Sementara itu, Freya yang masih duduk di tempatnya karena sibuk membaca notifikasi masuk begitu kuota internet sudah aktif. Ia bahkan melihat pesan dari sang kekasih yang mengatakan ada rapat penting hari ini dan belum bisa menghubunginya.
Selamat pagi, Sayang. Aku sama sekali tidak menyembunyikan apapun darimu. Memangnya apa yang terjadi? Kamu harus menjelaskannya padaku setelah aku nanti selesai meeting mendadak karena keadaan darurat.
Meskipun sebenarnya ia kini merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan jawaban dari pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. 'Sepertinya bukan Harry yang melakukannya karena dia sama sekali tidak mengetahui mengenai perihal utang orang tuaku. Lagipula dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tidak mungkin orang misterius baik hati itu adalah dia.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini Freya bangkit dari posisinya setelah menerima uang kembalian. "Terima kasih, Bang."
"Terima kasih kembali."
Freya berjalan pulang menuju ke arah tempat kos, tetapi sebelum itu karena merasa lapar, ia mampir ke warung makan untuk membeli makanan. Beberapa saat kemudian, ia sudah membawa kantong plastik berisi nasi bungkus. Sesekali ia mengecek ponselnya dan melihat nomor Keenan sudah aktif dan membuatnya langsung menekan tombol panggil.
Sementara itu, di tempat kos, Keenan yang baru saja berhasil mengaktifkan nomor barunya, merasa sangat terkejut begitu melihat ada panggilan dari Freya dan tentu saja ia tahu siapa dalang di balik semuanya.
Tentu saja ia yang kini mengarahkan tatapan menusuk pada pelayannya sambil memberikan hukuman. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara wanita yang langsung cerewet karena menasihatinya macam-macam.
"Keenan, lain kali pergi sendiri dan jangan selalu menyuruh-nyuruh sepupumu. Bukankah kamu juga mempunyai kaki? Jadi, gunakan kakimu itu untuk hal yang berguna. Aku merasa kasihan pada sepupumu yang selalu mengalah saat kamu berbuat seenak jidat. Oh ya, maaf karena menjadi orang kedua yang mengetahui nomormu setelah Rudi."
Keenan yang kini makin kesal, kembali meraih bantal dan melemparkan untuk kesekian kali pada pelayannya yang berhasil menangkap dan juga melihat tatapan memelas yang kini tengah memohon maaf dengan menyatukan kedua tangan di hadapannya. Bahkan ia sudah mengangkat tangannya yang mengepal sambil mengarahkan tatapan sangat tajam tanpa mempedulikan permohonan pelayannya.
'Sialan, Rudi. Berani-beraninya dia menusukku dari belakang dan bekerja sama dengan Freya. Awas saja nanti, aku tidak akan memberinya bonus lagi,' umpat Keenan di dalam hati saat merasa sangat kesal.
"Iya, Freya. Aku akan mengingatnya dan tidak akan menyuruh-nyuruh sepupuku lagi. Tadi aku sakit perut, makanya menyuruh Rudi untuk membelinya. Masalah kamu adalah orang kedua yang mengetahui nomor baruku, aku sama sekali tidak keberatan dan malah sangat senang."
Keenan yang merasa sangat kesal saat menatap wajah pelayannya yang terlihat sangat mengenaskan karena ketakutan, membuatnya memilih untuk bangkit berdiri dan berjalan keluar. Tentu saja ia ingin menghirup udara segar karena merasa sangat sesak napas dari tadi berada di ruangan sempit itu.
Ia pun berjalan keluar menuju ke arah depan dan dan memilih untuk berjongkok di depan gerbang sambil terus mendengarkan suara yang menurutnya paling merdu tersebut.
"Apa tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal selain sakit perut, Keenan? Tadi kalian memangnya makan apa? Lain kali kalau mau cari alasan itu yang lebih kreatif, agar aku tidak bisa membaca kebohonganmu."
Saat Keenan menepuk jidatnya untuk merutuki kebodohannya, ia yang baru saja ingin menanggapi ejekan dari Freya, kini berjenggit kaget saat mendengar suara wanita itu terdengar sangat nyata dan refleks membuatnya menoleh ke arah kiri untuk mencari sumber suara.
