Di kampus, Dosen Mustafa baru selesai mengantarkan tutornya. Ia bersiap membereskan meja, pandangannya sesekali menoleh pada Lakesha yang masih sibuk mencatat.
"Pastikan kau tidak tertidur di sini," gurau Dosen Mustafa.
"Oh, hanya catatan kecil, kalau tidak aku akan melupakannya saat tiba di rumah."
"Oh, kau sudah tinggal di rumah lagi sekarang?" tanya Dosen Mustafa tertarik.
"Oh!! Sorry... Kantor, maksudku...," kata Lakesha sambil mengangkat telunjuknya. Dosen Mustafa dibuat tertawa mendengarnya.
"Hmmm...," Dosen Mustafa menyimpulkan sebuah senyum. "Kuharap, kau segera dapat istirahat yang baik dalam dua minggu ini."
"Ya, aku pasti akan mendapatkannya."
"Oke... Bersiap dengan ujian minggu depan. Jangan sampai kau sakit!" Kata Dosen Mustafa sambil mengangkat kopernya dari atas meja, ia juga menjinjing sebuah tas kantor. "Kau ingin aku menunggumu?"
"Oh, tidak... Aku sudah selesai, tapi akan ada orang yang menjemputku...," kata Lakesha sopan. Ia sangat sungkan kalau Dosen Mustafa sudah mulai ber"aku-aku" dengan cara yang terlalu simpatik.
Dosen Mustafa tersenyum lagi. "Saya hanya menawari jalan bersama hingga ujung koridor..."
"Oh, maaf... Terima kasih... Baiklah...," kata Lakesha buru-buru membereskan buku-bukunya dan memasukkan iPad ke dalam tas. Juga camera Canon Eosnya.
Lakesha berjalan menyusuri selasar kampus itu, nyaris tanpa suara.
"Hujan lagi... Kau yakin akan menunggu sendiri di sini? Atau kau bawa jaket?" Tanya Dosen Mustafa sambil membuka tas kantornya, mengeluarkan payung.
"Hm-mh..."
"Oke, baiklah... Sampai minggu depan!" Kata Dosen Mustafa sambil menepuk punggung Lakesha, lalu membuka payungnya.
"Sampai minggu, Dosen Mustafa," kata Lakesha sopan.
Dosen Mustafa mengembangkan senyumnya lebar, lalu mengangguk mohon diri, masuk ke dalam rintik-rintik hujan bersama naungan payung. Hingga ia tiba di depan mobilnya, ia menoleh pada Lakesha, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Lakesha berjalan ke arah bangku sambil memijit nomor taksi langganannya.
Beberapa saat Lakesha menunggu, ia menoleh pada Dosen Mustafa yang tampak sedang menulis sesuatu di atas setirnya. Cukup lama mobil itu berdiam di tempatnya, hingga mobil Dosen Mustafa itu merambat perlahan pada jalanan becek. Tapi, arahnya mendekat ke bangunan di mana Lakesha tengah menunggu taksi sambil membuka jas hujan.
Kaca mobil terbuka perlahan. "Sudah, lah Lakesha... Masuk saja. Aku tahu tak ada yang menjemputmu... Ujianmu lebih penting dari perjanjian apapun malam ini!"
Lakesha memikirkan ucapan Dosen Mustafa dalam-dalam. Ketakutannya atas yang diucapkan Erlan beberapa minggu lalu di kafe itu mungkin memang beralasan. Tapi, itu tak perlu dirisaukannya. Demi Dosen Mustafa adalah orang yang baik, semua orang mengenali dirinya sebagai pribadi yang rendah hati, dan integritasnya sebagai pengajar berkualitas. Lakesha tak ingin menjatuhkan harga diri Dosen yang dikaguminya di kelas itu.
Lakesha mengembangkan senyumnya lebar-lebar, lalu menyelendangkan jas hujan itu ke lengannya, dan segera berlari menuju mobil Dosen Mustafa.
Ia membuka pintu mobil itu sambil membungkuk. "Anda yakin akan hal itu! Terima kasih, Dosen Mustafa..."
Lakesha duduk menjembab punggungnya ke jok kursi. Dosen Mustafa tersenyum penuh wibawa dengan tangan siap memindahkan persneling dan kaki di pedal untuk menekan gas.
"Yea... Tapi, kau masih harus mengenakan jas hujanmu itu...," kata Dosen Mustafa diikuti dengan derai tawa keduanya.
"Tak bisa kupercaya!" Kata Noire sambil membelasakkan kue tart ke dalam mulutnya, hingga rumnya mengotori pipi dan tangannya sendiri. Ia memang selalu makan ceroboh seperti itu kalau sedang panik atau gugup. "Dia yang tampak selalu dewasa itu ternyata menyimpan sebuah rahasia besar masa gadisnya yang penuh warna!"
Dan tentu saja Noire selalu membesar-besarkan keadaan yang sebenarnya. Walaupun itu memang ada benarnya.
"Kau tahu dia orang yang paling lucu di antara kita!" Kata Dena merengut sambil melempar sisa kue di tangannya yang langsung diambil Noire. "Kita sering tak pernah bisa menebak apa yang akan dikatakannya."
"Aku rasa dia tak bermaksud menyimpannya... Aku rasa aku lebih tahu cara kerja Lakesha!" Kata Utari sambil merenung, mimik cemas. "Dia selalu menyimpan segala sesuatu dengan tersusun rapi. Tidakkah kalian melihat arsip itu dalam keadaan kacau?"
"Lalu mengapa Lakesha tak pernah mengatakannya pada kalian?" Tanya Erlan tiba-tiba membuat semuanya terhentak dalam diam.
"Ya! Heyyy...! Ini tidak adil sekali...!" Kata Noire sambil menekan dadanya. "Kenapa dia seperti tak mempercayai kita-kita? Uuuhhh..."
"Aku tak tahu... Apakah dia sakit hati...?" Tanya Erlan lagi.
"Yea... Kurasa itu alasannya, dia begitu tertutup sama lawan jenis..." Kata Dena. "Oh, my God... Aku telah menuduhnya lesbian..."
"Aha! Kupikir dia emang asyik saja orangnya!" Kata Erlan .
Utari mengerutkan kening, tapi ia langsung menunduk menahan senyumnya yang tersipu-sipu. Erlan melirik, lalu matanya mengerjap-ngerjap penasaran.
"Yea, kupikir dia memang begitu desperate...," kata Dena.
"Ah, kamu ini, desperate gimana??" Utari berbalik menepuk tangan Dena.
"Elo tahu wajahnya kalau dia tidak pakai make up? Mas Yadi pernah bilang waktu kami berenang bersama... Dia bilang, ahh, Lakesha jelek sekali aslinya, ya?"
"Ah, Mas Yadi... Gimana, sih?? Nggak jelek, koq...!" Kata Noire tak suka dengan nada polos sekali.
"Iya, gue marahin si Mas Yadi... Terus, dia bilang, maksudnya pucat sekali kayak orang abis keluar dari kamar es..."
"Ahaaa... Pantas, dia suka pake fake eyelashes terus..." Kata Erlan lagi.
"Sok tahu, deh kamuuu...! Itu eyelashesnya beneran!!" Kata Utari sambil memukul lengan Erlan .
"Oh, itu beneran??!" Tanya Erlan . "Matanya agak sipit tapi bulu matanya panjang banget gitu, ya!?"
Semuanya melenguh menyesalkan sambil menepuk d**a.
"She is so adorable... Kalau kita berbicara sesuatu, ia akan keluarkan pendapatnya yang menyejukkan. Don't you think?!" Kata Utari, lalu meminta pendapat Erlan lagi.
"Nah, I think she is just a brat."
"No. Hey!! Kenapa kamu suka sinis gitu sama Lakesha...?" Kata Utari, tak suka dengan jawaban Erlan .
"Aku tak tahu... Aku pikir, dia selalu cemberut kayak gitu..."
"Itu memang bibirnya saja yang manyun!!" Kata Noire sambil melotot bingung pada Erlan . Kali ini Erlan dibuat ketawa.
"Itulah kenapa, aku melihatnya dari samping pula!!"
Semuanya dibuat tertawa.
"Nah, no, dia bener-bener temen yang baik. Utari benar, dia selalu mengatakan segala sesuatu keluar dari hatinya." Kata Utari.
"Nah, I think you are best friends too... Lovely friends..."
"Aaah... That's so sweet of you... Erlan ..." Kata ketiga wanita itu serempak, mengelus lengan Erlan . Demi dielus oleh tiga wanita cantik sekaligus, Erlan tersenyum bangga.
Dena mulai cemberut tak sabar, "lalu apa yang harus kita lakukan. Apakah kita harus menanyai dia?"
"Ya... Aku ingin tahu kelanjutan kisahnya..." Kata Utari.
"Mungkin saja bisa kita bisa mempertemukan mereka kembali!" Kata Noire dengan semangatnya.
Dena menekan-nekan tissue ke hidungnya yang mulai terasa berair saat matanya ikut-ikutan perih. Dena mulai sensitif rupanya.
Utari juga resah.
Noire gugup tak tahu lagi ide apa yang tadi ingin dikeluarkannya.
Erlan tampak bingung melihat tiga wanita di hadapannya dalam keadaan seperti itu.
"Kalian harus tanya dia... Kalian ingin tahu semuanya, kan?"
Semua mengangguk.
"Tapi, harus pelan-pelan biar dia nggak shock. Ingat resikonya adalah pertemanan kalian."
"She will be just good with us...," kata Utari pasti. "Masalahnya cuman, aku nggak ingin kondisi fisiknya semakin menurun. Minggu depan ini dia ujian, tapi dia masih saja belum mau pulang ke apartemennya. Aku tak tahu apa kita bisa menjaga rahasia ini. Bagaimana kalau sesuatu terjadi di pertengahan minggu ini? Lalu dia breakdown? "
"Kau betul, harus ada solusi," kata Dena.
"Kau bisa menyimpan rahasia?" Kata Utari pads Dena.
"Aku tak bisa!" Kata Noire menukas buru-buru sambil menggoyangkan acungan telunjuknya cemas.
Erlan menghela nafas berat sambil menggeleng-geleng melihat ketiga wanita itu. Ia sendiri tak yakin mereka akan berhasil melakukannya.
"Kurasa, kalian harus mendekatinya pelan-pelan, satu per satu... Harus ada seseorang yang mau menjadi kambing hitamnya dengan mengaku menerobos komputernya!"
"Aku aja yang jadi kambing hitamnya!" Kata Dena mengangkat telunjuknya bersemangat.
"Oh, ya! That's really a good idea!!" Kata Noire menatapi Dena dan Erlan .
Utari mengangguk sambil membenahi penampilan jasnya. "Ya... Setelah itu, si kambing akan curhat ke seorang lainnya, dan seorang lainnya..."
"Tepat sekali!" Kata Erlan puas, sambil menjentikkan jari.
Ketiga wanita itu menoleh padanya sambil tersenyum puas.
"Ayo, sekarang kalian pulang... Sudah terlalu malam..."
"Hey! Kupikir itu mobil temanmu!"
"Mana?" Lakesha menoleh ke arah yang ditunjuk Dosen Mustafa. Lakesha pikir, itu arah dari Kafe, jadi bisa saja memang mereka. Kalau memang benar, jeli juga Dosen Mustafa, pikir Lakesha.
Dosen Mustafa memutar mobilnya ke pelataran parkir. Mas Naryo berlari tergopoh menyambut kedatangannya. Lampu sen menyorot ke dinding bangunan, memutar ke arah Mas Naryo, laku berhenti tanpa mematikan mesin. Mas Naryo berkelit dengan menahankan tangannya menutupi matanya. Ia dengan buru-buru minggir ke samping mobil, sekalian dibantunya Lakesha membukakan pintu.
Namun tetap saja Dosen Mustafa keluar, berjalan menghampiri Lakesha. Ia tersenyum melihat Mas Naryo meminta tas-tas Lakesha dan tergopoh membawakannya ke dalam kantor sambil melambai usil pada mereka.
Lakesha menggeleng malu. Dosen Mustafa tersenyum, mengangguk puas. "Kalau ada apa-apa, kau boleh menelfonku. Aku akan dengan senang hati berada di sana..."
Seketika Lakesha tersentak. Suara itu tak pernah disangkanya bisa keluar dari dosen muda yang tampan begitu dikaguminya. Lakesha begitu tersanjung sekaligus kecewa, ia mengkhawatirkan integritas dosennya. Ia merasa barusaja Dosen Mustafa merayunya.
Lakesha mengerjap, lalu menggeleng cepat. "Dosen Mustafa jangan khawatir. Aku benar-benar baik-baik saja..."
"Aku tahu..." Dosen Mustafa hanya tersenyum mengangguk, lalu menunduk membalikkan tubuhnya ke arah pintu mobil. Lakesha pun mulai berjalan menuju. Tiba-tiba, Dosen Mustafa menarik tangan Lakesha dengan sebelah tangannya.
Keduanya diam tak bergerak. Lakesha pun tak memalingkan muka, hanya menunggu. Ia merasakan tangan Dosen Mustafa begitu halus, tapi ia segera tersadar bahwa ada sebuah lipatan kertas terkepal di tangannya. Tanpa bicara sepatah katapun, Lakesha menerimanya. Genggaman itu segera terlepas. Saat Lakesha membalikkan badan, Dosen Mustafa sudah berjalan masuk ke mobil tanpa menoleh sekalipun padanya.