"Bisa-bisanya, ya, kamu ngegoda laki-laki yang bahkan kamu tau sedang disukai oleh kakakmu, Ni." Sepeninggal Om Genta, hari itu. Kak Zarin pun dipanggil, sedang memupus air mata. Mami ikut nimbrung. "Pi, udah, Pi--" "Udah gimana? Nggak bisa udah, dong, Mi. Lihat itu Zarin! Pasti merasa dikhianati," tukas Pak Fer, berdecak. "Sama adik sendiri pula!" dengkusnya. Nuni terdiam. "Jadi ... yang kamu kejar-kejar itu Mas Genta, Ni?" Parau suara sang kakak. Nuni masih diam. "Centil!" hardik papi mereka, untuk Nuni. "Perempuan ngejar-ngejar lelaki, om-om lagi, bahkan yang disukai kakakmu. Astagfirullah, Nuni ... Nuni. Kamu--" "Pi!" Mami menyela. "Jangan ...." Menahan lengan papi yang hendak melayang ke pipi Nuni. Di mana Nuni langsung menunduk refleks, menghindari itu, pun dia memejam. "Ja

