Wanita sebaik bidadari

1042 Kata
Beberapa saat yang lalu, Freya masuk ke dalam kamar kos setelah berbicara dengan pria yang selalu disebutnya sang tuan muda songong. Dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai untuk beristirahat sejenak, ia terlihat menatap langit-langit kamar dan memikirkan sosok pria yang selalu menuruti perintahnya. Sudut bibirnya kini melengkung ke atas, mengukir seulas senyuman saat merasa senang. Ia merasa sangat lega karena menjadi wanita yang berguna dan bisa merubah seseorang menjadi lebih baik. Di saat bersamaan, ia tiba-tiba mengingat sesuatu dan refleks langsung menepuk jidatnya. "Aku sampai lupa menghubungi ayah, untuk menanyakan lebih jelas mengenai siapa sebenarnya orang yang melunasi utang-utang keluargaku. Apakah ayah sudah bertanya pada bandot tua itu mengenai orang yang memberikan uang? Bagaimana mungkin ada orang yang tiba-tiba memberikan uang cuma-cuma?" Freya terdiam sejenak dan sibuk menebak-nebak di pikirannya. "Kalau orang itu dari kampung, mana mungkin mempunyai uang sebanyak itu. Kalau orang itu adalah kenalanku dan berada di sekitarku, berarti orang itu mempunyai banyak uang dan satu-satunya orang yang kupikirkan hanyalah Harry. Dia adalah seorang pebisnis yang kelihatannya mempunyai banyak uang." "Bahkan sangat mudah untuknya mencari uang dan mungkin utang-utang keluargaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penghasilannya. Apa benar dia? Kira-kira, apakah Harry sudah bangun jam segini? Di sini jam 6 petang, sedangkan di New York jam 6 pagi. Aku tidak enak jika mengganggunya nanti. Lebih baik aku mengirimkan pesan saja padanya." Jemari lentik Freya kini mulai mengetik pesan singkat pada ponselnya. Bukan langsung menanyakan mengenai hal yang membuatnya merasa sangat penasaran. Namun, ia hanya berbasa-basi untuk mencoba menyelidiki. Sayang, masih tidur, kah? Aku hari ini sedang digulung rasa penasaran mengenai sesuatu hal. Entah mengapa aku langsung mengingatmu. Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Selesai mengetik pesan, Freya langsung menekan tombol kirim. Namun, ia mengerutkan keningnya saat tidak hanya centang satu. Ia pun mendapat notifikasi yang memberitahukan bahwa masa aktifnya telah habis. Lagi-lagi ia menepuk jidatnya saat selalu seperti itu. Kuota selalu masih banyak, tetapi masa aktif selalu habis. Ia memang jarang membuka sosial media atau pun membuka YouTube dan melihat film seperti para temannya. Bahkan ia tidak pernah menelpon sang kekasih karena selalu ditelpon. Hal yang sering dilakukannya hanyalah sering menelpon orang tuanya demi melepas rindu dan sesekali video call. "Sebenarnya aku sangat malas keluar, tetapi jika tidak beli kuota, tidak akan tahu jika ada pesan yang masuk. Harry pun pasti akan mengomel karena tidak bisa menghubungiku seperti biasanya yang setiap pukul 9 mengucapkan selamat tidur untukku, sedangkan dia sedang berangkat ke kantor." Awalnya, Freya hanya ingin memakai jaket tanpa mengganti piyama. Namun, ia tiba-tiba teringat pada perkataan Keenan yang mengejeknya saat keluar memakai baju tidur. "Sebenarnya apa yang dikatakan si tuan muda songong itu benar, bahwa piyama itu untuk tidur. Bukan dipakai untuk keluar rumah. Baiklah, sesekali aku akan menuruti perkataannya yang masuk akal." Kini, Freya memilih untuk mengganti piyama dengan celana panjang dan kaos casual. Kemudian berjalan keluar setelah mengunci pintu kamar kos. Saat berjalan melewati tempat kos pria yang ditolongnya, ia lirih berbicara. "Apa Keenan sudah beristirahat jam segini? Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting?" Beberapa saat setelah berjalan sekitar lima menit, kini Freya masuk ke counter hp yang tidak terlalu besar di sekitar tempat kosnya dan mengerutkan kening saat melihat sosok pria yang seperti dikenalnya dan benar saja. Setelah ia mendekat, dilihatnya Rudi yang dari tadi menundukkan kepala untuk mengamati nomor-nomor. "Rudi, ternyata benar kamu? Mau beli kartu perdana, ya?" Mendaratkan tubuhnya di sebelah pria yang langsung tersenyum ke arahnya. Sementara itu, Rudi yang sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan sang bidadari sebaik peri, langsung menganggukkan kepala. "Iya, Freya. Aku dari tadi bingung untuk memilih nomor yang kira-kira disukai oleh ...." Rudi tidak jadi melanjutkan perkataannya karena hampir saja ia keceplosan menyebut tuan muda. Sementara itu, Freya yang kini mengerti, hanya menganggukkan kepala sesekali. "Oh, jadi si tuan muda gadungan itu yang menyuruhmu? Aku pikir dia sudah berubah lebih baik, ternyata sama saja. Awas saja nanti, aku akan memarahinya, agar tidak selalu menyuruhmu sejenak jidat. Seharusnya kamu berani menolak dan membantah saat dia menganggapmu sebagai kacungnya. Bahkan dia punya kaki dan bisa pergi sendiri." Rudi yang bisa melihat kemarahan dari sosok wanita cantik yang ada di sebelahnya, hanya merasa kebingungan untuk menjawab. 'Astaga, aku memanglah kacungnya, nona Freya. Seandainya kamu tahu itu. Bahwa aku akan benar-benar tamat saat mengatakan apa yang kamu suruh,' lirih Rudi di dalam hati. "Tidak apa-apa, Freya. Aku sama sekali tidak pernah merasa keberatan. Lagipula aku sendiri tadi yang berinisiatif untuk menawarkan membeli kartu perdana yang baru karena melihat sepupuku kecapekan begitu tiba di tempat kos setelah bekerja. Jadi, biar dia beristirahat. Aku yang seharian hanya tiduran, merasa bosan dan ingin mencari udara segar." Freya yang dari tadi mengalihkan pandangannya dari wajah pria di sebelahnya, beralih menatap ke arah etalase kaca untuk melihat-lihat nomor yang sekiranya mudah dihafalkan. Ia pun mengarahkan jari telunjuknya ke nomor yang sudah dipilihnya pada penjualnya. "Bang, yang ini saja." "Siap," seru pria yang kini membuka etalase kaca tersebut dan mengambil nomor ditunjukkan oleh wanita di depannya. Kemudian menyerahkan kepada sosok wanita yang sangat dihafalnya karena sering membeli pulsa. Freya langsung meraih uang dari saku celananya dan menyerahkan pada pria tersebut. "Ini sama pulsanya seperti biasa, Bang." Menuliskan nomor pada buku besar di hadapannya. Rudi yang tadi tidak melanjutkan kegiatannya, hanya mengerutkan kening saat melihat apa yang dilakukan wanita di sebelahnya tersebut. "Kamu mau ganti nomor, Freya?" Freya yang kini baru saja selesai menyimpan nomor baru yang dibelinya pada ponsel miliknya, kini langsung menyerahkan ke hadapan Rudi. "Sudah sana balik! Ini untuk Keenan, tapi jangan bilang aku yang membayarnya. Jadi, rahasiakan hal ini dari tuan muda gadunganmu itu. Tenang saja, nanti begitu nomor ini aktif, aku akan memarahinya. Biar apapun itu, tidak menyuruh-nyuruhmu lagi." Kebaikan dari wanita cantik di sebelahnya tersebut malah membuatnya merasa nyawanya berada di ujung tanduk. Rudi terlihat tengah menelan kasar salivanya karena lagi-lagi merasa kebingungan untuk menanggapinya. 'Tamat riwayatmu, Rudi. Malam ini, tuan muda Keenan akan mencekikmu hingga kehilangan napas dan mati mengenaskan!' umpat Rudi yang saat ini tengah sibuk berakting dengan tersenyum. "Terima kasih, Freya. Kamu memang wanita sebaik bidadari. Kalau begitu, aku pergi dulu. Mungkin sepupuku sudah menunggu." Bangkit berdiri dari tempat duduk dan berjalan keluar dari counter hp setelah melihat Freya menganggukkan kepala. Ia bahkan sambil memijat pelipisnya saat berjalan kembali ke tempat kos. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN