Di Balik Kata Kunci

3438 Kata
Seminggu ini Keisha tampak kusut, wajahnya pucat, tak seperti biasanya. Ia yang selalu mengenakan make up lengkap di wajahnya, kini bahkan seperti tak mengenakan foundation sekalipun. Hanya lipstik saja yang memoles bibirnya yang selalu tampak manyun itu. Ia beberapa kali datang terlambat ke kantor. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ruang kerjanya tak tertata rapi, bertumpuk-tumpuk buku kuliah di meja. Nyaris tak ada cahaya yang masuk ke ruangan itu. Semalam ia lembur dan nginap di ruang kerja kantornya ini. Bossnya, Utari hanya menggeleng melihat selimut yang terhampar di sofa, dengan setumpuk tas baju dan setrika tergeletak di lantai. "Apa yang terjadi denganmu?! Rambutmu kusut, mukamu pucat. Sudah seminggu kau tak mau hangout. Bagaimana dengan kuliahmu?" Keisha melenguh. "Aku tak yakin, mungkin cuaca saja yang aneh. Aku tak kuat dengan terik di luar. Kuliah baik-baik saja. Hey...! Mungkin kau bisa antar aku ke toko optik?!" "Hm! Buat apa?!" "Kurasa aku perlu soft lense..." "Ohhh..." Kata Utari sambil bertepuk kedua tangannya tertarik. "Yea! Itu bisa jadi ide bagus! Kamu sudah tak suka lagi dengan kacamata nerdi mu itu?!" tanya Utari pelan berhati-hati. "Tidak! Biar aku bisa mengenakan sunglasses. Terlalu terik di luar..." Utari menarik bibirnya yang tadi tersenyum lebar. Ia berkedip beberapa kali, lalu menggeleng sambil pergi keluar pintu. Ia menoleh sambil menahan tangannya di pintu. "Aku tunggu kau sehabis jam kerja, kalau kau benar-benar mau...!" "Best...!" Keisha mengacungkan jempolnya. "Apa ini...?" Tanya Gendis sambil tertawa mengeluarkan bungkus-bungkus Panadol baru dari tas belanjaan Keisha. "Oh, itu persediaan untuk migrain." "Apakah itu akut? Sudah berapa lama kau punya migrain?" Kata Gendis sambil terus memeriksa barang-barang Keisha di sekitar meja dan sofa. "Naa... Not really! Aku nggak ingat, belum lama kurasa..." "Lalu, kenapa kau bisa sampe punya bungkus Panadol sebanyak ini?!" Tanya Gendis sambil terheran-heran mengangkat tas kertas di kolong meja yang penuh dengan sachet-sachet bekas Panadol. "Ohhh... Itu bekas bulan kemaren!" Kata Keisha tanpa melepaskan tatapannya dari monitor komputer. "Emang udah berapa lama kau mondok di sini?!" "Mmmmm..." Keisha mengecek kalender di desktopnya. Ia cemberut bingung. "2 hari. Kemaren bulan Agustus, hari ini bulan September!" Gendis mengerutkan dahi tak percaya dengan isi tas kertas itu. Tapi, Keisha keburu menyela. "Kau mau Chezs?!" Gendis beranjak menghampirinya dan menerima minuman kaleng yang ia genggam ke tangan Keisha.     ----     Beberapa menit sebelum waktu istirahat makan siang. "Utari?! Kau punya waktu? Aku ingin meminta sesuatu," Keisha melongok ke ruang kerja Utari yang terbuka, sambil mengetuk daun pintu. "Anytime for you... Katakan!" "Hm...," kata Keisha sambil masuk, ia segera menduduki salah satu kursi yang tersedia di depan meja Utari. "Kau tahu minggu depan aku sudah harus menghadapi ujian. Aku membutuhkan efisiensi. Kalau boleh, aku ingin menggunakan ruang kantorku selama ujian ini." Utari melepas kacamata baca. "Ya, kurasa itu baik untukmu. Kau perlu peralatan lain untuk menunjang kenyamanan? Kau boleh pindahkan lemari es mini yang ada di gudang." "Benarkah? Oh, itu akan sangat membantu," kata Keisha sambil berdecak senang. "Tentu saja! Aku ingin kau melalui ujian dengan baik. Dan pekerjaanmu juga tentu saja," kata Utari sambil berdecak mulutnya ke samping. "Aku benar-benar berterima kasih padamu...," kata Keisha sambil mengepalkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau begitu, aku akan meminta Mas Dayat sekarang juga," kata Keisha sambil bangkit dari kursi, bersiap pergi. "Bagaimana dengan migrain kamu?" Tanya Utari cepat menahannya. "Tak pernah lagi masalah..." "Sudah hilang....? Begitu saja?" "Yea, aku dapat triknya!" Kata Keisha sambil mengacungkan jempol, lalu ia menunjukkan tangannya keluar meminta diri. Utari mengangguk sambil menunjuk padanya. "Pastikan kau persiapkan perlengkapan yang lainnya. Dengan rapi...!" Tapi, Keisha sudah melesat keluar.     -----     "Aku sudah bilang, aku baik-baik saja..." "You're so adorable, tapi, please, pertahankan penampilanmu... Itu juga penting untuk pekerjaan kantor. Kamu membawahi banyak karyawan dan menerima banyak kunjungan klien setiap hari!" Kata Utari cemas. "Mungkin kau perlu baju kantor baru... Kau tampak lusuh..." Kata Gendis usul. Ia mengenakan baju elegan terbarunya. "Bukan! Tapi, facial... Wajahmu saja yang kelihatan tirus... Mungkin kulitmu makin kering dari kebanyakan mondok di kantor," kata Noire memperhatikan. Wajahnya yang semakin kencang dan bersinar aja itu tampak semakin cerah b*******h. "Kurasa kau perlu liburan...," kata Herlan meringis iba. "Kau bosnya, kau seharusnya bisa membelikan tiket ke Bali untuknya...," kata Herlan sambil menertawakan Utari dengan kerlingan menggoda. Keisha yang sedari tersenyum kecut menoleh pada Utari. "Aku baik-baik saja... Tapi, mungkin aku memang perlu check-up... Beberapa lama ini aku selalu muntah malam-malam... Entah kenapa..." "Are you serious?" Tanya Utari. Keisha mengangguk lemah. "Oh, dear... Kenapa kau tak pernah bilang padamu?! Mungkin AC di ruangan itu terlalu keras?" tanya Utari was-was. "Kupikir kau terlalu banyak makan junk food!" Kata Gendis menuduh. "Yea! Bagaimana kamu mengatur makanan?! Kenapa kau tak pulang ke apartemenmu saja, biar kau bisa makan masakan enak setiap hari? That will relaxes you!" Kata Noire memberondong. "Aku kangen makan di rumahmu...," kata Noire merajuk. "Nah, bukan itu... Kau tahu, aku selalu mempedulikan makanan sehat...," elak Keisha. "Lebih baik aku makan buah-buahan saja daripada makan fast food." "1 kilo buah-buahan setiap malam akan membuat kesehatanmu terjaga," kata Herlan. "Tapi, kamu sepertinya bener-bener sakit. Sudah beberapa hari ini tak kulihat lagi makanan pesanan yang menggunung." Keisha tak bergeming. "Mungkin kau kena bakteri di kantor! Kau, kan tak tahu apa yang dibawa tamu-tamu ke ruangan itu?" "Aku rasa bukan... Tapi, entah aku tak tahu apa penyebabnya..." "Mungkin kau lagi mendem sama seseorang...?" Tanya Herlan menebak sambil tersenyum jahil. Tapi, Utari segera menyikutnya. "Mendem kok bisa sampe sakit, sih?!" Tanya Utari mengerutkan kedua alisnya bingung. "Dih, mendem... Apaan lagi ini?" Kata Keisha mengelak. "Mana kutahu? Tapi, kulihat dosenmu itu tersanjung olehmu..." "Bagaimana kau tahu?" Gendis menyikut Herlan dengan kerasnya, sampai Herlan mengaduh. Utari menambahinya dengan pukulan di lengan Herlan. Keduanya mengerutkan wajah penasaran. Herlan cemberut sambil menunduk di antara dua wanita galak-galak itu. "Kau tahu sendiri, Tari! Kau bersamaku waktu itu... Dosen Moes itu, kan? Dia yang pernah mengantar Keisha pulang ke kantor, malah sampe dibukakan pintu segala! Mukanya sampe berbinar-binar begitu juga! Tanya aja sama dia!" Kata Herlan sambil lalu menunjuk Keisha. "Is that true, Keisha?" Tanya Noire sambil menepuk lembut lengan Keisha. Keisha menarik tangannya hingga bersandar, sambil lalu merapatkan baju hangatnya rekat-rekat. "Tidak, lah! Mana mungkin dosenku seperti itu!" "Kamu itu gimana, sih?" tanya Utari sambil menepuk Herlan dengan dompetnya. "Dosen itu berbinar-binar karena kagum sama mahasiswa yang brilliant seperti kamu!" Utari merengut sambil menunjuk Herlan dengan sebelah tangan yang bertumpu di atas meja. Ia meneguk segelas minuman yang sedari tadi menggantung di tangannya sambil menggeleng-geleng. "Bisa saja," kata Gendis sambil berkaca mengoleskan lipstik. "Gue dulu pernah kencan ama dosen baruku... Apa dayaku... He was so handsome! Nggak lama dia dipecat dari kampus." "Apaan, sih?" Kata Keisha seperti minta dukungan Utari. "Suka nambah-nambahin aja, tuh dia!" Kata Keisha sambil menunjuk asal pada Herlan. "Koq, kamu bisa ada di sana?!" Tanya Noire pada Herlan. "Kita waktu itu bawain makanan hangat buat si non yang lagi sakit, jadi nunggu di ruang tamu," kata Herlan sambil menunjuk Utari dan dirinya. "Eh, dia malah tambah asyik pakai mengobrol lama di depan pintu, seakan-akan nggak lihat kita di dalam sudah cengok selama berjam-jam... Kayaknya, tuh dosen udah mau nyosor aja kalau dia nganterin sampe ke rumahmu..." "Aku nggak memperhatikan...," kata Utari mengelak. "Mungkin kau jeles saja," kata Utari sambil membuang muka. Semuanya termasuk Keisha menoleh pada Herlan dengan raut muka tak enak. "Heh? Jeles, buat siapa? Cewek gendut ini?" Kata Herlan sambil menunjuk bingung. Semuanya tertawa, Gendis mencubit lengan Herlan keras-keras. Keisha meniupkan sedotannya yang kosong ke Herlan, Herlan mengelak sambil tertawa. Kecuali Utari, ponselnya bergetar, ia segera mengangkatnya. "Ya, sayang..." Kini, wajah Herlan benar-benar seperti cemburu. Tapi, yang jelas bukan pada Keisha.     -----     "Bagaimana bisa seseorang tinggal di ruangan seperti ini selama 2 bulan...?" Utari melangkah masuk tanpa menghiraukan ucapan Noire tersebut. "Aku tak tahu apa yang dia lakukan... Mari kita periksa tas-tasnya, apa aja isinya...," kata Gendis. "Utari..., coba kau lihat ini...," kata Noire memanggil. "Ini laporan rekening banknya, yang dikirim via pos." Utari memeriksa kertas-kertas yang disodorkan Noire. Gendis menghampiri ikut melihatnya. "Yea, kupikir dia sedang menghemat...," kata Gendis sambil lalu menarik bibirnya. Ia lalu melengos lagi menuju ke rak dinding, mengambil barbel dan memainkannya. "Hey...! Sejak kapan dia berolahraga?!" Utari hanya menepiskan tangannya. "Dia memilikinya bertahun-tahun yang lalu, tak pernah tersentuh kecuali oleh debu..." "It's horrible, horrible, horrible... Apakah kalian melihat dia punya kosmetik baru?! Tas obat?! Mana pengharum ruangan buat di kamar ini?" Kata Noire sambil mengangkat tangannya panik. Gendis mengusap barbel itu dengan telunjuknya, ia tak menemukan debu apapun di sana. Ia tahu Keisha selalu rapi, lalu ia menaruhnya kembali ke rak. "Kapan dia mau kembali ke apartemennya? Apakah dia tidak kangen dengan kamarnya yang nyaman?" "Dia bilang kalau semesternya sudah berakhir...," kata Utari menjawab. "What?!" Tanya Noire sambil berdiri menegakkan badannya setelah menarik sesuatu dari kolong meja. "Ha?!" Kata Gendis hampir berbarengan dengan Noire. Ia tak jadi membungkuk mengambil majalah wanita yang menyembul dalam keadaan tergulung di dalam tas golf yang tadi sudah diacak-acak Noire. "Yea, semesternya sudah akan berakhir dalam waktu seminggu..." "Ohh...," kata Gendis mengangkat bahunya. "Owh..." Noire hanya tertunduk mengangguk sambil naik ke atas alat timbangan badan. Tiba-tiba ketiganya saling menatap satu sama lain. Utari memicingkan matanya, Noire mengangguk kepala dengan mata membesar, Gendis menarik bibir sambil mengetuk dengan telunjuk. "I think she is up to something...," kata Utari menimang-nimang apa yang akan dilakukannya. "Kalian memikirkan hal yang sama?!" Tanyanya lagi. Gendis sudah siap bergerak ke arah meja kerja Keisha. Noire kalang kabut, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia pergi ke pintu, melongok ke koridor, tak ada tanda-tanda Keisha akan masuk. "Ayo, ayo! Sebaiknya kita cepat." "Kau tahu passwordnya?" Tanya Utari. Gendis yang paling gape menggunakan komputer sudah duduk di kursi kerja Keisha menerobos file-file pribadinya. Utari datang menghampiri dengan cepat disusul Noire. "Kalau tak salah gorgeous... Owh, bukan... Permai... Passwordnya permai," kata Gendis mantap. "Ya! Itu lagu favoritnya!" Seru Noire tertahan. Gendis berhasil masuk ke desktop pribadi Keisha. Tapi, ia tidak bisa membuka My Documents. "Arsip-arsipnya dikunci. Kira-kira apa passwordnya?!" Utari mengerutkan bibirnya serius sambil mengusap-usapnya. Ia membungkukkan dirinya dengan sebelah tangan menekan bibir meja, sebelah tangannya bertumpu di pundak Gendis. "Dia selalu menyebut-nyebut kombinasi angka favoritnya, yaitu penambahan tiga angka dengan jumlah 20... Favourite things... Hm... Kurasa, dia pakai kata jeruk," kata Gendis. "Semua angka dia anggap favoritnya!" Kata Noire gugup. Sampai ia merasa terkencing-kencing. "Jeruk?!" Kata Utari meringis memperlihatkan wajahnya ke Utari, sambil menekan meja. "Ya... Jeruk... Lihat!" Kata Gendis sambil mengangkat minuman kaleng Chez's yang sudah dalam keadaan kosong di sebelah monitor. "Apa sirup yang selalu dihidangkannya untuk kita? Sunkist! Apa yang kita nggak boleh makan dari cake buah-buahan kesukaannya? Jeruk!! Nggak usah disebutin lagi makanan wajib yang selalu dibawa-bawanya ke mana-mana... Ya, jeruk!!" "Coba 299!" Kata Noire sambil angkat tangan, ia merekatkan kedua jasnya menahan gugup sambil memeluk Gendis. Semua pandangan tertuju ke layar monitor dengan serius. Kepala mereka menggeleng. "Kau coba dengan angka 85, tahun kelahirannya...," kata Utari sambil menunjuk, jarinya ia kembalikan menempel ke mulut. "Jeruk578," kata Gendis mengeja ketikan sambil lalu menekan tombol Enter. "Itu tiga angka hitungan favorit dia buat menghitung Uno!" "Nah, nggak bisa. Aku coba dengan orange578..." Layar terbuka. Semuanya terpekik senang. Apalagi Noire. "Kita pintar banget, ya!" Perhatian mereka tiba-tiba berpencar ke file-file yang mengisi arsip rahasia tersebut. Arsip tersebut menampilkan file-file yang di setting dengan gambar besar. Mereka terkejut. "What...is she...doing with all these...?!" Kata Noire memekik kaget. "Who is this...guy?! Hollywood star?" Kata Gendis memekik sambil tertawa. "Owh!!" Noire menutup mulutnya shock. "How would I know...," kata Utari seperti pada dirinya sendiri. "Oh, aku pikir, aku tahu siapa dia...!" Pekik Noire. "Siapa dia?!" Tanya Utari dan Gendis berbarengan. "That is... That is the boy on the Nickelodeon film seri. Filmnya ditayangkan di RCTI! Apalagi judulnya...? Aduhhhh," kata Noire sambil menepuk-nepuk dahi. "Nickelodeon??! Chanel anak-anak?!" "Yaa...! Oh, ya, The Big Time Rush!!" Gendis segera mengetik nama judul film itu di Mesin Pencari Google. "Oke! Hmmm... Lets go to IMDB dot com..." Gendis membuka tab baru dan mengetik alamat website tersebut dan menuliskan kata kunci Big Time Rush, hasilnya muncul seketika. Gendis menskrol turun dan mengklik nama sang aktor dengan wajah yang sama mirip dengan foto-foto yang terdapat di arsip Keisha. "Kendall Schmidt." "Aha... She likes Kendall...," kata Utari sambil menarik bibirnya dengan suara meledek tak percaya. "Tapi, ini sangat tidak realistis. Ini bukan Keisha!" "Kupikir dia suka sama dosen Mus!" Kata Noire kecewa. "Kupikir juga...," kata Gendis sambil mengeluh kesal. "Ternyata, kita semua salah... Ayo, think! Think!" Kata Utari sambil melayang dalam lamunan. "Apa yang sedang dia lakukan sebenarnya?" "Apakah kau pikir dia ingin menikahi orang bule?!" Tanya Gendis. "Nggak mungkin, dia mengaku keluarga ibunya dari keluarga NU fanatik! Masa temen sendiri nggak kenal, diih!" kata Noire menuding ke hidung Gendis. "Aha! Itu sebabnya dia suka agak-agak puitis...," kata Gendis asal. Utari menghembuskan nafas kesal dengan pembicaraan yang menurutnya makin nggak jelas arah ini. "Coba buka file yang lainnya...," kata Utari mengusulkan. "Oke... Hey... Coba kita lihat file dengan nama... Hm... Jericho Ali... Kau lihat?" Kata Gendis, ia menunjuk pada sebuah file di deretan paling bawah. "Siapa kira-kira... Artis nasyid kah...?" Kata Gendis menimang-nimang sambil menunggu reaksi sahabat-sahabatnya. Tapi, Noire dan Utari menggeleng keras dilanda kebingungan. "Hm..." Utari bergumam. "Tapi, mungkin saja lebih istimewa dari itu...," katanya, ia seperti mendapat pencerahan. "Hm... Coba saja, coba buka...," kata Noire tak sabar. Ketika layar itu terbuka, file-file itu berloncatan dengan cepat. Utari dan Noire berebutan meraih mouse di tangan Gendis. Gendis sendiri mempertahankannya sehingga terjadi pergulatan di atas keyboard. Monitor itu berkali-kali menampakkan gambar besar dari foto yang berbeda-beda. Dengan wajah orang yang sama. "Kendall Schmidt?!" Kata Gendis sambil melongok dekat-dekat ke monitor. "Who is this guy??!" Kata Utari shock. "This is... Wowww! Jericho Ali??! Guantengnyaaaa...!!?" pekik Noire. "Oh, my God.... Is this real...? Siapa dia? Pacar Keishakah?" kata Utari sambil menepukkan kedua tangannya senang. "Tanpa diragukan lagi... Bahwa Indonesia memiliki genetika tertua di bumi ini. Ada dua orang yang tinggal di belahan bumi yang berbeda tapi begitu identik satu sama lain...," kata Noire sambil mengecup kedua tangannya yang mengepal di mulut. Kedua temannya melongo tak menggubris omongan Noire. "Mari kita lihat foto-fotonya yang lain... Coba lihat yang di tengah. Kurasa cewek itu adalah Keisha...," kata Utari mengusulkan. Gendis menurutinya. Semua terkesiap, mereka memerhatikan foto itu dengan dekat, tangan-tangan mereka mencengkeram ke bilahan layar tipis itu. Seorang gadis berusia kurang lebih 20 tahunan, bertubuh ramping tampak sedang bernyanyi di sebuah ruangan ditemani iringan gitar yang dimainkan pemuda tampan bernama Jericho Ali. Ternyata benar. Itu adalah Keisha. Wajahnya polos sekali, matanya Noire dan berkilat bahagia dengan senyuman yang meraut di bibir yang tipis. Yang menyulitkan mereka untuk mengenali adalah rambutnya yang cepak. "Ambil foto lain," kata Utari tak sabar. Gendis memilih sebuah foto dari beberapa dengan berlatarkan warna yang sama. Foto itu adalah foto close-up yang diambil dari photo booth. "Oh, my God... They are so cuuuute...," kata Utari sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat di dadanya, tak dapat menahan rasa haru, sampai ia mengeluarkan air mata. Gendis mengklik tombol next menuju foto-foto selanjutnya. Dalam foto-foto tersebut, tampak Keisha yang paling lucu. Wajahnya begitu mungil, dengan ekspresi yang tak bisa dibantah lagi sangat ngegemesin dengan mimik-mimik naughty seperti manyun, mengerutkan hidung, memonyongkan mulut pada Jericho, meleletkan lidah ke arah kamera. Sementara Jericho aksinya sangat cool dengan mengesankan kemachoan, ia membelalakkan mata dan alisa tinggi-tinggi sambil berdecak menunjuk pada Keisha, tersenyum dengan mulut merautkan ciuman mengangkat jarinya ke kamera sambil memeluk kepala Keisha, menarik bibirnya dengan dagu terangkat bangga sambil mengadukan pipinya ke pipi Keisha dan mengacungkan jempol ke arah kamera. "Den..., tadi kulihat ada file mp3 dan mp4nya juga... Coba kau buka...," kata Noire. Gendis mengklik salah satu file mp4. "Kita harus cepat-cepat, aku tak ingin Keisha memergoki kita. Siapa tahu dia pulang lebih cepat dari kampusnya malam ini...," kata Utari cemas pada Gendis. "Oke, oke... Lemme think...," Gendis merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel. Ia menekan tombol bluetooth di monitor dan menyambungkan ke ponsel. Ia memilih beberapa foto di mana Keisha sedang bersama Jericho. "Hurry up...!" Kata Noire cemas. "Sudahlah, itu sudah cukup," kata Utari sambil beranjak dari meja. Gendis mengangkat tangannya, sambil sibuk menghapus history di desktop, lalu menekan tombol off. "Noir, kau bisa ambilkan minuman buatku dari kulkas?" Kata Utari sambil berjalan menuju sofa. "Of course...," kata Noire sambil berjinjit ke lemari es. Gendis mengikuti Utari sambil memencet-mencet smartphone. "Now, let's stay cool... Pretend there's nothing happened at all!" Kata Utari sambil menekan tangannya. Noire datang sambil cekikikan dengan tiga botol Chez’s di tangannya. Ketiganya membuka kaleng dan meneguk minuman itu sambil cekikikan. "Oke, sebaiknya kita buka foto-foto ini di rumah... Bagaimana kalau di rumahmu saja?" Kata Gendis pada Noire mengusulkan. "Yea! Kita bisa pergi sekarang!?" Kata Noire sambil bangkit dari kursi memungut jas dan tasnya. "Yea... Dia akan menemukannya bagaimanapun juga, sebaiknya kita selamatkan diri saja sekarang," kata Utari setuju. "Apa maksudmu? Aku sudah menghapus jejak kita," kata Gendis sambil berselonjor kaki memasukkan smartphone yang telah dikunci ke saku celananya. "Oh, bagus kalau begitu. Let's go!" Kata Utari sambil bangkit menepuk pahanya, ia meraih tas kecilnya di meja dan melangkah menuju pintu, diikuti oleh Noire. Gendis keluar melewati Noire yang telah berdiri memegang pegangan pintu dari luar. Sebelum pintu ruang itu ditutup rapat oleh Noire. Utari tiba-tiba memburu masuk, ia berhenti setelah melewati ambang pintu. Ia menunjuk ke atas lemari kerja Keisha. "Kalian melihat bunga itu di foto Keisha tadi?" "Ha? Yang mana? Apa maksudku?" "Ada bunga edelweiss di kamar yang tadi kita lihat di foto-foto itu! Itu bunganya dan vas yang sama!" Gendis dan Noire langsung ribut menanyai Utari, tapi Utari kembali mendorong keluar. "Kita punya semuanya di foto-foto ini! Nanti saja, kita lihat di apartemen Noire!"   -----   Tiga pasang langkah kaki menuju ruang kerja Noire pagi itu. Noire seakan sudah mengharap kedatangan mereka, tanpa menoleh sedikitpun menggiring mereka ke sofa, mempersilakan mereka duduk. Ia menarik nafasnya dalam, melirik tanpa mengangkat wajah pada sahabat-sahabat setianya. Ketiga sahabatnya itu duduk sejajar dengan rapi di sofa. Akhirnya, ia pun mendorong kursinya ke belakang, beranjak ke arah lemari pendingin. "Kalian ingin minum apa?" Tawarnya. "Orange jus!" Utari menjawab dengan spontan, hampir berbarengan dengan Gendis. "Chesz!" Gendis mengangkat jarinya. "Apa saja asal jeruk!" Kata Gendis sambil bersandar santai melipatkan tangan di d**a. Noire mengerutkan dahi. Hm! Pikir Noire. Tapi, ia masih belum bisa menduga apa yang tengah terjadi. Ia menuangkan air dingin pada 2 gelas yang telah diisi bubuk Sunkist dan dua botol Chez’s, lalu membawanya dengan bantuan baki. Ia menghampiri ketiga temannya dan meletakkan baki itu di atas meja. Utari menarik tangannya sambil menggeser duduknya. "Kita harus bicara..." Noire tahu, ini bukan sekedar ajakan, tapi perintah. Gendis pun menggeser tempat duduk, sehingga Gendis harus mengambil kursi, menyisakan satu tempat kosong untuk Keisha. Noire pun menurut duduk. Gendis memutar posisi meja, dan menaruh kursinya tepat di hadapan Keisha. "Biar aku yang jelaskan..." Noire mengangkat tangannya. "Tak perlu... Tak perlu... Aku tahu, kalian pasti curiga dengan kondisiku akhir-akhir ini yang sering muntah-muntah, dan menyangka aku pastilah hamil dari Dosen Mus..." "Heh?" "No!" "Bukan begitu...!" "Heh? Lalu apa?" Tanya Noire jadi ikut bingung. Gendis berdecak. "Berat badanmu!" Katanya sambil menunjuk badan Keisha. "Kami pikir kamu menjalani diet keras untuk membentuk tubuhmu..." "Kenapa aku mau melakukannya?" Tanya Noire tambah bingung. "Kamu jadi kurus!" Kata Gendis. "Bagaimanapun juga..." "Tapi kamu tahu, itu bukan yang ingin kita bicarakan...," kata Utari. "Kau benar-benar harus bicara. Kami menemukan tanda-tanda bahwa kau sedang berusaha keras untuk bertemu dengan seseorang." "Ya, kami tiba pada kesimpulan itu," kata Gendis sambil mengangguk-angguk. "Pagi ini, di rumah Utari. Kau tidak menyangka, bukan, Gendis dan aku semalam nginap di rumahnya untuk membicarakan ini?" Noire menghembuskan nafas sambil terpejam, tak percaya. "Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Utari dengan nada mendesak. Noire mengambil nafas dalam-dalam. Tampak sekali ia tidak berani mengungkapnya, tapi ia harus, karena didesak. Matanya untuk beberapa saat terpejam, dengan rahang mengeras. Ia menarik senyum, tapi sedetik ia membuka matanya senyum itu pudar. Matanya menatap datar, semua tahu tatapan Noire seperti itu, artinya ia tidak peduli. "Aku mengenalnya sejak pertama masuk kuliah. Kami berpisah tak lama setelah ujian semester pertama. Sejak itu aku tak pernah melihatnya lagi." "Dan kau masih mengingatnya sampai sekarang?" Tanya Gendis kaget. "Itu maksud dari pertanyaanku...," kata Utari menuntut. Gendis menepuk-nepuk pipi Keisha, seolah membangunkannya dari tidur. Sedari tadi ia menekuk tangannya menopang dagu, dengan bertumpu pada paha yang ia tumpangkan tinggi. "Okay, okay... Kami punya cerita, sangat indah, dan komitmen yang tulus. Tapi, sesuatu terjadi. Aku selalu dibayangi pertanyaan yang sama... Oleh sebab itu, aku seringkali minta putus darinya. Pertama kali aku cuman ngetest, kedua kali becanda, ketiga kali karena sangsi... Tapi alasannya selalu sama..." "Apa itu?" Tanya Utari, Noire dan Gendis bersamaan. "Aku tak tahu pasti apa dia orang yang sama kutaksir di depan kampus..." Semuanya berpandangan dengan senyum terkembang puas. Mereka tahu sifat teman mereka yang satu ini. That's so typically Keisha!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN