Malven tersenyum getir, menatap manik mata hazel milik Kinar, mencoba mencari kebenaran di sana. "Lo nggak perlu sandiwara, Nar. Ini bukan panggung teater. Gue tau lo, Nar. Lo yang bilang kalo siapapun gue, lo nggak peduli." Kinar memegang dagu Malven. "Setelah tau kalau sebenarnya lu cuman anak haram yang terbuang, menurut lo gue bakalan tetap stay sama lo?" Kinar berdecak pelan. "Tapi lo udah tau siapa gue dan lo bilang semua itu nggak mempengaruhi hubungan kita. Nar, please jangan bercanda." "Tapi gue nggak tau kalo lo anak haram." Kinar menatap remeh Malven. "Pantes nyokap lo ngebuang lo." Malven pernah mendengar kalimat itu dari beberapa orang, tapi dia tidak pernah membayangkan akan mendengarnya dari Kinar, dari mulut gadis yang tadi malam berjanji akan selalu ada untuknya. "Gu

