Anggita menutup pintu mobilnya dengan gusar. Bayangan kejadian barusan membuatnya geram. Sagara dengan jelas mencintai Isrina, tatapannya mesra dan sikapnya begitu manis pada perempuan yang dirasa terlalu biasa untuk menggapai cinta seorang Sagara yang tampan dan mapan. Bagaimana mungkin, pria yang bahkan beberapa waktu lalu sempat menjabat General manager di perusahaan jasa konstruksi ternama itu bisa jatuh luluh pada perempuan sederhana seperti Isrina? Bukankah Sagara terbiasa menangani dan menganalisa rencana sebuah proyek besar? Bagaimana bisa dia tidak faham membedakan perempuan cantik dan jelek? Bahkan, gara-gara fokus menemani dan mengobati perempuan biasa itu, dia rela berhenti dari perusahaan yang telah memberinya kenyamanan, karir yang bagus dan memilih melanjutkan per

