Kenangan Bersama Jericho

1142 Kata
Mereka keluar dari ruang KFC menuju keluar, menanjak di pelataran parkir, kemudian berbelok ke arah jongko tukang sate di depan BRI. Jericho mendapat sapaan dari penjual sate yang tengah bersiap menggelar dagangannya dengan antrian pembeli menyesaki bangku-bangku di dalam. "Mau bikin sate, nggak?? Tar keburu habis...," kata si penjual itu dengan aksen Madura yang kental. "Ya, udah bikin 20 campur, ya! Sejam lagi diambilnya! Nyantai aja, Mas...!" Jericho menepuk pundak penjual itu. Isteri sang penjual mengembangkan senyumnya lebar-lebar. "Heyy! Itu pacarnya, yaaa? Amboyyy...!" Tapi, Jericho sudah tak lagi memperhatikan mereka. Ia merengkuh pundak Keisha menjauh dari pinggir jalan. Mereka tiba di depan rental buku itu. "Ayo, ambil motor dulu." Jericho mengajak Keisha masuk. Keisha duduk di atas pagar tembok yang rendah menunggu Jericho menyalakan motor. "Kalau kau perlu apa-apa, bilang saja padaku. Nanti kubantu mencarikannya. Tak susah di sini, kau bisa menemukan semua kebutuhan selama masa perkuliahan," kata Jericho sambil melangkahkan kakinya santai ke sebuah motor dan mendudukinya. "Kamu kost di mana?" Keisha baru sadar ia tak tahu mengapa Jericho mengajaknya ke arah yang mereka ambil. "Kostan aku di Sukawening, agak jauh dari sini... Kau tahu jembatan cincin tua yang bersejarah? Nanti kuajak kau ke sana, kalau main ke kostanku." "Oh? Belum pernah dengar..." "Hm! Itu adalah bangunan peninggalan Belanda. Kau bisa melihatnya dari kampus Fikom Unpad dalam jarak pandang 500 meter. Suasana alamnya tenang dan menyejukkan." "Hm, aku mau ke sana langsung..." "Tapi, di sekitar sana ada kuburannya... Kau tidak takut, kan?" "Oh, nggak, deh... Aku liat dari Fikom aja, kalau gitu..." Kata Keisha buru-buru. "Kau mau ke kosan ku sepulang dari membawa galon?" Tanya Jericho sambil tersenyum penuh harap. Keisha menelengkan wajahnya yang grogi sekaligus senang, lalu mengangguk. Keisha tahu, bahwa mereka baru saja kenal, tapi ia tak merasa punya alasan untuk mengkhawatirkannya. "Aku harus belajar..." "Oke, tak apa, lain kali saja." Motor itu berputar arah, siap melaju, Keisha duduk di belakang joknya. Jericho menepuk lutut Keisha agar merapat sambil membelokkan motor ke kiri dan merambati jalan raya. Motor itu tak lama dihentikan di pinggir jalan masuk ke Kampung Geulis. "Kau tidak tahu, kau bisa membeli galon di sini?" Tanya Jericho sambil menoleh ke Keisha yang sudah turun menjejakkan kaki di tanah. "Www... Puuh... Tidak, aku baru tahu di sini tempat penjualan galon..." Keisha menarik bibirnya malu. Jericho hanya mengedip sebelah mata sambil tersenyum. "Di sini kau bisa isi ulang atau membeli galon Aqua yang asli." "Owh, bagus...," kata Keisha membuat Jericho tersenyum puas. Masih meninggalkan motornya dalam keadaan menyala, Jericho berjalan menaiki sebuah anak tangga, ia melambai-lambaikan tangannya. "Kang! Ambilkan galonku yang satu, ya!" Jericho menyapa dan menyebutkan pesanannya pada seorang laki-laki yang tengah asyik duduk mengisi TTS di atas kursi. "Sama kompresan, ya!" Laki-laki itu terperanjat, lalu menyapa kembali, "Ohh, Cep Jericho... Mangga, mangga, Cep... Diantos sakedap..." Keisha hanya berdiri termangu, Jericho berbalik ke arah motor sambil memperhatikannya tanpa berkedip. Entah kenapa, Keisha malah tertawa kecil, ia merasa lucu sendiri melihat Jericho seperti menikmati semua yang dilakukannya. Tiba-tiba saja, Keisha merasakan tawa kecilnya itu. Kedengarannya seperti suara tawa kecil Ibunya. Ibunya selalu tertawa kecil seperti itu setiap kali menceritakan kenangan indah bersama Ayahnya. Keisha mengerjap, entah kenapa, ia ingin Jericho terus memandanginya, untuk memastikan bahwa tidak ada yang aneh pada dirinya. Penjual air itu datang dengan memanggul sebuah galon dari dalam kamar penyimpanan, ia membopongnya di tanah dekat motor yang sedang diputar posisinya oleh Jericho. "Berapa kompresannya, Kang?" "5 ribu..." Jericho membayarkan semuanya dengan selembar uang puluhan ribu. Penjual air itu bergegas bawa uangnya dan menghitung uang kembaliannya di kasa. Tak lama ia sudah turun lagi berjinjit menghitungkan kembali tersebut ke tangan Jericho. "Oke, makasih, Kang!" Jericho mengangkat galon itu dan menyimpannya di antara kakinya. "Sama-sama, Cep, Neng...," angguk penjual air itu sopan. Keisha balas mengangguk, lalu berjalan mendahului motor yang dilajukan oleh Jericho. Keduanya merambati jalan berbatu Kampung Geulis. Beberapa meter saja dari sana, mereka berbelok ke kanan, masuk ke halaman bangunan bercat biru dan abu-abu tua itu. "Biar kuangkat ke kamarmu!" Kata Jericho dengan nada meminta izin. "Ayo!" Kata Keisha mengajak masuk. Di dalam rumah sudah banyak teman kosan yang berkumpul sambil mendengarkan musik yang cukup keras dari sebuah kamar dengan pintu terbuka. Mereka memandang kedatangan Keisha dan Jericho sambil kasak-kusuk. "Hey, Keish..." "Siapa, tuch, Keish...?" "Boleh dikenalin pacarnya, dong..." Lalu mereka cekikikan. "Hey...!" Sapa Keisha. "Kenalin semuanya, Jericho?" Kata Keisha pada Jericho. "Ini temen-teman aku semua... Edna, Cinta, Elvira, Isma, Zoey, dan Fiffy! Hey, semua... Ini Jericho..." Keisha memperkenalkan dengan lugas. Semuanya melambaikan tangan ke arah Jericho. Jericho membalasnya dengan anggukan. "Oke, di mana kamarmu?" Tanya Jericho yang keberatan memangku galon. Semuanya tertawa. Keisha mengangkat alisnya pada teman-temannya sambil melambai kecil, lalu menunjuk ke tangga. Ia berlari cepat menaiki tangga, dan segera membuka pintu kamarnya untuk Jericho. Jericho masuk sambil bergumam, "mmm, harumnya kamarmu..." Keisha tak menyahut, ia menarik kursi mempersilakan Jericho duduk. Sementara ia sendiri pergi membuka kulkas untuk mengeluarkan dua kaleng Chez's. Jericho menerima minuman kaleng yang disodorkan Keisha padanya. "Owh... Thank's..." Matanya menerawang ke sekitar kamar itu. "Apa warna kesukaanmu?" "Kenapa memangnya, Kak...?" "Sepertinya kamar ini perlu sedikit warna baru..." "It's okay... Aku suka warna creme seperti ini." "Kau hari minggu mau ke mana...?" Tanya Jericho lalu meneguk Chez's nya. "Mmmm... Ke Jembatan Cincin?" Kata Keisha sambil menggigit bibir kaleng Chez's. Jericho tersenyum senang sambil mengangguk-angguk menelan minuman yang masih berada di mulutnya. "Itu orang tuamu?" Jericho menunjuk dua buah foto yang menggantung di atas meja belajar Keisha. Keisha mengangguk sambil tak lepas dari menatapi laki-laki di hadapannya. "Kau punya foto keluargamu?" Keisha bersorak kecil mengangkat kode 'sebentar', mengambil album dari dalam lemari meja belajarnya. Ia lalu lompat naik ke atas kasurnya, dan menepuk-nepuk tangan ke atas kasurnya meminta Jericho duduk di sampingnya. Jericho menuruti ajakannya. Keisha mulai membuka halaman pertama. Keisha mengenakan baju t-shirt kuning tua dan corduroy biru tua dengan hiasan bendera Inggris di saku dadanya. Matanya besar dengan bulu mata lebat dan lentik. Bibirnya manyun sedikit tertekuk. "Haha... Kau imut sekali... Mirip Manga." Keisha hanya manggut-manggut. "Itu aku waktu umur 3 tahun." Lalu tangan Jericho menunjuk pasangan laki-laki dan wanita yang berdiri di belakang Keisha. "Ini orang tuamu?" Keisha manggut-manggut lagi. "Hmm... Ayahmu mirip Chuck Norris... Dan Ibumu mirip Dolores Cranberries. Kalau kamu... Hm...," kata Jericho sambil lalu menimang. "Kamu mirip Sinead O'Connor."  "Hey, itu benar!" Kata Keisha membenarkan pendapat Jericho dengan nada senang. "Aku selalu menganggapnya seperti itu. Matanya, khususnya alisnya... Dan juga bibirnya, tapi Ibuku lebih cantik..." "Itu benar," kata Jericho menyetujuinya. "Itu sebabnya kau berbibir cantik... Manyun, tapi cantik... Aku suka walau mukamu sedang manyun." "Enak aja!" Kata Keisha membentak tak suka dibilang manyun. "Eh, bener... Coba, coba, ngambek lagi..." kata Jericho memohon, sambil ketawa memperhatikan bibir Keisha. Keisha mendorongnya, Jericho merayunya, tapi Keisha makin marah, sampai membuat Jericho tertawa. "Liat aja, matamu kalau sedang melotot kayak gitu, malah makin persis, deh...," kata Jericho sambil tertawa. "Eerrgh...!" Keria memukulkan tangannya ke lengan Jericho. Jericho tertawa kesakitan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN