Sebuah Hari Yang Baik

3180 Kata
Aku benar-benar ingin bicara pada seseorang. Tapi, aku tak tahu siapa itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dosen Mus! "Mus...," rintih Keisha. Dosen Mus segera tahu apa yang terjadi. "Temui aku di dermaga... Aku menuju ke sana sekarang juga..." Keisha menduga-duga, bagaimana ia akan menemukan Mus kali ini. Ia tak menyangka kalau Dosen Mus akan benar-benar datang. Taksi itu terus berderak di pelataran kerikil, hingga menepi di ujung jalan. Air danau sudah tampak di kejauhan. Pastilah Mus sudah menunggunya di sana. Sopir taksi menanyakan apakah ia perlu menunggunya, Keisha menjawab, tak perlu. Tanpa menunggu uang kembalian, Keisha melangkahkan kaki keluar mobil, berlari kecil menuruni jalan setapak. Ia memandang ke tepian danau. Ternyata benar! Mus berdiri sendiri di atas dermaga. Ia berbalik melihat Keisha datang, lalu membalikkan dirinya lagi ke arah danau.  Hingga Keisha tiba, barulah Mus menoleh lagi. Mus segera mengalungkan tangannya ke pinggang Keisha. Lalu berkata dengan ceria, "jika kita mengumpamakan cinta yang tulus seperti danau yang tenang ini... Tahukah kau apa yang bisa membuat danau ini meluap?" Tapi, Keisha masih terengah. Kedua tangannya bertumpu pada d**a laki-laki yang memeluknya begitu hangat. Tiba-tiba saja Keisha merasa bahwa laki-laki ini ingin menyampaikan sesuatu padanya. Wajahnya menengadah, matanya menatap wajah dosennya itu. "Aku tak tahu," jawab Keisha cepat dengan jujur. "Alirannya yang dibendung...," Dosen Mus menoleh sambil tersenyum pada Keisha, Keisha dibuatnya terpana. "Mus..." "Keisha... Jangan menjadikanku masalah dalam kehidupan kamu. Kau tahu sendiri, aku bahkan tidak pantas mendapatkan penderitaanmu...," kata Dosen Mus dengan mata penuh harap. "Aku memiliki cinta yang dibendung, pada wanita terkasih yang menjadi ibu dari anak-anakku, dan meluapkan perasaanku itu padamu... Lalu apa? Kau bahkan tidak bisa menampung cintamu sendiri..." "Dosen Mus..." "Aku tahu. Sebelum kau mengatakannya... Sejak lama semuanya sudah aku perhitungkan akan seperti ini. Kufikir, aku bisa menanti hingga kau lulus... Tapi, kulihat kamu sangat rentan, aku merasa kita saling membutuhkan untuk menguatkan satu sama lain. Walau begitu, aku benar-benar suka padamu..." "Kau suka padaku...?" Tanya Keisha menekan pada dadanya kaget, diliputi kebingungan. Dosen Mus menatap wajah Keisha tanpa berkedip, matanya bening memutar ke wajah Keisha. Beberapa kali ia menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu perlahan senyum simpul itu mengembang di mulut dan matanya. Tapi bening itu meredup cemas, ia pun menjawab pendek sambil menjatuhkan tatapannya dengan sedih di bibir Keisha, "tentu saja! Aku menyukaimu sejak kita sama-sama di SMP. Aku pikir, kau hanya bercanda menyalamiku. Saat itu, aku sendiri tengah tenggelam dalam sosok wanita yang aku puja." "Lalu apa yang terjadi?" Tanya Keisha was-was. "Itu adalah kau, Keisha... Kau seperti danau itu... Yang tak kuat lagi menampung cintamu sendiri... Aku tahu, kau harus meluapkan perasaanmu itu pada orang yang kau cintai... Untuk itulah kita berada di sini... Aku tahu, wanita pujaanku itu sebenarnya adalah kau." "Maksudmu...?" Tanya Keisha semakin cemas. "Aku akan kembali pada istriku... Aku akan bertemu kembali dengannya untuk yang pertama kalinya setelah kecelakaan itu... Adalah istriku yang benar-benar dengan tulus mencintaiku. Itulah kenapa ia mengalami kecelakaan itu. Ia pikir, aku terobsesi dengan wanita pujaanku di SMP, saat aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku mengajar." "Oooh..." Keisha menutup mulutnya sambil membuncahkan air mata. "Aku sekarang mengerti kenapa kau begitu ketakutan bertemu denganku. Aku malah tak tahu apakah kau bahagia?" "Dia isteriku... Wanita yang aku kasihi... Aku pernah begitu tergila-gila padanya..., sehingga aku menangis bersimpuh di bawah kaki orangtuanya, meminta putrinya agar bisa kunikahi," kata Dosen Mus sambil melepaskan pelukannya. "Dan masih, karena ia akan membawa ke dua putera-puteriku... Mereka akan pulang ke rumahku... Kami sudah memutuskan untuk kembali seperti sebuah happy family. Aku akan mencintainya sepenuh jiwaku..." Mata Keisha meredup oleh linangan air mata. Ia begitu bahagia untuk Dosen Mus. Beberapa saat kemudian ia melihat wajah Dosen Mus berbinar-binar. Senyum itu benar-benar manis dan terkembang. "Aku senang kau juga bisa menangis untukku...." Kata Dosen Mus sambil tersenyum bahagia. Ia sudah beberapa kali memergoki Keisha menangis di kampus. "Dosen Mus... Aku benar-benar..." Keisha sadar, kenapa Dosen Mus selalu terlambat pulang dengan alasan harus menunggui anak-anaknya tidur di rumah mertuanya, hingga ia bisa membawanya pulang ke rumah dalam keadaan tertidur. "Aku tahu... Adalah kamu yang membuatku melakukannya..." "Dosen Mus... Kenapa kau mengatakannya?" Tanya Keisha tak percaya. Ia tahu Dosen Mus pantas mendapatkan wanita secantik dan sepintar apapun. "Kau membuatku tersadar, bahwa setiap manusia pantas berbahagia dengan cintanya. Aku tak ingin kau menderita sepertiku... Aku tak mungkin bahagia dengan isteriku kali ini, jika kau sendiri menderita. Jangan lakukan itu padaku! Aku percaya kau akan menemukan kebahagiaan bersama orang yang kau cintai dalam hatimu..." "Maksudmu, Mus...?" Tanya Keisha mulai terisak. "Kau ingat waktu kita ujian masuk, saat aku bersandar di dinding luar kelas kita?" "Ya, tentu saja." "Kau minta aku melepaskan kacamataku? Aku bilang aku tak mau." "Ya, dan aku sangat marah sekali." "That means, it has never been me, and don't worry about it. I won't recognize you without my glasses. But, he will always do... He has always been there for you, because, he supposed to. He must been facing his own dilemma all alone, that is why," Kata Dosen Mus menghela nafasnya dalam-dalam, tapi tak mampu menarik kembali titik air yang keluar di matanya. Ia menarik senyumnya, tapi mulut itu hanya bergetar. "Terima semua seperti apa adanya... Tidak ada terlambat untuk memperbaiki... Saat segalanya terlanjur rusak, satu-satunya cara untuk memperbaiki adalah dengan memaafkan dan mempertahankan... Aku tahu, belahan hati mana yang kita harus pertahankan..." Keisha terpana mendengarnya. Ia melihat kilatan mata Dosen Mus. Air mata Keisha membuncah di d**a Dosen Mus. Mus memeluk Keisha sambil mengusap rambutnya yang harum. Tiba-tiba pandangan Mus beralih ke atas. Seseorang tengah bersandar pada mobil sambil memainkan ponsel. "Jemputanmu sudah lebih cepat datang..." Keisha menoleh pada yang ditunjuk Mus. Ia terkejut dan segera berbalik ke arah danau sambil menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Dosen Mus tertegun. Ia membalikkan tubuh Keisha, kedua tangannya memegang pipi Keisha. Lama ia menunduk memandang wajah Keisha. Kemudian, dipandangnya laki-laki itu dengan ragu. "Jadi, itukah dia...?" Tanya Dosen Mus khawatir dengan hati-hati. "Yang kau nantikan selama ini..." Keisha terdiam lama, ia lalu mengangguk lemah dan melingkarkan tangannya ke pinggang Mus dan memeluknya erat-erat. Wajah Dosen Mus mengeras hingga memerah, ditariknya kepala Keisha dan memeluknya di d**a dengan kuat. Ia mengangkat wajah Keisha dan memandangnya dalam-dalam. "Seandainya saja aku dicintai oleh wanita seperti dirimu...," katanya dengan suara tercekat. Air matanya beraliran, ia merengut dan mengangguk-anggukan kepala. Keisha menggeleng hingga tertunduk menyembunyikan deras air matanya. "Aku tak tahu apa yang dia inginkan...," kata Keisha serak, menggeleng lemah. "Aku... Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan..." "Aku tak pernah berani menduga siapa dia...," kata Dosen Mus pelan. "Tapi, aku tahu aku kau harus menemuinya dan berbicara hari ini juga... Aku begitu bahagia semuanya terjadi seperti ini. Sedetik aku mendengar suaramu tadi pagi. Aku tahu... Oleh, karenanya, aku meminta teman-temanmu untuk memberitahunya kau kau ada di sini... Kau lihat? Dia datang untukmu. Dia tahu apa yang terjadi denganmu." Keisha membuang mukanya ke air danau. Diam mematung untuk beberapa saat lamanya. "Sekarang giliranmu, Keish... Kata hatimu adalah keputusanmu. Aku tahu, kau ingin mendengarnya dariku... Kau bisa menyalinnya dari belahan hatiku. Kalau dia bukan laki-laki yang baik, dia tidak akan datang kemari untukmu. Buat aku percaya, bahwa kau mempercayaiku selama ini... Tolong, beritahukan padaku kenapa aku mengatakannya...," Kata Dosen Mus tersenyum kelu. Keisha tercekat. Ia menatap wajah Dosen Mus lama. Mus mengangguk sambil mengerjap beberapa kali oleh basah airmatanya. Keisha pun melemparkan pandangannya. Tampak Utari, Erlan , Dena dan Ayu melambai di kejauhan. "Aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan...," kata Keisha lagi dengan nada bimbang. "Temuilah dia... Keisha, kau pantas mendapatkan apa yang kau inginkan dalam hidupmu... Jangan buat dia yang menentukan kebahagiaanmu!" Kata Dosen Mus sambil memghela nafas berat, namun nadanya bersemangat. Keisha membuang wajahnya, lalu meringis. "Aku takut Dosen Mus kecewa denganku..." "Aku tidak akan lebih kecewa dari tidak mengetahuinya dan menganggapmu mahasiswa yang bodoh, bahkan tanpa cinta...," kata Dosen Mus tersenyum manis. Keisha merengutkan wajahnya, menyangsikan ucapan Dosen Mus. Dosen Mus lalu tertawa. Ia tahu, kekaguman Keisha terhadap dirinya berdasarkan pada pengetahuan Keisha yang tinggi. "Aku tidak akan lebih kecewa dari tidak mempertemukan kalian...," kata Dosen Mus dengan nada bingung. Perlahan senyum Keisha terkembang di wajahnya, ia tampak malu sekali menatap wajah Mus yang menggodai dirinya. Lalu ia merentangkan kedua tangannya, memeluk Dosen Mus yang tersenyum