"Apa sakit perut, membuatmu berjongkok di depan pintu, Keenan. Jangan sampai kau nanti sakit perut beneran," seru Freya yang beberapa saat lalu melihat dari jauh sosok pria yang dihubunginya tengah memegang ponsel pada posisi berjongkok dan membuatnya terkekeh.
Begitu melihat ternyata sosok wanita yang saat menelpon ternyata sudah ada di hadapannya, membuat Keenan refleks bangkit berdiri dari posisinya. "Ternyata kau ada di sana? Sejak kapan? Aah ... kamu dari mana memangnya?"
Tanpa berniat untuk menceritakan tentang pertemuannya di counter hp dengan Rudi karena ingin pria itu sendiri yang mengatakannya nanti. Apalagi ia tidak ingin terlalu lama berbincang dengan lawan jenis di pinggir jalan. Kini, ia mengangkat kantong plastik berisi nasi bungkus dan tangan satunya mengusap perut.
"Aku lapar, jadi membeli makanan. Sudah sana masuk! Pahami, resapi dan renungkan pesanku tadi. Apakah aku salah atau tidak. Semoga, tuan muda gadungan bisa menerima saran dari orang kampung ini," ujar Freya yang mengeluarkan kalimat bernada sindiran.
Sebenarnya, Keenan ingin sekali memberikan sisa makanannya yang masih banyak pada wanita di hadapannya, tetapi tidak menemukan alasan yang tepat. Bahkan ia saat ini merasa seperti tidak mempunyai muka lagi di hadapan wanita yang selalu mengejek dan menyindirnya tersebut.
Keenan berniat untuk membuka suara. Namun, yang terjadi adalah tidak sempat melakukannya saat mendengar suara bariton dari sosok pria yang baru saja menepuk pundaknya dan refleks membuatnya menoleh.
Jack yang dari tadi mendengarkan semua perkataan dari pria yang diincarnya, memang sengaja untuk keluar begitu mendengar suara seorang wanita dari luar karena ia sendiri pun merasa sangat penasaran. Penasaran pada wanita yang merupakan saingan dari Lani.
Begitu melihat sosok wanita yang memang memiliki daya tarik tersendiri tersebut, ia berpura-pura untuk menyapa dan memberikan oleh-oleh yang dibawanya. "Bro, kebetulan, aku ingin memberikan sedikit makanan. Tadi aku sengaja membeli makanan kesukaan adikku dan dia bilang terlalu banyak."
Merasa niatnya telah didahului oleh pria di sebelahnya, membuat Keenan hanya menganggukkan kepala dan menerimanya. "Terima kasih atas oleh-olehnya. Namun, aku benar-benar sangat kenyang. Tidak apa-apa, kan kalau aku memberikannya pada temanku?"
Tanpa menunggu jawaban dari pria yang dianggapnya hanyalah seorang pengganggu, Keenan langsung memberikannya pada Freya. "Kamu sangat kurus, Freya. Jadi, makan yang banyak. Ini untuk tambahan makan malammu. Sudah, pergi sana! Jangan sampai ibu kos kembali memarahiku seperti tadi."
Keenan mengibaskan tangannya untuk segera membuat Freya segera pergi karena ia tidak ingn pria di sebelahnya tersebut mengajak berkenalan.
'Aku tidak ingin kau dekat dengan pria mana pun, Freya karena satu-satunya wanita yang ingin kunikahi adalah dirimu. Wanita berhati emas yang sangat baik hati dan tulus,' lirih Keenan di dalam hati.
Sementara itu, pria yang tak lain adalah Jack, kini bisa mencium gelagat posesif dari pria yang berdiri di sebelahnya. 'Lani jauh lebih cantik dari wanita ini, tetapi Keenan lebih menyukainya. Sepertinya selera pria ini adalah wanita sederhana yang sangat suci dan murni. Bukan seperti Lani, yang merupakan wanita cantik dan sangat berpengalaman.'
To be continued...
To be continued...