbicara pada mama." Keenan meraih benda pipih miliknya yang ada di atas kasur tipis yang dianggapnya seperti alas kaki karena sangat berbeda jauh dari ranjang king size super nyaman miliknya. Baik di London maupun di Mansion, hanya kemewahan yang melingkupinya. Berbeda dengan kondisi di sekitarnya saat ini yang terlihat sangat mengenaskan. Begitu panggilan tersambung, Keenan bisa mendengar suara dari wanita yang telah melahirkannya sudah berbicara. "Sayang, mama menunggu teleponmu karena tidak ingin mengganggu penyamaranmu. Kenapa baru sekarang menelpon? Sepertinya kamu benar-benar sudah tidak menyayangi mama lagi." "Mama mulai lagi, kan! Padahal aku baru sehari tidak menghubungi mama karena kemarin benar-benar tidak sempat dan sibuk. Ada banyak hal yang terjadi dan harus kuurus, Ma. Jadi, Mama harus mengerti. Papa mana?" Keenan terlihat merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis tersebut dan memandang langit-langit kamar sambil mendengarkan suara dari wanita yang melahirkannya. "Papamu sedang berada di ruang kerja bersama dengan orang kepercayaannya. Entah apa yang mereka bahas. Padahal sudah seharian berada di perusahaan. Apa kau tidak kasihan pada papamu, Sayang? Bukankah sudah saatnya papamu pensiun? Jika kamu segera menjabat sebagai CEO, pekerjaan papamu akan berkurang dan bisa menemani mama untuk mengurus cucu nanti." Sebenarnya, Keenan merasa sangat bosan saat sang mama selalu membahas cucu, sedangkan ia masih belum tertarik untuk menikah. Namun, lama-kelamaan ia merasa iba karena mengetahui bahwa sang ibu sebenarnya sangat kesepian. Apalagi Mansion mewah keluarganya sangat sepi karena hanya dihuni oleh orang tuanya. Satu-satunya hal yang membuatnya ingin kembali ke Jakarta hanya karena ia tidak ingin membuat sang mama makin bersedih dan sakit jika terus-menerus memikirkan hidupnya yang masih enggan menikah, mungkin akan sakit. Sebenarnya, selama beberapa tahun ia berada di London, sang mama lebih sering mengunjunginya dan tinggal lama di sana, sehingga tidak terlalu berat untuknya. Saat ia memutuskan untuk memimpin perusahaan, tentu saja karena ingin melihat sang ayah segera beristirahat dan hanya mengawasi dibalik layar. "Aku sudah kembali untuk memimpin perusahaan dan sedang dalam frase pencarian calon istri yang tulus mencintaiku untuk memenuhi keinginan mama yang ingin segera menimang cucu. Jadi, aku harap Mama bersabar sedikit lagi." "Baiklah, Sayang. Memangnya apa boleh buat selain bersabar. Tentu saja mama akan bersabar sampai kamu benar-benar mengabulkannya." Keenan refleks menepuk jidatnya saat menyadari kebodohannya karena melupakan tujuan utamanya untuk membahas masalah makanan. "Aku sampai lupa, Ma. Masalah makanan yang mama kirimkan. Mulai besok, tidak perlu mengirimkannya lagi karena aku tidak ingin menimbulkan sebuah kecurigaan dari orang lain. Aku harap mama bisa mengerti itu. Hanya satu bulan, jadi biarkan saja aku di sini hidup seadanya seperti orang-orang kalangan bawah. Nanti aku akan menghubungi mama lagi karena sekarang ada hal yang harus kukerjakan." "Baiklah, kamu jaga kesehatanmu, Sayang." "Oke, Ma. Mama juga, i love you." Keenan yang baru saja melihat pelayannya telah kembali, kini meletakkan ponselnya di sebelah kanannya tempat duduk. "Bagaimana, apa nomornya ada?" Rudi yang langsung mengangguk perlahan, kini mendaratkan tubuhnya di hadapan tuan mudanya dan meraih sesuatu pada kantung baju. Kemudian menyerahkannya pada majikannya. "Tentu saja ada, Tuan muda. Maaf, tadi agak sedikit lama karena memilih nomor cantik." Kini, Keenan mengamati nomor barunya dan memiliki empat angka cantik belakangnya dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas karena sangat puas. "Ternyata kau memang sangat pintar. Tenang saja, aku akan memberimu bonus nanti." Tanpa membuang waktu, Keenan mulai sibuk memasang SIM card dan mendaftarkannya. Hal pertama yang ingin dilakukannya saat mempunyai nomor baru adalah menggoda Freya dengan cara mengerjainya. "Aku ingin segera menelpon Freya mengunakan nomor baru ini, untuk menunjukkan bahwa perintahnya langsung kuturuti." Rudi yang kini terlihat menggaruk rambutnya yang tidak gatal, hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui semua rencana sang tuan muda. Meskipun sebenarnya ada sesuatu yang saat ini tengah ia sembunyikan dari majikannya. 'Tuan muda nanti tidak akan marah, kan? Aku jadi serba salah ini?' gumam Rudi yang saat ini merasa sangat gundah gulana saat memikirkan kejadian di counter hp beberapa saat yang lalu. Jantungnya berdegup sangat kencang begitu mendengar suara dering ponsel milik tuan mudanya. 'Mati, aku sekarang. Semoga tuan muda tidak murka padaku karena jika itu sampai terjadi, mungkin aku akan benar-benar dipecat dan mendapatkan kemurkaan dari ayah nanti.' Sementara itu, Keenan yang baru saja mengaktifkan nomor barunya, merasa terkejut saat tiba-tiba nomor baru tersebut sudah ada yang menghubungi. Tentu saja saat ini ia mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang terlihat sangat kebingungan karena langsung menundukkan kepala dan tidak berani untuk menatapnya. "Sialan, kau Rudi. Dasar pengkhianat!" sarkas Keenan yang meraih bantal dan melemparkannya pada wajah pelayannya. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN