Kinar menatap pintu ruangan yang terbuka, Revan masuk dengan tatapan yang tertuju pada Kinar. Kinar menundukan pandangannya, enggan beradu tatap dengan Revan. Revan berhenti tepat di samping ranjang Kinar. "Ada yang sakit?" tanya Revan dengan suara yang serak, namun bernada lembut. Mau tidak mau, Kinar menatap cowok itu, lalu menggeleng pelan sebagai jawaban. Revan tersenyum tipis, meraih tangan Kinar dan menggenggamnya erat. Revan menciumi tangan Kinar, sampai akhirnya Kinar merasakan sesuatu yang hangat menetes di punggung tangannya. Revan menangis. "Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Nar." Entah untuk alasan apa, Kinar merasa sakit saat mendengarnya. "Mama udah meninggal dan Papa, dia nikah lagi dan nggak tau sekarang di mana. Aku cuman punya kamu, aku takut kehilangan kamu."

