Ada sebuah anggapan umum, bahwa sepasang cinta sejati yang tidak bisa menikah dalam kehidupan dunia, akan dinikahkan kembali di kehidupan alam baka. Keisha tidak tahu, apakah ia harus menanti cinta sejati itu, ataukah memastikan sebaliknya, sebelum terlambat menemukannya. Untuk itulah ia berada di Lereng Perbukitan Jatinangor ini. Dini hari ini, ia membekali dirinya dengan keyakinan yang membuatnya berangkat meninggalkan kota Jakarta di pagi hari ini, bahwa ia tidak pernah mengkhianati kata hatinya.
Keisha duduk di teras menatap hijaunya pemandangan di luar Suite Room Skyland City Apartment. Ditemani secangkir teh manis dan biskuit, ia membuka iPhone 6 mengetikkan sebaris nomor telepon di secarik kertas tissue. O, my goodness, pikir hatinya perih. Aku tak tahu kenapa aku harus mengangkat kasus ini lagi. Aku tahu Kike hanya ingin mencari jodoh yang baik seperti harapan ibunya. Aku memakluminya, kalau ia akan selalu menempeli laki-laki yang berhadapan dengan dirinya, walaupun itu adalah sebuah ketidaksengajaan kecil, dan laki-laki itu telah menjadi pacar sahabatnya sendiri.
Selama 3 menit ia melakukan pemesanan sepeda dan janji dengan penyewa untuk hari Minggu besok. Lalu ia meregangkan tubuhnya sambil menghirup udara segar pagi dalam-dalam. Ia selalu menyukai udara pagi di Jatinangor yang super sejuk. Setelah menyetel lagu favoritnya Waiting For The World To Change dari John Mayer, anehnya, nafasnya malah sesak dan tiba-tiba saja ia merasakan kepedihan lama yang hampir ia lupakan itu di dadanya.
Ia menahannya beberapa lama hingga perasaan di dadanya meluap, lalu tiba-tiba satu-satunya yang terbesit di kepalanya sekarang adalah Jericho Ali.
Oke... Kau tidak berada di sini untuk mengingatnya, melainkan mengganti ingatanmu tentang Jericho Ali! Kata hati Keisha sambil memijit-mijit iTunesnya. Ia menyempilkan earphone ke dalam telinganya membiarkan lagu John Mayer mengetukkan lagu Vulture yang groovy menyelingi pikiran yang sesekali muncul di benaknya.
Seperti yang sudah ia harapkan, dalam seketika, muncullah gambaran hari itu di mana ia dan Jericho bertengkar sampai malam hari di Jakarta. Untuk beberapa alasan, Keisha tiba-tiba teringat akan sebuah mitos yang diungkit oleh Jericho pada malam itu, yaitu Sasakala Gunung Geulis. Ia mencoba menepis fikiran-fikiran yang melompat-lompat di kepalanya.
Alasan pertama, Keisha sangat percaya pada dirinya sendiri. Ia sangat optimis akan masa depan dan tujuan hidupnya. Ia yakin apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan langkah-langkah kecil yang diambilnya di masa lalu. Siapa dirinya kini, adalah puncak dari perjuangannya di masa lalu, membuat alasan yang berarti kenapa ia berada di sebuah dataran tinggi seperti gunung Jatinangor yang berarti Jati Hitam ini.
Alasan lain, ia tahu dirinya cantik tapi tak pernah menuntut orang lain untuk memberikan pujian pada dirinya. Itu bukan dia. Walaupun Jericho selalu memandangnya dengan rasa suka hati tapi ia tahu, dirinya bukan orang yang membuat Jericho merasa harus memuji kecantikannya.
"Aku tak pernah tahu bahwa itu masalahnya!"
"Karena kau tak pernah benar-benar peduli!"
"Aku diam dan menunggumu kembali, dan tidak berhubungan dengan Kike, adalah bukti bahwa aku peduli!"
"Oh, ya! Kau selalu bisa meyakinkanku!"
"Apa yang membuatmu begitu skeptis tentang hubungan kita?"
"Kau tak pernah mencoba mengorek tentang diriku! Siapa aku, bagaimana perasaanku padamu! Bahkan di saat aku memendam marah!"
"Aku tak pernah mencoba melukai hatimu! Apalagi meninggalkanmu! Aku tak pernah membayangkan kau akan marah apalagi sakit hati dariku!"
"Karena kau tak pernah menyadari bahwa aku memendam semuanya sendiri hingga aku tak bisa menahannya lagi! Sekarang saja kau seakan mengingkari kepergianku membawa luka!"
"Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Kenapa tak kau coba tangkap aku kalau memang akulah yang mengabaikanmu? Kenapa tak kau perjuangkan aku dari siapapun yang mencoba merebutku darimu? Untuk satu alasan, aku tidak akan tergoda oleh Kike! Aku tak akan membiarkan diriku kalah dalam cinta kita! Apakah kau melupakan Sasakala Gunung Geulis yang kuceritakan padamu?!" Kata Jericho kelu. "Aku tidak cinta Kike! Buktinya aku tidak jadian sama dia! Tidak pernah sekalipun ada kejadian apa-apa dengannya!"
"Oke...! Biarkan aku jelaskan sedikit tentang Sasakala Gunung Geulis itu...," kata Keisha menjelaskan.
"Oke, please, katakan...!" Kata Jericho dengan wajah penuh harap.
"Wanita Geulis itu bukan aku...! Jelas-jelas aku bukan orang yang membuatmu merasa harus memuji kecantikanku seperti yang selalu dilakukan Kike pada semua laki-laki, bahkan pacar temannya sendiri... Kamu! Oh, Demi Tuhan...! Lagu cinta itu adalah sebuah bukti bahwa kau memang terlelap dalam rayuan Kike, bukan karena aku meninggalkanmu! Tentu saja aku sudah membayangkan dirinya sebagai calon istrimu dan menganggap apa yang terjadi denganku tak lebih dari penggoda dalam cinta kalian! Dan mungkin saja sekarang, kau memang kalah! Kau terjebak di sini bersamaku!"
"What? Are you out of your mind?? That explanation makes a perfect sense that you are not a mythomaniac! Aku akan dengan senang hati terjebak denganmu!" Jericho berdiri tegak dengan ekspresi senang.
Keisha terbujur diam. "I hate nonsense..."
"Apakah kamu menyadari apa yang baru saja terjadi? Kau menjelaskan bahwa aku dan dirimu telah berjuang bersama mempertahankan kemurnian cinta kita!"
Keisha menghela nafas, dan tanpa disadarinya menghembuskannya dengan keras. Tiba-tiba perasaannya meluap, menyedaknya hingga seakan hendak tumpah di wajahnya. Ia meringis dengan buncahan air mata.
Jericho merasa lega tapi serentak merangkul Keisha ke dalam pelukannya.
Di luar dugaan Keisha, Jericho ikut menangis. Ia membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Keisha. "I like everything about you...! Your eyes, your lips, your hair... I even love your hands. I always wanna kiss your cute fingers... I love the way you talk, you laugh, you walk... And I am so proud of the way you dress and your politeness..."
Keisha tertunduk. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Tidak pernah ada seseorang yang begitu mengenal perasaannya dengan baik seperti Jericho Ali.
4 wanita seksi sedang mengadakan sebuah transaksi di tempat penyewaan sepeda dan berbiking ria sendiri ke Kiara Payung. Seorang berbadang kurus kecil tinggi mengeluarkan dua lembar uang 50 ribuan.
"Mahasiswa bukan, non?"
"Nah... Bukan... Dia baru saja datang, turis..."
"Coba saya cek dulu...," kata petugas membuka arsip pendaftaran. "Namanya...?"
"Keisha..."
"Oh, ya... Dia pergi jam 9 pagi tadi..."
"Kemana kira-kira, Kang?"
"Nah, kurang tahu, tuh, Neng... Bentar saya tanya pegawai saya dulu..."
"Jang Obi... Kemana katanya tadi, si non yang rada gemuk-gemuk tea...?"
"Ooh... Yang bawa MTB? Dia mah muter dulu ke Unwim, terus mau ke Kiara Payung... Rutenya tapi lewat Pangdam...!"
"Atuh malah muter, Jang?"
"Tau, atuh tadi teh udah ditawarin ngambil foldbike aja biar bisa didrop sama ojek, tapi gak mau-eun..."
"Oke, kita cabut...," kata Utari sambil mengenakan sunglassesnya. Dena langsung menghambur ke dalam mobil diikuti Ayu.
"m**i gareulis kitu, si enon-enon teh, nya...?" kata penyewa sepeda itu menatap kepergian mereka.
"Jeung hebat deuih si non yang pagi ge berani nempuh sendiri, nya?!"
"Tadi ge pan ku saya ditawarin make foldbike biar didrop ojek aja malah saya yang diketawain...," kata Jang Obi sambil menunduk kecut mengusapi ban sepeda dengan lap.
"Ckckck, hebat, bener-bener, hebat, euy... Ari urang Jakarta..."
"Naon nu eta mah urang Bandung, Kang...!"
"Ceuk saha, ah...?"
"Yeeehh... Nyarios Sundana ge m**i lemes...!"
"Yeeehh... Ari si Sujang, emangna nu ngomong Sunda lemes teh urang Bandung wungkul?! Saya ge urang Sumedang bisa ngomong Sunda lemes...!"
"Enya, pan ari Jakarta mah kasar Sundana...?"
"Ah, teuing, lieur ah, Sujang!"
"Enya, abi ge tos lieur tina sapedah jadi ka nu gareulis..."
"Alah, gandeng, ah Sujang, hayang dikepret ku anduk baseuh siah maneh mah, nya!" Kata penyewa itu keuheul.
"She is insane!" Kata Dena menepuk lututnya sambil membungkuk. Ia menoleh ke belakang melalui kaca spion. "This is really far!!"
"That would OK... She took times..."
"But, she is fluffy!?"
"She can do it! Dia punya power storage itu yang bisa dipakai saat lagi ngambek!" Kata Utari sambil menggendikkan bahu, ia menyeringai lucu menemukan dirinya menyadari hal itu.
"My power would be for eating bunga s**u (slagroom)..."
"Dan kau tak pernah bisa gendut," kata Dena sambil menunjuk ke Ayu di belakang tanpa menoleh. "Kau type pengerat daging..."
"Yeah, apa boleh buat..."
"Hey, it should be 'my luck!'" Kata Dena mengoreksi.
"Okey... My luck..." Kata Ayu sambil mengangkat kedua tangan dengan mata meneleng ke atas.
"Ya, ya! Itu dia! Kalian lihat...?!" Tunjuk Utari ke depan. Di antara rerimbunan dahan dan pepohonan, mereka melihat sebuah sepeda putih meluncur turun tanpa dikayuh oleh pengendaranya sambil berdiri.
"She's a maniac!" Kata Dena tak percaya.
Jauh di puncak bukit Kiara Payung, Keisha mengisap hidungnya yang meler. Ia merasakan kesegaran udara mengusap kulitnya yang panas berkeringat. Ia mengalihkan gigi rendah kedua tertinggi dan terus mengayuh. Pada betisnya ia merasakan ototnya menegang, iapun duduk beberapa saat, lalu bangkit lagi mempercepat kayuhannya. Sudah lama sekali ia tak pernah bersepeda lagi.