Pintu rumahku diketuk berulang kali, terdengar suara salam dari orang yang aku kenal, Mbak Susi. "Sebentar, Mbak," teriakku dari dalam. Aku segera meraih mukena dan memakainya. Kain itu bisa menutupi seluruh tubuhku dan menyembunyikan perutku. Hingga saat ini tidak ada seorang pun yang tahu aku hamil kecuali Mas Damar. "Habis salat, Mbak?" tanya Mbak Susi begitu aku membuka pintu rumahku. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya, lalu mempersilahkan wanita itu masuk. "Ini Mbak, di suruh bawa makanan buat Mbak Amel. Kok Mbak Amel tidak datang ke sana sih, nengokin bayi nya Mbak Zahra. Orang-orang jadi pada mengira Mbak Amel tidak suka dengan kelahiran anak itu." "Biarlah, Mbak," sahutku sambil tersenyum. Sudah seminggu yang lalu maduku itu melahirkan, katanya anak laki-laki