dengan simpatik. Keisha merekatkan pelukannya lagi lama sekali, sebelum melepaskannya ia pun menaruh sebuah ciuman di pipi kiri Dosen Mus. "Pergilah, sebelum isteriku kembali... Jangan berbalik padaku...! Atau aku akan kehilangan akal sehatku!" Dosen Mus sambil mendorong tubuhnya pergi dengan senyum konyol. Keisha merasa enggan, tapi tak urung ia pun perlahan beranjak pergi, dengan perasaan tak tentu. Ia berjalan sambil membuang wajahnya. Tapi ia tahu ia sangat bahagia untuk Mus, lalu terbersit perasaan geli, ia pun berbalik melambaikan tangan meninggalkan dermaga. "Aku berjanji akan mencarimu, kalau sesuatu yang buruk terjadi," kata Keisha sambil mencari wajah Mus menggodai. Dosen Mus merengutkan wajahnya sambil menarik mulutnya, ia menepis dengan sebelah tangan. "Ah! Aku tak suka dengan bunyi klippermu!" Keisha tertawa menutup mulutnya, sambil lalu melemparkan dua ciuman jauh. Di kejauhan, Jericho terduduk bersandar ke mobil, diam memerhatikan dengan kedua tangan terselip di saku celananya. Teman-temannya memburu kedatangan Keisha, tanpa banyak bicara. Hanya Jericho yang bertahan di tempatnya. Ia seperti tak ingin mengusik kenyamanan Keisha di tempat ini. Utari mengalungkan selendang pashmina ke pundak Keisha. Dena memeluk Keisha erat pinggang Keisha. Ayu dan Erlan berjalan mengikuti. Tiba-tiba, saat melewati Jericho yang bersandar di mobilnya, mereka mendengar Jericho memanggil Keisha. "Keish...!" Keisha seperti ia tersengat aliran yang mengejutkan, ia berhenti saat itu juga. Semua tampak sangat sadar dengan apa yang tengah terjadi dan bisa merasakan ada kemistri yang kuat antara keduanya. Jericho seperti ragu-ragu bergerak dari tempatnya, tapi ia mengulurkan tangan pada Keisha. Merekapun melepaskan pelukan pada Keisha. Tanpa sepatah kata, Keisha menghampiri laki-laki yang memanggilnya itu. Dengan cepat Jericho menangkap tangan Keisha dan menangkap sebelah tangannya lagi, menumpu keduanya di antara mereka. Keisha semakin mendekatkan diri. Jericho menariknya ke dalam pelukannya. Lalu menangkap wajah Keisha dengan kedua tangannya. Wajah Keisha yang pucat dan sembab itu memerah dan menghangat. Jericho membauinya kehangatannya dengan hidungnya, dan menciumi kulit ari-arinya dengan lembut. Teman-teman Keisha terkejut melihatnya, mereka berbisik-bisik senang sambil berjinjit meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba, suara itu mengejutkan mereka berdua. "Pappaaa...!!" Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan tampak seorang wanita datang dalam kursi roda, didorong oleh perempuan tua dan dua orang anak kecil mendampinginya. Dosen Mus tampak berlari kecil menyambut kedatangan mereka. Ayah dan anak-anak itu saling bertubrukan, berpelukan rindu. Sekilas, Mus menolehkan wajahnya ke arah Keisha. Keisha mengangkat tangannya ke d**a, dan membuat bentuk hati untuk mereka. Dosen Mus tersenyum lebar, mengangkat anak-anaknya di udara satu per satu. Jericho membuka pintu mobilnya untuk Keisha. Keishapun masuk dan duduk. Lalu Jericho berjalan memitari mobil dan membuka pintu setir. Ia masuk dan duduk mengunci pintu. Mesin mobil dihidupkan Jericho, ia mengalihkan gigi. "So... Mau kuantar ke mana, Nona? Ke rumahku dengan satu, dua, tiga atau empat orang anak?" Keisha tersenyum, lalu tergelak dengan suara serak. Jericho hanya menoleh padanya sekilas sambil memutar roda, namun senyumnya terus berkembang. Hari Minggu pagi itu jalanan Jatinangor sudah macet. Para pejogging datang dari berbagai arah. Keisha melesat menyebrangi jalan, dalam beberapa langkah cepat, ia sudah menanjaki jalan masuk kampus UnPad. Matanya memburu areal parkir yang setiap awal hari Minggu seperti ini dijadikan pasar pagi. Sekelompok pemuda tiba-tiba muncul dengan keributan yang cukup membuat Keria melarikan pandangannya ke arah sumber suara. Keisha memutar badannya sambil berlari kecil di tempat untuk memastikan siapa mereka. Keisha mengenali gerombolan itu sering lewat di hari yang sama. Mereka semua berpenampilan keren dan berwajah tampan, tapi, ia hanya memperhatikan mereka sekilas saja. Secara kebetulan, ia melihat seseorang tersenyum padanya. Keisha membalasnya dengan merengutkan hidung. Ia meneruskan berlari, dan lebih cepat lagi. Tiba-tiba, seseorang melewati langkahnya, lalu tiba-tiba tangannya dicekal dengan begitu kuat. Bhea menariknya, tapi malah ia yang tertarik hingga wajah mereka hampir beradu. Dalam jarak sedekat itu, Keisha menemukan wajah seseorang yang begitu tampan tadi dilihatnya. Kali ini dengan senyum lebih lebar, dan membuatnya tak enak. "Cantik..." "Lepaskan!" Kata Keisha menarik tangannya kesakitan. "Heyyy...! Mau kemana?!" "Kau fikir aku mau kemana, itu bukan urusanmu!!" Kata Bhea menatapnya garang. Pemuda itu merengutkan wajahnya tak suka. Sekilas Keisha melihat wajah itu seperti menantangnya, tapi lalu merengutkan hidungnya persis seperti yang Keisha lakukan tadi padanya. Tapi, wajah laki-laki itu masih tetap tampan, fikir Keisha mengakui. Ia merebut tangannya sambil mendorong d**a laki-laki itu dengan keras sengaja menyakitinya, lalu berlari kabur mengejar teman-temannya yang entah pergi ke mana. "Heyyy! Jangan pergi...!" Keisha benci sekali dengan nada panggilan yang terdengar seperti mengolok di telinganya itu. "Kau mendorongnya dengan keras! Kau tau siapa itu!" Kata Darman. "Aku tak pernah tahu kalau ada teman kostanmu yang berani menyalamiku. Kufikir semuanya para pecundang!" "Seenaknya saja kau ngomong, kau tak tahu bagaimana pergaulan kostanku!! Tapi, okeee... Dia buka temen kostanku... Tadi aku dibeliin A Mild sebungkus untuk menyampaikannya padamu..." "Idih? Roko sebungkus gila, kamu!" "Jadi, kau tak mau terima, nih?? Entar nyesel, loh...!" "Heeh??!! Aku nggak tahu orangnya! Siapa namanya? Anak jurusan mana dia...?" "Eeeeerrr... Errrr... Mana, yah? Fisip? Fikom?? Mana kutahu semuanya?? Cuman sebungkus doang...? Kasih sebungkus lagi dulu, dong..." "Bilang aja ngomong sendiri kalau berani!" Keisha menepiskan tangannya, masuk ke kelas tanpa menoleh lagi. "Dia mau datang ke kostanmu! Malam minggu ini, dia akan mengapelimu! Kau ingin dibawakan apa, katanya?! Cokelat atau bunga?!" Keisha menoleh, mengangkat ibu jarinya ke atas sambil tersenyum, lalu menurunkan jari itu dengan senyumnya yang lebih lebar untuk mengolok. "Lihat saja! Dia akan datang ke kostanmu malming nanti bagaimanapun juga!!!" Malam minggu itu, hujan kecil. Tamu itu datang dengan rambut kuyup. Keisha menatapnya dengan rasa takjub dan geli. "Siapa kamu? Mau apa datang ke sini?!" Di luar gelap sekali dan hujan, dingin sekali pula. Mengapa dia memaksakan datang ke sini?! Fikir Keisha yang tak suka kegelapan dengan perasaan ngeri. "Namaku Jericho...," kata pemuda itu sambil tersenyum. "Aku datang ke sini untuk bertemu dengan kamu... Keisha...?" Kata Jericho sambil menunjuk dirinya dengan sebelah tangan. Sebelah tangannya lagi terlipat ke belakang punggungnya. Oh! Semacam apel di zaman dahulu, fikir Keisha. Laki-laki tak usah buat appointment dan persetujuan dari sang perempuan. Mereka akan datang menunjukkan kejantanannya. Mari kita lihat seperti apa kelanjutannya, kata Keisha dalam hati. Keisha menunjuk tangannya ke pintu sambil berbalik agar pemuda di hadapannya ikut masuk. Jericho berdiri ragu-ragu di ambang pintu. "Aku akan bawakan handuk untukmu. Kau boleh duduk, kalau kau mau...," kata Keisha, sambil menahan rasa aneh dan geli. Ia kembali dengan handuk bersih. Jericho mengucapkan terima kasih. "Kau tentunya ingin minum. Biar kuambilkan, mau kopi atau teh panas?!" "Teh panas saja!" "Oke! Bagus!" Kata Keisha keceplosan. Ia tak suka kopi, dan tidak suka membuatkan kopi. Jericho berhenti tiba-tiba dari mengucek-ucek rambutnya, menatapi hilangnya punggung Keisha di balik pintu sambil memegang handuk. Keisha kembali dengan dua teh panas. Ia meneguknya duluan, punyanya tak terlalu panas, karena ia tak pernah sabar untuk menunggu hangat atau meniupinya. "Ayo! Diminum!" Kata Keisha sambil meneguk cangkir tehnya sendiri nyaris habis. Jericho mengangkat cangkir di atas meja yang disuguhkan Keisha ke bibir, dengan mengucapkan terima kasih sebelumnya, tiba-tiba ia mengaduh. Cangkirnya bergoyang oleh hentakan tangannya. Wajahnya mundur namun tak ayal teh itu mengguyur ke mulut dan tumpak ke kakinya. "Uhhh! Ini panas sekali!!" Keisha terkikik. "Aku tak bilang kalau itu dingin. Kubuatkan yang panas karena kau kedinginan." Kata Keisha tanpa rasa bersalah. Ia merasa puas telah mengerjainya. Jericho mengernyitkan dahi sambil mengusap-usap tangannya yang kena air panas, lalu menari bibirnya cuwek. Saat itu Keisha memerhatikan bahwa laki-laki di hadapannya cakep sekali. Dagunya panjang dan kuat, senyumnya manis sekali dan sangat relaks. Sedikit dalam Keisha memerhatikan dengan hidungnya yang mancung seperti keturunan Arab, dan matanya yang tajam beralis tebal, laki-laki di hadapannya pantas menjadi Pangeran. Tiba-tiba wajah itu mengangguk pada Keisha, seakan memberikan izin Keisha menatapinya seperti itu. Dengan mata terangkat dan bibir tersenyum, ia menunduk mencari wajah Keisha mengerjap dan buru-buru tertunduk malu mengalihkan pandangannya. "The second that you're gone, I hated every women except those who looks like you." "But, Gendis doesn't look like me at all." "She is the one who knows everything about you." Keisha menepuk keningnya, lalu mengerling sambil tersenyum. "You're so funny!" "Kamu boleh mengganti katamu dengan cute." "Hey! You're always self-flattering like that!" "I deserved to be flattered if a girl like you sit so close to me like this..." Kata Jericho sambil menoleh, lirikan matanya menancap beberapa saat di pelukan tangan Keisha yang mengunci lengannya. Keisha tersentak dengan bahak kecil, ia segera menghentakkan pelukannya lepas dari lengan Jericho. Tapi Jericho menarik kembali kedua tangan Keisha memelukkan lengannya. "Ini tidak akan menyakitkanku..." Sebelah alis Keisha merengut, sambil menatap heran. "I adored you, he always talk about you and I dreamed to be like you. I sometimes wish that you're dead and fantazise that you never existed. But, here you are... Showing yourself for how painful it is to look at him glaring every piece of you." kata Gendis sambil tersenyum sedih. Tapi, Keisha menangkap kilatan aneh di balik eyeliner, bola mata itu terangkat terlalu tinggi. Owwh! She is really good, fikir Keisha sambil mendengus kecil. Kepalanya menggeleng. "Dia menyebutkan sesuatu dengan bukit jingga. Aku fikir, letaknya tak jauh dari lokasi kampus mereka. Mungkin dia pergi ke sana!" "Bukit jingga, apa itu, nama bukit?" "Entah, lah..." "Apa yang dilakukan di sana?!" "Kufikir, dia ingin mengenang Jericho di sana!" "Oke... Siapa yang mau ikut?!" Kata Utari bertanya, "Riv, tolong lemparkan kunci mobilmu! Kita perlu mobil yang lebih kuat!" "Biarkan aku yang menyetir...," kata Erlan . Utari seperti terenyuh, ia memperlihatkan wajah penuh simpati dan terima kasih, lalu menyambar jaketnya yang menggantung pada sandaran kursi dan tas di atas meja. "Aku tak bisa..." Kata Ayu sambil memegang perutnya. Di perjalanan, melewati Puncak Bogor. Sebuah mobil melesat dalam kecepatan tinggi, menyalipnya. "Hey, hey, hey! Itu mobil Jericho!!" "Kau yakin?!" Kata Erlan , ia memicingkan matanya mengamati mobil yang hendak menyalip lagi di tanjakan curam itu. "Ya, kau lihat flat nomornya itu, K 3 IRA." Wanita-wanita itu berdesah resah. Mereka sudah memperkirakan langkah apa yang harus diambil oleh Erlan . "Oh, ya...! Oke, buddy...! Let's see how fast you can go!" Erlan bersiap menekan gas. Mobil itu menggerung keras. Mobil Mercedes Erlan dengan cekatan menjajagi jarak dengan mobil berflat asal kota Pati itu. Erlan tak segan-segan menyalipnya, agar ia bisa memastikan tetap menjaga jarak. Atau BMW itu akan melampauinya dan mereka terjebak oleh jarak yang terhalang oleh kendaraan yang datang. Dan memang, semua bisa memastikan bahwa orang yang mengendarai BMW itu adalah Jericho sendiri. Keduanya saling bersusulan di sepanjang jalan Puncak. Seperti yang mereka perkirakan, Jericho sudah menyadari siapa mereka yang berada dalam Mercedes yang menjajagi mobilnya. Ia membunyikan klaksonnya sekali saat menyalip mereka. Mobil BMW Jericho melingkar di tikungan Cipanas dengan cepat dan melesat di tanjakan hingga hilang di ujungnya dalam sekejap. "Damn! He's good...!" Kata Erlan sambil menekan gas dengan semangat. Ketika Mercedes itu tiba di pasar Cipanas, mereka hanya melihat titik hitam dari BMW. Mercedes itu terjabak oleh beberapa mobil yang berbelok dari jalur seberang ke arah jalan keluar. "Oh, tidak...," kata Erlan menahan dirinya. "Don't loose him!" Kata Utari memperingatkan Erlan sambil menunjuk ke depan. Erlan menunggu jalan lengang sambil mengetuk-ngetuk gagang setirnya dengan tak sabar. Saat jalan bersih dari hambatan, ia langsung menancap.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN