Kusuma menggeliat, masih di dekapan Jalu yang ternyata tertidur juga. Dia memainkan jari telunjuknya di da daa Jalu, meraba garis yang samar melintang di da daa itu. Tersenyum, menempelkan kepalanya lagi ke hangat itu dan mendengar detak yang merdu. Musik dari jantung itu memberinya ketenangan. Sedari dulu. “Makan? Bukankah ini sudah hampir malam?” Kusuma terkekeh, tidak menyangka jika Jalu sudah bangun ternyata, “aku tidak lapar saat seperti ini.” Jalu ikut terkekeh, tetap enggan membuka mata, tapi mempererat pelukan itu ke tubuh kekasihnya. “Bibi pasti mencari kita.” celetuknya asal, tak ada maksud apa pun di sana. Kusuma mendongak, “bagai mana kalau kita berlibur.” Barulah Jalu membuka mata, menunduk untuk melihat manik Kusuma, “berlibur? Apakah ini bukan berlibur?” Kusuma terkeke

